Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 55: Merindukan yang sudah berpulang


__ADS_3

Shafiyah akhirnya turun perlahan, dia keluar dan Wafi langsung melirik istrinya itu. Shafiyah diajak duduk oleh Meri, Meri dan Fajar datang bersama Burhan juga. Sementara Herman tidak bisa karena dilarang oleh Sara.


”Ayah, ibu?” tanya Shafiyah.


”Enggak datang, ibu kamu masih belum bisa menerima,” tutur Burhan dan Shafiyah menunduk. Gadis itu langsung nampak muram dan kedua matanya berair.


”Gus mu pria yang bertanggung jawab Bu, dia jauh lebih baik dari pria yang dipilih ibu. Kapan semua penghinaan ini berakhir? kapan suamiku berhenti mendengar caci maki dari keluargaku. Sayangku, suamiku. Tolong sabar, rasa sabar kamu tak terukur, aku tahu itu. Tunggu, sampai ibu merestui hubungan kita, dan melihat bagaimana baiknya dan Sholeh nya kamu yang menjadi menantu lelaki satu-satunya.” Gumam Shafiyah, tidak terasa air matanya jatuh. Fajar langsung menyekanya dan di atas pelaminan, Wafi nampak panik melihat istrinya menangis.


”Kamu kenapa sayang?” gumam Wafi sembari terus memperhatikan.


”Jangan nangis, nanti semua orang lihatin kamu. Wafi juga khawatir nanti,” ucap Fajar berbisik dan Shafiyah mengangguk.


Shafiyah diam, berusaha untuk tenang. Fajar menjauh, duduk kembali dengan posisi yang benar dan Shafiyah menatap suaminya lekat. Tatapan Wafi terlihat jelas memperlihatkan sebuah kekhawatiran, kenapa istrinya menangis. Tidak mungkin jika tidak ada alasan, apa ada masalah di keluarganya? Wafi gelisah saat ini, dan terus saling menatap lekat dengan istrinya.


”Gus Mu orangnya romantis ya kayaknya?” tutur Nur sambil menyenggol lengan Rosa.


”Dari mana kamu tahu Nur, ada-ada aja kamu ini. Jangan suka so' tahu.” Timpal Rosa yang sedang menikmati jajanan nya, satu bungkus batagor.


”Lihat aja, tatapan Gus Mu sama Shafiyah begitu banget.” Nur menunjuk Wafi dengan ekor matanya, dan Rosa memperhatikan Wafi lalu memperhatikan Shafiyah bergantian.


”Tanda-tanda bucin itu, Shafiyah baik, cantik. Pasti Gus Mu sayang banget sama Shafiyah,” tutur Rosa sambil tersenyum. Nur juga tersenyum, dan Ima hanya diam. Rasa iri dengki merasuki gadis itu, bukannya harusnya dia yang berdampingan dengan Gus Mu? dia pilihan Bu nyai, tapi gus Mu lebih memilih Shafiyah.


”Memangnya Shafiyah secantik apa?” tanya Diva begitu belagu dan Nur menoleh, di susul Rosa dan Ima.


”Diva, yang sopan kamu. Shafiyah istrinya Gus sekarang, dia Ning. Dia juga lebih tua dari kamu, jangan sembarangan. Dasar tukang cari masalah aja,” ketus Nur sambil melotot dan Diva memalingkan wajahnya, tidak perduli dengan teguran Nur.


”Ih amit-amit itu anak," ujar Rosa.


”Biang masalah dia." Nur menimpali.


Semuanya menoleh saat pengantin wanita keluar. Bayyin nampak grogi, menjadi pusat perhatian. Musa tersenyum lebar melihat istrinya itu, sementara ada beberapa kerabat yang tidak suka dengan Bayyin. Karena kecacatan fisik yang dimiliki Bayyinah. Raihanah merasa terharu, lagi-lagi dia harus melepas anaknya. Air matanya menetes deras dan Wafi menyekanya.


”Ning Bayyin cantik banget.” Semua orang terus memuji.


”Gak kelihatan,” ketus Maesaroh, kakaknya Musa. Dia begitu tidak rela Bayyin mendapatkan adiknya. Bagaimana bisa gadis itu mengurus seorang suami, berjalan saja sudah. Isi pikiran Maesaroh hanya berisi makian untuk Bayyin. Padahal, Musa bukan sembarang memilih begitu juga dengan Bayyin yang tak asal menerima. Keduanya meminta petunjuk terbaik dari Allah SWT dengan salat istikharah. Sampai keduanya yakin, mengutarakan niat dan menerima niatan. Musa sangat bahagia hari ini, apalagi Bayyin sendiri. Alhamdulillah, ada pria yang mau menerima kekurangan dan sedikit kelebihannya. Tak henti-hentinya Bayyin bergumam, menyerukan ucapan syukur tak terhingga.


Shafiyah tersenyum lebar dan ikut berbahagia atas pernikahan terakhir keluarga suaminya.


”Neng, ayo makan bareng.” Ajak Burhan.


”Aku nungguin Gus Mu." Shafiyah menyahut.


”Oh ya udah.” Burhan tersenyum dan meninggalkan cucunya itu. Shafiyah diam, duduk sendiri dan banyak pria rombongan seserahan memperhatikannya, tidak tahu siapa gadis itu. Shafiyah tersenyum saat suaminya mendekat. Wafi duduk dan Shafiyah menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


”Istri Gus,” ucap salah seorang pria yang memperhatikan tadi.


”Tuh kan, orang keluar nya dari rumah Bu nyai. Ya jelas keluarganya, bukan keluarga doang. Menantu.” Timpal pria berbadan besar sambil memalingkan wajahnya saat Wafi menoleh kepada mereka semua.


”Gus, hehe." Sapa mereka gugup dan Wafi hanya mengangguk. Dan Wafi kembali menatap ke depan.


”Bibah tadi nangis ya?” tanya Wafi dan Shafiyah menjauhkan kepalanya. Lalu menggeleng kepala.


”Enggak!" bantah gadis itu.


”Mau bohong? hmmm mau bohong?" Wafi merasa gemas dan mencubit hidung yang terlindung itu, Shafiyah menepis tangan Wafi kasar dan Wafi terkekeh.


”Aa diem!” tegas Shafiyah dan mengamankan tangan suaminya dengan menggenggam nya, jika tidak begitu. Pipi dan hidungnya akan terus dicubit.


”Jujur gak?” balas Wafi lebih tegas.


”Lapar.” Shafiyah merengek, mengalihkan pembicaraan, dan menatap suaminya dengan tatapan hangat. Wafi membuang nafas kesal, karena sadar apa yang dilakukan istrinya saat ini.


”Ya udah ayo, makan dulu. Nanti cerita, kamu tadi kenapa.”

__ADS_1


”Ih....!” Mau protes.


”Gak ada, gak ada membantah. Ayo makan dulu.” Ajak Wafi seraya berdiri dan Shafiyah cemberut.


”Mumu, itu keluarga Shafiyah masa makan di sana. Ajak ke dalam!” tegur Fara dan Wafi menoleh. Dia terbelalak dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Shafiyah. Shafiyah tersenyum dan dia lebih dulu masuk ke dalam rumah.


”Makan di dalam kek, pak. Maaf, bukannya tidak menghormati. Saya tadi masih sibuk di atas pelaminan,” tutur Wafi sedikit malu. Dan Burhan tersenyum.


”Enggak apa-apa, disini aja.” Sahut Fajar.


”Iya, sama aja kan." Burhan menambahkan.


”Tapi di dalam udah disiapin, pindah aja ya. Biar lebih nyaman juga.” Ajak Wafi sedikit memaksa, akhirnya ketiganya bangkit untuk pindah ke dalam rumah. Di dalam rumah, Shafiyah sudah duduk dan Burhan mendekatinya. Burhan merasa lega, dia bisa selonjoran sekarang.


”Maafin nih ya, kaki kakek lagi pegel. Pengen begini.” Burhan tersenyum dan Fajar menggeleng kepala.


”Enggak apa-apa, ayo kek tambah lagi." Wafi mempersilahkan dan dia saling melirik dengan Shafiyah.


”Mau ini gak neng?” tanya Fajar, menyodorkan telur puyuh di atas sendoknya dan Shafiyah menarik cadarnya, lalu membuka mulutnya. Fajar tersenyum dan mengelus pucuk kepala adiknya dengan tangan kiri begitu lembut. Wafi diam memperhatikan, kedekatan adik dan kakak itu. Tidak jauh berbeda, seperti dia dan kedua adiknya. Jika dia memiliki adik seperti Shafiyah, dan pria yang ingin meminangnya pengangguran, ditambah mantan narapidana, dia juga akan melindungi dan menjaga adiknya dengan ketat.


”Kamu betah disini?” tanya Fajar dan Shafiyah mengangguk.


”Dia kan lama mondok, lingkungan yang sama. Masa gak betah si, aneh


pertanyaan kamu Fajar,” ucap kakek ketus.


”Iya kan walaupun lingkungannya sama, statusnya beda kek.” Fajar tidak mau kalah.


”Fiyah jelas betah, di sini banyak teman-teman Fiyah, Santriwati dan pengabdi yang lain. Tapi Fiyah belum ngajar lagi sih sekarang,” tutur Shafiyah menyela perdebatan diantara keduanya. Wafi tersenyum dan menikmati makanannya dengan tatapan mengarah kepada istrinya terus-menerus. Shafiyah sampai grogi ditatap seperti itu oleh suaminya. Di depan keluarganya juga.


”Assalamu'alaikum,” ucap Raihanah yang baru masuk.


”Wa'alaikumus salam.” Jawab semua orang.


Meri bangkit dari duduknya dan berpelukan hangat dengan Raihanah.” Gimana kabar Bu Nyai?" tutur Meri.


”Alhamdulillah saya baik, baru sempat menyapa kalian semua. Ayo dilanjutkan makannya. Pak Herman, Bu Sara sama yang lain dimana?” tutur Raihanah, dia duduk di sebelah Meri dan Fajar menunduk mendengar pertanyaan Raihanah.


”Anak sama menantu saya lagi di luar kota, kakak-kakaknya Fiyah juga lagi sibuk. Maaf, mereka semua gak bisa datang kesini Bu," ucap Burhan gugup. Dia terpaksa berbohong untuk kebaikan bersama. Raihanah mengerti, dan mengangguk lemah.


”Umi makan ya." Wafi menawari.


”Umi tadi udah, sebelum keluar makan dulu, biar tenang.” Raihanah menolak karena memang dia masih kenyang. Wafi mengangguk dan makanan nya sudah habis.


”Wafi, kamu belum di foto sama Shafiyah. Cepetan!" teriak Ikhsan heboh.


”Neng, ayo sana.” Titah Fajar dan menatap adiknya. Shafiyah buru-buru menghabiskan makanannya dan setelah itu, dia keluar bersama suaminya. Tangan Wafi lagi-lagi merangkul pinggang Shafiyah, gadis itu belum terbiasa dan melotot pada suaminya. Wafi malah mengeratkan rangkulannya, dan Shafiyah hanya bisa menahan rasa kesalnya.


”Aa, foto berdua sama Bayyin." Pinta Bayyinah serak.


”Fotoin neng." Titah Wafi kepada Shafiyah, Shafiyah menerima hape Bayyin dan mundur menjauh untuk mengambil gambar yang pas. Rasa perih dan ngilu di pangkal pahanya masih terasa, tapi Shafiyah berusaha mengabaikannya.


”Aa geseran dikit!" seru Shafiyah dan Wafi bergeser. Bayyin merangkul lengan kakaknya itu dan foto berhasil diambil, dengan beberapa gaya. Wafi tersenyum dan Bayyin memeluknya.


”Loh, kok nangis?" tanya Wafi bingung. Dia menarik tubuh Bayyin, melindunginya dari sorotan semua orang dengan tubuhnya." Udah, malu. Banyak orang.”


”Bayyin kangen sama Abi hiks!" ucap Bayyin dan Wafi terdiam. Musa yang melihat istrinya menangis pun lekas menghampiri.


”Bayyin kenapa?” tanya Musa.


”Enggak apa-apa, cuma lagi inget sama abi katanya." Wafi menjawab dan Musa diam. Wafi terus memeluk adiknya itu erat, mengelus kepalanya dan punggungnya. Shafiyah sudah berkaca-kaca, mendengar ucapan Bayyin. Anak perempuan mana yang tidak sedih, pernikahan, hari spesial bagi semua orang tanpa dihadiri oleh sosok seoang ayah. Tapi Bayyin dan Daniyyah masih beruntung, memiliki kakak yang tanggung jawabnya, kasih dan cintanya kepada keduanya, seperti seorang ayah.


”Abi seneng, Bayyin udah nikah sekarang. Do'ain abi ya, kita yang masih di dunia, tinggal di alam yang berbeda sama abi hanya bisa mengirimkan doa, doa terbaik, bukti bakti kita sebagai seorang anak. Udah, jangan nangis. Masuk dulu, tenangkan diri dulu ya?” tutur Wafi berbisik-bisik di telinga Bayyinah, Bayyin mengangguk. Wafi merangkul bahu adiknya itu dan tidak lama Musa menggantikannya, tapi tangan Bayyin terus menggenggam tangan Wafi. Mau tidak mau, Wafi mengekor di belakang. Dan di belakangnya Shafiyah. Para tamu undangan hanya diam, berbalut rasa penasaran sampai ada pihak keluarga yang menjelaskan. Jika posisi anak-anaknya Gus Fashan memang tidak mudah selama ini. Apalagi untuk anak perempuan, yang tidak merasakan kehadiran sosok abi mereka sedari kecil, dan dihari pernikahan. Para tamu pun merasa kasihan, banyak orang yang masih mengingat jelas bagaimana sosok Gus Fashan. Jasadnya sudah dikuburkan 22 tahun yang lalu, tapi harum semerbak namanya sampai sekarang masih tercium.

__ADS_1


Shafiyah keluar lagi saat keluarganya akan pulang, Fajar bahkan masih memakai seragam kerja, yang dilapisi jaket kulit. Meri juga harus kembali ke perusahaan.


”Aku panggil Gus Mu sebentar,” ucap Shafiyah dan Fajar menggeleng kepala.


”Suami kamu lagi sibuk, biarin aja. Jaga diri baik-baik ya.” Fajar menangkup pipi kiri Shafiyah dan Shafiyah mengangguk.


”Makasih kakak udah datang,” lirih Shafiyah dan Fajar tersenyum. Keduanya pun berpelukan sekilas, dan Shafiyah juga berpelukan dengan Meri dan Burhan. Shafiyah diam, memperhatikan kepergian keluarganya. Dia begitu merindukan orang tuanya saat ini. Dan akan mengajak suaminya ke rumah orang tuanya nanti.


”Shafiyah.” Panggil Rosa dan Shafiyah menoleh.


”Kalian udah makan?” tanya Shafiyah, menatap teman-temannya.


”Udah, kapan kamu ngaji lagi bareng sama kita. Kamu bakal ngajarin santriwati junior lagi kan?” tutur Nur bertanya, karena dia baru memiliki kesempatan mendekati Shafiyah.


”Kayaknya iya. Untuk sekarang sih enggak dulu, aku kemarin kan sibuk sama di rumah. Besok juga mau istirahat, mumpung hari libur.” Shafiyah tersenyum dan menjelaskan.


”Alhamdulillah, beda ya sekarang, habis ngajar Shafiyah pulangnya bukan ke asrama. Tapi ke rumah Bu nyai hihihi.” Nur menggoda dan Shafiyah menunduk malu-malu.


”Aku harap kita bisa main seperti biasanya lagi ya Shafiyah, tapi emang kamu juga harus lebih mengutamakan suami kamu sih,” ujar Rosa.


”In sha Allah kalau ada waktu, aku juga pasti main ke asrama,” imbuh Shafiyah dan teman-temannya nampak senang.” Aku masuk dulu ya. Assalamualaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam,” balas teman-temannya dan menatap kepergian Shafiyah. Beruntungnya Shafiyah menjadi istri Gus Mu, gumam Rosa dan Nur begitu sama. Wafi memang mantan napi, tapi dengan seiringnya waktu, pria itu membuktikan dari sikap dan perilaku nya. Bahwa dia tidak seburuk itu.


Di dalam rumah, Shafiyah menaiki tangga. Dia habis dari dapur dan Wafi yang sudah menunggu meraih tangannya. Shafiyah kaget dan bibirnya di kecup mesra oleh suaminya, walaupun terhalang cadar, tapi tetap saja terasa.


”Kalau ada yang lihat gimana?” ketus Shafiyah. Dia cubit pinggang suaminya itu dan Wafi menjerit. Sungguh, cubitan istrinya kali ini sangat keras dan sakit.


”Sakit sayang.”


”Terserah,” ucap Shafiyah ketus. Dia melangkah pergi dan melirik kanan-kiri, memastikan tidak ada orang di lantai dua saat ini. Shafiyah pergi ke balkon dan Wafi mengekor di belakang, Wafi menarik Shafiyah agar duduk bersamanya. Shafiyah pasrah dan Wafi memeluk pinggang nya.


”Jadi, tadi kenapa?” tanya Wafi masih penasaran dan Shafiyah terdiam sejenak.


”Kenapa apanya sih a? lepas, nanti ada yang lihat.” Berusaha berontak tapi kedua tangan Wafi semakin erat memeluk pinggangnya.


”Kamu kira bisa kabur? coba lepas kalau bisa.” Goda Wafi dan Shafiyah tersenyum.


”Kalau bisa aku lepas, jangan ganggu aku.” Tegas Shafiyah dan Wafi mengangguk. Shafiyah terus tersenyum dan berusaha melepaskan kedua tangan suaminya dari pinggangnya. Dia dorong, tekan bahkan memukul dan mencubitnya. Tenaganya terlalu lemah untuk melawan tenaga besar suaminya, Wafi terus cengengesan melihat istrinya.


”Satu....”


”Enggak, bisa kok. Fiyah bisa iiiiiih....!” Shafiyah terus berusaha tapi tetap saja.


”Sepuluh.... Habibah kalah.” Seru Wafi cepat dan Shafiyah tidak bisa menghindar, saat bibir suaminya sudah mendarat di pipi nya.


Cup! suara kecupan terdengar jelas.


”Cium cium terus, kesel.” Shafiyah mengusap pipinya, seolah jijik.


”Kalau gak mau dicium suami, mau dicium siapa?” Wafi kesal dan menahan tangan istrinya itu, Shafiyah terus tersenyum melihat suaminya kesal. Wafi menarik ujung niqob tersebut dan wajah istrinya bisa dia lihat sekarang.


”Hihi, jangan dibuka ih. Nanti ada yang lihat.” Shafiyah berusaha menutupi wajahnya kembali tapi Wafi menahannya.


”Bibah mau dicium siapa? Aidan atau Farel, atau siapa?” ketus Wafi sambil mendelik dan membuang muka, Shafiyah tersentak, melihat kekasihnya itu sedang cemburu dan merajuk karena godaannya.


”Cuma bercanda doang,” ucap Shafiyah tapi tak kunjung membuat tatapan Wafi kembali padanya.” Aa ih, lihat fiyah.”


”Males,” katanya sambil cemberut. Shafiyah memeluk suaminya itu erat, bodo amat dengan rasa malu. Dia peluk, agar pria itu tidak marah lagi apalagi salah paham padanya. Wafi diam-diam tersenyum, merasakan dan melihat bagaimana lenteranya berusaha mengobati kecemburuan karena ucapannya.


”Jangan marah, Fiyah cuma bercanda. Lihat Fiyah.” Gadis itu terus meminta, agar kedua mata yang tajam bagai mata elang itu menatapnya lagi dan lagi. Wafi akhirnya tidak tahan dan menatap istrinya itu.


”Jangan begitu, aku cemburu, terima apapun yang suami kamu lakukan. Dengan ikhlas dan jangan terpaksa, biar pahala yang kamu dapat berlimpah ruah. Dan hubungan kita berkah.”

__ADS_1


”Aamiin, maaf ya.” Shafiyah tersenyum manis, jemarinya terus mencolek dagu Wafi dan Wafi akhirnya terkekeh.


__ADS_2