
Wafi terduduk di sofa kasar, dia usap peluh di wajahnya, harga dirinya terasa runtuh saat terjungkal disaksikan seorang gadis, gadis pujaannya. Masa bodo dengan mereka yang menertawakannya, yang dia khawatirkan hanya Shafiyah. Begitulah cinta, membuat siapapun buta karenanya, dan dunia serasa miliknya dengan si dia.
”Malu ih,” ucap Wafi lalu memijat keningnya.
****
Khalisah menunduk, dan dia dimarahi habis-habisan oleh Sabilla, tanpa sebab dan unsur yang jelas, apa kesalahannya? usut punya usut, Sabilla sudah mendengar kabar yang mengguncang jiwanya, saat tahu gadis di hadapannya adalah gadis yang dipilih Wafi. Cantik jelita, putih bersih, siapa yang tak terpesona dengan Khalisah. Gadis itu bahkan termasuk dalam kategori santriwati idaman. Karena rupa nya yang menawan.
”Bersihkan lapangan ini sekarang!" titah Sabilla dan Khalisah mengangkat kepalanya.
”Hanya karena saya telat menjawab pertanyaan Ning, saya di hukum sampai seperti ini? ini keterlaluan.” Khalisah melawan dan Sabilla meradang. Shafiyah yang mendengar sepupunya di hukum langsung datang untuk melihat, dia memiliki wewenang sebagai seorang pengabdi, entah apa yang dilakukan Khalisah, sampai Sabilla yang jarang terlibat masalah dengan Santriwati kini begitu marah padanya.
”Assalamu'alaikum Ning," ucap Shafiyah penuh hormat.
” Wa'alaikumus Salaam," jawab Sabilla dan Khalisah.
”Jika boleh saya tahu, apa kesalahan Khalisah?"
”Ini bukan urusan kamu Shafiyah, sebaiknya kamu menjaga sikap!" bentak Sabilla dan Khalisah mendengus. Kenapa juga Shafiyah harus kesini? khalisah kesal, setelah tahu jika gus Mu memfollow akun nya Shafiyah tapi tidak dengan dirinya, dia mau menikah dengan Chairil tapi dia juga tidak suka jika Shafiyah mendapatkan Gus mu.
”Maaf," ucap Shafiyah serak.” Jika memang kesalahan nya fatal, bukannya kita harus berunding dengan pengurus pesantren yang lain?” tuturnya lemah lembut dan Sabilla tidak suka.
”Kamu kira saya hanya seorang pengurus begitu? saya cucu dan keturunan Majdi." Tegas Sabilla dan Shafiyah mengangguk.
__ADS_1
”Maaf Ning,” suara Shafiyah berat.
Sabilla menarik tangan Khalisah dan Khalisah pasrah, Khalisah juga seorang Ning. Shafiyah menunduk dan merasa bersalah karena tidak bisa menjaga saudaranya, awalnya Shafiyah yang mondok di pesantren Al Bidayah, tapi karena Khalisah bermasalah di pesantren keluarganya sendiri, dia dipindah ke pesantren Al Bidayah, dan meminta Shafiyah yang jauh lebih muda untuk menjaga Khalisah. Padahal keduanya juga sering terlibat masalah, Shafiyah yang terlalu pasrah sering di bela teman-temannya agar Khalisah tidak seenaknya. Shafiyah terus menunduk, dia tetap diam tidak pergi.
Khalisah memunguti sampah dan Sabilla terus memperhatikannya tajam.
*****
Keesokan harinya, Wafi mengantar Raihanah ke pasar, dia duduk diam di atas motor menunggu, Wafi memperhatikan Shafiyah yang juga ternyata ada di pasar, bersama teman-temannya termasuk Khalisah. Shafiyah mendelik dan Wafi terkekeh. Begitu menggemaskan nya gadis itu.
”Ayo beli Boba." Ajak Khalisah dan merangkul tangan Shafiyah, dia sengaja dan Shafiyah tidak mau, karena keberadaan Wafi saat ini di sebelah penjual minuman Boba.
”Beli es cendol aja." Ajak Shafiyah.
”Ih enggak mau," tolak Khalisah cari perhatian Gus Mu.” Ayo Shafiyah."
”Sok kecakepan kamu Fiyah, Gus mu itu lihatin aku. Kenapa kamu jadi yang malu-malu begini.” Ketus Khalisah berbisik dan Shafiyah menatapnya, Gus Mu turun dari motornya saat melihat Shafiyah di tarik tarik, Shafiyah dan Khalisah berpisah dengan teman yang lain karena beda tujuan, kedua gadis itu sedang berdebat sekarang, Shafiyah tidak kuat menahan tenaga besar Khalisah. Khalisah menarik pinggang Shafiyah agar segera menyeberang, tapi dia terlalu keras mendorong sampai tidak melihat angkot.
Bug! perut Shafiyah membentur angkot, wajahnya juga. Gadis itu tumbang merasakan ngilu dan perih yang menderanya, Khalisah panik dan Gus Mu langsung menarik kain sarungnya sampai betisnya terlihat, untuk berjalan lebih cepat dan melihat Shafiyah.
"Fiyah maaf." Khalisah membantu Shafiyah berdiri, Shafiyah merasa pusing dan mual. Perutnya membentur begitu kuat.
”Ya Allah neng, kalau mau nyeberang hati-hati, lihat dulu. Bikin repot aja si," gerutu supir angkot dan Shafiyah bangkit, bajunya kotor, dia merasa ada yang menetes dari hidung, hidung mancung di balik cadar itu meneteskan darah karena benturan yang begitu kuat.
__ADS_1
”Sakit.” Keluh Shafiyah dan menangis terisak-isak.
"Fiyah hiks, maaf Fiyah." Khalisah histeris dan Gus Mu mempercepat langkahnya.
”Khalisah, Fiyah kenapa?" tanya Raihanah yang penasaran dengan orang-orang yang berkerumun. Dia jatuhkan belanjaannya saat melihat darah menetes ke kerudung Shafiyah yang berwarna abu itu.
”Kita ke Puskesmas aja ya,” ajak Raihanah dan Shafiyah mengangguk. Raut wajah Wafi terlihat tegang, dia mengepal dan melepas kepalan tangannya, dia terus melakukan itu, ingin menyentuh tidak bisa, dan dia sangat khawatir saat ini.
”Fiyah jatuh hiks," rengek Khalisah kepada Wafi. Wafi mendelik dan membawa belanjaan uminya, dia kembali ke parkiran tadi untuk menyusul Shafiyah dan uminya, sementara Khalisah terus menangis dan akhirnya menelepon kakek Burhan.
Raihanah dibantu seorang wanita memapah Shafiyah, puskesmas sangat dekat, Raihanah berteriak meminta tolong agar Shafiyah segera di periksa. Shafiyah bahkan merasakan mulutnya terasa asin karena darah, bibirnya robek karena sama-sama terbentur. Rasa pusing dan mual nya mulai berkurang, dia dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan dan Raihanah menemaninya. Khalisah terlihat berlari dan Wafi sampai lebih dulu dengan mengendarai motornya, dia masuk lalu duduk menunggu.
”Habibah, semoga kamu baik-baik aja." Gumam Wafi dan menekuk wajahnya dalam-dalam, Khalisah sibuk berbicara ditelepon dengan Chairil, memintanya datang membawa mobil khusus di pesantren yang biasa digunakan untuk kebutuhan pesantren.
Shafiyah di periksa, hidungnya hanya lecet dan dia begitu bersyukur tidak mengalami luka serius, Raihanah diam memperhatikan wajah Shafiyah yang baru dia lihat untuk pertama kalinya, begitu cantiknya gadis itu.
”Sabar ya, semoga lekas sembuh." Raihanah mengelus pucuk kepala gadis itu dan Shafiyah mengangguk. Bibir Shafiyah robek dan kini membiru, apalagi tulang pipinya." Lapar? ibu carikan makanan. Kamu harus minum obat dan makan dulu.”
”Enggak usah Bu nyai terima kasih,” ucap Shafiyah dan meringis karena bibirnya sakit. Dia melirik keluar kaca dan melihat Wafi, Shafiyah langsung berpaling tidak mau pria itu melihat wajahnya.
”Maaf,” ucap Wafi gugup dan melihat cadar Shafiyah tergeletak di atas meja. Pintu dalam keadaan terbuka, Wafi pun menutup dan menatap uminya sejenak, Raihanah mengangguk dan akan keluar sebentar.
”Ibu tinggal sebentar, diam disini nanti ibu panggilkan Khalisah."
__ADS_1
Shafiyah mengangguk dan berusaha untuk tersenyum walaupun susah. Raihanah pun keluar dan Khalisah masuk.
”Fiyah maafin aku." Khalisah langsung memeluk Shafiyah dan Shafiyah diam. Shafiyah kesal karena sikap Khalisah yang terlalu berlebihan mencari perhatian Gus Mu, sampai dia menjadi korban.