
Pagi ini adalah pagi yang menyedihkan untuk Raihanah, Wafi akan pergi. Dia tahu posisi anaknya sekarang serba salah, tetap tinggal banyak yang menentang, pergi tidak ada tujuan, melihat anaknya babak belur. Raihanah akhirnya mengikhlaskan kepergian putranya untuk sementara, sampai situasi bisa berdamai kembali dengan keberadaan anaknya.
”Jaga diri, bawa hape umi. Kasih kabar terus ya sayang ya," ucap Raihanah. Dia memberikan uang dan hape nya agar bisa berkomunikasi dengan putranya, Wafi mengangguk dan memeluk uminya erat.
”Nanti aku pulang ya umi,” ucap Wafi serak.
”Umi tunggu kapanpun itu nak," balas Raihanah, Wafi menoleh. Memperhatikan Bayyin yang terus menangis, dia melepaskan pelukannya lalu mendekati Bayyin, bibi dan pamannya tidak setuju dengan kepergiannya, tapi dia tidak bisa dihalangi, sekalipun Nafis, Ahmad dan Yaman terus mengajaknya pergi ke tempat salah satu diantara mereka bertiga.
”Neng, jaga diri baik-baik ya." Wafi mengelus kepala adiknya lembut.
"Kenapa mereka jahat sama aa hiks, aa gak salah. Maafin Bayyin, gara-gara Bayyin aa dibenci semua orang. Bayyin minta maaf hiks." Bayyin memeluk wafi erat, terus menangisi sejadi-jadinya, baru saja dia berkumpul dengan kakaknya dan sekarang harus berpisah kembali.
”Nanti aku pulang, bawa makanan yang enak buat kalian semua. Do'ain aku ya, semoga aku betah kerjanya dan lancar." Wafi tersenyum lebar, tapi kedua matanya merah dan berair, kedukaan tidak bisa dia sembunyikan.
Wafi pun bangkit dan menoleh saat melihat Afsheen pergi ke dapur, dia susul adiknya itu walaupun tahu Afsheen tidak akan mau berbicara dengannya. Melihat tingkah keduanya, Raihanah yakin ada sesuatu yang terjadi, dia pun melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang dilakukan Wafi dan Afsheen.
”Neng, aku mau pergi. Jaga diri baik-baik, aku bawa hape umi. Telepon kalau ada apa-apa." Seru Wafi dan Afsheen sibuk menikmati sarapannya, satu piring nasi goreng sederhana, dengan bawang merah, garam dan penyedap rasa. Tanpa lauk, pauk. Kehidupan Raihanah sangat sederhana, anak-anaknya hidup dalam kepedihan, dan mereka harus susah beradaptasi karena selama ada suaminya, semua kebutuhan hidup sangat terjamin. Seorang janda hanya bisa mengais nafkah sebisanya, pendek langkah, tidak seperti lelaki, apalagi dengan status janda yang sering dipandang rendah, padahal tidak semua janda melakukan hal gila ataupun menjual harga dirinya.
”Niyyah, aku ngomong sama kamu." Wafi duduk dan dia sangat kesal saat ini. Afsheen mengabaikannya.
”Terus aku harus apa a? Pergi aja terserah, syukur-syukur kalau aa gak pulang-pulang sekalian. Hidup kami udah biasa bertiga, tanpa aa juga kami bisa hidup." Sewot Afsheen lalu memakan sarapannya kembali.
Wafi menunduk dan hanya bisa mengelus dada nya, beristighfar, agar diberikan kesabaran menghadapi saudara sedarah nya sendiri.
__ADS_1
”Ya sudah kalau begitu.” Wafi bangkit, dia tak kunjung melangkah dan Afsheen memperhatikan punggung kakaknya sekelebat. Wafi berbalik dan dia melangkah cepat lalu memeluk adiknya paksa." Aku sayang sama kamu neng, Daniyyah, Niyyah. Aa sayang sama kamu.” Wafi terus memeluk Afsheen dan Afsheen hampir menangis, wajahnya memerah, dia dorong tubuh kakaknya itu kuat dan Wafi terdorong sampai punggungnya membentur dinding.
”Pergi!!” jerit Afsheen dan melemparkan nasi goreng yang baru dia nikmati beberapa sendok itu ke tubuh kakaknya.” Jangan peluk aku, aku gak mau di peluk seorang pembunuh kayak kamu. Dan jangan pakai baju abi lagi, aku gak mau pakaian abi dipakai sama anak lelakinya, aku gak mau. Pergi a, pergi sejauh mungkin terserah. Harusnya aa tahu diri, aa mantan napi dan pulang cuma bikin malu.” Maki Afsheen dan Wafi menatapnya lekat. Air mata Wafi lolos begitu saja, mendengar penghinaan dari bibir adiknya, adik yang dia jaga, dan tumbuh bersama dengannya.
”Padahal, sebelum aa di penjara. Niyyah sering aa gendong. Kalau Niyyah sakit, Niyyah selalu mau denger aa sholawatan kayak abi." Gumam Wafi. Dan Afsheen berbalik badan lalu air matanya menetes deras.
Raihanah yang mendengar dan melihat sikap Afsheen kepada Wafi, begitu hancur. Letak kesalahannya dimana dalam mendidik anak-anaknya, apa selama ini dia salah arah mendidik anak perempuannya itu? Sampai tega mencaci maki saudara lelakinya, yang tidak bisa dipungkiri, saat dia menikah, Wafi yang akan menjadi wali nikahnya, menggantikan abinya.
”Asstaghfirullah hal adzim Niyyah." Gumam Raihanah.
Dia mundur menjauh saat Waktu melangkah pergi dari dapur, meninggalkan Afsheen. Wafi berusaha menahan tangisannya di depan keluarga yang lain.
”Om antar." Ajak Nafis dan Wafi menggeleng kepala.
"Ambil, buat makan. Dari kita semua." Fara meraih tangan Wafi, meletakkan lembaran uang berwarna merah dan Wafi jelas menolak.
”Bibi," ucap Wafi.
”Terima, uwa gak suka kalau kamu nolak." Seru Fahira dan akhirnya Wafi menerima. Raihanah tersenyum tipis, melihat keperdulian semua keluarga suaminya kepada anaknya, hidup rukun antara keluarga adalah hal yang paling berharga, Fahira, Faiza dan Fara begitu menghormati saudara ipar mereka Raihanah. Raihanah wanita luar biasa, istri dari saudara lelaki mereka.
”Makasih," ucap Wafi penuh haru. Dan semua orang mengantarnya keluar dari rumah, Bayyin dan Raihanah menatap Wafi sendu. Banyak santri dan santriwati yang memperhatikan, Gus Mu yang tidak diakui silsilah keluarganya, dan di cap sebagai perusak nama baik pesantren.
”Assalamu'alaikum," ucap Wafi begitu serak dan berbalik badan begitu beratnya.
__ADS_1
”Wa'alaikumus Salaam." Jawab semua orang begitu sedih.
”Aa!" Panggil Raihanah keras dan Wafi menunduk dalam, dia tidak berani menoleh, melihat kesedihan di wajah uminya.
”Umi, Wafi janji. Wafi gak bakal mengulangi kesalahan yang sama, Wafi bakal bahagiain umi, Bayyin sama Niyyah. Do'ain Wafi ya umi, Wafi pasti pulang." Gumam Wafi lalu jemarinya bergerak mengusap air matanya. Yaman terlihat meradang, melihat para santri yang begitu tidak sopan saat Wafi lewat di hadapan mereka. Faiza merangkul lengan suaminya lembut, untuk menenangkannya suaminya itu.
Sabila diam, memperhatikan kepergian Wafi, dia dan Wafi bahkan belum sempat berbicara, keduanya begitu gugup, walaupun dulu sering bermain.
Raihanah masuk kembali, begitu juga dengan semua orang, Fahira dan keluarganya harus pulang hari ini, dan Raihanah hanya bisa pasrah rumah kembali sepi.
Di dapur, Afsheen membereskan nasi goreng yang berserak di lantai, air matanya terus menetes, setelah selesai. Dia meraih tas nya dan akan segera pergi bekerja. Saat keluar dari dapur, Afsheen berpapasan dengan uminya, Raihanah menarik lengan anaknya itu kasar.
"Mau kemana?" Ketus Raihanah.
"Niyyah kerja dulu umi." Afsheen meraih tangan Raihanah, dan Raihanah menepisnya.
"Diam di rumah!" Tegas Raihanah, Faiza yang mendengar hanya bisa diam begitu juga dengan Bayyin.
"Umi, Niyyah harus kerja." Rengek Afsheen dan Raihanah tetap tidak mau memberikan izin dia pergi." Niyyah bisa di pecat umi.”
Raihana tetap diam, menggeleng kepala. Jari telunjuknya menunjuk kursi agar Afsheen duduk.
”Umi, Niyyah harus kerja." Afsheen menggoyangkan tangan uminya lembut, membujuk agar diberi izin, Raihanah menoleh dengan tatapan tajam, matanya yang merah dan berair membuat Afsheen terdiam.
__ADS_1
”Apa umi salah mendidik kamu neng? Atau pergaulan kamu di luar sana memang begini hasilnya? Arogan, kasar, sama sekali gak tahu sopan santun kepada orang yang lebih tua. Kakak kamu sendiri, Muzammil!" Seru Raihanah lantang, dan Bayyinah di ruang tamu tersentak mendengar suara uminya.