
Afsheen menunduk, mendengar ucapan uminya yang begitu menggoreskan luka di hatinya.
”Jangan macam-macam sama saudara sendiri Niyyah, apalagi saudara laki-laki. Abi kamu udah gak ada, kamu sebentar lagi menikah. Masih lancang kamu bersikap gak sopan sama kakak kamu, lalu nanti dia harus datang untuk menjadi wali nikah adiknya yang kurang ajar sama dia? Wafi kakak kamu, Wafi Muzammil kakak kamu Niyyah. Asstaghfirullah hal adzim, hiks." Tangisan Raihanah pecah, tubuhnya meluruh di lantai. Niyyah panik dan duduk mendekati uminya." Asstaghfirullah hal adzim Niyyah, apa umi salah mendidik kamu nak."
Afsheen terus menangis, dan memeluk uminya erat." Maaf umi."
”Jangan minta maaf sama umi Niyyah, kakak kamu pergi. Aa kamu pergi Niyyah, dia ditolak semua orang. Terus adiknya sendiri mengusirnya, umi sakit Niyyah mendengar kata-kata kamu yang mencela Wafi begitu keji. Anak lelaki umi memang mantan narapidana, anak lelaki umi salah. Tapi bukan berarti, anak umi yang lain bisa menghinanya. Hidup di penjara itu gak mudah, 8 tahun kakak kamu di kurung, dan sekarang saat keluar harus menyandang status mantan napi. Kita harus mendukung kakak kamu, bukan sebaliknya. Umi jauh sama Abi kamu selamanya, lalu jauh sama kakak kamu Wafi bertahun-tahun, dan sekarang umi harus jauh lagi dengan anak lelaki umi. Umi gak kuat Niyyah, umi capek. Umi mau wafi disini, Wafi anak umi.” Raihanah terus berseru, menangis, dan memanggil manggil nama abai lelakinya.
Afsheen bangkit, dia menghempaskan tas nya kasar lalu berlari keluar dari rumah bertelanjang kaki, Faiza menghampiri Raihanah di dapur, dan Raihanah terus menangis.
"Aa," ucap Afsheen. Dia terus berlari sampai semua orang memperhatikan.
"Ning, ada apa Ning?" Tanya seorang ustadz dan Afsheen tidak menjawabnya. Kini gadis itu sudah keluar dari gerbang pesantren, melirik kanan-kiri, mencari kakaknya, tapi Wafi sudah jauh. Pria itu sudah duduk di bangku sebuah bus, di dekat jendela sambil menikmati sebatang rokok.
Wafi diam, menatap keluar kaca jendela, dia menoleh saat bus berhenti dan dua perempuan masuk, seorang ibu hamil dan seorang gadis. Wafi mematikkan rokoknya, lalu membuangnya ke luar kaca bus. Dia bangkit, tanpa basa-basi mempersilahkan wanita hamil itu untuk duduk.
”Hatur nuhun a,” ucap wanita tersebut.
(hatur nuhun/terima kasih).
Wafi mengangguk dan dia berdiri sambil mendekap tas ranselnya, harta bendanya ada di dalam sana, dia takut kecopetan. Seorang gadis yang sedang mencari tempat duduk, dan melihat Wafi yang begitu perduli kepada wanita hamil itu tersenyum lebar. Dia belum pernah melihat seorang pria bisa peka seperti itu. Wafi yang sadar diperhatikan menoleh, tatapan keduanya pun bertemu.
”Wafi?" Seru gadis tersebut.
"Ini Zoya?" Tanya Wafi sambil tersenyum.
"Masya Allah, kamu kapan be..." Ucapan Zoya menggantung, dan Wafi menunduk." Maaf." Zoya merasa bersalah.
__ADS_1
”Gak apa-apa, gimana kabar kamu?"
"Aku baik." Jawab Zoya begitu semangat.
”Mau kemana?"
”Aku mau pulang, dari rumah temen, nginep. Aku senang melihat kamu, ayah aku emang bilang. Tapi aku sibuk, belum sempat ke rumah kamu. Kamu mau kemana?" Zoya begitu ramah dan Wafi merasa bahagia berhadapan dengannya. Zoya semakin cantik, dengan kerudung berwarna merah nya. Dan gamis berwarna hitam nya.
”Gak apa-apa, salam sama om Raihan ya. Aku mau ke kota, mau kerja."
”Kerja dimana?"
”Di sanggar bela diri, aku diundang kesana sama pemiliknya.”
"Oh gitu, Alhamdulillah ya. Semoga lancar. Jaga diri baik-baik ya wafi, ngomong-ngomong muka kamu kenapa?" Zoya khawatir dan Wafi menyentuh pipinya.
”Emmm, ini cuma jatuh,” ucap Wafi lalu berpaling. Zoya tersenyum tipis, dan tidak berucap lagi. Dia tahu Wafi bohong, pria itu masih sama seperti dulu. Zoya juga sangat sedih karena Wafi di penjara, dan dia tahu Wafi tidak salah sepenuhnya.
”Wafi, aku minta nomor telepon." Pinta Zoya dan dia buru-buru saat ini.
”Aku pake hape umi, nomor umi aku ya. Kamu punya kan?"
”Oh siap, aku duluan." Zoya melambaikan tangan dan Wafi mengangguk, gadis itu turun dan berdiri di tepi jalan memperhatikan Wafi di dalam bus. Wafi tidak memperhatikannya, dan bus melaju kembali dengan kecepatan tinggi.
Setelah menempuh perjalanan di bus selama dua jam, Wafi akhirnya sampai di sebuah kampung yang dia tuju, Wafi melangkah perlahan dan menarik masker berwarna hitam itu, dia tidak bisa berkeliaran dengan bebas memperlihatkan wajahnya. Bisa-bisa, dia terkena masalah. Wafi masuk ke sebuah gang dan menanyakan ke beberapa orang, dimana tempat pelatihan bela diri. Seorang kakek pun mengarahkan jalan padanya dan Wafi tidak lupa berterima kasih.
”Aduh, gantengnya. Murid baru, atau apa ya?" Ucap si kakek dan memperhatikan langkah tegas Wafi. Sampai Wafi menghilang di sebuah belokan.
__ADS_1
Sesampainya di sanggar, Wafi mengedarkan pandangannya, banyak orang dan dia bingung harus kemana mencari pemilik sanggar tersebut. Wafi memperhatikan lagi alamat yang dia punya, dan memang itu alamatnya.
”Cari siapa?" Seru seorang pria berbadan besar menyeramkan dan mendekati Wafi.
”Assalamu'alaikum pak, saya diminta kesini sama bapak Abimanyu.”
”Wafi Muzammil?" Tanya pria itu dan Wafi mengangguk." Ikut saya." Ajak pria itu seraya melangkah dan Wafi mengikutinya. Wafi menyapu sekeliling, dan dia menjadi pusat perhatian. Wafi digiring ke tempat tinggal barunya, dia langsung mendengarkan dengan baik apa saja yang harus dia lakukan, dia tidak mendapatkan makan, tapi uang makan, tempat tinggal sudah terjamin. Tak henti-hentinya pria itu berseru mengucap syukur di dalam hatinya, dan berharap pekerjaan tersebut bisa bermanfaat untuk keluarganya.
"Semoga betah." Seru pria tadi dan Wafi mengangguk. Dia pun ditinggalkan dan menerima kunci kamarnya. Wafi masuk, tidak lupa mengucap salam. Dia menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas kasur dan menutup matanya. Wafi menoleh saat hapenya berdering, dia merogoh tasnya dan Bayyinah yang menelepon.
”Halo assalamu'alaikum Bayyin."
”Wa'alaikumus Salaam, aa gimana udah sampe?”
”Alhamdulillah udah, ini lagi istirahat. Gak usah khawatir ya.”
Bayyinah tersenyum, belum sempat menjawab hapenya di serobot Raihanah." Aa, kalau ada apa-apa langsung pulang a.” Seru Raihanah.
”Iya umi, gak usah khawatir. Aku di sini jadi pelatih bela diri, do'ain ya semoga lancar." Wafi berbicara seceria mungkin, agar umi nya tidak sadar, dia juga terluka harus jauh kembali dengan semua keluarganya.
"Syukur kalau begitu, jangan lupa sholat a. Umi kangen sama suara aa."
”Nanti kalau aku pulang, aku janji nanti ngaji di depan umi. Umi sabar ya." Tuturnya lemah lembut, menenangkan uminya tersayang dan Raihanah menutup matanya, mendengarkan suara dan nada bicara putranya yang sama seperti almarhum.
”Umi tetep mau kamu pulang," ucap Raihanah serak dan Wafi terkekeh.
”Umi jangan nangis. Aku khawatir kalau umi nangis terus begini. Do'ain aku jangan lupa.”
__ADS_1
”Tanpa kamu minta, umi selalu do'ain kamu. Semua anak-anak umi." Raihanah tersenyum lebar dan Afsheen memperhatikannya.
Setelah sekian lama lenyap, senyuman itu akhirnya terukir kembali. Tapi tetap saja, Afsheen belum bisa menerima kepulangan Wafi.