Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 77: Acara


__ADS_3

Di rumah Chairil dan Khalisah, begitu ramai, sudah pasti. Shafiyah datang bersama suaminya, menggunakan motor. Herman tersenyum melihat kedatangan anaknya, dan memperhatikan Shafiyah yang turun perlahan dan Wafi meraih tangannya, mengajak Shafiyah menemui semua keluarganya.


”Neng,” ucap Herman seraya bangkit, dan Shafiyah memeluknya. Fajar sudah siap untuk memeluk Wafi, tapi Wafi berbelok menjauh.


”Ck! menghindar dia." Gumam Fajar.


Wafi bersalaman dengan Adi dan Qais, lalu terakhir Fajar. Fajar tiba-tiba merangkul bahu Wafi, sontak saja hal tersebut membuat Wafi risih.


”Lepas!” bisik Wafi.


”Apa kamu masih benci sama saya, karena masalah di penjara?” balas Fajar berbisik dan Wafi menatapnya tajam.


”Apa mau kamu? berusaha memancing emosi saya?” tegas Wafi dan balas merangkul bahu Fajar, mencengkeramnya kuat dan Fajar tidak membalasnya. Cengkeraman Wafi melemah, sampai akhirnya terlepas.


”Saya mau bicara," ujarnya kembali dan Wafi hanya diam.


Shafiyah yang mendengar menoleh, dan melepaskan pelukannya pada ayahnya.


”Kalian kenapa?” tanya Shafiyah khawatir. Dan menatap keduanya bergantian.


Wafi menggerakkan tangannya, mengelus pipi istrinya itu lembut dan Shafiyah diam." Aku mau bicara sebentar sama kak Fajar.” Wafi pamit, lalu tangannya terlepas dan Shafiyah meraih tangan suaminya itu cepat, berusaha menahan.


”Gus___,” ucapannya terhenti dan Wafi tersenyum.


”Hanya obrolan biasa." Wafi berusaha meyakinkan, lalu dia melepaskan tangan istrinya perlahan-lahan.


Wafi dan Fajar akhirnya pergi, dan Shafiyah nampak gelisah serta terus memperhatikan keduanya.


”Ayo duduk.” Ajak Herman dan Shafiyah akhirnya duduk.” Gimana toko?"


”Alhamdulillah ayah, lancar."


”Ayah nanti main ya ke toko.”


”Fiyah tunggu, a Wafi juga pasti seneng banget kalau ayah datang.”


”Sha, gimana kehamilan kamu?” tutur Meri dari belakang dan Shafiyah menoleh.


Gadis itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya.” Alhamdulillah baik kak, kakak gimana sehat?"


”Alhamdulillah, kalau ada apa-apa telepon aja ya Sha," imbuh Meri kembali dan Shafiyah mengangguk mengiyakan. Matanya menatap Qais dan Adi sekilas, yang sibuk bermain hape, jangankan memeluk, menegurnya saja tidak. Shafiyah menyalami tangan keduanya pun, keduanya nampak tidak acuh.


”Mau apa? jangan bikin gara-gara disini!" ketus Wafi dan Fajar di hadapannya tersenyum kecut. Menanggapi tuduhannya.


”Dendam?” tanya Fajar dan Wafi mendengus seraya membuang muka.


”Masih mengira begitu? Anda khawatir karena rasa bersalah anda sendiri!” tegasnya penuh emosi, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku baju Koko nya, takut kebablasan dan meninju pria di hadapannya itu, yang sudah menjadi kakak iparnya.


Tiba-tiba Fajar mengulurkan tangannya dan Wafi menatap tangan pria itu sekilas.” Saya tahu ini gak mudah, buat kamu,” suaranya terdengar serak. Dan Wafi lagi-lagi diam.


”Gus, saya minta maaf, saya dibutakan dengan dunia, sampai menyiksa kamu di penjara atas kemauan mereka yang jelas-jelas melecehkan adik kamu. Jujur, saya gak pernah tenang, saya memang mendapat gelar dan yang lainnya, tapi saya gak tenang karena sudah menyiksa seorang pria yang gak salah. Saya gak mendukung kamu dan Shafiyah saat itu, karena saya takut, kamu hanya ingin membalaskan dendam kepada adik saya itu,” ujarnya kembali, suaranya tercekat beberapa kali, kedua matanya bahkan kini berair.” Saya minta maaf," katanya lagi dengan suara yang lemah dan berat, penuh sesal.


”Saya sudah melupakan semua itu sejak lama, saya sayang sama Shafiyah, bahkan saya gak tahu seorang perempuan luar biasa selesai itu adalah adik dari sosok seperti anda. Dendam? demi Allah, saya bukan manusia seperti itu, apa gunanya untuk saya? apa itu bisa membuat kaya? hidup sejahtera? atau masuk ke surga? gak mungkin! saya sudah memaafkan anda, tapi jujur, untuk melupakannya sulit, saya minta maaf untuk itu." Wafi bertutur kata dengan suara lemah, tapi tetap tegas dan Fajar yang mendengarnya tertunduk malu.


”Saya malu, saya benar-benar malu kalau ketemu sama kamu Gus. Saya minta maaf.”


”Saya sudah bilang, saya sudah maafkan, tapi tolong, jangan diulangi lagi. Kejayaan di dunia hanya sementara, tiada yang kekal abadi. Dan jangan khawatir, saya sangat sayang sama Shafiyah, apa selama Shafiyah menikah sama saya, apa terlihat Shafiyah menderita? saya memang gak kaya, tapi, saya akan tetap berusaha membahagiakan istri saya dengan cara yang bisa saya lakukan, semampu saya,” imbuhnya lirih dan Fajar tersenyum. Lalu, Wafi menggerakan tangannya, menjabat tangan kakak iparnya itu lalu Fajar mengenggamnya. Keduanya tersenyum kikuk, lalu saling berpelukan sebagai saudara ipar yang baru berdamai, atas kekeliruan Fajar di masa lalu.


Maaf? memang mudah diucapkan, tapi tidak mudah untuk menyadari kesalahan diri sendiri.


Dari kejauhan, Shafiyah memperhatikan dan terus bertanya-tanya, apa yang terjadi? dia sangat khawatir, takut kakaknya kasar lagi dan takut suaminya terpancing emosi.


”Ya Allah, semoga a Wafi bisa sabar, menghadapi apapun yang dikatakan kak Fajar, yang memang omongannya sering gak bisa dijaga." Gumam Shafiyah, dan dia melihat kedua pria itu berpelukan sekilas. Lalu keduanya melangkah bersama, meninggalkan tempat berdiskusi keduanya.


”Kak Fajar ngapain?" tanya Qais kepada Adi.


”Mana aku tahu. Kenapa nanya sama aku si!” ketus Adi dan Qais menoyor kepala adiknya itu kesal, bisa kan menjawab santai? Qais meradang.


Wafi dan Fajar pun kini duduk, Shafiyah yang di sebelah Wafi terus memperhatikan suaminya itu, Wafi menoleh dan memicingkan matanya.

__ADS_1


”Apa?” tanyanya lembut dan Shafiyah tersenyum, lalu menggelengkan kepala." Dih! dasar,” katanya lagi dan Shafiyah terkekeh, bukan waktunya ia bertanya sekarang, mending nanti, saat santai.


Acara terus berlangsung, gema sholawat dari tim Hadroh dan para hadirin mengikuti. Wafi yang memimpikan sholawat dan Shafiyah mengabadikan momen tersebut dengan hapenya.


Dia terus tersenyum, dan merasa bangga. Begitu juga dengan keluarganya, bayi Chairil dan Khalisah anteng saat dibawa keluar untuk diperlihatkan, di do'akan dan rambutnya di gunting. Ustadz Amran yang memimpin acara tersebut. Khalisah sudah khawatir anaknya menangis tapi ternyata tidak. Dia merasa lega. Setelah selesai pun, bayinya dibawa kembali ke kamar.


Acara terus berlanjut, dan selesai pukul 10 malam. Semuanya bubar membawa nasi kotak yang dibagikan. Shafiyah dan Wafi duduk di kursi plastik dan sibuk berdua, Wafi duduk di kursi di belakang Shafiyah dan memperhatikan Shafiyah di yang membelakanginya sedang memainkan hape.


”Boleh posting ini gak bi?" tanya Shafiyah dan Wafi melihatnya.


”Boleh.” Mengizinkan dan Shafiyah tersenyum.” Udah malem yang, mau pulang jam berapa?”


”Ya bentar, keluarga aku juga masih ada.” Sahutnya pelan dan Wafi menjatuhkan dagunya di bahu istrinya itu.


Keduanya menoleh saat semua keluarga Shafiyah keluar dari dalam rumah. Shafiyah bangkit dan Wafi juga bangkit.


”Ayah pulang ya, besok ayah ke toko.” Herman berucap, sambil memakai sepatunya.


”Emmm iya.” Shafiyah masih ingin bersama keluarganya, tapi dia tidak mungkin menahan.


”Jaga diri,” kata Adi sambil membelai kepala adiknya itu.


”Iya kak,” ucap Shafiyah serak. Dia senang Adi menyentuhnya. Lalu setelah itu, dia menyalami tangan Adi lembut. Di susul menyalami tangan Qais dan saudara iparnya.


Melihat Shafiyah terlihat sedih, Wafi hanya bisa diam dan perlahan meraih jemari tangan istrinya, belum dia mengenggam, Shafiyah mengenggam lebih dulu. Wafi tersenyum tipis dan Shafiyah menoleh menatapnya.


Keduanya sama-sama tersenyum.


Keluarga Shafiyah pun pergi, dan Shafiyah menatap kepergian semuanya dengan mata berkaca-kaca. Kenapa ibunya tidak datang? karena dirinya? dan karena keluarga suaminya? Shafiyah sangat malu, dan tidak enak dengan ibu mertuanya yang sempat menanyakan ibunya.


”Ibu boleh benci sama aku, tapi kenapa merembet ke yang lain, ini acara Khalisah, apa salahnya datang.” Gumam Shafiyah begitu sedih.


Wafi menoleh ke arah Shafiyah dan memperhatikan kedua mata indah itu berair.” Neng kenapa?” tanyanya.


Istrinya pun menoleh, lalu tersenyum.” Enggak apa-apa."


”Capek ya? pulang sekarang aja yuk." Ajak Wafi dan Shafiyah mengangguk.


”Jalan kaki gak apa-apa?" tanya Wafi, karena dia harus membawa Shafiyah cepat pulang.


”Orang aku bawa motor,” ketus Afsheen dan Wafi menjatuhkan kepalan tangannya di atas kepala adiknya itu pelan.


”Ya biasa aja dong, tapi umi pulang sama siapa?” ucap Wafi sambil memegang lengan adiknya itu.


”Sama teh Bayyin, nanti. Sebentar lagi kayaknya.” Jawab Afsheen. Tiba-tiba Faiza keluar, memberikan nasi kotak untuk Wafi yang memang belum menerimanya.


”Bi, gak usah," ucap Wafi menolak saat dia akan diberikan amplop oleh bibinya itu.


”Kamu yang ngurus semuanya, yang ngundang semua orang, mana lagi puasa, jangan siksa bibi dengan pikiran Mu, ambil, terima, ini rezeki keluarga kamu.” Faiza memaksa, bahkan menarik tangan Wafi kasar. Tapi keponakannya mempertahankan diri.


”Enggak bi, enggak usah, kayak sama siapa aja si! aku mau nasi kotaknya aja.” Tawar pria itu dan terus terkekeh-kekeh geli.


”Wafi! jangan bandel!" tegas Faiza dan Shafiyah serta Afsheen tertawa-tawa. Faiza akhirnya memaksa, memasukkan amplop ke dalam saku baju Koko keponakannya itu kasar.” Udah sana pulang, istirahat!” katanya mengusir dan Wafi menggeleng kepala sambil tersenyum.


"Makasih bi,” kata Wafi dan Faiza mengangguk.


Wafi, Shafiyah dan Afsheen akhirnya pulang. Sepanjang perjalanan, Wafi bersholawat dan Shafiyah mengikuti, istrinya sedang hamil dan malam-malam begini masih di luar. Wafi merasa takut dan was-was, kembali lagi dia serahkan semuanya kepada Allah SWT.


Sesampainya di rumah, Afsheen langsung masuk ke kamarnya. Salam tidak ikut karena kerja, Afsheen membawa motor sendiri dan malas pulang jam segini walaupun dekat.


Di kamar Wafi dan Shafiyah, Wafi berbaring dan memegang hapenya, tapi matanya bukan fokus ke hape, tapi kepada Shafiyah yang sedang membuka pakaiannya. Ibu hamil itu merasa gerah, lengket dan ingin ganti baju saja, karena Wafi tidak mengizinkannya untuk mandi.


”Jangan ngintip!” tandas perempuan itu.


Wafi tergelak mendengarnya." Ya biarin yey, hak aku itu sayang, dari ujung kaki sampai ujung rambut mu!" tuturnya sambil terkekeh dan Shafiyah tersenyum.


”Makin seksi yang kamu, gemes, sini dulu, jangan dipakai dulu bajunya." Puji nya seraya hendak turun dari tempat tidur, tapi tatapan Shafiyah membuatnya berhenti.


”Bi! ah!" Shafiyah kesal." Aku capek!"

__ADS_1


”Peluk doang, cicip doang dikit."


”Bohong banget kamu!"


Wafi tersenyum dan memperhatikan Shafiyah lagi, sampai istrinya itu selesai lalu naik ke atas ranjang, mendekatinya.


”Dingin, pengen peluk." Pinta Shafiyah.


”Pengen peluk terus, di slebew gak mau. Gimana sih! kamu itu nyiksa aku yang,” ujarnya ketus, dan frustrasi.


”Kamu ngerti dong, aku lagi hamil."


”Justru di usia kehamilan menuju tua, harus sering di coba. Biar si Utun lancar keluarnya." Bisik Wafi serak, lalu mencium telinga Shafiyah yang membuat perempuan itu bergidik geli.


”Capek bi, asstaghfirullah hal adzim!" Shafiyah merasa gemas karena terus digoda, dia menyentil telinga suaminya itu sampai merah dan Wafi hanya tertawa geli. Shafiyah akhirnya berhenti dan memeluk suaminya erat, dia menindih setengah tubuh suaminya, kakinya bahkan menindih kaki suaminya itu. Telapak tangan kanannya menempel di pipi Wafi, lalu dia sesekali mengelusnya. Keduanya sama-sama melihat sebuah video terjadinya pembuahan janin sampai akhirnya dilahirkan, Shafiyah diam terpaku begitu juga dengan suaminya.


”Kecebong!" celetuk Wafi sambil menunjuk video dan Shafiyah terkekeh.” Ayo atuh yang, pengen nih."


”Ya ampun, bahas itu lagi!"


”Aku seminggu gak bakal tidur sama kamu loh, kita pisah dulu. Kan aku mau ngaji, gak mau gitu manjain suami kamu ini sebelum pergi?” tuturnya dan Shafiyah mendongak.


”Bisa dibatalin aja enggak sih bi? aku gak mau tidur sendiri.”


”Sama umi dulu gak apa-apa, umi malah seneng kalau ada yang nemenin.”


”Hmmm."


”Cuma malam nya aja, siangnya kan kita tetep ketemu.”


"Bener ya?"


”Iya. Ayo, mau gak?” tanyanya lagi sekaligus mengajak, lalu mengecup rambut istrinya sekilas.


”Aku bau keti, malu hehe," bisik Shafiyah lalu menenggelamkan wajahnya di leher pria itu


”Kamu kan keringatnya gak bau, malu kenapa? aku yang malu, lengket tapi males mandi.”


”Emmm...." Shafiyah tidak jelas dan jemarinya memainkan jenggot tipis suaminya.


”Mau gak? aku gak nanya lagi."


”Iya.” Shafiyah akhirnya mengiyakan dan Wafi tersenyum simpul malu-malu kucing garong. Yang sudah siap untuk menerkam mangsanya.


Eng ing eng.......


...------...


...✍️...


Pagi ini, Salam datang diantar temannya, dia membawa nasi kuning untuk sarapan semua orang. Raihanah meminta kedua anak perempuannya tidak pergi dulu, supaya bisa membantu Faiza memasak, menyambut kedatangan keluarganya Fahira. Untuk menginap, Fahira bilang tidak bisa, sekarang saja sudah diperjalanan dan kemungkinan jam 8 pagi sampai, dan nanti sore sudah akan pulang lagi.


”Umi, aku, a Musa sama a Wafi kan mau pasaran. Niyyah sama Bayyin boleh nginep dulu disini? seminggu," tutur Salam dan Musa menunduk. Raihanah memperhatikan ketiga pria itu yang duduk bersebelahan bergantian.


”Ya boleh, gak perlu izin dari umi, kalian semua bisa nginep kapanpun kalau kalian mau," tutur Raihanah dan kedua menantunya tersenyum. Wafi diam dan memperhatikan Shafiyah, yang makan lesehan bersama Bayyin dan Afsheen.


”Teteh masih mual?" tanya Shafiyah dan Bayyin menggeleng kepala.


”Alhamdulillah udah enggak, makan juga udah enak lagi." Jawab Bayyin dan Shafiyah tersenyum. Afsheen nampak diam dan Shafiyah melirik ke arahnya.


”Teh." Tegurnya lembut dan Afsheen tersentak.


”Hah! iya apa?” tuturnya gelagapan.


”Kenapa?" tanya Shafiyah dan Afsheen tersenyum.


”Enggak." Jawabnya singkat. Salam dari tempatnya memperhatikan, keduanya sudah memeriksa kesehatan masing-masing, tidak ada masalah, belum ada rezeki saja untuk prihal anak untuk saat ini. Dan keduanya sangat optimis, bisa memiliki anak.


Setelah sarapan, yang kerja siap untuk bekerja, yang kuliah juga sudah siap untuk berangkat. Bayyin dan Afsheen sudah pergi duluan ke rumah Chairil, sementara Raihanah, dia tidak mau kemana-mana dan ingin istirahat saja dan baru ke rumah Chairil jika Fahira sudah datang.

__ADS_1


Pukul 8 lebih tiga puluh menit, dua mobil datang. Keluarga Fahira, anak, saudara ipar dan Fahira terlihat sedang menggendong cucunya dari anaknya yang bernama Sulis.


”Uwa!” seru Afsheen antusias dan Fahira tersenyum.


__ADS_2