
Shafiyah akhirnya keluar dan Wafi merasa lega. Dia tersenyum dan Shafiyah malah menunduk, perempuan itu dirangkul hangat oleh ibunya. Burhan dan Wafi melongo, ada kejadian apa, sampai si keras kepala Sara begitu hangat memperlakukan Shafiyah? atau ada sebuah keajaiban?
”Apa ini?” ucap Burhan.
”Sudah damai? Kelihatannya beda,” gumam Wafi merasa bahagia.
Shafiyah dan Sara melangkah mendekati keduanya. Sara tersenyum kepada Wafi dan Wafi gugup, dia hampir tidak bisa bernafas melihatnya. Kapan? Dan dimana, dia melihat ibu mertuanya tersenyum, khususnya padanya.
”A Wafi," ucap Shafiyah memanggil begitu lembut. Dia melangkah mendekat, meraih tangan suaminya, agar lekas menyalami tangan ibunya. ”Salam sama ibu,” titahnya.
Wafi gelagapan, dia sampai lupa. Dengan gugup, dan tangannya bahkan bergetar, dia mengulurkan tangannya, dan Sara juga melakukannya. Lagi-lagi, Wafi tidak percaya, apa dia bisa menampar wajahnya sendiri sekarang? Untuk membuktikan, yang terjadi sebuah halusinasi atau mimpi.
Wafi menyalami punggung tangan Sara, untuk pertama kalinya, Wafi mundur menjauh dan dia terus menatap Shafiyah.
”Jaga anak saya, titip dia, jangan bentak dia, jangan sakiti dia apalagi kalau main tangan,” tutur Sara dan Wafi menunduk.
Tidak lama, kepala itu terangkat penuh keyakinan. ”Ibu enggak usah khawatir, aku pasti jagain Shafiyah,” imbuhnya, seraya melirik Shafiyah sekilas.
Sara tersenyum hangat, lalu memeluk Shafiyah erat, mencium pipi anaknya berulangkali. Bianaran mata Wafi terus terpancar, bagaimana ia tidak bahagia, melihat ibu mertuanya sudah menerima hubungannya dengan Shafiyah.
”Kita makan dulu,” seru Meri yang baru datang, dan semuanya menoleh.
”Ayo makan,” ajak Sara kepada Wafi. ”Jangan malu-malu,” katanya lagi begitu lembut.
Wafi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan semuanya melangkah bersama menuju dapur. Wafi menggandeng pinggang istrinya, ingin bertanya, tapi situasi tidak mendukung.
”Ayo duduk, ini makanan dari luar, sederhana. Enggak apa-apa ya,” ucap Meri. Dia sedang menata piring.
”Ini banyak banget kak, kak Fajar gak makan siang di rumah?” ujar Shafiyah.
”Katanya lagi dijalan...Nah itu dia, ”ucap Meri dan memperhatikan kedatangan suaminya. Wafi diam dan Fajar menepuk bahunya kuat, lumayan ngilu.
”Kakak," imbuh Shafiyah begitu riang.
Fajar mengelus pucuk kepala adiknya itu, lalu dia duduk perlahan. ”Dari kapan?” tanyanya.
”Tadi sampai jam 5,” jawab Shafiyah.
”Nginep aja udah,” tutur Fajar tapi Wafi dan Shafiyah tidak bisa.
”In sha Allah lain kali,” imbuh Wafi menimpali.
”Kenapa memangnya? Kamar ada yang kosong, apa salahnya?” Fajar sedikit memaksa.
”Kami lagi sibuk kak, nyiapin buat acara ke Jakarta. Sepupunya a Wafi mau menikah, kami semua pergi besok,” ujar Shafiyah menjelaskan dan Sara nampak kecewa.
”Janji sama ibu, nanti nginep,” kata wanita itu dan Shafiyah mengangguk.
”In sha Allah,” ucap Shafiyah.
Semuanya makan bersama, dan sambil bercakap-cakap, kecuali Wafi yang terus diam, tapi tangan kirinya perlahan bergerak. Menyentuh tangan Shafiyah. Shafiyah menoleh lalu menggenggam tangan suaminya itu, dan keduanya sama-sama tersenyum tanpa saling menatap.
Tepat selesai makan, Wafi memperhatikan Shafiyah.
__ADS_1
”Masjid di sebelah mana?" Ia berbisik.
Shafiyah menoleh, dia belum menghabiskan makanannya. "Jauh, abi ketinggalan sholat berjamaah nanti. Di mushola aja, di depan kan ada warung, masuk gang kecil, disana mushola nya.” Shafiyah balas berbisik-bisik.
Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya dan berdiri. Dia memperlambat gerakan, berharap Fajar juga bangkit, tapi pria itu sibuk dengan telepon genggamnya, jarinya bergerak di atas layar ponsel yang la langsung bergeser, naik, turun, sesuai arahan jarinya.
”Sholat Magrib bareng yuk kak,” kata Wafi dan Fajar menoleh. Semuanya melongo, dan Shafiyah menggaruk pelipisnya dengan tangan kiri. Sementara Burhan langsung bangkit, untuk ikut dengan Wafi.
”Emmm, enggak. Aku sholat di rumah,” ucap Fajar dan kedua alis tebal Wafi naik. Dia tidak bisa memaksa, yang penting sudah mengajak, sekaligus mengingatkan.
Wafi akhirnya pergi, setelah mengucap salam, dan semuanya menjawab. Setelah makan, Shafiyah juga pergi, untuk melaksanakan salat Maghrib.
Sara diam, menghabiskan makanannya. Rasa lega karena sudah mengggelar kedamaian dengan anak dan menantu, dia berharap, Wafi tidak berubah dan terus menjaga anaknya.
Pukul 19:10. Wafi pulang terakhir, karena Burhan pulang duluan. Wafi ragu untuk masuk ke rumah, sampai memegang, dan melepas gagang pintu berulang-kali.
”Canggung euy!” katanya berbisik. Dan akhirnya ia merogoh sakunya. Dia mencoba mengirimkan chat kepada Shafiyah.
\=> Habibah nya Abi:
Sayang, aku di luar. Malu buat masuk, hayu pulang yang.”
Wafi dan dan Shafiyah hanya membaca chat nya. Bibir Wafi mengerucut kesal.
Pria itu mendesah kasar berulangkali, apa istrinya sudah tidur sekarang, dan membuka chat darinya tidak sadar. Shafiyah sering begitu. Wafi memberanikan diri, memegang gagan pintu, baru dia pegang, dari dalam sudah ditarik kuat. Wafi mundur menjauh dan pintu perlahan terbuka.
Wafi tersenyum saat melihat Shafiyah. ”Kenapa gak dibales? Aku kira, kamu udah bobo."
”Hehe, maaf bi. Pulang?”
”Ya udah ayo masuk, pamit dulu." Shafiyah merangkul lengan Wafi, dan Wafi masuk bersamanya. Semua orang sedang di ruang tamu, melihat Shafiyah juga sudah berkemas, membuat Sara nampak lesu.
”Bu, semuanya. Fiyah sama a Wafi pamit pulang, besok harus ke Jakarta,” ujar Shafiyah.
”Langsung istirahat, diperjalanan pasti capek. Jaga kesehatan,” kata Fajar menyahuti.
”Iya kak,” singkat Shafiyah.
”Nginep aja, biar besok subuh kalian pulang,” Sara memaksa.
”Bu, jangan begitu. Kasihan Fiyah, dia butuh istirahat. Lain kali, Fiyah sama Mumu pasti nginep,” tutur Fajar menegur. Deru nafas Sara terdengar begitu panjang. Wajah Wafi nampak masam, mendengar panggilan menggemaskan itu keluar dari bibir kakak iparnya, yang dulu adalah musuhnya. ”Iya kan, Mu?” kata Fajar lagi dan Wafi terbelalak.
”Untung ipar, kalau bukan, udah gue lempar pake sendal. Ya ampun Umi, Umi yang mulai,” kata Wafi dalam hati.
Sara akhirnya berusaha merelakan kepergian Wafi dan Shafiyah. Saling bersalaman dan memeluk, anak dan menantunya. Pemandangan tersebut, membuat Meri dan Fajar tersentak bahagia. Rumah besar tersebut nampak sepi, karena anak-anak Fajar dibawa oleh Adi dan Ena, untuk menginap di rumah mereka. Setelah itu, Shafiyah dan Wafi pun pergi, meninggalkan kediaman Fajar.
***
Seorang pria merebahkan tubuhnya di atas sofa, tatapannya begitu kosong. Ke arah langit-langit berdebu dan bersarang laba-laba. Deru nafasnya terdengar keras sesekali, matanya melirik lirik ponsel di atas meja. Satu jam berlalu, tak ada tanda-tanda balasan akan dia terima. Satu jam sebelumnya, pria itu mengirimkan pesan kepada istrinya, yang begitu dia rindukan.
”Sayang, besok kita semua pergi ke Jakarta. Ikut ya, semua orang kangen sama kamu, dan anak kita, apalagi aku. Kita jalan-jalan di Jakarta, di sana udaranya panas, tapi aku yakin kamu akan senang. Aku jemput sekarang ya sayang? Siap-siap, bawa baju dan yang lainnya. Aku kangen.”
Begitulah isi pesan pria itu. ”Asstaghfirullah hal adzim,” tiba-tiba ia berseru.
__ADS_1
”Ya Allah, hamba melakukan kesalahan, perbuatan yang buruk, berzina dengan mendekati perempuan yang bukan mahram hamba. Ya Allah, hamba tidak mau pisah dengan istri dan anak hamba. Hanya Engkau jalan utama dan terakhir, ampuni hamba yang lalai atas larangan-Mu. Dan menyakiti hati istri hamba, Khalisah,” tutur Chairil serak. Air matanya silih berganti berjatuhan ke pipi, entah berapa banyak air mata yang setiap saat menetes dari matanya. Sesal tak berujung, khawatir yang menyiksa, dan rindu yang tak kunjung terobati, sekalipun ia terus memandang dua sosok dalam wallpaper hapenya. Dia mau yang nyata, memeluk dan mencium keduanya, menjaga dan mendidiknya. Selingkuh itu berat, bukan rindu. Untuk percaya lagi itu sulit, dan susah untuk diobati.
Tubuhnya kini mulai meringkuk, malas untuk pindah ke kamar, merebahkan tubuh di atas kasur empuk, jika dia ke kamar. Dia malah semakin tersiksa dengan rasa rindunya. Suara tangisan bayinya, istrinya mengomel, marah dan memaki. Itu menyebalkan, dan menyakiti, tapi bukannya manusia memiliki kekurangan dan keunggulan, walaupun perbandingannya sangat banyak. Dia baru sadar, dia terlalu penuntut.
***
Secerah mentari pagi, yang menyinari bumi, dan semakin meninggi untuk sampai di puncak sinarnya. Semua keluarga Majdi begitu riang bergembira, sudah berkumpul di depan rumah Raihanah. Bersiap untuk lekas pergi ke Jakarta. Acara pernikahan digelar besok, keluarga jelas datang sehari sebelum hari H. Shafiyah diam, duduk dan memegang perutnya yang ngilu, tapi dia enggan bercerita kepada siapapun. Tidak mau membuat semuanya panik, di situasi sibuk. Sikap yang tidak boleh ditiru, karena itu bisa fatal.
”Khalisah, enggak ikut?” tanya Fara kepada Shafiyah.
”Fiyah udah coba telepon, tapi gak aktif,” jawab Shafiyah. Fara tersenyum dan melirik Faiza yang masih terlihat lemas, sudah duduk di dalam mobil. Di mobil Wafi, istri, umi dan kedua adiknya serta Faiza yang ikut. Sebuah mobil sewaan juga dihadirkan, untuk menampung muatan agar tidak melebihi kapasitas muatan, yang akan membuat tidak nyaman.
”Kasihan Faiza," lirih Raihanah.
”Diem mi, ayo masuk,” bisik Wafi takut Faiza mendengarnya dan Raihanah hanya tersenyum menanggapi anaknya. Setelah semuanya masuk, Wafi memperhatikan Shafiyah yang mendekatinya, tangannya masuk ke dalam Khimar syar'i jumbo, panjang selutut. Memegang perutnya, dan Shafiyah terus berdoa, untuk keselamatannya nya, bayinya dan semua keluarganya.
”Neng, kenapa?" Wafi sangat peka, hanya dengan melihat kedua mata yang nampak menyipit, dan alis yang mengerut berulangkali.
”Enggak a,” jawabnya serak dan tangan Wafi terulur, memegang perut besar Shafiyah.
”Hei, lihat aku. Sakit? Ngilu? Atau apa sayang, ayo bilang. Kita gak usah pergi aja ya,” Wafi berbisik-bisik.
”Ih aa, enggak apa-apa. Jangan begitu, batalin mendadak.” Shafiyah mendelik.
”Ya kamu nya gak mau jujur.”
Shafiyah diam, saling menatap dengan Wafi begitu dalam. ”Perut neng ngilu a, tapi gak apa-apa kok. Udah jujur kan, jangan sampai gak jadi pergi.”
”Ya Allah!” timpal Wafi dan mendekatkan wajahnya ke wajah Shafiyah. ”Yang, gak usah ya. Biar mobil dibawa yang lain.”
”Abi...” Shafiyah merengek-rengek.
”Cukup! Aku gak mau dibantah.”
”Aku mau ikut bi,” suaranya serak. Dia menarik-narik ujung baju Koko berwarna gelap itu.
”Enggak ayang, nurut sama aku, bisa?” tandasnya, dengan mata sedikit melotot dan langsung membuat istrinya bungkam.
”Wafi! Ayo!" teriak Fara dan keduanya menoleh. Shafiyah menunduk dan semuanya terheran-heran. Saat Wafi lengah, Shafiyah melipir ke dalam mobil, duduk dan menarik sabuk pengaman. Wafi yang menatap Fara, kembali menoleh ke hadapannya. Dia tersentak, melirik kanan-kiri, mencari dimana istrinya. Saat dia berbalik, Shafiyah sudah melambaikan tangan padanya.
”Asstaghfirullah,” katanya kesal.
Ia melangkah lalu masuk. Shafiyah terus tersenyum dan Wafi menoleh ke belakang. ”Semuanya maaf..."
”Maaf, lama tadi ngobrol sama Shafiyah di luar,” kata Shafiyah menyela ucapan suaminya. Wafi terbelalak mendengarnya.
”Enggak apa-apa,” jawab Faiza.
”Neng..” Wafi berucap.
”Apa? Ayo berangkat a." Tangan Shafiyah memegang paha Wafi, dan Wafi menepisnya perlahan, dia kegelian.
”Ayo Mu, mobil Fara udah jalan,” kata Raihanah dan Wafi mengangguk.
__ADS_1
Semua mobil bergerak, melaju perlahan-lahan dan semua orang di pesantren tersebut memperhatikan, rumah jelas aman, mereka semua akan menjaga rumah sang guru dan pesantren dengan baik. Tempat menuntut ilmu dan rumah kedua.
Sepanjang perjalanan, ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang ngemil terus, istrinya Wafi. Shafiyah mulai tenang, saat ngilu di perutnya mulai menghilang. Shafiyah dan Wafi sesekali mengobrol, dari belakang Raihanah memperhatikan, bibirnya terus tersenyum merekah.