
Sabilla dan Zoya akhirnya pulang, Sabilla melamun dan terbayang-bayang penolakan kasar Wafi padanya, sementara Zoya terlihat anteng dan terus merias wajahnya, dia dan Ali bertukar nomor hape tadi. Keduanya sedang berada di bus, menuju pulang.
***
Wafi tidak kuat lagi menahan rindu akan keluarganya, dia pulang, dan sedang berdiri di depan gerbang pesantren. Dia sering berbicara di telepon dengan umi dan Bayyinah, tapi tidak dengan Afsheen. Rindu dan sakit hati yang dia rasakan, saat mengirimkan pesan kepada Afsheen, balasan yang dia terima hanya celaan.
”Aku gak mau kamu pulang."
”Jangan ganggu aku."
”Kalau kamu pulang, kamu memang udah gak punya harga diri."
”Kasihan umi, karena kamu pulang banyak yang menegur umi."
”Mantan napi, bukan kakak aku."
Wafi membuang nafas panjang, lalu dia menarik tali ranselnya, tangan kanannya membawa makanan untuk keluarganya, martabak, sate, dan es kelapa. Wafi melangkah masuk, dan menunduk. Semua orang menoleh dan memperhatikannya.
”Itu gus Mu." Seru beberapa santri Santriwati.
Kabar tersebut pun sampai di telinga Shafiyah, gadis itu langsung berlari ke balkon dan tersenyum tipis melihat Wafi pulang. Dia lega dan senang. Khalisah terdiam, memperhatikan gus Mu yang baru dia lihat pertama kali, memang tampan dan manis. Bibirnya kini tersenyum tak kalah manis.
”Ganteng." Puji Salwa.
”Tapi mantan napi." Maki beberapa santriwati dan Khalisah menoleh, begitu juga dengan Shafiyah yang tidak suka dengan makian mereka.
”Jaga bicara kalian, itu gak baik. Seperti apapun seorang Gus, dia adalah anggota keluarga pak kyai, darah beliau mengalir di sana. Enggak akan lengkap dan berkah, jika para santri mencela dan gak hormat sama keluarga kyai nya. Tolong, jaga bicara kamu!" Tegur Shafiyah lantang dan Khalisah mendekatinya.
__ADS_1
”Sudah cukup Fiyah, ayo." Ajak Khalisah dan Fiyah mengarahkan jari telunjuk ke kedua matanya lalu kepada para santriwati itu. Tatapan mata yang tajam dan membuat Khalisah terkekeh.” Kamu apaan si?"
”Ya aku kesel, mulut mereka jahat banget.” Shafiyah mencengkram bajunya karena kesal, Khalisah menenangkannya dan mengajaknya pergi dari asrama. Tapi mereka berdua tidak bisa lama, karena jam 8 malam semuanya sudah harus ada di asrama kembali.
Tok tok tok.
”Assalamu'alaikum." Seru Wafi, Raihanah melangkah begitu semangat saat mendengar suara putranya." Umi, Bayyin!" Seru nya kembali karena tidak ada jawaban.
Suara kunci pintu dibuka membuat Wafi tersenyum.” Wa'alaikumus Salaam, anak umi." Raihanah langsung memeluk Wafi dan Wafi terkejut.
”Umi bikin kaget," ucap Wafi sambil tersenyum. Raihanah melepaskan pelukannya, dia mendongak, dia tatap putranya hangat. Lalu mengusap dan merapihkan kemeja putranya itu. Dari kejauhan, Shafiyah tersenyum memperhatikan.
”Aku belum pernah melihat Bu nyai sebahagia itu. Sehat-sehat terus ya bu Nyai, gus Mu udah pulang.” Gumam Shafiyah dan dia merasa terharu melihat keduanya saling melepas rindu.
”Shafiyah!" Panggil Khalisah lantang, agar Wafi penasaran dan menoleh, benar saja, pria itu menoleh saat mendengar nama Shafiyah, bukan karena suara Khalisah. Shafiyah melangkah pergi mendekati Khalisah dan Wafi memperhatikan sekilas lalu diajak masuk oleh Raihanah.
”Bayyin, pelan-pelan." Tegur Wafi sambil melotot, dia khawatir dan Bayyin memeluknya.
”Aku seneng aa pulang." Bayyin mengeratkan pelukannya.
”Iya, tapi hati-hati.” Wafi kesal dan menyentil kening adiknya itu.
”Sakit." Bayyin mengusap keningnya dan Wafi tersenyum.
”Aku bawa sesuatu." Wafi mengajak Bayyin duduk dan uminya tersenyum. Raihanah menoleh saat Afsheen turun. Afsheen berpaling saat Wafi menoleh ke arahnya.
”Aa kamu pulang, sini." Ajak Raihanah dan Afsheen mendekat. Afsheen duduk dan Wafi berada di tengah-tengah kedua adiknya.
__ADS_1
”Gimana kabar kamu?" tanya Wafi dan Afsheen menundukkan kepalanya.
”Aku sehat a.” Jawab nya pelan. Antara malas dan tidak suka Wafi terus menatapnya.
”Aku beli makanan, kita makan sama-sama," ucap Wafi sambil membelai kepala adiknya, Afsheen yang tidak tahan akhirnya bangkit dan melangkah.
”Niyyah!" bentak Raihanah dan langkah Afsheen terhenti.” Duduk."
”Aku mau siapin semuanya untuk kita makan." Timpal Afsheen beralasan dan dia melangkah pergi ke dapur. Wafi diam dan saling menatap dengan uminya, lalu dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum, dia berharap uminya tidak memarahi Afsheen.
Setelah semuanya siap, semuanya makan malam bersama. Merasakan suasana tersebut, Wafi jadi malas untuk kembali ke sanggar.
”Gimana kerjaan kamu di sana?” tanya Raihanah begitu lembut.
”Aku betah umi. Aku senang kerja disana." Jawab Wafi sambil tersenyum, dia menarik botol saos yang sedang berusaha dibuka oleh Afsheen dan gadis itu tidak bisa, Wafi membukanya dengan mudah, lalu memberikannya kembali, Afsheen menunduk dan Bayyin menggeleng kepala melihat sikap adiknya.
”Alhamdulillah, semoga selalu lancar ya.” Raihanah mengusap bahu anaknya sekilas.
”Aamiin.” Jawab Wafi dan kembali melanjutkan menikmati makanannya.
Suara gelak tawa terdengar, suasana bahagia yang sudah lama tidak terjadi, berkumpulnya keluarga sederhana yang sedang menjadi sorotan, terserah apapun kata orang. Wafi tidak perduli, orang-orang hanya bisa menghakimi, tanpa mau melihat apa yang sebenarnya terjadi, sudah jelas adiknya juga korban, tapi itu sengaja dilupakan, dan dia terus disudutkan.
****
**Assalamu'alaikum. Tadinya mau lanjut, tapi aku stop dulu. Kalau ada pengumuman tolong di simak ya, aku sama sekali gak ngasih izin siapapun buat Screenshot bab di cerita aku, dan di jadikan konten tiktok atau sebagainya, bukan tidak tahu terima kasih karena ini juga gak izin sama aku dulu, mau karya aku yang ini atau manapun itu tolong jangan main Screenshot, karena Plagiat itu dimana-mana, dan aku sendiri promosi cerita aku hanya beberapa scene, enggak seluruh bab di screenshoot lalu di sebar di luar aplikasi. Tolong ya, tolong banget di simak baik-baik. Dan yang masih protes kenapa aku gak lanjut nulis di aplikasi sebelah, dan mohon mohon sampai ngancam segala minta cerita aku dipindah kesana, padahal disini juga kalian gak bayar. Tolong hargai keputusan aku, dan disimak baik-baik apa yang aku tulis ini. Wassalamu'alaikum.
Next bab setelah tuntas Salman ya, bad mood 😭**.
__ADS_1