Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 30: Tanggung jawab


__ADS_3

Malam ini, cuaca begitu dingin, Wafi menutupi kepalanya yang memakai peci hitam dengan kain sorbannya, sampai pinggang kain sorban menutupi tubuhnya, dia menunduk, menatap kitab kuning dan mendengarkan santri dan santriwati yang bergilir membaca di seberang meja kecil tersebut. Dia mendengarkan, menyela dan membenarkan jika salah.


Shafiyah gugup, sebentar lagi gilirannya, dia terus menunduk dan rasanya ingin kabur saat ini.


”Teh Fiyah, giliran teteh," seru santriwati memintanya untuk maju ke depan. Shafiyah belum paham isi kitab kuning dengan baik, itu sebabnya dia mengulang kembali untuk memperlancar nya. Dia hanya mengabdi dan mengajar santriwati junior, dia juga masih perlu banyak belajar lagi.


”Yang lain dulu silahkan, saya nanti," ucap Shafiyah dan yang lainnya sudah selesai.


”Giliran teteh ih," ucap santriwati.


"Cepetan," ucap santri laki-laki dan Shafiyah mendelik. Shafiyah bangkit dan melangkah seraya menunduk, dia duduk di seberang meja, Wafi diam dan mengusap-usap kening serta menghalangi bibirnya sesekali dengan jemarinya, karena tak bisa menahan senyum saat Shafiyah mendekat. Aidan nampak gusar melihat keduanya berseberangan, hatinya begitu sakit saat ini. Jangan sampai dia kalah dengan Gus Mu, dia harus segera mengajak Shafiyah ta'aruf.


Shafiyah terus salah, Wafi membenarkan dan gadis itu berkeringat dingin.


”Santai aja neng, jangan buru-buru," tutur Wafi berbisik dan Shafiyah merasa langsung melayang mendengarnya. Dia mengangguk dan Wafi mengangkat pandangnya sekilas, melihat kedua mata menunduk dengan bulu mata lentik dan lebat itu.


Setelah Shafiyah selesai, dia mundur dan merasa lega. Peluh membasahi keningnya, membuat mukena berwarna putih itu sedikit basah. Wafi tertunduk malu-malu, lalu menutup kitab nya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sudah selesai. Wafi menutup kegiatan dengan berdoa, dia amini semuanya, lalu di tutup dengan salam. Setelah Wafi pergi, Shafiyah merasa lega. Dia bangkit untuk mengambil teh hangat yang baru diminum setengah oleh Wafi, tapi santriwati yang lain berburu untuk mendapatkannya.


”Enggak," ketus Shafiyah dan menyambar gelas lalu mengangkatnya ke udara.


”Dikit teh, bagi dong. Berkahnya itu,” rengek Santriwati dan Shafiyah tidak mau memberikannya.


”Cepet bubar, kamu mau di hukum karena telat ke asrama?” ketus Shafiyah dan mereka semua mendelik. Santri laki-laki sudah pergi, dan akhirnya santriwati pun bubar. Shafiyah melangkah menuju dapur untuk menyimpan gelas, tapi dia berhenti lalu duduk.


”Aku minum aja ah, bekas anak kyai." Shafiyah tersenyum dan memperhatikan bagian atas gelas, dimana tadi Wafi meminumnya. Tapi dia bingung karena tidak ada bekasnya. Shafiyah akhirnya mengucap basmallah, lalu menarik cadarnya dari sisi kanan sedikit. Dia meminumnya sampai habis, di bekas bibir pria itu. Setelah selesai, dia mencucinya lalu pergi untuk segera istirahat.


*****


Hari ini, hari yang cerah. Acara pernikahan Chairil dan Khalisah tinggal beberapa hari lagi, keluarga Raihanah sama sekali tidak ada yang ikut saat acara lamaran. Melihat perubahan sikap kakak iparnya, Faiza sedih. Dia tahu kesalahan putra dan calon menantunya begitu fatal, Raihanah tidak ikut karena sedang sakit. Bayyin sibuk, apalagi Afsheen yang tidak bisa libur sembarangan. Wafi jangan di tanya, dia tidak mau, pernikahan nanti pun dia tidak mau datang.


”Coba kamu ajak bicara teh Rai, kita gak bisa sama saudara begini. Cuek, gak perduli. Anak kita salah, kita sebagai orang tua sudah menegur dan mengarahkannya. Tapi ini masalahnya rumit, kita harus turun tangan supaya enggak berlarut-larut,” tutur Yaman dan Faiza mengangguk-anggukkan kepalanya.


”Nanti aku ke rumah nya, Fara juga mau main katanya. Biar bareng, biar gak terlalu canggung juga,” jawab Faiza dan Yaman tersenyum mendengarnya.


Di pesantren, Shafiyah diam membeku. Menatap pesan dari Aidan, mengajaknya untuk ta'aruf, tapi bukan dari pria itu yang dia harapkan. Shafiyah nampak muram, dia usap wajahnya kasar dan tidak fokus mengerjakan tugasnya.


”Assalamu'alaikum Shafiyah, saya mau bicara serius sama kamu. Apa kamu sudah memiliki calon suami? jika belum, apa saya bisa mengajukan diri untuk melamar kamu? saya sudah lama memperhatikan kamu. Saya perlu izin sebelum datang ke rumah kamu, kalau kamu mau dan mengizinkan,” isi pesan dari Aidan begitu tulus dan lembut. Shafiyah meraih hapenya lagi dan membuang nafas panjang.

__ADS_1


”Wa'alaikumus Salaam, saya belum punya calon, tapi saya sudah punya pria idaman Ustadz. Saya minta maaf, saya gak bisa. Mungkin saya akan fokus kuliah dulu, saya gak bisa menerima ajakan ta'aruf, atau izin untuk menemui orang tua saya. Saya minta maaf, semoga ustadz mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari saya. Saya gak bisa memaksakan hati, dan saya takut itu menyakiti ustadz Aidan.” Pesan terkirim, Shafiyah meletakkan hapenya, lalu meringkuk kembali tanpa alas apapun. Dia bingung, dan takut berharap banyak dan dia harus siap untuk kecewa. Jika Gus Mu tidak suka padanya, dia akan berusaha Ikhlas saat melihat Gus mu dengan gadis lain dan jalannya adalah fokus dengan kuliahnya.


Di tempatnya, ustadz Aidan membuang nafas kasar, setelah membaca pesan dari Shafiyah. Tubuhnya perlahan-lahan meringkuk, betapa sakitnya di tolak, susah di gambarkan. Apalagi kecengan tersebut, sudah diperhatikan sejak lama, bertahun-tahun. Aidan hanya bisa pasrah, memaksakan kehendak tidak akan baik, harapannya gugur saat baru awal bertempur. Dia kalah dengan Wafi, dia yakin Shafiyah menyukai pria itu. Sekali pun pria itu adalah mantan napi, untuk visual memang dia kalah saing. Aidan salah menilai Shafiyah, pria tampan itu banyak. Shafiyah bahkan sering diperkenalkan kepada teman-teman kakaknya yang tampan dan mapan. Tapi gadis itu hanya tertarik dan untuk pertama kalinya kepada Wafi Muzammil. Entah dimana dan kepada siapa, cinta tumbuh. Cinta adalah sebuah anugerah, pondasinya hati dan perasaan.


****


Di rumah Bu nyai, Faiza dan Fara benar-benar datang, membawa makanan dan berharap Raihanah ada waktu luang untuk berbicara. Fara membawa kedua anaknya, Husna dan Hasna.


”Teh, aku mau ngomong sebentar,” tutur Faiza. Dan Raihanah mengangguk.


”Sejak kapan aku melarang kamu Za," ucap Raihanah dan Faiza tersenyum.


”Ini pembahasan yang serius dan sensitif, aku jujur. Aku beneran gak senang dengan hubungan kita yang merenggang, aku minta maaf karena ucapan Chairil, anak aku yang gak sopan dan gak pantas. Aku berusaha bilang ini dari kemarin-kemarin, tapi gak dapat waktu yang pas terus. Aku minta maaf teh,” tutur Faiza serak. Kedua matanya berair, dia takut menyakiti Raihanah. Kesayangan dan belahan jiwa kakaknya, yang sudah janji untuk dia jaga. Begitu juga dengan keponakan nya.


Raihanah tersenyum tipis, lalu meraih tangan Faiza. Faiza bukan hanya adik ipar, tapi wanita itu adalah sahabatnya, sahabat karib dan terbaiknya.


”Chairil, putra kamu dan Yaman. Sudah seperti anakku sendiri, kita keluarga. Masalah kemarin adalah masalah salah paham, menurut aku, gak seharusnya diperpanjang dan menjadikan antara keluarga kita bermasalah. Aku sudah maafin Chairil, jangan terlalu dipikirkan Za. Apa kamu berpikir hubungan kita merenggang, karena aku gak hadir mengantar lamaran Chairil?" tutur Raihanah begitu lemah lembut, wanita renta itu sudah belajar banyak tentang hidup, cinta dan kesetiaan. Pribadi nya kini jauh berbeda dengan ia yang dulu, perubahan yang dia dapat setelah hidup bersama dengan pria terbaik dalam kehidupannya.


Faiza menunduk, air matanya menetes dan Raihanah lekas memeluknya.” Aku takut, hubungan kita bermasalah, anakku salah, Khalisah juga. Jika hubungan kita rusak, jika Abi, umi dan bang Fashan masih ada. Mereka akan sangat sedih,” ucap Faiza berat dan terus menyeka air matanya.


”Aku lagi kurang sehat kemarin, jadi gak bisa ikut. Bayyin apalagi, kamu tahu kan anakku itu punya trauma, fisiknya yang sekarang sering menjadi tontonan, Bayyin belum siap pergi terlalu jauh, bertemu orang-orang asing, apalagi tempatnya ramai. Afsheen gak bisa libur, dan Wafi....” Raihanah berhenti berbicara, dia lepas pelukannya dan Faiza masih menangis.


”Wafi wajar kecewa, Khalisah memang keterlaluan. Aku sendiri bingung, apa yang Chairil lihat dari gadis itu,” ucap Faiza dan Raihanah mengusap-usap bahunya.


”Enggak Za, Khalisah cuma salah paham. Semua orang bisa berubah, semoga saja Khalisah berubah menjadi lebih baik. Rasa cinta itu susah ditepis, nanti kalau kamu halangi Chairil sama Khalisah, kedua anak itu akan terluka. Gak baik buat kedepannya,” ujar Raihanah dan Faiza diam, ada keraguan di hatinya. Faiza tidak terlalu memberi restu kepada Khalisah, secantik apapun perempuan, apa bisa menjamin itu baik? baik untuk putranya dan Chairil? tapi jika dilarang tidak mungkin.


”Apa yang dibilang teh Rai bener, in sha Allah Khalisah yang terbaik. Chairil akan membimbingnya, dan menegurnya,” ucap Fara dan Raihanah tersenyum. Tapi tetap saja, Faiza khawatir.


Ketiganya tiba-tiba diam, mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Gus Mu pulang, pria itu turun dari motor dan Afsheen sudah pulang lebih dulu. Wafi menoleh saat melihat Shafiyah, kebetulan.


”Ekheeeeemm!” Wafi berdehem begitu panjang, Shafiyah terkekeh karena malah terdengar seperti suara domba. Wafi menyentuh jakun nya, bisa-bisanya dia selalu memalukan di depan Shafiyah.


Shafiyah menunduk dan terus tersenyum, dia melenggang pergi dan Wafi cemberut. Bayyin yang sedang melangkah bersama Hasna tersenyum melihat Wafi sudah pulang.


”Aa sini," pinta Bayyin dan Wafi menoleh.


”Apaan sih ah?" ketus Wafi dan Bayyin mendelik.

__ADS_1


”Ini tentang Shafiyah,” ucap Bayyin serak dan Wafi terdiam, perasaannya mendadak tidak karuan, dia tatap adiknya hangat dan Husna memilih pergi.


”Aku masuk duluan,” ucap Husna.


”Kenapa?” tanya Wafi.


”Ustadz Aidan udah ngajakin Shafiyah ta'aruf, aa mau kapan? Shafiyah itu idaman, dia cantik di mata para lelaki walaupun dia sangat tertutup. Aa kalau beneran sayang, nikah itu buktinya. Atau Aa cuma main-main ya?” tutur Bayyin dan wajah Wafi langsung pucat pasi, begitu sedih, takut kehilangan, campur aduk yang dirasakan oleh pria itu. Apa Shafiyah menerimanya? lalu dia? apa bisa mengikhlaskannya.” Aa." Panggil Bayyin seraya menggoyangkan lengan Wafi.


"Masuk!” titah Wafi dan Bayyin kebingungan, pria itu kini melenggang pergi melewati adiknya, dia yang sedang letih setelah bekerja, semakin lemah karena kabar tersebut. Wafi harus bertanya langsing kepada Shafiyah, dia keduluan oleh Aidan.


Wafi meraba rokok dan korek apinya, dia melangkah pergi menuju kebun di belakang pesantren.


Brug! Diva tidak sengaja menabrak pria yang sedang galau itu, entah dari mana Diva, seorang diri.


”Aaagh sakit!" Diva meringis, kali ini dia benar-benar kesakitan.


”Hobi jatuh ya?” ketus Wafi dan melangkah pergi, Diva bangkit, berlari, merentangkan kedua tangannya dan berdiri di depan Wafi.


”Tanggung jawab!” tegas Diva. Wafi diam dan mendengus.” Saya jatuh gus, kemarin saya juga jatuh karena Gus mu. Udah dua kali, Gus harus tanggung jawab.”


Wafi menggaruk pelipisnya, berhadapan dengan anak baru gede memang hal terburuk, mana suaranya cempreng. Telinganya ngilu mendengar suara Diva.


”Minggir!" tegas Gus mu, dia bergeser dan Diva juga bergeser, menghalangi jalannya.


”Gus harus tanggung jawab, Gus harus perduli sama semua santriwati, jangan begini.”


”Ari maneh kunaon si?” ketus Wafi dan mendelik sebal.


Ari maneh kunaon si?


Kamu kenapa sih?


”Kamu kemarin pura-pura ketabrak, ketabrak itu paling enggak ada yang lecet. Saya juga tahu, kamu pura-pura, gak usah bikin drama. Kalau jago akting, mending main sinetron aja. Jangan ganggu saya, dan jaga sikap kamu sama saya!” tutur Wafi kesal, tatapannya begitu tajam dan Diva menciut ketakutan. Apa Wafi tidak tertarik dengan wajah cantiknya? dengan tubuh berisi dan seksinya? entah apa yang ada dipikiran gadis itu, yang jelas. Dia menyamaratakan semua lelaki, yang akan tergoda dengan rupa menawan dan tubuh semok nya.


”Anak sekarang gak tahu tata krama, gak tahu sopan santun. Seenaknya, ngaji susah, pacaran lancar.” Gerutu Wafi seraya melangkah pergi, meninggalkan Diva yang menunduk sedih. Mana bisa Wafi tergoda, sementara jiwa dan raganya hanya untuk Shafiyah nya, dia hanya mau menyentuh istrinya, dia hanya mau di sentuh istrinya nanti. Namun Wafi juga hanya manusia biasa, memilik syahwat yang luar biasa, lelaki yang paham Agama, mempelajari ilmu pengetahuan tentang berumah tangga, sekaligus tata cara bergaul dengan istrinya nanti, mereka menunggu saat itu. Saat Allah pertemukan mereka dengan jodoh terbaik, yang halal untuknya dan mendekatinya mendapatkan pahala.


Tidak semua lelaki bajingan, brengsek dan tukang main perempuan. Masih banyak sosok Wafi, dan memantaskan diri adalah cara terbaik untuk mendapatkannya. Jika Allah menghendaki.

__ADS_1


__ADS_2