Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 81: Kebahagiaan untuk Shafiyah


__ADS_3

Raihanah terdiam, kedua matanya berair, melihat keponakannya menjalin hubungan dengan Romlah, dari chat yang diperlihatkan Khalisah. Chairil yang memulai, mengirim chat beberapa kali, sampai akhirnya Romlah terpancing untuk membalasnya.


”Saya...” Chairil berucap.


”Kita tunggu orang tua kamu.” Raihanah mengangkat tangannya, dan menyela ucapan Chairil. Chairil menunduk dan Khalisah menatapnya begitu tajam, tapi air mata wanita itu juga terus luruh membasahi pipinya, matanya mulai bengkak, kelamaan dan terlalu banyak air matanya menetes.


”Bikin malu!” Gumam Aidan.


Shafiyah memperhatikan Romlah terus-menerus, dan Romlah hanya bisa menangis.


”Apa bisa kita selesaikan sekarang saja Uwa?" Ujar Chairil dan Raihanah menatapnya.


”Kamu memang membuat masalah dengan Romlah, kalian berdua. Tapi ini harus diselesaikan melibatkan orang tua, kamu memang sudah dewasa, tapi musyarawah gak bisa kamu lakukan sendiri. Istri kamu, baru saja melahirkan, jika ia tidak bisa melayani dengan baik, atau berkurangnya waktu memperhatikan kamu karena mengurus kalian, seharusnya itu bukan menjadi bahan pelarian untuk mencari yang baru," tandasnya menjelaskan. Chairil menunduk lagi dan Raihanah mendelikan matanya tajam. Entah, dia sendiri tahu Khalisah bagaimana, tapi tetap saja dia juga seorang wanita, yang sudah melahirkan dua anak perempuan, bagaimana jadinya jika anak menantunya bersikap seperti Chairil. Raihanah bisa merasakan duka yang dialami Faiza, sahabat sekaligus saudara iparnya.


Tidak lama, Yaman dan Faiza datang. Faiza menatap Romlah dan anaknya bergantian. Sorot mata kecewa dan sakit hati. Semuanya menjawab salam keduanya, lalu keduanya dipersilahkan untuk duduk.


”Za,” ucap Raihanah lirih. Dia raih tangan Faiza dan Faiza langsung menangis. Kemarahan Khalisah kepada Romlah tadi langsung menjadi bahan gosip di seluruh sudut pesantren Al Bidayah.


”Chairil, Khalisah,” sebut Yaman serak. Anak dan menantunya hanya diam saat ini.” Jujur, Abi sama Umi kaget mendengar Khalisah menelepon tadi. Asstaghfirullah hal adzim nak,” sambungnya serak.


”Abi,” sahut Chairil.


”Perempuan cantik memang banyak nak, tapi kalau kamu gampang tergoda dan terlena, tidak akan ada habisnya.” Faiza menarik nafas dalam-dalam, setelah bersuara dengan bergetar dan menahan tangis.


Romlah mencengkeram kuat pergelangan tangannya sendiri, saat dia disudutkan semua orang sekarang.


”Khalisah, semua perbuatan ada akibatnya, dari kejadian ini, kita bisa lihat. Anak umi, Chairil, juga butuh dihargai, khususnya oleh seorang istri. Suami istri itu saling melengkapi, bukan saling menimba kekurangan,” imbuh Faiza. Dia tatap menantunya begitu dalam, yang tak berhenti menangis sedari tadi. Khalisah tidak berkata-kata lagi, dia tidak mampu untuk melakukannya, dia hancur dan terluka. Sementara tatapan Chairil, nampak memerah, melihat istrinya terus menangis karena kesalahannya, dia menyesal dan sakit.


Hening cukup lama, semuanya menunduk, dan tidak ada yang berani bersuara. Tangan Shafiyah tidak henti-hentinya, mengusap-usap punggung Khalisah. Sementara bayi Khalisah dan Chairil, di kamar bersama Afsheen dan Bayyin.


”Saya minta maaf, atas semua kekacauan yang terjadi, maaf,” ucap Chairil serak. Khalisah membuang muka saat tatapan suaminya mengarah padanya.


”Apa sebelum menerima pendekatan dari Chairil, nak Romlah sudah tahu, anak saya ini sudah beristri dan memiliki anak?” Tanya Faiza dan Romlah mengangguk, bagaimana bisa dia tidak tahu. Beberapa kali bertemu, dan melihat sekilas. Di pesantren Al Bidayah, yang luas tersebut." Nak, poligami memang bukan kejahatan, tapi di zaman sekarang. Poligami hanya menimbulkan fitnah, bukannya kita harus menjauhi fitnah? Suami yang mencari istri untuk menjadi madu, rata-rata mencari istri yang lebih baik dari istri pertama, bukan karena alasan Sunnah untuk melindungi yang sesungguhnya," sambungnya lembut. Dan Romlah menunduk, untuk paras, jelas dia kalah dibandingkan dengan Khalisah. Chairil mengejarnya, hanya melihat mata dan suara, jika melihat rupa, mungkin pria itu juga akan mundur perlahan-lahan.


”Saya minta maaf, saya khilaf. Saya hadir diantara keluarga pria yang sudah berkeluarga, berkomunikasi di luar batas. Saya minta maaf, saya membuat semua orang kecewa.” Romlah menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Khalisah juga menangis, tapi ia menangis tanpa bersuara. Khalisah sesekali mengusap air matanya.


”Jadi, kamu Chairil, dan kamu Romlah, serta Khalisah. Maunya bagaimana sekarang?” Seru Yaman. Dan ketiganya saling melemparkan pandangan.


Tatapan Khalisah berhenti pada Chairil, begitu juga sebaliknya. Melihat tatapan keduanya, Romlah merasa cemburu, sesuatu perkara yang tidak boleh dia lakukan, tidak berhak dan sangat memalukan.


Khalisah membuang nafas kasar, melihat tatapan Chairil beralih sejenak kepada Romlah. Keputusan mendadak, dan sangat tergesa-gesa. Khalisah bangkit, dan membuat semuanya tersentak.


”Kami akan bercerai!” Sergahnya dan membuat semua orang melongo.


”Khalisah," lirih Faiza. Air matanya terus berlinang, tangannya terulur untuk meraih tangan menantunya. Tapi Khalisah terlanjur pergi, dia masuk ke kamar dan mengambil bayinya. Afsheen dan Bayyin sampai kaget dengan kedatangan Khalisah sambil menangis.


”Ya Allah." Romlah bergumam. Chairil kini sudah mendekati Khalisah terburu-buru, tapi istrinya tak mau menatapnya.


”Neng,” imbuh Chairil serak.


”Assalamu'alaikum,” ucap Khalisah.


”Bicara baik-baik dulu," ajak Yaman. Tapi menantunya melenggang pergi keluar dari rumah.


Chairil segera menghadang langkah Khalisah, perempuan itu mendekap putrinya yang mulai menggeliat dalam gendongannya.


”Khalis, aku minta maaf. Jangan bilang begitu, jangan tinggalin aku Khalisah." Chairil meraih tangan Khalisah, tapi Khalisah melepaskan jemari suaminya itu. Chairil semakin takut karena sentuhannya di tolak.


”Cukup! Jangan lihat aku, cukup perdulikan saja selingkuhan kamu itu. Aku bisa menjaga anak kita sendirian, anakku enggak butuh sosok ayah seperti kamu. Aku tunggu, surat cerai dari ayah anakku." Khalisah menangis, suaranya serak, meminta sebuah perpisahan yang dia sendiripun sebenarnya enggan.

__ADS_1


”Aku minta maaf, tolong..."


”Aku mau pulang, jangan halangi aku,” timpal Khalisah.” Harusnya kamu bisa memikirkan hal ini, apa aku bisa menerima? Apa aku bisa untuk diam, setelah tahu kamu selingkuh. Aku memang bukan istri yang baik, aku gak kayak Shafiyah, yang sering kamu puji karena kebaikannya, aku bukan Romlah, selingkuhan kamu yang bisa berpakaian sebagai muslimah yang baik, di cadar. Aku hanya Khalisah, si pemarah.” Ia melangkah pergi, setelah mengutarakan isi hatinya. Sambil berderai air mata, Khalisah meninggalkan Chairil.


Air mata Chairil jatuh, apa selama ini dia selalu menuntut? Terlalu memuji perempuan lain, yang sama sekali tidak akan merubah sikap istrinya, dan malah semakin buruk.


Buka begitu caranya mendidik seorang istri, membandingkannya dengan orang lain, malah membuatnya sakit hati. Dan merasa menjadi perempuan paling buruk di mata suaminya.


Tanpa menunggu lama, Chairil bergegas menyusul, untuk menahan kepergian Khalisah.


Di dalam rumah, semuanya kebingungan, apalagi Aidan dan Romlah. Aidan akhirnya menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan nya kasar.


”Semuanya, saya benar-benar minta maaf, atas kejadian ini,” lirih Aidan dan semuanya menoleh.


Romlah menunduk, kakaknya sampai barus meminta maaf seperti itu karena ulahnya.


”Saya yang harusnya minta maaf, saya yang salah,” ucap Romlah dan Aidan mengepal tangannya kuat.


Faiza menyeka air matanya dan hanya diam. Yaman yang melihat situasi semakin tidak baik, akhirnya siap untuk membuka suara.


”Kalian bisa kembali, ini kesalahan, kalau ada yang tanya-tanya, kalian diam saja. Jangan sampai kejadian ini menjadi gosip berkepanjangan,” kata Yaman dan keduanya berdiri bersamaan.


”Kami permisi, assalamu'alaikum." Aidan meraih tangan adiknya dan menariknya selepas dia berucap.


”Wa'alaikumus Salaam," semuanya menjawab.


Tangisan Faiza semakin menjadi-jadi setelah keduanya pergi. Raihanah menjauh saat Yaman mendekat, Yaman menenangkan istrinya itu lembut dengan pelukan hangat. Raihanah dan Shafiyah kini hanya tertunduk lesu. Shafiyah juga harus berangkat sekarang, menemui kakak-kakaknya.


”Umi, Fiyah harus pergi,” ia berbisik dan Raihanah menoleh.


”Mau diantar Niyyah? Diantar aja ya." Raihanah membelai pucuk kepala menantunya itu, batinnya tak cukup sekali dua kali, karena dia mendapatkan menantu seperti Shafiyah.


Shafiyah pun pergi, dan Raihanah memilih meninggalkan Yaman dan Faiza. Di kamar, Afsheen dan Bayyin menoleh, melihat umi mereka masuk.


”Gimana mi?" tanya Afsheen.


”Enggak tahu deh, umi bingung. Kenapa bisa Chairil begitu," jawab Raihanah sedih.


”Sifat Khalisah juga kan yang kayak begitu, suami mana yang bisa tahan, tapi perbuatan Chairil juga gak bisa dibenarkan," kata Bayyin dan uminya mengangguk.


Di belakang pesantren, Aidan dan Romlah sedang berhadapan.


”Sudah puas kamu?" tanya pria itu begitu sinis.


”Maaf a,” lirih Romlah.


”Sebaiknya kamu langsung berhenti, kamu bikin semua orang kecewa, kamu harus pulang,” titahnya sewot. Romlah diam, dan menatap kepergian Aidan. Aidan terlihat terus-menerus mengepal tangannya, dia malu, ingin pergi, tapi tanggung jawab menumpuk. Dia tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja.


Sementara di rumah Khalisah, Khalisah sedang duduk di tepi tempat tidur, setelah menidurkan anaknya. Chairil berlutut di hadapannya, dia memeluk pinggang Khalisah erat, berusaha membujuk agar dimaafkan.


”Maafin aku Khalis, maaf. Jangan pergi, jangan tinggalin aku ya," katanya sambil berlinang air mata.


”Enggak, aku mau pulang, antar aku pulang, atau aku minta keluarga aku buat jemput kesini," ancamnya begitu berani. Dan Chairil tidak mau melepaskannya.


”Maafin aku, aku janji akan memperbaiki semuanya, aku sayang sama kamu Khalis."


”Tapi kamu juga sayang sama perempuan itu!" bentak Khalisah dan bayinya menggeliat.


”Pelan-pelan, nanti anak kita bangun, kamu mau apa, supaya kamu bisa percaya sama aku?” lirih nya sambil menangkup kedua pipi Khalisah, Khalisah menepis lalu membuang muka.

__ADS_1


”Aku butuh waktu sendiri! Tinggalin aku." Khalisah bangkit dan dan Chairil menunduk lemah. Khalisah menatap keluar kaca jendela kamar tersebut, ia dan Chairil sama-sama menangis terisak-isak saat ini. Mau bagaimana lagi, Khalisah sudah kecewa, walaupun ia juga sadar dengan kesalahannya, untuk melanjutkan, rasanya begitu susah.


******


Di resto, keempat kakak Shafiyah sudah menunggu, keempatnya kebingungan karena Shafiyah telat. Dijemput pun ia menolak.


”Telepon,” titah Seno.


Adi meraih hapenya di atas meja, dan membuat panggilan kepada adiknya.


”Eh itu Fiyah.” Qais menggerakan tangannya, menunjuk adiknya yang baru sampai dengan Fajar. Adi mematikkan panggilan dan memperhatikan keduanya. Saat tatapan Seno dan Fajar bertemu, keduanya saling menatap sinis.


”Assalamu'alaikum," ucap Shafiyah.


”Wa'alaikumus Salaam,” kakak-kakaknya menjawab." Maaf Fiyah telat,” sambungnya lirih, lalu menyalami tangan kakaknya satu-persatu.


”Bareng sama kamu?” tanya Qais kepada Fajar yang baru duduk.


”Ketemu di depan,” jawab Fajar.


Semuanya hening sejenak, sama-sama memperhatikan Shafiyah, apalagi perutnya. Seno tidak menyangka, adik kecilnya sedang hamil. Akan menjadi seorang ibu.


”Fiyah kira, ayah sama ibu ikut.” Fiyah sedih, dan keempatnya menunduk bersamaan.” Kak Seno kapan datang? Semuanya ke Bandung?” ujarnya bertanya.


”Cuma kakak,” jawab Seno singkat.” Gimana kabar kamu?”


”Alhamdulillah baik,” jawab Shafiyah begitu sumringah.” Udah berapa bulan?”


”Tujuh,” jawab Shafiyah.


Seno sudah membuka mulutnya, untuk berbicara lagi, tapi ia berhenti saat pelayan resto datang membawakan semua makanan dan minuman. Shafiyah yang haus memperhatikan jus di dalam gelas bening nan cantik itu, yang begitu menggodanya.


Adi perlahan menggeser gelas ke hadapan Shafiyah.” Minum,” katanya datar dan Shafiyah tersenyum.


”Makasih,” ucap ibu hamil itu.


”Gimana rumah tangga kamu?” tanya Seno terdengar mengejek, Shafiyah langsung berhenti meminimalisir minumannya. Fajar menyikut lengan Seno agar berhenti berbicara dengan nada seperti itu.


”Bicara yang baik-baik aja, bisa?” ketus Fajar dan Seno mendelik.


”Rumah tangga Fiyah sama Gus Mu, berjalan dengan baik, tapi kami juga sering cekcok, ribut kecil, sebentar, terus biasa lagi. Suami Fiyah dewasa, bukan hanya sekadar umur tapi pikirannya juga. Dia bisa mengimbangi Fiyah yang kayak anak kecil ini, kami gak sabar untuk hari kelahiran anak-anak kami nanti," ujarnya menjelaskan sambil sesekali tertawa kecil, tatkala dia mengingat, bagaimana dia cekcok dengan suaminya.


”Kakak dukung kalian mulai sekarang,” imbuh Seno langsung, tegas dan membuat Shafiyah terkaget-kaget bukan main. Apa ini? apa dia berhalusinasi, karena sangat ingin menginginkan dukungan semua orang.” Jaga diri baik-baik, bilang sama suami kamu, kakak iparnya yang paling besar mendukung, tapi jika sekali saja kamu menangis, karena pengkhianatan ataupun perilaku buruknya, kakak gak akan segan-segan, bawa kamu kembali ke rumah!” tandasnya kembali dan Shafiyah tersenyum gugup.


”Aku juga, setelah dipikir-pikir, buat apa kita terus-menerus menenteng, semuanya sudah terjadi, selama kita perhatikan, suami kamu gak macam-macam. Kami semua mendukung,” kata Adi meneruskan.


Shafiyah diam, kedua matanya berkaca-kaca, dia menoleh ke arah Fajar. Fajar mengangguk sambil tersenyum tipis. Shafiyah sangat bahagia, setelah menghadapi masalah sebelum ke restoran, kini mood nya kembali dengan persetujuan dari semua kakaknya.


”Fiyah gak tahu harus ngomong apa, tapi ini beneran berarti banget buat Fiyah sama a Wafi. Terimakasih, semuanya,” tuturnya serak dan Qais terkekeh. Tangannya bergerak menyeka air mata Shafiyah.


”Jangan nangis, kami minta maaf, karena mendiamkan kamu selama ini Sha,” ujar Qais dan Shafiyah menggelengkan kepalanya.


”Jangan dibahas lagi, itu udah berlalu,” sahutnya lembut dan Qais tersenyum.


”Sekarang kita makan aja,” imbuh Adi dan semuanya tersenyum. Shafiyah diam saat semua makanan digeser ke hadapannya." Biar ibu hamil yang pilih dulu, dia mau apa,” tambahnya sambil tersenyum.


”Ini gak perlu,” tolak Shafiyah.


”Kamu dulu yang pilih, mau yang mana. Makan yang banyak, kita udah lama gak makan bareng,” tutur Fajar seraya mengusap pucuk kepala Shafiyah dan Shafiyah akhirnya mengangguk.

__ADS_1


Suasana yang awalnya tegang, kini berubah hangat. Suasana yang sempat menghilang karena keegoisan, kini kembali. Shafiyah tidak sabar, untuk menceritakan apa saja yang sudah di lewati hari ini kepada suaminya. Dia bahagia, dan dia yakin, suaminya juga pasti bahagia.


__ADS_2