
”Saya mau berhenti mengajar di pesantren Al Bidayah ini, ustadz, Gus,” ucap Aidan. Dan kedua manusia di hadapannya sama-sama menoleh, saling menatap bingung. Lalu Ustadz Jaidi menatap Aidan.
”Kenapa?” tanya Ustadz Jaidi.
Aidan menggaruk tengkuknya dan Wafi memperhatikannya dengan seksama. ”Anu saya...” Dia menghela nafas, membuat Wafi dan ustadz Jaidi mendesah bersamaan. ”Saya mundur karena masalah kemarin,” katanya meneruskan.
”Jangan, pesantren butuh sosok pengajar seperti kamu. Apa yang bikin kamu khawatir? Adik kamu mundur, terus kamu sendiri juga mundur. Saya gak membenarkan perbuatan Chairil dengan adik kamu, tapi ini jangan mempengaruhi pengabdian kalian sama Pesantren. Pesantren tempat semua orang, hak semua orang, semuanya bisa salah, tapi juga memiliki hak untuk memperbaiki kesalahan,” tutur Wafi dan Aidan tersentuh mendengarnya, walaupun sikapnya terkadang tidak sopan, tapi Wafi tetap ingin dia bertahan.
”Iya, Aidan. Pikirkan lagi, bagaimana awal mula kamu masuk, bagaimana kamu diawal belajar, sampai sekarang bisa menjadi pengajar dan pengabdi, pesantren maju karena guru dan pengajar yang baik dan tekun serta sabar, dalam mengajari semua santri dan santriwati,” imbuh ustadz Jaidi berusaha membujuk. Tapi Aidan tidak menunjukan penerimaan atas ucapannya.
”Mungkin saya mau cari kerja, dan lebih dekat dengan ibu saya yang sudah sakit-sakitan, saya minta maaf, tapi saya gak punya alasan lagi untuk bertahan, ibu saya sudah meminta saya pulang. Pengabdian kepada Pesantren memang luar biasa, tapi bukannya orang tua yang utama,” ucap Aidan serak dan Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya, dia paham, karena posisinya dan Aidan sama.
”Iya saya paham itu, apa kamu benar-benar yakin?” tanya Wafi dan Aidan mengangguk tanpa ragu. ”Kami semua gak bisa nahan kamu, kami semua akan selalu ingat sama kamu. Dan satu yang harus kamu tahu, pesantren terbuka buat kamu, datang kalau sempat,” sambungnya begitu bersahabat dan Aidan tersenyum hangat.
”Terimakasih, pasti, saya akan datang kalau ada waktu. Mohon do'anya, untuk kebaikan saya dan keluarga. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, jika ada salah kata, dan perilaku, khususnya untuk masalah kemarin,” tuturnya lembut dan Wafi serta ustadz Jaidi mengangguk. Ketiganya pun bangkit, lalu saling berpelukan dan menepuk bahu. Aidan sudah lebih dulu memberitahu pengurus pesantren yang lain tentang kemundurannya. Dan dia menunggu Wafi untuk bisa berbicara dan meminta maaf.
Ketiganya keluar meninggalkan aula, lalu berpisah ke arah yang berbeda. Wafi melangkah pergi dan dua kali menekan pecinya yang berwarna gelap itu, dia terdiam dan kedua tangannya ke belakang. Tatapannya berubah tajam, rahangnya mengeras dan di belakang, tangannya terkepal kuat. Rasa cemburu menyelimuti dirinya yang memang pencemburu, saat melihat istrinya didekati Chairil di depan rumah. Entah mau apa? Dan dia tidak suka.
”Saya mau bicara sebentar, saya butuh bantuan kamu Shafiyah,” imbuh Chairil dan Shafiyah memegang sapu lidi ditangan kanannya kuat, dia takut timbul fitnah, suaminya juga sedang tidak ada di rumah.
”Ada apa? Saya gak bisa lama-lama,” ucap Shafiyah dan terus menunduk.
”Kamu sepupunya Khalisah, saya butuh bantuan kamu, saya harap kamu mau membujuk Khalisah, supaya dia mau saya ajak kembali pulang. Hanya kamu harapan saya Shafiyah,” katanya serak dan Shafiyah menggigit bibir bawahnya kelu. Dia tidak bisa menjanjikan apapun, sempat mencoba mengirimkan chat, tapi Khalisah hanya membacanya, dan dia tidak mau terlibat atau dianggap pengganggu dalam masalah rumah tangga orang lain.
”Saya gak bisa janji,” imbuh Shafiyah.
”Tolong dicoba,” pinta Chairil serak. Dia melangkah maju dan Shafiyah terperanjat. Shafiyah terdiam saat suaminya datang dan menghadang langkah Chairil.
”Ya Allah, jangan sampai ada salah paham. Mana mukanya abi, asem banget lagi,” Shafiyah bergumam.
”Ngapain sih?" ketus Wafi.
”Wafi, aku butuh bantuan istri kamu, buat bujuk Khalisah,” kata Chairil menjelaskan.
”Iya, nanti. Tapi jangan lama-lama juga ngobrol sama istri orang, kamu disorot semua orang karena masalah kemarin, jangan memperkeruh suasana dengan mendekati Shafiyah. Kamu bisa ngomong sama aku dulu, kalau butuh sesuatu sama istriku, Chairil,” tandasnya penuh emosi dan Shafiyah menarik ujung baju Koko berwarna putih itu. Wafi menoleh sebatas ekor matanya, lalu ia kembali menatap Chairil.
”Aku minta maaf, assalamu'alaikum.” Chairil melangkah pergi, dan tidak mau terlibat masalah, masalahnya dengan Khalisah sudah membuat setengah isi kepalanya hampir berantakan. Jauh dari istri dan anak emang enak? Tentu tidak, penyesalan memang selalu datang setelah ketahuan.
Kini, Wafi berbalik dan menatap Shafiyah tajam. ”Masuk!” titahnya pelan tapi tegas.
”Kenapa ngomongnya begitu? Kenapa melotot?” tanya Shafiyah kesal dan Wafi meraih pergelangan tangannya, lalu mengajak Shafiyah pergi.
Di dalam rumah, Wafi duduk dan Shafiyah mengambilkan air minum untuknya. Tatapan tajam pria itu belum mereda, membuat istrinya takut walaupun sekadar mengeluarkan kata.
Tap! Suara bagian bawah gelas saat beradu dengan atas meja.
”Duduk!” Titah Wafi dan Shafiyah langsung duduk. ”Ngomong apa dia sama kamu neng?” tuturnya ketus.
”Tentang Khalisah, kan dia sendiri udah bilang sama abi, kenapa marahnya berkepanjangan si? Emang menurut abi aku ngapain sama sepupu abi itu hah? Fiyah gak mau ngomong kalau abi lagi emosi." Dia langsung berdiri setelah selesai berucap, Wafi meraih tangannya dan menariknya ke pangkuan. Kedua mata Shafiyah melotot dan perutnya hampir membentur pinggiran meja.” Bi! Pelan-pelan,” tandasnya.
”Diem kalau aku belum selesai bicara!”
Shafiyah mendelik dan menatap ke arah lain.
”Dia bilang apalagi?”
”Astaghfirullah bi! Rese banget ah, Fiyah udah bilang tadi, tentang Khalisah, Fiyah diminta bujuk Khalisah, itu doang. Kenapa sih jadi ribet banget. Kalau perut aku kena meja, kamu salah, pokoknya kamu abi yang jahat, gak nyadar diri istrinya lagi hamil, cemburu emang bikin buta.” Shafiyah bangkit dan Wafi membiarkannya, istrinya marah sekarang, karena sikapnya yang keterlaluan. Shafiyah berdiri, dia mengupas buah apel, buah-buahan memang menjadi cemilan favorit nya.
Dengan perlahan, Wafi bangkit lalu mendekat, dia peluk istrinya itu tapi Shafiyah menyikut nya. Wafi terkekeh-kekeh dan Shafiyah mendengus.
”Aku Keterlaluan ya? Maaf ya.”
”Lepas!” begitu sinis.
”Ayang, maaf, jujur aku cemburu,” bisik pria itu dengan bibir menempel di telinga Shafiyah.
Shafiyah diam membisu dan Wafi terus memeluknya.
”Aku potongin buahnya.” Ia meraih tangan Shafiyah dan Shafiyah menepis. ”Asstaghfirullah, sayangku.”
Akhirnya, keduanya sama-sama diam. Dagu Wafi menancap di bahu istrinya, matanya terus menoleh, memperhatikan mata istrinya.
****
__ADS_1
Sore hari yang mendung, Shafiyah memberanikan diri untuk menelepon Khalisah, wanita itu bagai ditelan bumi setelah kepulangannya ke rumah orangtuanya. Shafiyah berharap bisa membujuk, walaupun peluangnya sangat kecil.
”Ngapain kamu nelepon?” ketus Khalisah dan Shafiyah diam. ”Kenapa kamu gangguin aku terus Sha?”
”Aku gak ada maksud buat gangguin kamu, aku khawatir Khalis. Kamu sehat?” balas Shafiyah lembut.
”Iya!” singkat dan padat, jawaban dari Khalisah.
”Bayi kamu gimana, sehat juga?"
”Iya, langsung ke inti, kamu mau apa? Jangan-jangan, kamu diminta sama suami aku Sha?” Tudingnya tepat sasaran.
Shafiyah membuang nafas kasar dan tidak bisa membuat alasan untuk membantah, karena memang itu tujuannya. ”Ya Khalis, aku nelepon karena mau tahu kabar kamu dan anak kamu, emmm iya, ini juga ada permintaan kecil dari Gus Chairil,” tuturnya lirih dan Khalisah mendelik sebal di tempatnya.
”Kalian punya hubungan?” Menuduh tanpa ragu.
Shafiyah kaget dan melotot. ”Hah apa? Kamu ngomong apa Khalisah?”
”Suami aku salah satu fans kamu, sering banget muji kamu, di depan aku juga tanpa ragu. Mungkin dia suka, apalagi setelah hubungannya sama si cadar kandas,” cetusnya sinis.
”Asstaghfirullah, aku sama sekali gak ada hubungan sama suami kamu Khalisah. Jangan nuduh sembarangan,” bantahnya, mulai panas.
”Ya bisa aja, mungkin kamu gak bahagia, hidup sama mantan napi,” ucapnya sambil diikuti gelak tawa.
”Khalisah!!!!” Shafiyah memekik seraya mengepal tangannya. ”Jaga ucapan kamu!”
”Kok marah? Kamu ngerasa?”
Shafiyah memijat keningnya berulangkali, dan diam tidak menimpali kembali tuduhan gila Khalisah.
”Aku benci sama kamu Sha, aku benci, dari kecil, sampai sekarang. Perempuan munafik, pura-pura baik, manja dan sampai kapanpun aku bakal benci sama kamu!” tegasnya lantang.
”Khalis...!” Ucapannya terhenti, karena Khalisah mematikkan panggilan. ”Ish!” Shafiyah berdesis lalu duduk dan mengusap wajahnya kasar.
Dia diam cukup lama, sampai suara hapenya menyadarkannya dari lamunan. Panggilan masuk dari Fajar. Shafiyah lekas mengangkat, dan menyeka air matanya yang sudah terbendung, hampir saja lolos jatuh ke pipinya.
”Assalamu'alaikum,” ucap Shafiyah.
”Wa'alaikumus Salaam, lagi dimana?”
”Ibu kemarin dirawat di RS, sudah pulang, tapi ke rumah aku. Bisa datang? Kakek mau telepon kamu, tapi ibu marah dan gak ngizinin kita buat ngasih tahu kamu. Ibu gengsi Sha, kamu juga tahu, jangan bosan-bosan buat deketin ibu, gimana pun sikapnya. Aku yakin, dia mau ketemu sama kamu, dia gak bakal macam-macam, kamu lagi hamil, ibu gak sejahat itu, aku yakin,” tuturnya tanpa jeda dan Shafiyah mendengarkan.
”Ibu sakit? Ya Allah, kak kenapa ibu jadi sering sakit begini... Ibu sakit apa sebenarnya kak?” suara Shafiyah berat dan Fajar panik.
”Jangan nangis, ini penyakit diusia tua, apalagi kalau udah stress. Enggak apa-apa, yang penting kamu datang aja,” jawab Fajar dan Shafiyah diam, menahan tangisnya.
”Iya pasti Fiyah datang kak.”
”Ya sudah, udah dulu ya, kakak mau kerja, Assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam.”
Panggilan berakhir dan Shafiyah meletakkan hapenya di atas meja, Wafi yang baru naik terdiam sejenak, melihat istrinya menangis terisak-isak.
”Sayang.” Melangkah cepat mendekat. Dia sudah sampai di sofa yang sama dan Shafiyah langsung memeluknya. ”Kamu kenapa?”
”Hiks...”
”Jawab, jangan nangis terus, aku khawatir.”
”Ibu sakit bi... Ibu sakit terus, aku khawatir, aku mau lihat ibu. Kak Fajar tadi nelepon, ibu dirawat tapi udah pulang, terus dibawa pulang ke rumah kak Fajar, hiks.." Terus menangis dalam dekapan suaminya.
”Kita lihat ibu nanti, udah jangan nangis lagi. Lihat aku,” pintanya lirih. Dia ikut sedih melihat tangisan istrinya. ”Kita ke rumah kak Fajar, sekarang. Ayo siap-siap,” ajaknya lembut.
”Beneran?” tanya Shafiyah dan Wafi mengangguk. Shafiyah langsung berdiri untuk segera bersiap dan Wafi diam memperhatikannya. Ada rasa cemas, karena setiap bertemu dengan Sara, Shafiyah pasti menangis, karena kata-kata kurang baik ibunya sendiri. Siapa yang bisa tidak terluka, mendengar kata-kata cemoohan setiap saat dari wanita yang sudah melahirkannya ke dunia? Mustahil. Penghinaan terberat adalah dari orang terdekat.
Setelah siap, keduanya pamit kepada Raihanah. Raihanah ikut khawatir, ingin ikut tapi dia sedang lelah, dia memilih untuk beristirahat. Usia paling jitu menggerogoti tenaga dan kesehatan. Apalagi jika pola hidupnya tidak di jaga.
Selang beberapa menit kemudian, belum jauh dari pesantren, hujan turun langsung deras. Shafiyah memperhatikan butiran air lembut jatuh dari langit sana, dia menyeruput susu coklat panas yang dibuat suaminya saat dia sedang bersiap.
Shafiyah tiba-tiba menoleh, untuk menawari suaminya susu. ”Abi mau?”
”Enggak, buat kamu aja, habisin.”
__ADS_1
Shafiyah mengangguk dan meminum susunya lagi. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, beberapakali terguncang saat ban mobil masuk ke dalam lubang cukup dalam, membuat Shafiyah berpegangan dan Wafi menahan dengan merentangkan tangannya di dada istrinya.
”Pelan-pelan dong bi, istrinya lagi hamil juga,” kata Shafiyah dan Wafi tersenyum.
”Enggak kelihatan neng, ya maaf," sahutnya pelan.
Hening cukup lama, rumah Fajar sudah terlihat, Shafiyah begitu antusias dan Wafi tersenyum tipis. Sesampainya di depan pintu gerbang berwarna hitam itu, gerbang langsung dibuka. Dipersilakan masuk tanpa ragu, karena satpam melihat Shafiyah di dalam mobil. Meri yang sedang membaca koran di teras tersenyum, melihat Shafiyah dan Wafi yang kini sudah keluar dari mobil.
”Assalamu'alaikum,” ucap Shafiyah dan Wafi.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Meri. Meri dan Shafiyah berpelukan hangat, Wafi merapatkan kedua tangannya dan tersenyum saat Meri lupa dan menyodorkan tangannya.
”Emmm ibu dimana kak?” tanya Shafiyah langsung.
”Di kamar, ayo masuk,” ajak Meri merangkul bahu Shafiyah. Wafi mengekor di belakang.
Wafi duduk setelah dipersilakan, sementara Shafiyah pergi bersama Meri untuk menemui Sara. Di kamar, Sara sedang berdiri menatap keluar kaca jendela yang terbuka, dia melihat mobil menantunya sekilas tadi.
”Bu,” panggil Meri. Dan Sara diam. Di depan pintu kamar yang terbuka sedikit, Shafiyah berdiri, menunggu diberikan izin oleh ibunya.
”Biarin dia masuk,” ujar Sara dan Shafiyah tersenyum mendengarnya. Meri melangkah keluar dari kamar dan berhadapan dengan Shafiyah.
”Masuk Sha, sabar...” Dia berbisik di kalimat terakhir dan Shafiyah hanya mengangguk pelan.
Meri pun pergi, untuk melihat Wafi, apakah sudah dijamu dengan baik oleh pekerjanya atau belum.
Shafiyah nampak ragu, jantungnya berdegup, seolah-olah akan berhadapan dengan orang penting, atau orang jahat. Sosok ibu yang semakin asing, dan dia tetap menyayanginya. Shafiyah akhirnya mendorong pintu perlahan-lahan dan Sara melirik dengan ekor matanya.
”Assalamu'alaikum Bu, ini Fiyah,” imbuhnya lirih. Sara berbalik badan dan Shafiyah menunduk takut.
Mata Sara langsung tertuju ke perut besar Shafiyah, yang berbalut gamis berwarna abu, ada rasa haru, bahagia dan tidak menyangka. Anak perempuannya akan melahirkan sebentar lagi, melahirkan cucunya, cucu kembar.
”Kakak bilang ibu sakit, maaf Fiyah telat datang, ibu gimana sekarang?" tanyanya sambil mengangkat kepala, dia tersentak saat ibunya sudah melangkah ke hadapannya. Mata Shafiyah terpejam, apa dia akan dipukul, atau ditampar? Trauma yang membekas, tak pudar oleh waktu. Tak mudah sembuh walaupun diobati.
Deg! Shafiyah membuka matanya, saat tangan ibunya mendarat di perutnya. Begitu lembut, apalagi saat bergerak membelai. Sudah lama dia tidak merasakan sentuhan kasih sayang dari ibunya, rasa haru, tidak percaya menjadi satu, matanya membendung air.
”Ha....!" Jerit Sara saat kedua cucunya di dalam perut Shafiyah menggeliat serta menendang-nendang.
”Kedua calon cucu ibu kayaknya tahu, yang lagi usap lembut mereka itu, neneknya,” tutur Shafiyah dan Sara mengangkat kepalanya. Keduanya saling menatap sendu. ”Udah lama ya, ibu gak ngelus Fiyah.”
”Nak...”
”Ibu yang terbaik, sebentar lagi, cucu kembar ibu akan lahir, apa bisa kita berdamai Bu? Bukannya ibu mengira kita bermusuhan selama ini? Jika anak ibu yang ibu anggap musuh ini meninggal saat melahirkan, gimana? Fiyah minta maaf, atas semua kesalahan Fiyah. Fiyah takut pergi duluan, melahirkan itu taruhannya nyawa, Fiyah minta maaf,” ujarnya serak, sambil berlinang air mata. Shafiyah meraih tangan lemah ibunya, lalu dia genggam erat.
”Apa Wafi pernah kasar?” ujarnya bertanya.
”Pernah, lebih tepatnya tegas Bu, kalau aku salah.”
”Apa dia pernah memaki kamu?"
”Sama sekali enggak."
”Berapa setiap bulan yang diberikan sama kamu?”
”Semuanya, Fiyah yang ngatur. Suami Fiyah bukan pekerja kantoran, atau pengusaha, tapi dia hanya bos dari dua pegawai. Bulan depan, a Wafi dipilih sebagai kontraktor di sebuah perusahaan, walaupun sulit, dan dia diminta mengambil alih pembangunan yang terbengkalai, waktu 6 bulan yang diberikan mereka. Mohon do'anya Bu, semoga ada jalan rezeki untuk keluarga kami, yang tentunya halal,” tutur Shafiyah dan Sara diam. Sara menarik niqob anaknya ke belakang, dia perhatikan wajah anaknya dengan seksama, yang tanpa polesan make up, tapi begitu bersinar cerah. Tidak ada luka, seperti yang dia khawatirkan, dalam bayangannya, mantan pembunuh adalah sosok pria yang kasar.
Sara perlahan-lahan menutup pintu, tak cukup memeriksa wajah, dia juga memeriksa seluruh tubuh anaknya, hal tersebut membuat Shafiyah malu, tapi dia membiarkan, karena untuk membuktikan bahwa suaminya bukan pria yang jahat seperti bayangan ibunya. Beberapa tanda bekas kecupan membuat Shafiyah melenguh, dia lekas menutup nya sekenanya. Apa itu perlu dilakukan? Keterlaluan, tapi itu sangat penting untuk Sara.
Setelah selesai, Shafiyah memakai pakaiannya lagi. Dia duduk dan belum memakai kerudung serta penutup wajahnya.
”Dia pernah mengeluarkan kata-kata binatang di depan kamu?" tanya Sara lagi.
”Demi Allah Bu, a Wafi gak seburuk seperti yang ibu bayangin, dia baik, gak pernah kasar, tapi tegas dalam mendidik Shafiyah, kalau Shafiyah salah. Apa ada luka memar? Jika Fiyah bohong, ibu sudah pasti bisa melihatnya. Shafiyah malu, ibu melihat tubuh Shafiyah, yang sudah memiliki suami ini, beberapa tanda aib ibu melihatnya. Fiyah malu,” kata Shafiyah lalu menunduk lesu.
"Ibu minta maaf,” imbuh wanita itu. Dan Shafiyah menahan air matanya, sedari tadi dia menahan sesak saat tubuhnya diperiksa.
”Kalau a Wafi tahu, betapa jahatnya pemikiran ibu sama dia, dia pasti terluka. Fiyah terpaksa, kalau gak begini, ibu akan terus nuduh kamu macam-macam a, nuduh kamu yang mantan pembunuh gak bisa lembut sama istrinya. Maaf, aku juga malu, tapi mau bagaimana lagi.”
Di ruang tamu, Wafi menyendiri, memainkan hapenya dia sudah bosan, kenapa istrinya tak kunjung kembali? Apa terjadi sesuatu? Dia tidak bisa berburuk sangka, apalagi kepada mertuanya.
”Wafi,” ucap Burhan yang baru datang, Wafi lekas berdiri dan menyalami tangan Burhan.
”Kek, gimana kabarnya?”
__ADS_1
”Alhamdulillah sehat, dimana Fiyah?” tanya Burhan sambil mengedarkan pandangan. Wafi diam, bingung harus menjawab apa.