
Wafi mengacak-acak rambutnya, melemparkan rokok yang baru dia nyalakan lalu menginjaknya. Wafi merogoh sakunya, membuang rokok dan korek apinya kasar. Lalu dia pergi meninggalkan saung, dia harus bisa berubah jika mau dengan Shafiyah. Keluarga Shafiyah bukan keluarga sembarangan. Bukan hanya mental, tapi dia harus memiliki finansial yang mencukupi standar tinggi mereka.
Wafi bisa saja menyerah, tapi cintanya untuk Shafiyah terlanjur jauh, dia yang berkomitmen untuk tidak buru-buru menikah karena baru keluar dari penjara, tiba-tiba oleng karena melihat Shafiyah, yang wajah nya pun dia tidak tahu lebih jelasnya. Dia bisa saja memilih gadis lain, tapi dia hanya menginginkan Shafiyah. Tidak ada niatan untuk menjadi benalu di keluarga orang kaya, dia tulus mencinta, dan dia sangat ingin memiliki hak yang mutlak atas Shafiyah.
”Ya Allah, mendadak kaya tanpa usaha tidak mungkin. Tapi tolong ya Allah, saya mau Shafiyah. Saya mau dia, gadis yang tidak pernah memandang rendah saya, saya mau Shafiyah ya Allah. Jika hanya restu yang menghalangi, masih bisa saya hadapi. Tapi takdir dari-Mu yang hamba takutkan, apa benar gadis itu jodoh hamba? beri hamba petunjuk, untuk lanjut atau berhenti di sini. Untuk berjuang atau belajar mengikhlaskan.” Wafi bergumam sambil terus melangkah.
Kedua matanya merah, berair dan sangat menyedihkan. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaketnya, senja mulai redup dan akan tergantikan dengan malam yang gelap. Seperti kehidupan Wafi, gelap gulita, tak ada bedanya siang ataupun malam baginya. Namun, sang kekasih, pujaan hatinya memendarkan cahaya. Cahaya yang semakin terang benderang menyinari kehidupannya, memberi semangat jiwanya yang rapuh, memberikan kasih untuk akal nya yang nyaris punah. Itu adalah Shafiyah, lentera kehidupannya, pujaan hatinya, yang sangat ingin dia miliki, tapi Allah lagi-lagi tidak memberikannya kesempatan untuk meraih nya dengan mudah. Harus dengan tantangan dan pengorbanan.
*****
Pagi ini, sarapan bersama seperti biasa. Ada yang berbeda dari Wafi, dia nampak diam, tidak berbicara dan tatapannya kosong. Mengunyah makanannya begitu malas, dan Raihanah memperhatikan. Karena penasaran, dan khawatir. Raihanah meraih tangan kiri putranya itu. Wafi tersentak, dan menatap uminya lekat.
”Masakan umi gak enak a?” ucap Raihanah dan Wafi menggeleng kepala, bibirnya tersenyum tipis.
”Enak, enak banget. Aku suka.” Puji Wafi lalu menambah lauk pauk kembali, dia tidak bisa membuat uminya sedih dan khawatir. Tapi, tingkahnya sekarang malah membuat Raihanah nampak sedih.
”Aaaaa... Aa!" jerit Afsheen, saat bajunya basah karena tangan kasar Wafi tidak sengaja menyenggol mangkuk berisi sayur bening.
”Maaf Niyyah.” Wafi panik dan bangkit, meraih tisu tapi Afsheen tidak mau.” Biar aku..."
”Enggak!" bentak Afsheen memotong ucapan Wafi.
”Ini masih pagi, jangan teriak-teriak,” tegur Raihanah.
”Maaf, gak sengaja,” ucap Wafi dan Afsheen mendelik. Bayyin diam-diam memperhatikan Wafi, yang nampak tidak baik-baik saja, apa ini karena ucapannya kemarin sore? tentang Aidan dan Shafiyah? sampai kakaknya sekarang terlihat galau, linglung dan tidak bersemangat.
”Makan lagi,” titah Raihanah. Afsheen dan Wafi mengangguk lalu kembali menikmati sarapan, Afsheen akan mengganti bajunya lebih dulu sebelum pergi. Sangat basah dan tidak akan kering dalam waktu singkat. Rok nya juga basah sedikit.
Setelah Wafi selesai, dia pergi meninggalkan dapur. Raihanah memperhatikannya, sampai punggung anaknya itu tidak terlihat lagi.
”Aa kalian kenapa sih, cemberut terus,” ujar Raihanah dan Afsheen diam.
”Aa mungkin lagi capek, umi gak usah khawatir.” Bayyin berusaha menghibur dan Raihanah hanya mengangguk.
Wafi diam menunggu Afsheen sambil memainkan hapenya, tidak ada postingan baru dari Shafiyah. Sejujurnya, gadis itu sedang bingung, dia diam dengan rasa cinta yang semakin membara. Takut dosa, dan takut zina. Apa dia harus seperti ibunda Khadijah? yang mengutarakan perasaannya, sampai akhirnya dinikahi Baginda Nabi Muhammad Saw. Atau harus seperti Zulaikha? yang membujuk Allah SWT sampai mendatangkan Yusuf padanya. Atau mungkin dia harus seperti Fatimah Az-Zahra, yang memendam rasa cintanya kepada Ali bin Abi Thalib.
Dia bukan wanita mulia, dia hanya seorang gadis akhir zaman yang berusia 19 tahun. Yang sedang bergelimang ketakutan akan dosa-dosanya. Tidak ada yang salah, jika seorang perempuan mengutarakan perasaannya lebih dulu, apalagi lelaki yang baik atas agamanya. Tapi ia tidak memiliki keberanian sekuat itu, dia tahu betul. Keluarganya seperti apa, agama dikesampingkan, bergelimang harta yang menjadi pilihan utama.
Wafi menoleh, dan melihat Shafiyah. Gadis itu menunduk dan melangkah cepat, menghindar.
__ADS_1
”Tuh kan, dia menghindar begitu. Aku sakit kamu begitu Habibah.” Gumam Wafi lalu menunduk.
Afsheen keluar dan temannya sudah menunggu.” Aa, aku berangkat sama temen,” ujarnya dan Wafi menoleh. Dia melihat seorang gadis di atas motor, teman kerjanya Afsheen.
”Ya sudah,” ucap Wafi dan Afsheen meraih sandal lalu memakainya.
”Assalamu'alaikum,” ucap Afsheen.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Wafi dan Afsheen pergi.
Wafi bangkit dan meraih tas nya, dia pamit dan Raihanah menyahut. Pria itu mengendarai motor dengan kecepatan sedang, di tepi jalan, bus yang ditumpangi Shafiyah belum juga jalan. Wafi memperhatikan Shafiyah yang duduk di dekat kaca bus, gadis itu nampak melamun dan seperti menanggung beban berat saja.
Bus akhirnya melaju, Wafi mengurangi kecepatan dan mengikuti. Shafiyah akhirnya menoleh, sampai tatapannya dengan tatapan pria beradu. Shafiyah tersentak dan Wafi membuat panggilan padanya.
”Ngapain sih, bawa motor sambil main hape,” ucap Shafiyah berbisik dan Wafi menyelipkan hapenya di helm yang dia pakai itu. Shafiyah mengangkat panggilan tersebut dan Wafi terus berkendara.
”Saya mau ngomong, turun sebentar!" suara Wafi lantang.
”Enggak.” Tolak Shafiyah dan menatap Wafi sesekali.
”Ini penting, menyangkut hidup, mati dan keamanan masa depan saya. Turun Habibah,” tutur Wafi dan melirik sekilas. Dia hati-hati karena takut hilang keseimbangan.
”Iya turun dulu, nyebelin banget si.” Wafi kesal dan akhirnya Shafiyah bangkit, dia berseru 'kiri-kiri' sampai akhirnya bus berhenti. Shafiyah membayar biaya tumpangannya, lalu ia turun. Wafi menghentikan motornya dan Shafiyah diam tidak mendekat. Wafi yang akhirnya mendekat, pria itu tetap duduk di atas motornya.
Shafiyah diam, keduanya sama-sama gugup dan takut ada yang melihat. Shafiyah tidak kuasa, mengangkat kepala dan melihat pria tampan itu, yang wajahnya penuh keringat karena mengejarnya.
”Saya mau ngomong,” ucap Wafi.
”Mau ngomong apa? saya takut ada yang melihat. Kalau di pesantren ini antara santriwati dan Gus nya, kalau di luar pesantren beda lagi. Saya takut timbul fitnah,” tutur Shafiyah dan Wafi mengangguk, memahami ucapannya.
”Hanya 10 menit Bibah, oke?”
Shafiyah akhirnya mengangguk, Wafi menunjuk sebuah taman yang begitu ramai, Shafiyah masuk lebih dulu dan tidak lama Wafi yang masuk. Keduanya berhadapan cukup jauh, terhalang sebuah kursi besi panjang berkarat, sebagai penjaga jarak.
”Cepetan,” ketus Shafiyah. Dia memperhatikan semua anak-anak yang sedang bermain, bersama baby sitter dan ada yang juga yang bersama orang tuanya.
”Kamu terima ajakan ta'aruf Aidan?” tanya Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala. Wafi membuang nafas lega, dia menunduk dan tersenyum lebar, lalu mengusap rambut hitam dan tebal itu ke belakang.” Kenapa gak diterima?" sekarang ia butuh alasan, dan dia berharap alasannya adalah dirinya. Sangat kepedean bukan?😎.
”Saya gak bisa ngasih tahu, saya sibuk." Shafiyah berbalik dan Wafi panik.
__ADS_1
”Ayo nikah!” seru Wafi lantang, dan Shafiyah kaget. Gadis itu menoleh dan berharap tidak ada yang mendengar, suara berisik kendaraan dan suara anak-anak, membuat seruan Wafi tersamarkan.
”Jangan bercanda,” ketus Shafiyah.
”Saya serius, saya mau menikah sama kamu Shafiyah,” suara Wafi serak dan Shafiyah menunduk.
”Kamu gak kenal saya siapa.” Shafiyah sewot dan melangkah pergi, Wafi berlari lalu menghadang jalannya.” Awas, saya bisa teriak,” tegasnya mengancam.
”Ayo teriak, kalau saya babak belur. Kamu yakin gak nangis?” ucap Wafi sambil tersenyum simpul, Shafiyah nampak gelisah dan terus menunduk.
”Mending Gus lupain semuanya, keluarga saya, gak mudah menerima. Saya minta maaf bilang begini, Gus pernah di penjara. Ini susah, ini sulit. Saya gak mau Gus kenapa-kenapa karena saya, orang tua, kakak-kakak saya, gak akan menerima dengan mudahnya. Tolong, kita saling gak kenal aja mulai sekarang,” tutur Shafiyah serak, tanpa diduga. Air matanya berlinang begitu saja, Wafi mengepal tangannya kuat.
”Beneran bisa kamu? jauhin saya?” tegas Wafi dan Shafiyah diam.” Saya mau jawaban dari kamu dulu, kamu mau gak sama saya?” tanyanya lirih dan Shafiyah masih diam.
”Saya yang mantan narapidana, miskin, gak jelas masa depannya, kerja serabutan. Kamu mau gak? kalau kamu mau, saya akan berjuang. Tolong jawab dengan jujur, kamu mau gak sama saya? saya gak punya apa-apa, saya cuma punya diri saya sendiri yang bisa saya kasih ke kamu. Saya emang susah, tapi saya gak akan ngajak kamu susah kayak saya. Hanya sekali saja kamu bilang 'mau' atau 'iya'. Saya perjuangkan kamu Habibah,” tutur Wafi begitu tulus, tidak ada keraguan dalam kata-kata dan sorot matanya.
Shafiyah diam, dan menyeka air matanya yang terus menetes.
”Saya sayang sama kamu, saya cuma mau kamu. Izinkan saya untuk datang ke rumah orang tau kamu, mengajukan diri untuk melamar dan menikahi kamu. Kamu anak perempuan satu-satunya, sangat mereka cintai. Saya gak pandai basa-basi busuk tentang cinta, apalagi gombalin kamu. Saya mau berjuang Shafiyah, supaya kita bisa bersama. Saya serius, saya udah gak muda lagi, kita memang beda zaman, beda usia. Tapi ketertarikan gak terpengaruh oleh itu semua, saya mau menikahi kamu.
Ini terlalu cepat, saya juga gak tahu kenapa bisa begini. Kenapa saya bisa tertarik, mencari tahu tentang kamu, apa yang kamu suka, apa yang kamu gak suka. Saya cari tahu semuanya. Saya gak pernah begini sebelumnya, masa remaja, masa muda saya habis di penjara. Di usia 19 tahun saya sudah merasakan dinginnya penjara, terkurung bertahun-tahun, kehidupan terbatas, terus saya bebas dan ketemu sama kamu. Saya gak tahu kenapa saya bisa tertarik sama anak kecil, kamu terlalu muda untuk saya. Perbedaan 9 tahun gak ada apa-apa nya, di luar sana yang berbeda belasan tahun saja ada Habibah. Apa kamu mau menikah sama saya? yang sudah berumur ini?” tutur Wafi dengan suara serak. Tangannya berkeringat dingin saat ini.
Shafiyah tiba-tiba terkekeh dan Wafi juga terkekeh geli karena ucapannya sendiri." Enggak, Gus sama sekali gak tua, gak berumur. Masih muda kok,” ucap Shafiyah dan Wafi tersenyum.
”Ganteng gak?" malah meminta di puji dan Shafiyah melotot mendengarnya. Wafi tertawa renyah dan Shafiyah mengepal tangannya, jangan di lihat, jangan di lihat. Begitulah dia bergumam, karena kegantengan pria itu bertambah saat tersenyum dan tertawa.” Jadi mau?”
”Enggak mudah Gus,” suara Shafiyah serak.
”Hidup dalam kegelapan saja saya bisa, apalagi untuk memperjuangkan cahaya yang membuat kegelapan itu sirna,” tutur Wafi dan Shafiyah mengernyit heran.” Kita memang belum lama mengenal, tapi ini sangat cukup dan saya gak mau terlalu lama memendam rasa, saya takut. Saya takut gak kuat, saya takut salah memandang kamu yang bukan mahram saya. Kalau kamu mau, ayo kita menikah. Itu juga kalau kamu punya rasa yang sama dengan saya. Apa saya di izinin, buat ke rumah kamu. Bilang sama orang tua kamu, saya mau mengkhitbah, secepatnya.”
Shafiyah diam, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya. Dia akhirnya mengangguk dan berharap Wafi bisa meluluhkan keluarganya, dan ternyata, perasaan nya berbalas. Shafiyah sangat senang, dan semuanya akan di mulai dari sekarang.
”Bawa semuanya, Gus tahu kan CV ta'aruf itu seperti apa?”
”Saya tahu, CV kerja untuk melamar kerja. CV yang saya bawa nanti, untuk melamar kamu.” Wafi tersenyum lebar dan Shafiyah juga tersenyum.
”Semoga bisa,” ucap Shafiyah bisa.
”Do'ain ya," pinta Wafi dan Shafiyah mengangguk.
__ADS_1
Setelah obrolan selesai, keduanya berpisah. Wafi diam menunggu, sampai gadis itu naik ke dalam angkutan umum. Lalu dia pergi setelah itu, untuk segera bekerja. Dan akan mencari hari yang pas untuk datang ke rumah Shafiyah.