Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 46: Di blokir


__ADS_3

Raut wajah Raihanah langsung pucat, saat anak laki-lakinya meminta izin untuk pergi jauh dari tanah air. Bekerja dan mencari uang, apa harus sejauh itu? pekerjaan di negara sendiri saja banyak. Raihanah tidak suka dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan memberikan izin.


”Tolong umi,” ucap Wafi serak.


”Enggak, kamu sampai jauh dari keluarga untuk berjuang membeli gadis itu dari keluarganya? jangan gila nak, jangan sampai kamu terperdaya oleh rasa cinta mu. Ini menyiksa diri kamu sendiri, kapan kamu sadar?” tutur Raihanah serak. Wafi menundukkan kepalanya penuh hormat, tapi dia tidak bisa menuruti penolakan uminya.


”Maaf umi,” lirih Wafi.


Raihanah menghela nafas panjang, menyeka air matanya yang terus menetes. Apa Shafiyah lebih penting ketimbang dirinya? yang tak lain adalah ibu anaknya itu. Entah apa yang dilakukan gadis itu, sampai membuat Mumu nya menjadi pembangkang.


Wafi hanya ingin bersama cintanya, Habibah nya. Bukan berarti rasa sayang kepada uminya berkurang, dia sangat ingin memiliki pasangan terbaik. Yang selalu menghargai, mencintai apapun keadaannya. Hanya Shafiyah yang dia mau, sekalipun ada gadis di luar sana yang lebih baik tutur kata, keimanan dan lemah lembut nya. Wafi sudah tidak bisa lagi berpaling dari gadis itu, cinta pertamanya, seorang gadis yang mengajarinya tentang hubungan, cinta, kasih sayang, dan sabar. Bukan hanya dia yang hidup sengsara, gadis itu jauh lebih sengsara. Di kelilingi keluarga yang hanya memikirkan dunia, bahkan sekarang akan dijual ke tangan pria mata keranjang.


Raihanah tidak mengeluarkan suara kembali, dia diam membisu, Wafi mengelus punggung tangan keriput dan kurus itu lembut, sesekali menciumnya, tapi tetap saja tak membuat uminya mau melihatnya.


______


Di tempat lain, Shafiyah melangkah masuk ke dalam rumah. Dia mendengus sebal, saat langsung disuguhkan pemandangan menyiksa mata. Seorang pria gagah dan tampan duduk di sofa, menunggu kepulangannya, siapa lagi kalau bukan Farel. Rambut pria itu yang ikal di sisir rapi, penampilannya berbeda dengan biasanya. Pria itu kini memakai kemeja berwarna Lazuardi.


”Fiyah, Farel sudah nungguin kamu dari tadi neng. Sini cepetan,” ujar Sara begitu antusias. Shafiyah melangkah menghampiri dan duduk dengan wajah begitu sinis.


”Bu, Fiyah capek." Shafiyah hendak bangkit tapi Sara menariknya agar duduk kembali.


”Ada Farel kamu gimana sih, yang sopan dong.” Bisik Sara sambil melotot dan Shafiyah merasa tersudut saat ini. Shafiyah diam, dia melirik hapenya yang dia letakkan tadi di atas meja bergetar. Panggilan masuk dari 'H'. Wafi menelepon tapi tidak mungkin Shafiyah bisa mengangkat di hadapan ibunya, di tambah Farel.


Sara diam-diam memperhatikan hape Shafiyah, Shafiyah langsung meraih dan mematikkan panggilan. Di seberang sana, Wafi tersentak karena panggilan nya ditolak. Gadis itu benar-benar menghindarinya.


”Siapa?” tanya Sara dan tatapannya penuh curiga.


”Temen,” jawab Shafiyah singkat.


”Ya udah kalian ngobrol aja, yang santai ya.” Tutur Sara, dia bangkit dan kedua mata Shafiyah membulat. Dia ditinggalkan dengan pria kurang ajar itu. Setelah Sara jauh, Meri diam memperhatikan Shafiyah yang begitu tertekan di dekat Farel.


”Shafiyah,” imbuh Farel. Dia bergeser lebih dekat dan Shafiyah bergeser menjauh.


”Jangan macam-macam," ketus Shafiyah.


”Jalan yuk," ajak Farel dan Shafiyah terbelalak mendengarnya.


”Enggak!" dengan nada tinggi gadis itu menjawab.


”Mau beli apa? aku beliin deh," bujuk rayu syaiton terlontar begitu merdu.


Shafiyah menggelengkan kepalanya dan hapenya sekarang bergetar kembali. Entah ada masalah apa atau hal penting apa sampai Wafi terus meneleponnya, karena sebelum ini pria itu tidak pernah melakukannya. Apa ada kabar buruk? Shafiyah jadi takut dan was-was.


Shafiyah bangkit, mengenggam hapenya kuat dan jemarinya tidak terasa menerima panggilan dari Wafi. Wafi yang hendak mengucapkan salam tidak jadi, saat mendengar suara laki-laki yang dia kenal.


”Shafiyah tunggu,” ucap Farel. Shafiyah berlari menaiki tangga dan Farel yang hendak menaiki tangga juga di tahan Meri.


”Fiyah baru pulang kuliah, biarin dia istirahat,” ujar Meri dan Farel mendelik tajam.


Sesampainya di kamar, Shafiyah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, dia tatap layar ponselnya dan waktu panggilan berjalan sedari tadi. Wafi diam, mengenggam tangannya kuat, rasa cemburu membakar jiwanya. Cemburu yang salah dan dia sadar diri akan hal itu, Shafiyah bukan miliknya.


”Assalamu'alaikum." Shafiyah gugup, suaranya terdengar bergetar.


"Wa'alaikumus Salaam," jawab Wafi dengan datar.


”Maaf aku tadi....”


”Dimana?" ketus Wafi. Dan Shafiyah tersentak, dia yakin Wafi mendengar suara Farel tadi.

__ADS_1


"Di rumah,” jawab Shafiyah.


”Saya harus percaya atau enggak?"


”Aku beneran di rumah gus, baru pulang kuliah. Ada Farel, aku gak tahu dia ngapain disini. Kenapa nelepon?"


”Kenapa menghindar terus?"


”Gus sendiri yang bilang, jangan berkomunikasi terlalu sering," ketus Shafiyah.


”Tapi kalau saya mau ngobrol sesuatu yang penting, kan saya kirim chat dulu. Kamu kenapa sih?” tutur Wafi sedikit emosi, dan Shafiyah diam.


”Enggak tahu ah," ucap gadis itu serak.


”Kenapa? ada masalah di kampus atau apa?”


”Hiks!" tangis Shafiyah pecah dan Wafi panik mendengarnya.


”Kenapa nangis? saya salah ya, maaf ya. Saya kasar barusan, maafin ya." Wafi mencengkram kuat rambutnya, berbicara begitu lembut agar gadis itu berhenti menyiksa dengan tangisannya.


”Aku benci sama Gus Mu," ucap Shafiyah dan Wafi diam." Nyebelin hiks.."


”Maaf ya, udah jangan nangis. Jangan kayak anak kecil, cerita ada apa?" ucapnya berusaha menenangkan, pipi Wafi nampak merah karena menahan tawa.


”Iya emang Fiyah masih kecil, gak kayak a Wafi udah tua." Cibir Shafiyah tanpa ragu, Wafi terkekeh-kekeh dan entah kerasukan apa gadis itu, sampai sewot terus padanya.


”Nyebelin banget nih anak,” tutur Wafi sambil tertawa renyah.


”Tinggalin aja kalau nyebelin mah, cari aja perempuan yang udah tua kayak a Wafi. Jangan Fiyah." Shafiyah semakin kesal, gadis itu bingung, ingin membuat Wafi menjauhinya seperti kemauan Bu nyai, tapi dia tidak tahu caranya seperti apa, karena dia sendiri juga tidak mau ditinggalkan.


”Dih kok gitu ngomongnya.” Suara Wafi berubah, ia tak suka mendengar hal tersebut, diminta untuk meninggalkan, sementara dia ingin memiliki dan mempertahankan.” Neng kenapa si?” tanyanya serak.


Shafiyah diam dan terus menangis terisak-isak, gadis itu meringkuk di atas kasurnya. Dia bingung bagaimana caranya untuk melepas Gus Mu, sementara hatinya tidak memberikan kesempatan untuk melakukannya. Keduanya kini sama-sama diam, Wafi memejamkan matanya, mendengarkan tangisan gadis itu. Dia akan menunggu sampai bisa berbicara, dan pamit untuk pergi bekerja ke luar negeri.


”Neng,” panggil Wafi.


"Hmm?”


”Udah nangis nya?”


Shafiyah diam tidak menjawab. Shafiyah menatap layar ponselnya lekat, terdengar Wafi membuang nafas kasar dan Shafiyah tetap diam.


”Saya mau bicara serius,” tutur Wafi.” Mau dengerin gak?”


”Apa?” sahut Shafiyah lirih.


”Saya izin ya, mau kerja.”


"Kemana?” tanya Shafiyah masih santai.


”Mau ke luar negeri, di sana gajinya besar. Cuma satu atau dua tahun, saya kerja di sana. Boleh?"


”Aa apaan sih ih, enggak!” tolak Shafiyah kesal dan air matanya menetes kembali. Ibunya sedang gencar mendekatkan dirinya kepada Farel, dan sekarang Wafi malah akan pergi untuk waktu yang tidak sebentar.


”Ibu kamu mau mahar yang lumayan banyak, saya gak bisa kerja disini terus, saya harus pergi. Setelah saya pulang, kita menikah. Ibu kamu bilang begitu sama saya.”


Shafiyah terkejut mendengarnya." Bohong a, ibu mau nikahin aku sama Farel, apalagi kalau a Wafi pergi jauh. Kesempatan ibu buat nikahin aku sama Farel semakin besar. Tolong jangan pergi.” Pintanya sambil mengubah posisi yaitu dengan duduk di atas kasurnya.


”Jangan bicara begitu, itu ibu kamu neng.”

__ADS_1


”Ya jangan pergi juga, gimana sih. Atau Aa sengaja pergi buat jauhin aku?”


”Mana ada begitu, saya mau memperjuangkan kamu.”


”Bohong, umi Gus juga gak suka sama aku, umi Gus mau aku ninggalin Gus sekarang juga. Hubungan kita makin begini, Gus sekarang mau pergi. Ya udah deh terserah aja, aku gak berhak juga larang larang, siapa aku." Ketus gadis itu sambil menahan tangisannya. Wafi menunduk lesu mendengarnya.


”Umi saya ngomong sama kamu kapan? maafin ya, saya akan tetap berjuang untuk hubungan kita."


”Kayaknya enggak bisa deh, restu dari dua pihak keluarga gak mungkin bisa di dapat. Fiyah minta maaf, sering bikin repot.” Shafiyah berbicara sambil menahan tangisannya, suaranya bergetar hebat dan Wafi panik.


”Jangan gitu, dengerin saya dulu. Saya gak ada niat buat jauhin kamu Bibah." Berusaha menjelaskan, tapi Shafiyah sudah lelah dan bingung. Dia terus terbayang-bayang bagaimana Raihanah memohon-mohon agar dia melepas Wafi.


”Semoga bahagia, di luar negeri itu berbeda dengan tempat tinggal kita. Hati-hati, semoga sukses, assalamu'alaikum."


”Enggak, tunggu, dengerin saya dulu....” Wafi panik dan percuma saja. Gadis itu memutuskan untuk berhenti dari semua perjuangan yang sudah setengah jalan.


Tutttt! panggilan terputus. Wafi mengeram kesal, dia marah dan sedih tidak karuan. Berusaha menelepon di tolak, tapi dia terus mencobanya lagi tapi nihil. Wafi akhirnya mencoba mengirimkan pesan, dia terdiam dengan kedua mata berair. Gadis itu memblokir nomor kontak nya.


Wafi duduk, mencengkram kuat rambutnya, air matanya menetes. Dia diam sejenak, Farel ada di rumah Fajar. Sementara jelas-jelas Sara bilang akan membuat Shafiyah menunggu hanya untuk dirinya, dia mulai sadar sekarang. Dia beri usulan untuk bekerja jauh agar Shafiyah dan Farel dekat, Wafi tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika Shafiyah benar jodohnya, semoga Allah ketuk hati gadis itu untuk kembali berjuang bersama, dan naik ke pelaminan hanya dengannya.


Pagi ini, sarapan bersama seperti biasanya. Salam dan Afsheen akan pindah dua hari lagi, Raihanah tidak rela melepas anaknya tapi dia yakin Salam bisa bertanggung jawab atas putrinya. Semua orang menoleh, melihat Wafi datang dengan rambut di sisir rapih, kemeja hitam dan celana panjang berwarna putih membalut tubuh proporsional nya. Begitu gagah nya dia saat ini sampai ketiga wanita di rumah itu terperangah.


”A wafi udah mulai kerja ya?" tanya Salam.


”Iya," singkat Wafi lalu meraih piring dan sendok, dia menoleh dan memperhatikan umi dan kedua adiknya." Kenapa si?" ketusnya berucap.


”Aa ganteng banget tahu," ucap Afsheen memuji, tapi Wafi merasa geli mendengarnya.


”Ini hari pertama kamu bekerja, umi udan siapin bekal untuk makan siang. Apapun yang diarahkan Elang sama kamu, nurut ya. Jangan bikin Om kamu kecewa,” tutur Raihanah dan Wafi mengangguk. Pria itu terpaksa menerima tawaran Noah.


Sebagai cucu lelaki Berhan dari Raihanah, Wafi harus sedikit menuangkan tenaga dan pikirannya untuk perusahaan. Dia mendapat gaji, dan mendapatkan fasilitas dari Noah. Noah tidak mau Wafi pulang pergi naik motor, karena jauh. Sebuah mobil berwarna hitam yang Wafi mau, dan Noah meminta anak buahnya Elang mengurusnya.


”Gak lucu banget, Gus jadi CEO. Astaghfirullah hal adzim, saya mau kerjaan yang lain aja kalau begini, jualan kue juga gak apa-apa deh." Gumam Wafi, tapi dia tidak bisa mundur dari keputusannya.


Semuanya menikmati sarapan bersama, Wafi semakin tidak bisa melupakan bayangan Shafiyah dari benaknya. Dia terlihat baik-baik saja, tapi nyatanya dia hancur saat ini. Entah bagaimana kabar gadis itu, sampai kapan Shafiyah bisa berpura-pura menjauh darinya, dia akan siap menunggu.


Di rumah Fajar. Shafiyah mengalami dilema yang sama, gadis itu begitu murung, makan hanya sedikit dan Fajar khawatir melihatnya.


”Mau telur mata sapi? kakak buatin ya?” tutur Meri, berharap gadis itu selera untuk menambah porsi makan nya.


”Enggak kak," tolak Shafiyah dan dia melirik sekilas. Meri dan Fajar saling menatap lekat sejenak.


”Ayah aku udah telat," seru anak perempuan Fajar dan Fajar bangkit.


”Ayo," imbuh Fajar dan matanya terus memperhatikan Shafiyah. Shafiyah juga akan berangkat diantar Fajar pagi ini. Di perjalanan, Shafiyah diam. Walaupun anaknya Fajar mengajaknya bicara, gadis itu terus menatap keluar kaca mobil. Mobil berhenti saat lampu merah menyala, Shafiyah mengernyit heran melihat seorang pria di dalam sebuah mobil, dia mengenalnya tapi tidak terlalu jelas karena kaca nya gelap.


Wafi nampak memijat keningnya, dia sedang di deras sakit kepala saat ini. Wafi menoleh karena sadar diperhatikan, dia terkejut saat melihat Shafiyah. Itu Shafiyah, dia mengenalnya walaupun hanya kedua mata nya yang terlihat. Wafi menurunkan kaca mobil dan Shafiyah berpaling.


”Tuh kan, itu dia.” Gumam Shafiyah.” Ganteng banget lagi, mau kemana si? mau lamaran?” gumamnya lagi merengek dan terus menarik-narik ujung kerudungnya kasar. Wafi diam terus memperhatikan gadis itu, sampai dia beralih pada Fajar. Fajar diam dan Wafi juga diam, Fajar memperhatikan penampilan berbeda pria itu lalu dia melirik Shafiyah dari kaca spion. Gadis itu terus berpaling dan menunduk.


Lampu hijau akhirnya menyala, Wafi masih diam dan mobil Fajar berlalu pergi, dari belakang suara klakson mobil dan motor terus bersahutan, meminta Wafi segera melajukan kendaraannya. Wafi pun bergegas menancap gas, dia mengikuti kemana mobil fajar pergi.


”Gila!" maki Fajar saat melihat dari kaca spion, Wafi terus mengikutinya. Shafiyah sampai menoleh ke belakang dan melihat mobil Wafi.


”Jangan cari gara-gara Gus,” ucap Shafiyah dalam hati.


*****


Di rumah Bu nyai, dua orang pria datang, dia Aidan dan datang bersama Ikhsan. Membawa CV ta'aruf. Data diri adiknya Romlah, Raihanah memperhatikan setiap barisan data diri seorang gadis berusia 21 tahun, tinggi 160cm, berkulit sawo matang, manis, cantik, berhidung mancung dan berpipi cabi. Pernah mengabdi di pesantren, dan berhenti karena harus menemani sang ibu yang sudah ditinggal pergi oleh ayahnya. Aidan diam, dia berharap Gus Mu setuju untuk menerima ajakan ta'aruf dari adiknya. Adiknya cantik, Gus Mu ganteng, serasi dan dia yakin keduanya cocok.

__ADS_1


”Gimana Bu nyai?” sedu Aidan dan Raihanah tersenyum, lalu memasukkan kembali data diri gadis itu ke dalam amplop coklat.


”Nanti kalau Gus Mu sudah pulang, saya beritahu dia.” Raihanah menjawab dan Aidan mengangguk seraya tersenyum, terlihat Bu nyai menyukai adiknya Romlah. Hanya keputusan Gus Mu yang menjadi penentu. Keseharian gadis itu juga bercadar, dan siap untuk berdampingan dengan sosok Gus Mu.


__ADS_2