
Shafiyah diperiksa oleh dokter, ayah dan ibunya langsung datang ke rumah sakit. Shafiyah stress dan mengalami insomnia, dia juga mendapatkan luka lecet di keningnya, bajunya juga berdebu. Shafiyah kini sudah di luar rumah sakiti, bersama semua orang. Dia terus mendelik sebal karena Farel memperhatikannya, bahunya di rangkul hangat oleh ayahnya.
”Terima kasih banyak sudah bantuin anak saya," tutur Herman sambil tersenyum. Semuanya mengangguk dan tersenyum juga.
”Fiyah jaga kesehatan ya,” ucap Rosa dan Shafiyah mengangguk.
”Terima kasih semuanya, udah bawa aku kesini. Maaf ngerepotin,” ujar Shafiyah serak.
”Sama sekali enggak, semoga cepat sehat ya,” imbuh Aidan dan Shafiyah mengangguk.
”Farel, kamu juga ada di sini.” Sara berseru, sama sekali tidak memperdulikan teman-teman Shafiyah yang lain.” Terima kasih udah nolongin anak Tante,” ujarnya begitu ramah.
”Dih,” ucap Nur refleks dan Rosa menyikut lengannya. Shafiyah menunduk, dia merasa malu dengan sikap pengabaian yang dilakukan ibunya. Padahal bukan Farel yang banyak bekerja.
”Sama-sama Tante," balas Farel.
Tidak lama, Shafiyah pamit. Dia dibawa orang tuanya, Rosa dan nur memperhatikan. Aidan dan Farel pergi lebih dulu, kedua gadis itu kebingungan melihat tidak tidak perduli Ima tadi.
”Mereka bertengkar kayaknya," ucap Rosa. Dia terus menatap kepergian mobil mewah itu sampai jauh dan tidak terlihat lagi.
”Shafiyah kayaknya udah tahu deh, tentang perjodohan Gus mu sama Ima.”
Kedua mata Rosa membulat mendengarnya." Aku juga denger, emang itu beneran nur? kok bisa si, harusnya Ima paham dong sama perasaannya Shafiyah.” Rosa terdengar begitu kesal.
”Ya susah, orang Ima nya juga suka sama Gus Mu. Puyeng deh ah, ayo kita pulang aja sekarang." Tutur Nur seraya melangkah pergi, Rosa pun melangkah menyusul nya.
Sepanjang perjalanan, Shafiyah diam. Gadis itu duduk di tengah dan ayahnya memperhatikan dari kaca spion. Sara nampak sibuk sendiri dengan hapenya, merangkul bahu Shafiyah pun ditolak Shafiyah. Gadis itu menatap keluar kaca mobil, melamun dan kedua matanya berair. Herman khawatir, dia membuang nafas panjang berulangkali. Sikap anaknya semakin pendiam sekarang. Shafiyah juga tidak betah tinggal di rumah Fajar, penuh peraturan dan dia terus dimarahi jika salah.
Di rumah Fajar. Fajar sedang membaca lima pucuk surat dari Wafi Muzammil, tangannya terkepal kuat. Shafiyah sudah berusaha menyembunyikannya dari jangkauan pria itu, tapi tetap saja, Fajar menemukannya.
”Keduanya saling sayang mas, gak mungkin bisa dilarang dan dijauhkan. Apa kita gak bisa ngobrol sama ayah dan ibu, pria itu baik, kamu sendiri tahu dia dipenjara karena membela adiknya, dia salah tapi itu keadaan terdesak. Kasihan Shafiyah, gak ada lagi Shafiyah yang ceria. Shafiyah kita murung terus sekarang, aku khawatir dengan keadaan mentalnya mas," tutur Meri menjelaskan panjang lebar, dia adalah seorang psikiater. Dia melihat gejala-gejala mental terganggu dari Shafiyah, Shafiyah hidup penuh larangan. Saat Meri menjadi istri Fajar, dia bahkan sering takut suatu saat anak itu berontak dengan melakukan hal gila. Semua orang ingin di dengar, setiap pendapatnya ingin dihargai. Tapi Shafiyah, dia hanya perlu mendengar tanpa diberikan kebebasan untuk mengeluarkan keluh kesah nya.
”Jangan gila kamu Meri," tegas Fajar.
”Kita juga punya anak mas, dan aku takut tindakan kamu diluar sana imbasnya ke anak kita. Karma itu berlaku, jangan terlalu sibuk memamerkan otot. Kamu bisa celaka sendiri nanti," ucap Meri lemah lembut dan mengusap-usap bahu suaminya, untuk menghindari kemurkaan Fajar. Dia peluk suaminya itu lembut, Fajar diam dan mengenggam surat ditangannya.
Mendengar cucunya sakit, Burhan langsung meluncur dari rumah anaknya menuju rumah cucunya Fajar. Dia sepertinya harus mengatakan semuanya, tentang kejadian di rumah saat itu, saat Wafi habis-habisan di pukuli dan dihina. Burhan tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya mau Shafiyah tahu, Wafi mau berjuang walaupun bisa saja pria itu menyerah. Tapi karena cintanya, pria itu tetap bertahan.
Fajar dan Meri menoleh, saat mendengar suara mobil. Shafiyah dan orang tuanya sampai, keduanya pun bergegas keluar dari kamar dan ingin melihat apa yang terjadi sampai Sara dan Herman datang. Karena sebelumnya mereka bilang, mereka sibuk.
”Ayah," ucap Fajar. Shafiyah keluar dari mobil dan Fajar tersentak melihat kening adiknya memakai plester." Neng kamu kenapa?" tanya Fajar heboh. Dia mendadak lupa dengan surat-surat yang dia temukan tadi. Padahal dia sudah akan memarahi Shafiyah.
”Jangan pegang aku," ketus Shafiyah. Semakin dia tahu kelakuan kasar kakaknya kepada Wafi, dia semakin malas untuk berdekatan dengan kakaknya itu. Fajar terdiam melihat Shafiyah tidak mau dia sentuh.
”Kamu kenapa?" ujar Meri.
__ADS_1
”Dia pingsan, teman-teman nya bawa dia ke RS." Sahut Herman membuat Fajar dan Meri terkejut. ” Jaga diri nak, kamu kelihatan kurus banget sekarang,” suara Herman begitu serak dan menatap putrinya sendu. Shafiyah tidak mengatakan apapun, dia hanya ingin istirahat. Meri dan Sara mengantarkannya ke kamar.
”Shafiyah pasti sedih, karena perjodohannya dengan Farel," tutur Herman dan Fajar menoleh.
”Farel siapa? kok Ayah sama ibu gak pernah bilang sama aku?” Ketus Fajar. Dia mendelik sebal dan sepeda apa si Farel itu.
”Yang ayah gak suka, dia berani pegang Shafiyah, pegang tangannya. Waktu di acara pernikahan nya Khalisah, ibu kamu yang memilih Farel. Ayah kok gak yakin laki-laki itu baik, coba kamu cari tahu nak," tutur Herman meminta, suaranya serak. Ada banyak perbedaan antara membesarkan anak laki-laki dan perempuan, Herman tidak mau melepas putrinya kepada lelaki yang salah, dia takut kehidupan putrinya hancur karena salah pilih pasangan.
Mendengar penuturan sang ayah, Fajar mengeram kesal." Yang mana? berani sekali dia pegang Shafiyah, walaupun hanya tangannya.” Tegas Fajar murka.
”Yang hari itu diam di dalam rumah Khalisah, inget gak kamu? tatapan kamu sama Farel marah waktu itu, kenapa? ayah ingat sekarang, ayah mau tanya tentang ini sejak lama. Kamu kenal Farel?” tutur Herman sambil menjatuhkan telapak tangan kanan nya di bahu Fajar. Fajar terdiam, dia langsung ingat pria itu. Pria yang sama dengan pria yang menggoda adiknya tempo hari, Shafiyah juga bilang, Farel sering menganggu gadis lain. Dia bahkan bertanya-tanya, kenapa Farel ada di rumah Khalisah. Jadi itu karena undangan ibunya.
”Nanti aku cari tahu." Ungkap Fajar seraya melangkah pergi keluar dari rumah, entah mau kemana pria itu. Dan Herman hanya memperhatikannya. Suara langkah kaki Sara membuatnya sekarang menoleh.
”Kita beli makanan dulu yah," ucap Sara.
”Ya udah ayo," ajak Herman.
Di kamar, Meri mengintip dari balik kaca jendela, kedua mertuanya sudah pergi. Shafiyah sedang duduk melamun dan mengepalkan tangannya, awas saja jika dia bertemu dengan Wafi, dia akan memukul pria itu, gumam Shafiyah kesal. Pikirannya sedang tidak jernih, dia cemburu karena Ima yang dipilih Bu nyai, bukan dirinya, dan Gus Mu juga menerimanya.
Setelah dipikir-pikir, Shafiyah tidak mau menelan kabar mentah-mentah, dia harus meminta penjelasan pria itu. Tapi bagaimana caranya menghubungi Wafi sekarang.
”Jangan melamun," ucap Meri. Dia belai lembut rambut adik iparnya itu. Shafiyah tersenyum tipis, tapi kedua matanya berair." Kamu sayang sama pria itu Sha?” ujar Meri, pertanyaannya membuat Shafiyah menunduk.
”Ada yang bisa kakak bantu Sha? bilang sama kakak, kamu butuh apa? kakak dukung kamu sama pria itu. Kakak dukung sepenuhnya," tutur Meri dan Shafiyah mengangkat kepalanya. Keduanya saling menatap lekat dan Shafiyah tersenyum lebar.
”Apa dia bilang langsung sama kamu, kalau dia mau?”
Shafiyah menggelengkan kepalanya." Aku gak bisa komunikasi sama dia.” Suara Shafiyah berat lalu menyeka air matanya yang terus mengalir.
Meri melirik pintu, dia takut ada yang tiba-tiba datang. Akhirnya dia mengeluarkan hapenya, menyodorkannya kepada Shafiyah.
"Telepon dia, selesaikan semuanya atau lanjutkan. Jangan membebani pikiran kamu Sha, kamu masih muda. Jika bukan dia yang baik buat kamu, Allah akan membuatnya menjadi pria yang terbaik buat kamu. Jika takdir memang menggariskan kalian untuk bersama.” Meri meletakkan hapenya di atas pangkuan Shafiyah, Shafiyah tersenyum lebar dan meraihnya.
”Makasih kak," seru Shafiyah begitu semangat.
Meri mengangguk sambil tersenyum.” Kakak tunggu di luar, jangan sampai ketahuan."
Shafiyah mengangguk mengerti, dan Meri pun pergi meninggalkannya.
Shafiyah turun dari ranjang, melangkah ke arah jendela dan membuat panggilan ke nomor Wafi. Saat bergetar, Shafiyah mengusap air matanya. Tidak lama panggilan pun diangkat.
”Halo," ucap Wafi, suaranya terdengar tegas karena nomor telepon tidak dikenal meneleponnya. Shafiyah diam, berusaha menahan isak tangisnya, tapi kenapa begitu susah dan akhirnya pecah juga. Mendengar suara tangisan yang tidak asing, membuat Wafi terdiam, dia mengenal suara itu lalu ia tersenyum, tapi senyumannya memudar perlahan karena tangisan semakin menjadi-jadi." Assalamu'alaikum, Habibah," ucap Wafi, suaranya terdengar begitu jernih, sangat bahagia karena Shafiyah meneleponnya.
"Kamu pakai hape siapa?” tanya Wafi dan Shafiyah tetap diam. Shafiyah terus menangis dan Wafi mendengarkan." Kenapa nangis? aku telat angkat telepon kamu ya? aku gak tahu ini kamu, jangan nangis terus. Ada masalah hmmm?" suara Wafi berubah berat, dia khawatir dan Shafiyah menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Gadis itu juga bahagia bisa mendengar suara pujaan hatinya.
Wafi diam dan kebingungan, kenapa gadis itu menangis? menyiksa jiwanya yang sedang dirundung dilema.
”Kamu jahat sama aku hiks,,,,” ucap Shafiyah.
”Jahat apa? saya ngapain kamu?” tanya Wafi lembut.
”Aku mau izin ya Gus,” lirih Shafiyah dan Wafi mengernyit heran.
”Izin apa?”
”Gus, aku capek, aku izin nyerah ya. Semoga kamu bahagia dengan pilihan umi kamu, semua orang tua akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, kamu anak lelaki satu-satunya, aku gak bisa merebut kamu dari keluarga kamu. Dan kamu juga gak bisa membawa aku dari keluarga aku, kamu akan mendapatkan kekecewaan dan penghinaan. Kita akhiri semuanya, Gus Wafi Muzammil semoga Allah membahagiakan dirimu, walaupun aku di sini harus berusaha meredam rasa cemburu dan kedukaan karena gak bisa bersama kamu. Pria terbaik, pria luar biasa. Kebahagiaan terbesar ku adalah bertemu denganmu.” Shafiyah terduduk lemah setelah mengatakan semuanya, Wafi terdiam, kedua matanya berair dan dia mengenggam kuat ponselnya itu.
”Bilang sekali lagi,” ucap Wafi emosi.” Kamu kira bakal saya izinin? kamu lebih tertarik sama pria itu Shafiyah?”
”Kamu juga lebih tertarik sama Ima, umi kamu bahkan merestui kalian, dua keluarga sudah saling memberi dukungan. Sementara kita? jangan bohong Gus, Ima memang cantik, gak kayak aku. Terserah kalau kamu mau menikah sama dia. Aku capek hiks!” suara Shafiyah terputus-putus, bergetar dan serak. Wafi mengusap air matanya, dan berusaha mempertahankan suaranya agar tidak terdengar serak.
”Saya pilih kamu, saya berjuang sama kamu. Ima muncul sebagai ujian buat kita, saya sama sekali gak menerima. Saya bahkan gak tahu awal mula perjodohan ini sayang.” Tegas Wafi dan tidak sadar dengan kalimat terakhirnya.
Shafiyah tersentak, dia harus senang atau apa? tidak kan, dia sedang sedih saat ini.” Loh kok? gak jelas banget si, kamu emang gak pernah serius. Bercanda terus." Shafiyah kesal.
”Shafiyah maksudnya,” ucap Wafi lalu menampar bibirnya sendiri, bisa-bisanya lidahnya keseleo. Wajahnya memerah karena malu, Shafiyah pasti berpikir dia gombal, dia benar-benar tidak sengaja.” Maaf, saya salah, lidah saya salah.”
”Atau kamu kelepasan ya? kamu sering manggil Ima begitu, ketahuan." Shafiyah mendengus sebal. Berusaha tegar tapi tidak bisa, dia sakit hati.
”Asstaghfirullah hal adzim, boleh saya sentil gak si? saya gak pernah ngobrol sama Ima, dengerin saya. Saya gak mau kamu mundur, minta izin segala buat nyerah. Kan dari awal saya bilang, saya butuh dukungan kamu. Kalau begini saya bisa apa Shafiyah, beneran kamu capek? kamu gak mau saya perjuangkan lagi?” tutur Wafi dan Shafiyah diam.” Kamu lebih percaya omongan orang, siapa yang ngomong sama kamu kalau saya terima perjodohan ini. Bilang sama saya Shafiyah.”
”Ima yang bilang hiks, kalian serasi. Tapi jangan harap aku mau datang ke acara pernikahan kalian.”
”Ya kamu harus ada, masa gak ada si?"
”Tuh kan jahat. Jahat banget anaknya Bu nyai, kesel hiks..."
”Maksud saya, kamu harus hadir di acara pernikahan, kalau kamu gak hadir, saya nikahin siapa? pak penghulu?” tutur Wafi sewot. Shafiyah tersenyum tipis dan Wafi tidak bersuara. Hanya hembusan nafasnya yang terdengar. Shafiyah menangis terisak-isak pelan, kini dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan meringkuk begitu lucu. " Udah nangis nya?” tanya Wafi karena mendengar Shafiyah mulai tenang, apa harus digombalin dulu agar gadis itu mau berbunga baik-baik dengannya? menyebalkan.
”Nangis nya udah belum, saya matiin dulu ya, istirahat ya. Nanti aku telepon lagi.”
"Jangan, ini nomor kakak aku.”
”Kirain punya kamu.” Wafi terdengar membuang nafas kasar begitu kecewa.” Kenapa sih nangis segala? kenapa minta mundur. Minta sekali lagi, saya mundur sekarang juga."
"Ya jangan.” Shafiyah panik dan Wafi tersenyum.
”Sabar, nanti saya lamar. Kalau ada apa-apa itu omongin baik-baik, jelasin, biar gak jadi salah paham. Ngerti?” tutur Wafi lemah lembut.
__ADS_1
”Iya,” singkat Shafiyah.