
Pagi ini Raihanah mendapat kabar bahwa putranya akan pergi untuk naik gunung, bersama teman-temannya. Salah satunya sahabatnya, yaitu Ismail. Rencana naik ke gunung di luar kota sudah direncanakan jauh-jauh hari, Wafi tidak mungkin membatalkan karena dia juga sudah keluar uang. Dia juga butuh suasana untuk self healing, mengistirahatkan sekaligus menenangkan diri. Kegiatan Hiking memang kegiatan favoritnya, dia juga sering paralayang dulu. Saat kehidupannya masih baik-baik saja. Sosok Wafi yang sedari kecil hanya takut dengan cicak, dia lebih memilih memanjat pohon kelapa ketimbang dipaksa menyentuh cicak, geli sebenarnya. Dia yang selalu penasaran dengan sesuatu yang baru dia lihat, selalu ingin mencoba apalagi jika berkaitan dengan kegiatan olahraga.
Tangannya tak semulus wajahnya, tangan yang banyak bekas luka di jemari dan punggung tangannya, membuat tanda betapa sulitnya kehidupan yang dia jalani. Bekerja serabutan sejak kelas 6 SD, untuk membantu uminya. Pekerjaan pertama kali yang dia lakukan adalah bekerja di pasar, berjualan kantong plastik, bisa dibayangkan. Kehidupan yang jauh berbeda dengan saat abinya masih ada. Raihanah bahkan menjual segalanya yang dia punya, tak ada lagi perhiasan berkilauan di tubuhnya, hadiah dari sang suami sudah habis tak bersisa. Apalagi anak-anak semakin tumbuh dan membutuhkan biaya sekolah. Wafi sang putra membantunya mengais rezeki, seribu dua ribu sangat berarti. Rumah berlantai dua itu kini tidak ada barang berharga, kosong melompong dan hanya beberapa barang yang sudah usang di makan usia. Seperti sofa dan lemari. Raihanah menjual semuanya kecuali barang-barang suaminya, yang sangat suaminya suka. Semuanya masih terjaga di dalam peti di gudang.
Wafi si bahu lebar dan kokoh, bahunya yang sudah dilatih untuk mengangkat beban mencari nafkah sedari kelas 6 SD. Tubuhnya subur karena bekerja sama dengan olahraga baginya. Bahu kokoh dan lebar, terdapat guratan bekas luka dari beban yang di pikul nya. Tidak sampai disitu, beban berat dalam bekerja bisa di istirahatkan. Tapi beban pikiran begitu susah untuk diistirahatkan.
”Pulang dulu, umi mau bicara,” suara Raihanah serak, dengan sesekali terisak.
”Gak bisa umi, aku udah di luar kota," imbuh putranya menjawab, tanpa izin darinya Wafi pergi begitu saja.
”Asstaghfirullah hal adzim nak, kamu menghindari umi?" Tuduh Raihanah sambil bercucuran air mata, apa salahnya? manusia semakin tua akan lebih sensitif, sensitifnya melebihi anak kecil. Disinilah para anak di uji, apa mau mengurus orang tua yang renta dan menyusahkan dengan segala tingkah laku konyol nya? tak jarang, para anak membuang ibu mereka seolah mereka terlahir dari balik bejana. Seorang ibu bisa mengurus 12 anak, tapi 12 anak belum tentu bisa mengurus satu orang saja yaitu ibu mereka. Di gilir bergantian untuk menjaga seorang ibu pun terkadang sering berdebat, yang itu tidak mau, yang ini alasannya sibuk bekerja. Tak sadarkah kita, saat kecil ibu kita mau makan dengan polosnya kita mengeluarkan najis, di saat ibu kita tidak memiliki uang kita memaksa uang jajan, tak ingatkah kita saat kecil yang selalu di usap lembut, bahkan satu nyamuk pun tak diizinkan untuk menyentuh kulit kita, dia sosok ibu, sosok luar biasa yang sering kita sakiti. Tapi dia tetap tersenyum di balik kalimat 'ibu tidak apa-apa'. Sejauh apapun seorang anak, sudah dewasa sekalipun. Sosok orang tua akan selalu menganggap anaknya anak kecil, yang akan terluka, dan butuh tangannya untuk mengobati luka. saat kita kecil luka kita di obati oleh orang tua kita, tapi saat besar kita adalah sumber terlukanya hati mereka. Ini tidak bisa dibantah. Yang masih bisa melihat wajah-wajah polos ayah dan ibu saat ini, jangan lupa luangkan waktu seraya berucap 'maaf dan terima kasih'.
”Enggak, masa aku begitu sama umi,” bantah Wafi dan bingung sekarang dia harus bagaimana.
Raihanah diam dan hanya tangisannya yang mewakili kepedihan hatinya.
”Beri aku izin umi, aku gak bisa naik kalau umi gak ngasih izin.” Pintanya serak dan Raihanah mengusap air matanya.
”Habis itu pulang ya a,”
”Iya aa janji, nanti pulang. Diizinin gak?”
”Ya mau gimana lagi, kamu udah di sana. Jaga diri, kamu udah lama gak Hiking a. Jangan macam-macam, jaga perilaku, jaga lisan. Paham?"
Wafi tersenyum lebar mendengar uminya berbicara tiada henti.” Iya umi sayang.”
”Ya udah, hati-hati ya a."
”Iya, umi istirahat, tapi makan dulu.”
__ADS_1
”Iya, ya udah assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam.”
Wafi menjauhkan hapenya lalu dia memasukannya ke saku. Dia berjalan menghampiri teman-temannya dan bersiap untuk mendaki. Barang-barang disiapkan, jaket, semua perlengkapan disiapkan dengan detail. Wafi berangkat dengan ke tujuh temannya. Dia selalu berdekatan dengan Ismail, keduanya baru bertemu setelah Wafi bebas.
*****
Shafiyah gelisah, gundah gulana, sosok tengil Gus mu sangat dia rindukan. Apalagi setelah dia tahu pria itu menyukainya, tapi sekarang malah hilang tiada kabar berita. Bagai kenyal di tekan bumi, akun media sosial nya tidak aktif dua hari ini, tidak ada Wafi yang menglike postingannya.
”Jahat, setelah sama-sama tahu saling suka, saling jatuh cinta. Sekarang dia hilang, jahat banget kamu Gus. Setelah membuat aku terperdaya dengan sikap kamu, kamu bebas pergi, bikin anak orang galau begini. Terserah, awas saja kalau kamu deketin aku lagi, aku gak mau," tuturnya berbicara sendiri, dan melempar hapenya ke atas kasur. Shafiyah membersihkan wajahnya karena dia akan memakai skincare sebelum pergi.
Setelah selesai bersiap, dia memakai cadarnya, lalu meraih tas dan meraih bukunya. Dia ada kuliah siang hari ini, masih lam tapi Shafiyah ingin pergi ke toko buku terlebih dahulu. Ada buku yang harus dia beli. Pesantren masih ribut, membicarakan siapa yang disukai Gus mu. Shafiyah pura-pura tuli, walaupun beberapa orang curiga padanya. Dia tidak mau menggembar-gemborkan sesuatu yang tidak pasti, apalagi pria itu entah pergi kemana sekarang. Mengatakan suka dan cinta tanpa kejelasan, Shafiyah tidak mau berharap lebih. Dia takut kecewa, luka kalau sudah tertinggal susah diobati.
”Shafiyah,” ucap Bayyinah yang memang sudah menunggu gadis itu. Shafiyah diam sejenak, lalu tersenyum mendekati Bayyinah.
”Iya teh kenapa?" tanya Shafiyah begitu lembut.
”Fiyah, apa kamu sudah punya calon suami?" tanya Bayyin sangat sensitif dan Shafiyah menggeleng kepala.
”Ada apa ya Ning?” tanya Shafiyah gugup.
”Kakak saya memang bukan orang baik-baik, mantan napi, tapi saya tegaskan di sini. Kalau bukan untuk melindungi saya, kakak saya gak akan melakukan itu Fiyah, dia baik, bertanggungjawab. Hanya saja gak kaya, dia suka sama kamu. Dia bilang semuanya sama saya, apa kamu punya perasaan yang sama dengan kakak saya?” tutur Bayyin dan Shafiyah tersentak mendengarnya, apa ini? apa dia akan diminta Bayyin untuk menerima Wafi? sementara Wafi mengatakan apapun tentang perasaannya tidak pernah.
”Kalau boleh jujur, saya suka sama Gus. Tapi saya bukan Ning, saya gak punya predikat Ning untuk bersanding dengan seorang Gus. Saya hanya perempuan biasa, dan saya juga gak dapat sinyal apapun kalau Gus mau serius sama saya,” ujar Shafiyah lalu menunduk karena Bayyin terus menatapnya lekat. Bayyinah meraih tangan Shafiyah yang begitu lembut itu dan Shafiyah mengangkat kepalanya lagi.
”Apa kamu gak takut dengan laki-laki mantan narapidana?" tanya Bayyin karena Shafiyah tidak menyinggung status kakaknya sama sekali.
”Semua manusia sama, saya gak pernah lihat Gus mu sebagai mantan napi. Dia laki-laki yang baru pulang dari tanggung jawabnya, delapan tahun bukan waktu yang sebentar, tapi dia menerima itu tanpa penolakan. Saat saya masuk ke pesantren ini, saya gak tahu apa-apa. Saya mencari tahu di internet siapa Gus Mu yang sering dibicarakan orang-orang. Saya sempat salah paham dan mengira dia tersangka sesungguhnya, tapi ternyata saya salah. Dia pahlawan untuk adiknya. Saya punya kakak laki-laki semua, saya dijaga ketat sampai dimasukkan ke pesantren. Kasih sayang seorang kakak itu seperti kasih sayang orang tua, sama dan itu luar biasa. Biarkan Gus Mu tenggelam dengan identitas mantan napi dengan seiringnya waktu, tapi jika dia mau menerima saya sebagai istrinya, dia suami saya, dan gak ada status yang penting selain itu setelah kami ditakdirkan bersama dalam ikatan suci,” tutur Shafiyah begitu tulus dan Bayyin terpaku mendengarnya. Kakaknya Wafi tidak salah orang, dia mencintai gadis yang tepat. Semoga Allah menyatukan keduanya, dengan cara yang tidak kita ketahui akan seperti apa.
__ADS_1
”Terima kasih,” ucap Bayyin lalu keduanya berpelukan. Gadis itu sudah mau menerima bagaimana pun keadaan kakaknya, lalu bagaimana dengan keluarganya? itu yang Bayyin pikirkan sekarang.
******
Setelah menempuh perjalanan mendaki dengan medan yang cukup sulit, karena hujan tiba-tiba turun, walaupun sebentar, membuat tanah menjadi licin. Ismail dan Angga sampai terjatuh berulang-kali. Wafi berjalan memimpin, membawa tongkat kayu yang dia bawa, dan itu berguna membantu langkahnya sepanjang perjalanan. Ketujuh pria itu sudah sampai di puncak, tenda di pasang dan beberapa dari mereka sedang memasak makanan. Wafi selesai sholat, dia duduk berdiam diri dan teman-temannya memperhatikan.
”Sudah berapa lama kenal sama Wafi?" tanya Rea kepada Ismail.
”Sudah lama, sekitar 6-7 tahunan lah,” jawab Ismail sambil tersenyum.
”Dia pendiam banget sekarang, seru Rizwan dan Ismail menoleh memperhatikan Wafi.
Wafi memasukkan kedua tangannya ke saku, menatap langit gelap dan sekelilingnya yang gelap gulita. Dia tutup kedua matanya, lalu menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan nya seperti dia menariknya. Wafi terus mengusap telinganya, caci maki gadis itu terus terdengar, menyiksa gendang telinganya.
”Wafi," panggil Ismail dan Wafi menoleh. Wafi menerima saat Ismail memberikan segelas kopi.
”Terima kasih," ucap Wafi dan Ismail mengangguk." Istri kamu lagi hamil kan? sama siapa dia di rumah?"
”Aku titipkan ke rumah orang tuanya dulu, gak nyangka. Aku jadi ayah sebentar lagi." Ismail tersenyum dan Wafi juga tersenyum.” Eh ngomong-ngomong gimana hubungan kamu sama Shafiyah?" tanya Ismail berbisik dan takut ada yang mendengar.
”Gak tahu," jawab Wafi lemah dan kedua matanya berair.” Dia berhak hidup dengan pria mapan dan baik-baik," sambungnya serak.
”Ish kamu kenapa ngomong begitu? ada masalah sama dia?"
Wafi menggeleng kepala." Sama sekali enggak, cuma aku harus tahu diri. Aku siapa dan aku gak mau bikin hidup dia susah,” ucapnya lalu berjongkok dan meminum kopi pahitnya, seperti hidup yang tidak ada manis-manis nya.
”Anjir pahit euy, lupa pake gula. Sini pakai gula dulu.” Ismail menarik kopi yang sedang dinikmati Wafi dan Wafi tidak mau memberikannya.
”Aku suka,” kata Wafi dan Ismail mendesah kasar. Ismail diam dan dia juga tidak menambahkan gula ke kopinya. Yang lain memperhatikan keduanya yang sama sekali tidak mengobrol dan malah sibuk memandangi pemandangan gelap gulita. Wafi sedang terpuruk, dia harus didiamkan sampai ia mau menjelaskan kegelisahannya. Ismail mengenalnya dengan baik, dia tidak mau menyakiti dengan memaksa Wafi.
__ADS_1
”Mie nya mateng nih, cepetan!" teriak Angga dan kedua pria itu menoleh. Ismail bangkit dan mengajak Wafi untuk segera makan malam bersama yang lain.