Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 92: Duniaku, Habibah dan terima kasih


__ADS_3

Raihanah terdiam, menangis haru, mendengar cerita dari puteranya. Bayyin dan Afsheen saling berpegangan tangan, keduanya merinding. Bantuan dari Allah, atas kebaikan Abi mereka di masa lalu. Dan begitu datang di saat yang tepat, Masya Allah, Allahu Akbar. Tak henti-hentinya batin mereka berseru, memuji kebesaran dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Pertolongan Allah tak diduga, tak disangka, dan tidak bisa dikira-kira. Siapapun, dan di manapun hamba-Nya berada, memohon, dan meminta pertolongan. Pertolongan akan datang, secepat keyakinan mereka terhadap-Nya.


”Jangan lupa do'ain abi, kasih sayang dan cintanya, sampai sekarang. Begitu luar biasa, anak-anak adalah dunianya, tapi dia yang lebih dulu meninggalkan dunia yang tidak mengenal keadilan ini, sedekah tidak akan membuat kita miskin. Ini yang sering abi kalian bilang sama umi, abi kalian royal, dalam artian, dia bisa menolong orang lain untuk soal uang, walaupun dirinya sendiri kesulitan,” tutur Raihanah dan anaknya menganggukkan kepala.


Di dalam ruangan bayi, Shafiyah menggendong Athalla, Sara menggendong Albanna. Shafiyah memperhatikan keduanya, matanya mirip dengannya, bentuk wajahnya juga. Keduanya sangat mirip dengan Shafiyah, tidak ada tanda-tanda kemiripan sang ayah di keduanya. Shafiyah terkekeh-kekeh, akhirnya, keduanya mirip dengannya, memang seharusnya begitu, ujarnya dalam hati.


Malam semakin larut, beberapa orang pulang, begitu juga dengan Raihanah. Afsheen dan Salam masih di RS. Keduanya mungkin pulang sebentar lagi. Shafiyah sudah terlelap dan Wafi berbaring di atas tikar, sambil melirik istrinya sesekali. Sara dan Herman pulang ke rumah Fajar.


Kelahiran si kembar menjadi buah bibir semua orang di pesantren, dan seluruh kampung. Ada yang menyambut bahagia, ada juga yang biasa saja, masih mengungkit masa kelam Wafi yang seorang Napi.


Wafi menoleh saat Afsheen masuk, membawa makanan.


”Aa, aku mau nginep disini, boleh gak ya?” ujar Afsheen berbisik-bisik dan melirik Shafiyah sekilas.


”Boleh, cuma dua orang yang boleh nungguin Bibah. Bawa apa kamu, neng?"


”Nasgor.”


”Kebetulan, aa lapar. Minta." Tangannya terulur dan Afsheen memberikan satu bungkus nasi goreng.


Keduanya berhenti mengobrol, Afsheen meraih hapenya, suaminya mengirimkan pesan jika ia sudah di parkiran, untuk segera pulang. Dia membalas, dengan kata-kata manis dan tanda hati.


***


Lima hari berlalu, Shafiyah akhirnya bisa pulang. Rasa sakit di perut bagian bawah masih menyiksa, dia juga harus berjuang ketika menyusui dan sakitnya begitu luar biasa, bergadang menjadi teman pasangan suami istri, yang baru menjadi sosok orang tua itu. Sebuah kasur di letakkan di ruang tamu, Shafiyah berbaring dan banyak orang yang datang untuk melihat si kembar.


”Masya Allah, ganteng ganteng ya,” puji seorang ibu-ibu, tetangga.


”Iya, mirip gus Mu,” imbuh ibu-ibu yang lain. Dan Shafiyah hanya tersenyum. ”Siapa namanya, teh?" sambungnya.


”Aa nya Athalla, adiknya Albanna, Bu” Shafiyah menjawab begitu ramah.


”Gus Atha sama Gus Al ya,” Imbuhnya menyahut, seraya terus memperhatikan si kembar dengan seksama, matanya, hidungnya, bibirnya. Kulitnya bersih kemerahan, sepertinya darah blasteran Kanada mengalir di kedua bayi itu, netra milik Albanna berwarna hitam sedikit kebiruan.


”Terimakasih semuanya, sudah menyempatkan waktu nya untuk menjenguk Shafiyah,” imbuh Raihanah dan semuanya tersenyum.


”Sama-sama Bu nyai, Alhamdulillah Bu nyai sekarang udah punya cucu.”


”Iya, Alhamdulillah.” Raihanah tersenyum simpul.


Semuanya menoleh, melihat kedatangan Chairil dan keluarga kecilnya. Khalisah tersenyum, melihat bayi kembar sepupunya. Dan Shafiyah diam saat dia mendekat.


”Masya Allah, anaknya Wafi ganteng, ganteng. Minta satu,” celetuk Chairil dan Shafiyah terkekeh.


”Aku baru sempet lihat, mau ke RS, anak aku lagi demam kemarin," imbuh Khalisah dan Shafiyah memperhatikan anak Khalisah lekat.


”Gimana sekarang?” tanyanya cemas.


”Sekarang demam nya udah enggak, cuma bapil,” tutur Khalisah dan Shafiyah tersenyum sambil memainkan kaki mungkin Nurul.


Di lantai dua, tepatnya di balkon, Wafi sedang mengobrol dengan Ismail. Kamila sedang membawa anaknya yang terus menangis berjalan-jalan, di sekitar pesantren.


”Aku udah pusing banget, dapat duit dari mana, buat biaya persalinan Shafiyah dan yang lainnya. Aku gak nyangka, kebaikan abi menjadi penolong, takdir dari Allah juga, dan aku salah karena mengeluh," tutur Wafi serak dan Mail menepuk bahunya pelan.


”Abi kamu emang orang baik, Mu. Aku ikut senang kamu sudah menjadi seorang ayah sekarang, gimana rasanya?” tutur Mail dan tertawa kecil setelah berbicara.


”Takut, gak tega lihat Shafiyah. Dia kulitnya putih kan, ditambah pucat, hadeuh gak tahu deh, kalau sampai Shafiyah kenapa-kenapa, aku gimana,” suaranya serak, lalu ia mengusap wajahnya kasar.


”Yang penting sekarang udah selamat,” kata Mail dan Wafi mengangguk.


Keduanya menoleh saat Chairil datang, Mail memberikan rokoknya dan Chairil menarik satu batang. Wafi diam, walaupun ingin, dia tidak mau. Lebih baik tidak merokok, daripada dilarang mendekati istri dan anak-anaknya.


Malam hari tiba, Albanna terus menangis. Dan Wafi bergadang menjaganya, Shafiyah sedang makan dan memperhatikan suaminya sesekali. Wafi mengelus tubuh Albanna dalam pangkuannya, Sara yang menginap pun terbangun, mendengar tangisan cucunya.


”Pengen Mimi kali," ujar Sara.


”Udah bu, tapi kayaknya Al gak kenyang kenyang,” jawab Shafiyah, dia lekas menghabiskan makanannya lalu mencuci tangannya, di mangkok berisi air yang disediakan suaminya.


”Biar ibu yang gendong, kamu tidur aja,” imbuh Sara. Dia mengambil Albanna dari pangkuan Wafi, Wafi melirik jam dinding, sudah pukul 1 malam.


”Abi bobo aja gih, di kamar.” Shafiyah melirik tangga dan Wafi mengangguk.


”Aku tidur dulu,” ujar Wafi berpamitan dan Shafiyah mengangguk.


Albanna terus menangis, sampai akhirnya Shafiyah memintanya dan kembali menyusuinya, bayinya itupun mulai tenang dan terlelap, Sara hanya bisa memperhatikan, Shafiyah yang terus meringis ketika sedang menyusui anaknya. Ia masih tidak menyangka, anaknya sudah menjadi seorang ibu.


****


Acara akikah diadakan setelah 30 hari, semua orang di pesantren merayakannya dengan penuh sukacita. Semuanya bahagia dengan kelahiran si kembar.



gus Faiz dan Gus Faiz, 7 bulan.


Athalla dan Albanna tumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan sangat aktif, membuat seisi rumah dibuat terhibur dengan tingkah laku keduanya.


Kelahiran anak perempuan Bayyin dan Musa pun menjadi pelengkap kebahagiaan, di susul dengan kabar kehamilan Afsheen. Anak Bayyin dan Musa bernama, Shaneez Zahran Zm.



Albanna si lincah dan Athalla yang pendiam. Gus Faiz dan Gus Faiq 18 bulan.



Gus Faiz dan Gus Faiz lagi gendong anaknya Afsheen. Hafeeza Fathia Zm. Abaikan tato om Sandy.



Ini Gus Kembar waktu di rumah Wawa Noah, Toronto, Kanada.



Bisa ditebak, ini umur berapa?


yups! Ini Atha sama Al waktu di Kanada, usianya 3 tahun.



Ini Gus Atha sama Gus Al yang udah besar, mau masuk TK🍁🌿.

__ADS_1


*****


Kehidupan terus berjalan, penerimaan yang semakin didapatkan Wafi, membuat langkahnya semakin lancar, untuk mulai berdakwah dan bersilaturahmi. Memiliki istri yang terkadang mengeluh karena ekonomi, sangat wajar. Wafi tidak pernah mencela apa yang Shafiyah keluhkan, fitrahnya seorang wanita, ingin dilihat cantik, memakai perhiasan dan yang lainnya. Istrinya pun begitu, selama masih wajar, dia akan mengizinkannya. Si kembar sudah besar, belum ada tanda-tanda keduanya akan kembali memikirkan prihal momongan, jarak kelahiran SC memang harus dipikirkan matang-matang, untuk keselamatan dan kebaikan bersama. Rumah Bu Nyai sudah berubah, rumah berlantai dua yang sudah tua itu sudah di renovasi. Wafi sedang berdiri di depan sebuah dinding, dimana pigura foto pernikahannya di pajang, matanya beralih, menatapi pigura foto pernikahan Abi dan uminya. Bibirnya tersenyum tipis, dan terus memandangi wajah abinya.


”Umi...Aaaa! Albanna! Al...!" Athalla terus menjerit-jerit, saat Albanna mengenggam ulat bulu di tangannya, dan mengarahkannya padanya. ”Umi.. Hiks!"


”Al, jangan iseng sama aa nya terus dong,” tegur Afsheen yang memang sedang ada di rumah.


”Ih enggak,” kata Albanna sambil mendelik. ”Aa cengeng,” cibirnya. Dia lekas menunduk saat melihat abinya turun menuruni tangga.


”Al," panggil Wafi.


”Abi." Athalla berlari ke arah Wafi dan Wafi lekas menggendongnya. ”Abi... Al, nakal,” ia mengadu.


Albanna diam dan terus menyembunyikan kedua tangannya ke belakang, Wafi menurunkan Athalla dan dia mendekati Albanna. Dia berlutut di hadapan anaknya itu, dan perlahan menarik tangan Albanna, tapi Albanna menahan sekuat tenaga.


”Lagi pegang apa? Abi lihat, kenapa Aa kamu sampai nangis, hmm? Coba sini abi lihat,” tuturnya meminta. Albanna membuang nafas panjang dan Wafi menahan senyumnya, tangan mungil Albanna terulur, memperlihatkan apa yang sedang dia genggam, Wafi terperanjat, dan Afsheen tersentak. Wafi menggendong anaknya dan membawanya ke dapur, Shafiyah dan Raihanah menoleh dan memperhatikan.


”Jangan main ulat, jangan pegang hewan sembarangan, bentol bentol kan jadinya," Wafi mengomel, dia membawa masuk Albanna ke kamar mandi dan melepaskan pakaian anaknya.


”Abi, Al udah mandi tadi,” ujar Albanna begitu lucu.


”Terus kenapa main ulat? Mandi, gatel gatel nanti,” ucap Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Ya Allah, Albanna. Kamu mah.." Shafiyah melangkah pergi, untuk mengambilnya pakaian anaknya.


”Umma,” lirih Athalla, mendekati Raihanah, dan naik ke pangkuannya perlahan. Raihanah membiarkan dan mengusap air mata Athalla. ”Al, nakal."


”Al ngajak main kamu,” timpal Raihanah.


”Atha takut hiks..” Ia menangis lagi dan Raihanah memeluknya.


Setelah Albanna mandi, dia cengengesan walaupun kakaknya menatapnya kesal. Shafiyah mendekat dan mengoleskan minyak angin di bentol merah Albanna. Wafi menyisir rambut Albanna sambil memainkan sedemikan rupa. Dia tertawa sendiri dan Albanna terus tersenyum.


”Jangan main ulat lagi, ngerti kan?" tutur Shafiyah dan Albanna mengangguk, sering begitu, dan terus diulangi lagi.


”Minta maaf sama aa, Maafin Al ya a. Ayo bilang gitu sama aa," titah Wafi dan Albanna mendongak. Lalu dia menoleh kepada Athalla.


”Aa, Al minta maaf ya,” ucap nya sambil tersenyum dan Athalla membuang muka.


”Aa jangan gitu dong, di maafin gak adiknya?" ujar Shafiyah.


”Iya," singkat Athalla. Dan kini Albanna sudah selesai memakai pakaiannya.


”Mau main,” pinta Albanna, hendak berlari tapi Shafiyah menahan. Dia pegang kedua bahu Albanna lembut.


”Udah siang, panas. Mending bobo,” ajak Shafiyah dan Albanna cemberut.


”Al, Atha, bobo sama Feeza sini,” seru Afsheen dari ruang tengah. Dia sedang berbaring, bersama putrinya yang sudah terlelap. Albanna berlari untuk melihat bibinya dan Athalla turun dari pangkuan neneknya, dia menyusul. Wafi dan Shafiyah saling menatap, lalu tersenyum, Wafi melirik uminya yang sedang sibuk, dan dia menggerakkan tangannya ke pinggang Shafiyah, dia cubit gemas pinggang istrinya itu dan Shafiyah tersentak.


Plak!! Dia pukul bahu suaminya itu kesal dan Wafi tersenyum lebar.


”Jangan dicolok Astaghfirullah!" jerit Afsheen, dia lengah dan Hafeeza yang sedang tidur di mainkan oleh Albanna. ”Al...!” Terus menepis tangan Albanna yang bersikukuh ingin membangunkan Hafeeza.


”Bibi!” Albanna merasa gemas karena tangannya terus di tepis, Afsheen tertawa-tawa dan akhirnya Hafeeza terbangun.


”Jangan dek, kasihan,” ucap Athalla. Dia mengenggam tangan Albanna agar berhenti menganggu sepupu mereka.


”Iya cantik, tapi jangan kamu colok juga matanya Al,” sahut Afsheen sambil terkekeh. Afsheen memelihara Athalla yang terlihat sudah mengantuk. Afsheen menarik bantal dan meletakkannya di dekat Athalla. ”Bobo, a,” imbuhnya dan Athalla langsung berbaring. Albanna menonton televisi dan memasukkan tangannya ke dalam toples, meraih dua keping biskuit, lalu memakannya.


Lama kelamaan, Albanna merebahkan tubuhnya di dekat Athalla. Akhirnya si kembar terlelap dan Afsheen mengusap bibir Albanna yang kotor, anak itu bahkan lupa minum, siang hari memang keduanya selalu tidur. Jika tidak, keduanya sering serba salah dan malah selalu menangis.


Di lantai dua, Shafiyah sedang memotong buah-buahan menjadi dadu. Wafi mendekat dan memeluknya erat dari belakang, Shafiyah diam saat pipinya terus di cium.


”Yang.”


”Hemm?”


”Lihat anak-anak, tidur apa enggak. Aku lagi pengen.”


”Aku sibuk.” Shafiyah hendak melangkah tapi Wafi menahan dengan tangannya, dia menarik bahu istrinya itu agar berbalik, dan kini keduanya berhadapan. ”Abi..."


”Iya apa sayang?” Wafi tersenyum dan Shafiyah mencebik bibirnya. ”Anak-anak udah gede.” Jemarinya membelai wajah cantik istrinya, lalu turun perlahan tapi Shafiyah lekas menepisnya.


”Baru 5 tahun,” jawab Shafiyah. Dia mengalungkan lengannya ke tengkuk Wafi dan Wafi tersenyum, merasa mendapatkan sinyal-sinyal persetujuan, untuk tempur siang ini.


”Iya, kan itu udah besar sayang. Kita sudah waktunya, membicarakan anak lagi. Satu, atau dua lagi mungkin,” tuturnya enteng dan Shafiyah mencubit dadanya. Wafi mengusap dadanya pelan.


”Ngurus Atha sama Al aja aku udah capek, nanti ajalah, setidaknya mereka berdua udah bisa mandi sendiri, pakai baju sendiri."


”Mereka bisa kok, kamu aja yang gak pernah ngasih kesempatan.”


”Masih sering kebalik, masih harus sering nanya, aku takut. Kalau punya anak lagi, nanti malah terbengkalai, takut dosa. Nanti aja ya."


"Hmmm..!" Wafi kecewa.


Shafiyah tersenyum tipis dan saling menatap lekat dengan suaminya. Tubuh Wafi mulai merapat, dia tarik dagu istrinya itu lalu perlahan mulai mencium nya. Shafiyah menerimanya dan keduanya berhenti saat sama-sama terbayang si kembar, takut keduanya tiba-tiba muncul. Dan melihat yang seharusnya tidak mereka lihat.


”Mau gak?" tanya Wafi dengan tatapan sendu, dan suara serak. Shafiyah mengangguk setuju dan Wafi tersenyum simpul.


Wafi melangkah pergi untuk melihat Athalla dan Albanna, jika belum tidur, dia akan menidurkannya terlebih dahulu. Biar aman, tentram dan sukses. Saat melihat kedua anaknya sudah tidur, Wafi senang bukan main. Dia pergi lagi ke lantai dua dan menarik Shafiyah, mengajaknya ke kamar.


*****


Hari ini, keluarga Majdi dan keluarga Sara menggelar acara syukuran, di sebuah restoran, milik Qais. Untuk merayakan rasa syukur untuk yang kelima tahun umur si kembar. Menjadi cucu kesayangan, dan keponakan kesayangan dari keluarga sang ibu, tak heran keduanya mendapatkan fasilitas yang selalu berada, walaupun Wafi yang seorang kontraktor terkenal, ustadz muda, dan memiliki toko kue dengan cabang yang tersebar di tanah air, cukup mampu untuk memanjakan anak-anaknya, walaupun begitu, dia tidak pernah mendidik si kembar menjadi pribadi yang royal. Kehidupan tidak ada yang tahu, sekarang berkecukupan, entah nanti akan bagaimana, metode hidup sederhana sangat cocok untuk para orang tua mendidik anak, agar selalu prihatin di setiap keadaan, dan bersyukur disaat kejayaan.


”Oma, ini apa?" tanya Albanna.


”Ini kue coklat, abi yang bawa tadi, sini Oma suapi,” imbuh Sara dan Albanna menolak.


”Mau sendiri,” ia bersikukuh.


”Ya sudah, sok makan sendiri,” kata Sara.


”Baca doa dulu,” tegur Shafiyah dan Albanna mengeluarkan kembali kue yang sudah masuk ke mulutnya. ”Heh! haha!” Shafiyah tergelak dan semuanya juga tertawa.


”Tuh kan bajunya kotor." Ena menarik beberapa lembar tisu dan membersihkan baju Albanna. Athalla diam memperhatikan, sedang menikmati susu coklat dalam botol, sambil berbaring dengan kepala di pangkuan abinya. Wafi terus mengelus rambut anaknya itu, dan mengobrol dengan Fajar.


”Zahla." Tunjuk Hafeeza kepada Zahran yang baru datang, sedang berjalan dengan digandeng ayahnya, Musa. Afsheen menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Bayyin.

__ADS_1


”Assalamu'alaikum," seru Musa dan Bayyin.


”Wa'alaikumus Salaam,” semuanya menjawab.


”Sini,” ajak Raihanah. Dan Zahran mendekat, duduk di pangkuannya.


”Hei, Zahran,” Albanna menyapa.


Zahran menoleh dan tersenyum.


”Si genit,” cibir Nafis dan terus memperhatikan Albanna.


”Genit kayak bapaknya,” timpal Afsheen.


”Dih!" Wafi menimpali sambil mendelik.


”Tapi serius, a Mumu genit. Apalagi waktu dulu pas caper sama Shafiyah,” ujar Bayyin mengungkit dan Wafi terbelalak.


”Bener kan Fiyah?" ujar Afsheen dan Shafiyah hanya mengangkat bahu. Wafi tersenyum, melihat Shafiyah berusaha menjaga rahasia memalukannya, saat dua yang genit, dan cari perhatian, hanya untuk menarik perhatian Shafiyah.


”Ayo, mulai,” titah Herman. Dia tepuk paha menantunya sekali. Wafi menoleh dan mengangguk. Athalla bangkit dan mendekati Albanna yang sedang memperhatikan mainan baru milik Zahran.


”Mau pinjem?” tanya Zahran.


”Boleh?” tanya Albanna dan Zahran mengangguk, Albanna tersenyum dan memainkan mainan, berbentuk kucing tersebut. Bayyin tersenyum, melihat percakapan anak-anak kecil yang begitu menggemaskan.


Wafi memimpin doa, semuanya menadahkan tangan, mengamini. Setelah selesai, makanan pun dihidangkan. Semuanya makan bersama, dan Shafiyah menyuapi dirinya sendiri, si kembar sedang disuapi oleh ibunya.


Keluarga tersebut menjadi pusat perhatian, apalagi si kembar yang susah dibedakan, dan begitu lucu.


”Neng, gorengan,” pinta Wafi dan Shafiyah meraih plastik berisi gorengan yang dibawa saudara iparnya. Wafi menerimanya dan sesekali memperhatikan Albanna, suaranya begitu nyaring dan dia yang paling heboh.


Waktu tidak terasa berlalu cepat, melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu di mushola di sebelah, semuanya bersiap untuk pulang. Wafi, istrinya dan kedua anaknya akan pergi ke Bandung kota. Ke rumah orang tua Shafiyah, akan menginap karena Athalla dan Albanna terus meminta, sejak beberapa hari yang lalu.


”Jangan nakal, ngaji sama umi,” tutur Raihanah sambil memangku pipi cabi Athalla dan Athalla mengangguk.


”Umi, nginep di rumah kami aja, gak usah khawatir,” imbuh Musa dan Wafi tersenyum merasa lega.


”Ibu mau di mobil Wafi,” kata Sara, agar bisa dekat dengan kedua cucunya dan Herman membiarkan.


”Dadah ummah, Assalamu'alaikum!” seru Albanna sambil melambaikan tangan dan Raihanah tersenyum.


”Wa'alaikumus Salaam,” jawabnya.


”Ayo mi,” ajak Musa, dan Raihanah lekas masuk ke dalam mobil, dia memperhatikan Zahran yang sedang kesusahan mengikat rambut nya. Raihanah pun membantu dan sesekali mencium rambut cucunya itu.


Semuanya berpencar, bubar, setelah berpamitan. Sepanjang perjalanan, Albanna dan Athalla terus mengoceh, memberitakan apapun kepada nenek mereka. Dari depan, Wafi sesekali melirik kaca spion dan tersenyum. Begitu juga dengan Shafiyah, Kebahagiaan tak terhingga, adalah perdamaian dalam sebuah keluarga.


Hujan mengguyur kota Bandung hari ini, di dalam mobil, Albanna menempelkan bibirnya ke kaca mobil, dia perhatikan setiap jalanan yang tergenang air, air hujan berjatuhan, orang-orang berteduh, dan banyak yang mengendarai motor sampai kehujanan.


”Dek, itu apa?” tanya Athalla, sambil menunjuk sebuah kedai es krim yang menarik perhatiannya.


”Gak tahu,” jawab Albanna jujur.


”Abi, masih lama?" tanya Athalla.


”Sebentar lagi,” jawab Wafi dan Shafiyah menoleh ke belakang, melihat kedua anaknya yang nampak bosan. Sekitar 10 menit, dari jawaban Wafi. Akhirnya mereka sampai, Albanna keluar setelah satpam membukakan pintu mobil untuknya. Albanna berhenti berjingkrak-jingkrak saat Athalla mengenggam tangannya.


”Basah, dek, kamu mah,” ujar Athalla ketus.


”Mau main hujan,” pinta Albanna.


”Nanti sakit,” timpal Athalla.


”Aa juga mau kan, tapi takut di marahin abi, hihihi." Albanna cengengesan dan Athalla menggeleng kepala.


”Ayo masuk,” ajak Sara dan keduanya pun masuk, meninggalkan orang tua yang baru turun, mobil Herman datang tidak lama setelah semuanya sampai.


Sore menjelang, hujan berkepanjangan, Athalla dan Albanna berguling-guling di atas kasur, dengan seprai putih dan sesekali bersembunyi dibawah selimut yang juga berwarna putih. Shafiyah yang baru selesai sholawat ashar mendekat, ia berbaring dan memperhatikan kedua anaknya yang melihat keluar kaca jendela, membuat air hujan yang terus turun.


”Al, Al sayang nggak sama umi?" tanya Shafiyah dan Albanna tersenyum. Dia langsung memeluk uminya erat dan Athalla juga memeluk uminya itu.


”Al sayang umi,” ucap Albanna begitu polos, lalu mencium pipi uminya lembut.


”Atha sayang nggak sama umi?”


”Sayang banget,” jawab Athalla dan Shafiyah tersenyum lebar.


Shafiyah melirik ke arah pintu, suaminya baru pulang dari mushola, baju Koko putihnya sedikit basah.


”Salam sama Abi,” titah Shafiyah dan kedua anaknya menurut, lalu dia yang terakhir. Wafi ikut berbaring dan diam saat kedua anaknya naik ke atas punggungnya, lumayan, sedikit mengobati rasa pegal. Wafi terus memperhatikan Shafiyah, yang semakin cantik, dari usia 19 tahun sampai sekarang, dia melihat banyak perubahan dalam diri istrinya, bukan hanya rupa yang semakin cantik jelita, tapi kedewasaan juga semakin terasah.


Shafiyah yang diperhatikan terlihat malu-malu, menunduk berulangkali dan Wafi terkekeh.


”Kenapa?” tanya Shafiyah berbisik.


”Kamu cantik," puji Wafi dan Shafiyah tersenyum lebar, pipinya memerah dan Wafi menoleh saat kedua anaknya beranjak pergi, berguling-guling kembali di sebelahnya, dia bergeser lebih dekat kepada Shafiyah.


Cup! kecupan mesra dan begitu lembut mendarat di kening wanita itu, membuatnya terus tersenyum dan Wafi tetap saja memperhatikannya.


”Terima kasih, untuk waktu yang kamu habiskan untukku, untuk dunia muda yang kamu korbankan untuk menjadi istri seorang mantan napi, kamu yang terbaik, jangan pernah ada niatan untuk pergi jauh, dan jangan pernah berpikiran, bahwa aku bisa berpaling dari wanita seperti kamu, Habibah,” suaranya lirih dan Shafiyah tersenyum seraya mengangguk.


”Aku sayang sama kamu, abinya anak-anak,” balas Shafiyah dan Wafi tertawa renyah.


Keduanya terus saling menatap, sampai si kembar masuk diantara keduanya, tidak memberikan kesempatan keduanya, untuk berdekatan.


**Cinta luar biasa, pengorbanan yang menguji kesabaran, tiada penantian panjang, tanpa sebuah keberhasilan. Wafi yang bangkit dengan dukungan cahayanya, Habibah. Dia yang berjuang, jatuh berulangkali, dan terus bangun tanpa menyerah. Hati memang tahu, kemana dia harus bermuara. Kisah sederhana tentang kehidupan, kesederhanaan, keluarga, rumah tangga, cinta dan bagaimana bersikap baik kepada pasangan, semoga bermanfaat untuk kita semua, terkhusus untuk saya, yang menuliskan cerita ini sepenuh hati, dengan pertimbangan yang panjang di setiap bait yang dituliskan, karena semua perbuatan akan dihisab, termasuk sebuah coretan atau tulisan. Sekian dan terimakasih untuk semuanya, yang mendukung karya ini sampai tembus Vw 1M. Semoga bermanfaat, sehat selalu semuanya, dan kisah selesai sampai disini... Wassalamu'alaikum.


Sun sayang, Mela.


Semoga silaturahmi terus terjalin setelah ini, jan lupa follow Ig untuk info terbaru tentang coretan ku selanjutnya.


Instagram:@Melanuri31


-Tamat-


Star 14/09/2021


end 06/11/2021

__ADS_1


🌿Sun sayang dari keluarga Majdi🌿


assalamu'alaikum, aku mau ngasih tahu kalau Cahaya Untuk Gus Mu ada lanjutannya. Kalian bisa baca di aplikasi *** app, nama author Mella Nuri dan judul lanjutan cerita ini "Hikayat Cinta Sang Gus" menceritakan Generasi ke 4 keturunan Majdi. Dan kisah menarik Gus Kembar Athalla Faiq dan Albanna Faiz.


__ADS_2