
Shafiyah sedang melangkah sendirian, baru keluar dari kampus, dia diam menunggu angkutan umum, beberapa pria menggoda, melakukan catcalling pada Shafiyah. Membuat *******, memanggil manggil nama gadis itu dengan suara dibuat-buat, Shafiyah mengepalkan tangannya.
”Cantik, pinggangnya ramping banget ya!" seru salah satu diantara kelimanya, dan memperhatikan baju Shafiyah yang tertiup angin, membuat lekukan pinggangnya sedikit terlihat, Shafiyah menarik kerudungnya, mempertahankan agar bisa menutupi pinggangnya.
”Minta nomor,” ucap seorang pria dan dia lancang begitu berani mendekati gadis itu. Shafiyah bergeser dan berusaha untuk tetap tenang. Pelecehan verbal tersebut memang sering dialami para gadis, tidak melihat pakaian yang dipakai mereka.” Gue bilang minta nomor, tuli lu!" teriak pria tersebut dan Shafiyah terkejut, gadis itu ketakutan dan menunduk.
Pria yang lain panik, karena teman mereka yang itu terus mendekati Shafiyah, padahal mereka hanya sekedar bercanda menggoda gadis itu.
”Kakak," ucap Shafiyah.
”Aaaaaaakkk sakit!" jerit si pria saat tangannya di cekal kuat lalu di plintir oleh pria berseragam polisi, siapa lagi kalau bukan Fajar. Kakaknya Shafiyah. Kakak keduanya.
Kakak pertama, Seno tinggal bersama keluarganya di Jambi, Fajar kakak kedua seorang polisi, Qais kakak ketiga seorang pengusaha, sementara Adi adalah seorang dokter.
”Berani sekali anda melecehkan seorang perempuan seperti ini!” teriak Fajar. Dan Shafiyah berlindung di belakang tubuh kakaknya itu.
"Maaf pak maaf,” si pria terus meminta maaf dan meringis, Fajar akhirnya melepaskan pria itu, mereka semua langsung kabur dan Shafiyah diam. Fajar berbalik dan memegang kedua bahu adiknya itu.
"Kamu disentuh sama dia neng?"
”Enggak kak, Fiyah gak apa-apa. Kenapa kakak di sini?"
”Sengaja, biar kamu kaget.”
"Iya Fiyah kaget, kakak hampir bikin tangan orang patah," ucap Shafiyah sambil mendelik, lalu Fajar tersenyum.
Shafiyah di rangkul, lalu masuk ke dalam mobil. Fajar ingin mengajak Shafiyah makan bersama, di restoran favorit adiknya.
Sementara di pesantren, Wafi sedang berada di aula. Bersama ustadz muda dan ustadz senior yang lain, membahas tentang pernikahan antar lelaki dan yang masih sendiri hanya bisa menggigit jari. Termasuk Wafi.
”Aidan, bukannya kamu mau menikah ya?" tanya Rama.
”Ah belum," jawab Aidan malu-malu.” Baru rencana," Ujarnya kembali.
”Orang mana Aidan? muka kamu sampai merah begitu, malu-malu." Goda ustadz Jaidi dan semuanya tertawa. Wafi diam dan sibuk dengan buku yang sedang dia baca.
”Saya baru mau berniat mengkhitbah,” ujar Aidan.
”Iya orang mana?” ustadz Jaidi kesal sendiri karena Aidan begitu malu-malu saat berbicara.
”Santriwati, eh dia udah lulus sih. Jadi pengabdi di sini,” jawan Aidan dan Wafi mulai terusik.
”Yang mana?" tanya yang lain begitu semangat.
”Shafiyah,” bisik Aidan dan Wafi melotot.
”Apa?!" Wafi berteriak. Semuanya kaget karena pria yang sedang damai dengan kegiatannya, tiba-tiba berteriak." Loh, kenapa Shafiyah?” tanya Wafi dan merangkul leher Aidan. Dia merasa ingin mencekik Aidan saat ini.
”Emangnya kenapa Gus? neng Shafiyah masih sendiri, aman-aman aja sih kalau mau saya deketin dia dan mengajaknya menikah.” Aidan berkata sambil memperhatikan wajah tegang gus Mu, dia perhatikan dengan baik-baik dan dia rasa pria itu juga menyukai Shafiyah.
__ADS_1
”Shafiyah masih kecil, gak cocok buat kamu Aidan. Yang lain aja gimana?" bisik Wafi dan yang lainnya mengernyit terheran-heran. Aidan menggeleng kepala, menolak usul gila Wafi. Wafi Muzammil menganggap Aidan terlalu tua Shafiyah, sementara dia sendiri sudah mau kepala tiga.(😹)
”Gus memang gus, harus saya hormati. Tapi kalau untuk menyangkut cinta dan cinta saya neng Fiyah, biar neng Fiyah aja yang jadi penentu. Dia mau sama Gus atau mau sama saya, tapi saya rasa. Anak itu juga suka sama saya." Gumam Aidan dan saling menatap tajam dengan Wafi Muzammil.
”Ah enggak Gus, saya maunya Shafiyah aaaaaghhh sakit Gus!" Aidan menjerit saat lehernya di rangkul terlalu kuat.
”Maaf, gak sengaja.” Wafi panik dan melepaskan Aidan.” Tapi Habi... Shafiyah maksudnya, dia kemudaan buat kamu." Wafi masih berusaha dan Aidan menggelengkan kepala.
”Umur gak bisa jadi tolak ukur sebuah hubungan Gus, yang bedanya belasan tahun aja bisa bersama kalau saling cinta. Apalagi saya sama Shafiyah yang umurnya gak jauh beda.”
”Iya deh terserah,” Wafi kesal dan ustadz Jaidi dan yang lain diam menjadi penonton.
*****
Di restoran, Shafiyah menikmati makanannya dan Fajar memperhatikan adiknya yang tidak terasa kini sudah dewasa.
”Temen kakak ada yang suka sama kamu," ucap Fajar dan Shafiyah berhenti mendadak. Dia diam dan menatap kakaknya lekat.” Baik, usianya 26 tahun. Dia memiliki kehidupan yang baik, dia dibesarkan keluarga baik-baik pula. Dia cocok sama kamu neng."
”Kakak apaan si, cocok gak cocok yang tahu kan cuma yang menjalaninya. Aku gak mau." Tolak Shafiyah dan kini wajah tampan Gus mu terbayang-bayang menganggu nya.
”Kenalan dulu.” Fajar sedikit memaksa.
”Enggak mau kak.”
”Kamu mau yang kayak gimana sih sebenernya?” Fajar mulai emosi.
”Ganteng, baik, sayang sama keluarganya, menghargai perempuan. Dan cuma dia orangnya." Shafiyah tidak sadar dengan ucapannya, dan memancing kemurkaan sang kakak.
”Belum tahu siapa, tapi yang seperti itu yang aku suka kak. Aku gak mau menikah dulu, aku sibuk. Kakak gak usah nganterin aku ke pesantren ya, aku bisa pergi sendiri.” Shafiyah bangkit dan hendak pergi, tapi di tahan saat tangannya di cekal.
”Makanan kamu masih banyak, duduk dan makan. Sejak kapan kamu belajar membuang-buang makanan begini?" ketus Fajar dan menunjuk kursi yang di duduki Shafiyah tadi. Shafiyah akhirnya duduk dan menikmati makanannya, dia harus tahan karena Fajar terus menatapnya tajam sembari sesekali mendelikan mata.
***
Wafi diam memperhatikan uminya membuka peti besi berisi barang-barang ayahnya, ada sebuah kamera digital dan Wafi mengambilnya.
”Mungkin itu bagus, abi kamu baru memakainya selama 6 bulan. Kamu suka?" tanya Raihanah dan Wafi mengangguk.
”Ini masih bagus, gak tahu masih berfungsi atau enggak. Nanti aku coba,” ucap nya sambil meraih charger kamera digital itu. Raihanah tersenyum dan mengusap-usap punggung putranya.
”Kita gak bisa membuat semua orang bungkam, biarkan mereka mencaci sesuka hati. Tanpa harus kita balas dan meladeni, sabar sayang. Kakek kamu pernah bilang sama umi, saat umi benar-benar di uji dengan berbagai hal. Allah mendatangkan ujian dari setiap sisi, dan akan memberikan kebahagiaan dari semua arah yang tidak terduga. Sabar, ikhlas, anak umi kuat. Umi tahu itu.” Raihanah mengelus rambut tebal putranya sesekali dan Wafi hanya menanggapi dengan anggukan kepala, serta tersenyum manis.” Umi mau ke bawah, kita semua diajak makan di luar nanti malam. Jangan menolak, kasihan om kamu.”
”Iya umi,” singkat Wafi dan akhirnya Raihanah pergi.
Setelah kamera siap untuk dia coba, Wafi pergi ke balkon lantai dua rumahnya itu. Hari ini adalah hari Minggu, jadwal piket untuk semua santri Al Bidayah. Wafi diam di balkon memperhatikan seorang gadis yang sedang bermain-main dengan teman-temannya, Wafi tertawa melihat Shafiyah naik ke atas roda pengangkat pasir, gadis itu duduk dan tiga santriwati lain mendorongnya. Semuanya tertawa dan bermain bersama, diam-diam Wafi mengambil gambar gadis itu. Shafiyah memang masih suka bermain-main, seperti anak kecil, dan itu adalah sebuah hal yang wajar. Dia dewasa dan bisa menempatkan diri di manapun dan kapanpun. Gadis yang sangat istimewa, idaman para pria.
”Shafiyah.” Panggil Aidan dan Wafi meradang melihatnya.
”Deuh minggir kenapa sih, menghalangi pemandangan aja,” gerutu Wafi dan Shafiyah langsung berdiri, takut ada hal yang serius.
__ADS_1
”Kenapa?” tanya Shafiyah dan Aidan bingung.
”Shafiyah ayo.” Ima mengajak Shafiyah pergi dan lebih setuju Shafiyah bersama Gus Mu.
Wafi juga langsung turun dan keluar dari rumahnya, dia melangkah perlahan dan Shafiyah memperhatikan sejenak.
"Saya ada urusan ustadz, permisi. Assalamu'alaikum," Shafiyah pergi dan Aidan terlihat kecewa lalu menjawab salam gadis itu. Shafiyah lupa untuk mengabadikan momen kerja bakti, padahal dia baru merekam beberapa saja. Berbagai macam kegiatan di pesantren sering menjadi favorit para followernya. Shafiyah mulai merekam kembali dan diam saat Wafi masuk terekam.
”Ganteng banget si, tapi bukan milik aku." Gumam Shafiyah dan terus merekam, beberapa kali Wafi terekam videonya dan Shafiyah tersenyum. Gadis itu secara tidak langsung ingin memperkenalkan dan memperlihatkan gus Mu yang baru kembali, dia berharap tidak ada yang mengungkit masalah Gus mu. Harapannya kecil tapi sepertinya dia memerlukan izin Gus Mu untuk memposting video tersebut.
Melihat Wafi sudah kembali, Chairil berusaha mendekat tapi Wafi menjauh. Wafi yang sadar Chairil ingin berbicara padanya, melangkah ke tempat sedikit sepi.
”Wafi!" panggil Chairil lalu Wafi berbalik.
”Apa?” ketusnya berucap.
”Aku minta maaf,” dengan tulus Chairil meminta maaf, atas kata-katanya yang tidak pantas saat itu, bahkan Raihanah selalu berpaling saat melihatnya.” Atas kata-kataku yang kurang pantas, aku minta maaf. Khalisah sudah di hukum atas kesalahannya, dan aku akan menikah dengannya. Kalau memang kamu gak suka sama Khalisah, aku harap kamu jangan pergi dan hadir di acara pernikahan kami.” Seru Chairil dan membuat Wafi tertawa. Tawa nya terdengar aneh.
”Aku sama sekali gak suka gadis arogan seperti itu, pandai bermain kata dan menghina orang sesuka hatinya. Aku gak suka sama dia, aku pernah suka itu juga karena suaranya yang bagus. Tapi semuanya lenyap, karena perilaku buruknya. Semoga bahagia, dan jangan harap aku datang. Seorang narapidana, dan aku gak mau di tuduh macam-macam di pernikahan pria suci seperti kamu,” ucap Wafi serak lalu berbalik dan berlenggang begitu saja.
Chairil menunduk, dia salah, sangat salah dan Wafi pantas mengatakan itu padanya. Keduanya tidak sadar, ada Yaman yang mendengar dan memperhatikan. Kedua mata Yaman berkaca-kaca, melihat putranya dengan putra gus Fashan bertengkar.
Malam hari tiba, Shafiyah sedang rebahan sambil bermain ponsel. Ima memukul lengannya dan Shafiyah kaget.
”Sakit,” ucap Shafiyah.
”Ini baru kamu posting kan, penontonnya 2M Fiyah. Kenapa bisa?” jerit Ima dan Shafiyah yang tidak memeriksanya kebingungan. Santriwati yang sekamar dengan mereka pun ikut melihat dari hapenya Ima.
”Spill babang ganteng yang pakai Koko navy, sarung item, peci item," tutur Ima membacakan komentar, Shafiyah diam dan meraih hapenya. Video tersebut banyak di tonton dan semuanya gagal fokus dengan seorang pria yang sedang terekam sedang melangkah, tersenyum dan mengobrol dengan para santri.
Shafiyah bahkan belum sempat meminta izin, sampai Wafi sekarang mengirimkan pesan via Instagram.
”Apalagi ini, 'gula bernyawa' ya ampun lihat Gus Mu. Yang komen pada ngegombal semua. Shafiyah, lihat nih." Ima terus tertawa dan membaca lagi komentar di video tersebut.
Shafiyah diam dan membaca pesan dari Wafi.
”Assalamu'alaikum neng, video di sana tolong di hapus ya. Saya gak suka dan malu banyak yang komentar."
"Wa'alaikumus Salaam, saya minta maaf banget Gus. Lupa minta izin.” Balas Shafiyah sambil memijat keningnya, bukan komentar yang dia khawatirkan tapi takut pria itu marah padanya.
Wafi di tempatnya tersenyum lebar, lalu mengetik untuk membalas pesan Shafiyah.” Kenapa yang komen banyak, nyebutin warna baju saya? kenapa mereka minta di spill? saya aneh ya?” tanya Wafi meminta gadis itu menilai seperti apa dirinya. Jiwa modus buaya darat bereaksi.
”Enggak kok, Gus di situ ganteng banget, mereka penasaran, mau tahu lebih banyak. Jangan khawatir, nanti saya hapus video nya. Tapi beneran, Gus gak aneh kok, Gus manis, ganteng. Beneran kata salah satu yang komen, gus ibarat 'gula bernyawa." Balas Shafiyah lagi berusaha menghibur pria itu, mengatakan semuanya yang dia lihat.
Wafi tertawa terbahak-bahak membacanya, gadis itu terpancing juga.” Ya sudah jangan dihapus, buat kenang-kenangan. Kalau saya ke rekam lagi, mending di blur aja. Kalau nanti kita sudah halal, kita upload video berdua." Balasan terkirim.
Shafiyah membuka pesan lagi, kedua matanya membulat, antara kaget, kepedean, dan bingung. Apaan sih? ucapnya sewot dalam hati, saat membaca gombalan kang Bucin. Shafiyah tidak mau kepedean, dia takut sakit lagi dan mengabaikan pesan tersebut. Sementara Wafi terus tersenyum di tempatnya.
"Shafiyah nih lihat," ucap Ima dan Shafiyah ikut nimbrung. Dia diam sejenak merasa ada yang aneh.
__ADS_1
”Asstaghfirullah hal adzim, Fiyah. Memalukan,” seru Shafiyah lantang dan semuanya kebingungan.
Dia menatap pujian yang tadi dia kirimkan kepada pria itu tanpa kesadaran yang penuh.” Ih pasti dia lagi ngira aku aneh, kok bisa si. Main tulis, terus kirim begini. Hapus ah, bodo.” Gumamnya kesal kepada dirinya sendiri, lalu menghapus pesan tersebut.