Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 67: Masih marah?


__ADS_3

Shafiyah diam melamun, memikirkan ucapan ibunya. Nur di sebelahnya terus berbicara pun dia tidak mendengarnya. Shafiyah dan beberapa Santriwati sedang berada di pacuan kuda, Shafiyah hanya bisa melihat, dan harus menahan rasa ingin naik kuda.


Shafiyah tiba-tiba bangkit dan Nur menoleh.” Shafiyah! mau kemana?” teriaknya tapi Shafiyah tidak menjawab.


Di rumah, Wafi sedang menuliskan sesuatu di sebuah buku, berbagai resep kue yang dia ketahui, dan berusaha mengingat apa saja bahan yang dia lupakan. Shafiyah datang, menaiki tangga terburu-buru dan Wafi menoleh. Gadis itu diam mematung, menatap suaminya lekat dan Wafi diam kebingungan.


”Apa?” tanya Wafi ketus.


”Mau peluk." Shafiyah meminta, dengan merentangkan kedua tangannya. Wafi mengernyit heran, istrinya datang-datang langsung minta peluk begitu.


”Neng, kita lagi marahan ya, ingat!” hardiknya menolak permintaan istrinya, Shafiyah menurunkan kedua tangannya lemah.


”Tapi aa meluk aku semalam.” Shafiyah tersenyum tipis, saat dia berucap seperti itu, wajah suaminya langsung gugup.


”Kapan?” Wafi berusaha membantah.


”Semalam, kemarin malam juga pasti kan?" tuduh gadis itu sangat tepat, memang begitu kenyataannya. Saat dia terjaga Wafi memang diam, tapi saat dia terlelap, habis di cium dan di peluk.


”Semalam kamu mengigau, aku terpaksa." Berusaha ngeles.


”Tapi aku cuma pura-pura mengigau." Shafiyah jujur dan Wafi tidak bisa berkata-kata lagi.


Shafiyah kembali melangkah lebih dekat pada suaminya itu.


”Mau peluk, sebentar juga gak apa-apa," ucapnya merengek-rengek.


”Aku sibuk.” Wafi terus menolak dan Shafiyah menunduk sedih.


”Fiyah emang salah, kalau aa marah wajar. Tapi tolong, sekarang Fiyah mau dipeluk a!” seru Shafiyah lantang, mengangkat kepalanya begitu berani, dan air matanya tumpah ruah tidak tertahan. Wafi bangkit dari duduknya dan dia memperhatikan sorot mata istrinya, yang bukan sekadar pelukan yang dia butuhkan, tapi perlindungan dan kekuatan.


”Sini sayang sini.” Wafi merentangkan tangannya lembut, bibir Shafiyah mencebik dan kedua kaki jenjangnya berlari kecil mendekati Wafi. Dia peluk tubuh suaminya erat, Wafi membalas dengan gerakan tangan yang begitu lembut.” Maaf, maafin aku ya. Kenapa nangis? ada yang ganggu? siapa yang berani gangguin istri Gus Mu, shutt nangis aja, dada aa basah juga gak apa-apa, sok nangis aja kalau neng mau mah, sepuasnya, sampai lega," sambungnya lemah lembut.


Shafiyah mendongakkan kepalan dan menatap suaminya dengan berderai air mata.” Jangan tinggalin Fiyah.”


”Enggak, aku di sini.” Wafi menimpali lalu mengecup kening istrinya itu. Shafiyah tersenyum dan kembali menempelkan pipinya di dada bidang suaminya. Tubuh Shafiyah tiba-tiba terkulai lemas, gadis itu menarik niqob nya ke belakang, melepaskan pelukan dan mendorong dada suaminya.” Bibah!" Wafi panik.


”Aku mual a, mual banget, pusing,” ucap gadis itu. Wafi langsung memapahnya menuju kamar mandi, dan di sana Shafiyah terus muntah. Wafi memijat tengkuk istrinya itu dan Shafiyah merasa sangat lemas. Wafi terus memijat tengkuk dan bahu Shafiyah, berharap bisa membantu dan meringankan kesakitan yang dialami habibah nya.


”Udah bi udah,” ucap Shafiyah dan Wafi berhenti.” Pusing.”


”Aku bikinin teh manis, jangan ngajar dulu hari ini. Aku gak ngasih izin, istirahat pokoknya. Pikirkan si Utun sayang, kalau kamu sakit, anak kita juga kena dampaknya,” tutur Wafi serak dan Shafiyah mengangguk.


”Abi!” Shafiyah menjerit kecil saat tubuhnya digendong suaminya, Shafiyah berpegangan pada bahu suaminya kuat, dia takut jatuh dan Wafi membawanya keluar dari kamar mandi. Mendudukkan Shafiyah perlahan di sofa lalu dia beranjak lagi untuk membuatkan teh manis hangat. Shafiyah tersenyum tipis, melihat betapa perhatiannya Wafi padanya, walaupun kadang berlebihan dan dia selalu pusing sendiri menghadapinya. Shafiyah kini membuka kerudungnya, menarik ikat rambut sampai rambutnya terurai. Wafi sesekali melirik, melihat betapa cantiknya sedang gadis yang sedang duduk dengan wajah pucat itu.


”Masya Allah, nikmat mana lagi yang hamba bisa dusta kan dari-Mu wahai Dzat yang Maha Sempurna. Engkau titipkan ia, gadis sederhana untuk menemani dan menyempurnakan ibadah hamba, bersama-sama berjuang untuk mendapatkan ridho dan Rahmat dari-Mu. Alhamdulillah, kuatkan hati dan jiwa ini ya Allah, supaya hamba bisa menjaga amanah dari-Mu, dia istri yang baik dan janin yang Engkau titipkan di rahim nya.” Wafi bertutur lirih di dalam hatinya. Dia terus menatap istrinya lekat dan setelah gula dia rasa sudah larut, ia beranjak untuk segera memberikannya kepada Shafiyah.


”Ini sayang,” ucap Wafi. Dia duduk dan memberikan segelas teh hangat itu. Shafiyah menerimanya, meminumnya perlahan-lahan dan Wafi memperhatikannya.” Kamu lagi mikirin apaan sih sebenernya?”


”Enggak," ia tetap tidak mau bercerita. Shafiyah terus meminum teh hangatnya, Wafi diam tapi tangannya terus mengelus rambut istrinya itu." Udah bi." Shafiyah merasa cukup, hendak meletakkan gelas dan Wafi yang mengambil alih lalu meletakkannya di meja. Keduanya kini sama-sama diam, saling menatap lekat dan tatapan Wafi kini mendarat di bibir istrinya.


”Aku minta maaf, karena udah bikin a Wafi sedih dan kecewa dengan kata-kata aku waktu itu. Aku gak kuat kalau a Wafi terus diam, menghindar dan mengabaikan aku,” tutur gadis itu dan Wafi mengangkat pandangannya, ke wajah sedih Shafiyah.

__ADS_1


”Enggak apa-apa, aku juga minta maaf, gak seharusnya kemarin-kemarin aku mengabaikan kamu, diemin kamu, maafin ya. Jangan khawatir, selama aku ikhtiar, buat kamu dan calon bayi kita,” imbuh Wafi serak, dia letakkan telapak tangannya di perut Shafiyah yang sudah terasa mengencang itu. Shafiyah tersenyum, dan meraih tangan Wafi dari perutnya, mencium telapak dan punggung tangan itu.


”Makasih ya a, Fiyah janji gak bakal begitu lagi."


"Iya, kamu harus paham, karena aku juga sedang berusaha memahami kamu. Kalau mau apa-apa bilang, kalau ada apa-apa langsung bilang, kita saling terbuka mulai sekarang ya Bibah. Supaya dilain waktu, enggak ada kejadian begini lagi," ujarnya sambil membelai pipi Shafiyah. Shafiyah tersenyum lebar dan mengangguk." Aku mau tahu, apa yang terjadi di rumah Fajar? kamu berbeda setelah ketemu sama ibu, pendiam, muram, sedih terus, aku tahu kamu tadi menangis di kamar mandi. Jujur sayang, ceritakan semuanya sama suami kamu ini,” tambahnya lirih.


Shafiyah diam, hanya menatap, ragu untuk menjawab apalagi menjelaskan panjang dan lebar, apa yang dilakukan dan dikatakan ibunya, tentang hubungannya dengan Wafi yang berusaha dirusak, tanpa henti.


”Sayang, aku gak suka kamu diem, bohong sama aku, memendam sesuatu dari aku. Jujur ya." Wafi meminta sambil memegang kedua tangan Shafiyah, mengelus kasar punggung tangan mulus itu. Akhirnya Shafiyah mengangguk, walaupun sebenarnya dia takut suaminya terpukul mendengarnya.


”Aku gak tahu apa-apa, jangan salah paham sama aku ya. Waktu aku ke rumah kak Fajar, di sana ada laki-laki yang gak sengaja nabrak aku waktu itu, ternyata itu temennya anak ibu, seorang tentara dan bisa-bisanya ibu jodohin aku sama dia. Kamu tenang aja, aku udah jelasin semuanya sama dia, kalau aku udah menikah dan sedang hamil anak kamu, anak kita. Ibu marah, ibu gak suka dengan kehamilan aku. Aku dilarang datang, berhubungan lagi sama ibu," imbuhnya serak. Wafi terdiam, raut wajah menyedihkan bisa dilihat Shafiyah di wajah tampan itu. Wajar suaminya sedih, siapa yang tidak sedih jika di posisi Wafi. Shafiyah dan Wafi sama-sama serba salah sekarang. Wafi sampai melepaskan kedua tangan Shafiyah, tapi kini. Dia mengais kembali kedua tangan itu, mengenggamnya erat, dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.


”Sayang, jawab jujur. Apa kamu mau bertahan sama aku? kita berdua, dan anak kita. Dalam kesederhanaan yang tidak seperti kehidupan kamu sebelumnya, penuh kemewahan dan fasilitas dari keluarga kamu." Wafi berseru serak, dia menunduk sesekali, menatap perut istrinya.


”Seharusnya aku yang nanya, kamu mau berjuang atau diam saja?” tegas Shafiyah, dan Wafi mengangguk.


”Supaya bisa sama kamu aja, aku perlu berjuang sampai kita jadi suami istri. Apalagi saat ini kamu sudah aku miliki, dan buah cinta kita sedang kamu kandung. Aku akan berjuang, untuk kehidupan kita yang lebih baik, dan mendapatkan restu dari semua keluarga kamu," ucap Wafi tidak main-main. Bagaimana bisa dia bermain-main dengan masa depan dan kebahagiaan nya. Shafiyah tersenyum lebar, ia bergeser dan memeluk suaminya erat, lalu menutup matanya.


”Aku percaya,” lirih Shafiyah. Dan Wafi tersenyum lebar, dia balas pelukan istrinya itu, lalu mengecup pucuk kepala istrinya sekali.


********


Hari ini, pesantren kembali kedatangan Sabilla. Sabilla pergi ke luar kota, ke keluarga dari ayahnya di sana. Merenung dan menyepi untuk menenangkan diri dari rasa syok. Ternyata, bukan Khalisah yang disukai Wafi, tapi Shafiyah. Sabilla kesal dan kecewa, acara keluarga tanpa kehadirannya dia masa bodo dengan itu, sampai Ahmad dan Fahira terus menegur. Dan khawatir dengan keadaan putri mereka si sulung. Fahira menyadari, sorot mata kekaguman Sabilla untuk Wafi. Tapi dia enggan ikut campur masalah hati, yang tidak bisa dipaksa dan disangka-sangka. Dia bahagia dengan pernikahan keponakan nya dengan Shafiyah, Shafiyah gadis baik, semua orang tahu itu.


Kini, Sabilla sedang melangkah sendirian, tatapannya terus tertuju kepada Shafiyah yang sedang duduk bersama Santriwati di teras asrama. Sambil membaca buku.


”Eh Ning Sabilla udah pulang.” Rosa berbisik.


Shafiyah mengangkat kepalanya dan menunduk lagi.


”Wa'alaikumus Salaam," semuanya menjawab.


”Saya mau bicara dengan Shafiyah sebentar." Sabilla meminta, Shafiyah langsung panik dan gelagapan, dari nada bicara wanita itu, nampak jelas, jika ia sedang marah.


”Oh iya Ning." Rosa menyanggupi, lalu mengajak yang lain pergi. Shafiyah bangkit dari duduknya, dan berjalan ke hadapan Sabilla.


”Ada apa Ning?" Shafiyah berucap lembut seperti biasa.


Sabilla tiba-tiba menyodorkan lengannya.” Selamat, atas pernikahan kamu dan Wafi,” lirih Sabila dan Shafiyah menatap tangan di hadapannya itu. Tanpa ragu dia menjabat tangan tersebut, dan keduanya saling menatap lekat.


”Saya sangat senang jika saat itu Ning bisa hadir. Bagaimana urusannya, sudah selesai?”


”Kamu kira saya mau hadir di hari bahagia buat kamu dan Wafi, tapi itu hari yang menyedihkan untuk saya!” tegas Sabilla dan Shafiyah menarik tangannya, saat genggaman tangan Sabilla mengerat, dan bisa saja tangannya ngilu.


”Ada apa ini Ning? salah saya apa?” ucap Shafiyah polos, dia memang tidak paham.


”Jangan pura-pura enggak tahu, kamu tahu kan, sebelum kamu dan Wafi menikah. Saya sudah lebih dulu mengajukan diri untuk ta'aruf sama Wafi, tapi Wafi menolak. Jadi kamu penyebabnya Shafiyah?” tutur Sabilla dengan suara serak. Tapi begitu penuh hardikan.


”Maaf Ning, saya sama Gus Mu sudah menikah, tentang hubungan kalian berdua sebelumnya, atau niatan Ning sama Gus Mu sebelumnya, saya tidak tahu menahu. Jangan berbicara begitu lagi Ning, saya gak suka, seolah-olah saya dianggap perebut," tutur Shafiyah dan Sabilla menyeringai.


”Sudah berani kamu sama saya, Ning Sabilla!" tegas nya emosi.

__ADS_1


”Saya juga bagian keturunan Majdi, menantu dari almarhum pak kyai. Saya istrinya Gus Mu, dan sedang mengandung keturunan Majdi. Jangan libatkan saya ke dalam masalah apapun Ning, saya sibuk dan jangan bicara seperti ini lagi. Ning gak bisa bersikap seenaknya,” ujar Shafiyah kesal dan cemburu. Kenapa suaminya tidak pernah membicarakan hal tersebut? pantas saja Sabilla begitu sensi padanya.


”Kamu...” Sabilla mengangkat jarinya, ia berhenti berucap saat melihat Chairil lewat dengan Faiza.


”Apa ini?” seru Faiza.


Shafiyah menunduk ketakutan." Assalamu'alaikum,” ujar gadis itu dan langsung bergegas pergi, ketimbang meladeni Sabilla.


”Wa'alaikumus Salaam." Mereka menjawab.


”Jaga ucapan kamu Sabilla, jangan membawa-bawa nama Majdi untuk merendahkan dan memanfaatkan orang lain." Ungkap Chairil menegur keras tindakan Sabilla.


”Bukannya kamu juga begitu," ujar Sabilla dan Faiza melongo mendengarnya. Chairil diam dan menatap sepupunya itu kesal.


”Sabilla!" panggil Faiza. Sabilla terus melangkah pergi dan Faiza mengikutinya, tapi dia berhenti saat Sabilla pergi ke belakang pesantren.


”Sudah umi, jangan dikejar, biarin aja dia.” Chairil berbisik-bisik dan Faiza mengangguk.


****


Di tempat lain, Wafi sedang membeli susu ibu hamil dengan rasa coklat dan Vanilla sesuai permintaan Shafiyah. Dia membeli dua dus, dan beberapa cemilan juga. Tidak sadar, Adi dan Sara ada di minimarket yang sama. Sedang membeli air mineral dan Wafi keluar setelah mereka keluar.


Sara sedang merogoh tas nya, mencari dompet yang entah menyelip di bagian mana. Adi sedang mengambil uang di ATM, keduanya nampak berpakaian formal karena akan menghadiri sebuah acara seminar.


”Aduh!" seru Sara saat hapenya terjatuh, tapi di tangkap oleh Wafi dari bawah. Dia harus membungkuk untuk meraih hape tersebut." Terima,,,” ucapan Sara menggantung saat melihat siapa yang menangkap hapenya.


”Bu," ucap Wafi dan Sara menyambar hape dari tangannya.


”Apa-apaan nih? kamu ngapain hah?” Adi yang baru datang langsung mendorong Wafi agar menjauh dari ibunya.


”Ayo pergi Adi! kita buru-buru." Ajak Sara dan menarik lengan Adi. Wafi diam dan hanya mendengus. Dia pun naik ke atas motornya, memakai helm dan Sara memperhatikannya dari dalam mobil dengan tatapan tajam.


”Perebut anak orang." Sara memaki dalam hati. Wafi diam, menunggu mobil Adi pergi terlebih dahulu. Saat mobil Adi pergi, Wafi menoleh. Melihat sebuah kertas yang terlihat setelah mobil mewah itu melaju. Wafi turun dan mengambilnya. Sebuah undangan seminar, undangan khusus untuk tamu kehormatan yaitu Sara. Di sana tertulis, Sara harus membawa kartu undangan tersebut supaya bisa masuk lebih mudah dan langsung diantar ke perkumpulan tamu VIP yang lain.


”Hadeuh, ceroboh banget punya mertua." Wafi menggerutu, mau tidak mau dia harus menyusul Adi dan Sara. Wafi bergegas menyusul, dan takut mobil itu keburu jauh.


Wafi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya dia melihat mobil tersebut. Wafi terus menekan klakson dan Adi melirik spion.


”Mau apa dia?" ucap Adi geram.


”Kenapa?" tanya Sara, dia menoleh saat mendengar anaknya berucap.


"Enggak Bu,” singkat Adi. Dia terus melajukan mobilnya, tidak memperdulikan suara klakson motor dan Wafi yang berusaha mengejar. Sara mulai terganggu dengan suara klakson, dia menoleh dan melihat menantunya di belakang.


”Dia pasti mau minta uang saja kita, dia gak sanggup memberi makan Shafiyah, apalagi Shafiyah sedang hamil," tutur Sara dan Adi diam.


Wafi terus mengejar, dan berhenti menekan klakson, dia terpaksa harus menyalip dan menghadang mobil tersebut. Saat mendapatkan kesempatan untuk melakukannya, Wafi langsung bergerak cepat dan Adi mengerem mendadak.


”Sialan itu anak!” tegas Adi, anak yang dia panggil itu suami dari adiknya, yang bahkan lebih tua darinya. Wafi terlihat langsung turun dan Sara diam. Adi keluar dari mobil dan langsung mencengkeram kuat kerah baju Wafi.


”Mau apa kamu? gak cukup Shafiyah hah? mau apalagi kamu sekarang!” Adi berteriak-teriak dan Wafi mendorong tubuh kakak iparnya itu sampai sedikit terpental.

__ADS_1


”Saya gak ada niatan untuk menganggu, ini jatuh!" bentak Wafi sambil mengangkat kartu undangan di tangannya. Adi terdiam dan Wafi mendelik tajam. Adi menunduk melihat kemarahan di wajah Wafi, dan Wafi sekarang mendekati mobil. Dia ketuk kaca mobil beberapa kali, sampai Sara menurunkan kaca mobil.


”Lain kali hati-hati," ucap Wafi sambil menyodorkan kartu undangan. Sara terdiam dan menerimanya. Tanpa menunggu lama, Shafiyah juga pasti sudah menunggunya, Wafi langsung pergi. Dan Sara terus memperhatikan kepergian Wafi sampai pria itu jauh dari pandangannya.


__ADS_2