
Pagi ini, acara pernikahan Chairil dan Khalisah berlangsung. Akad sudah dilaksanakan pukul 8 pagi, semua tamu bergembira dan menikmati berbagai macam jamuan yang sudah disiapkan. Keluarga Wafi nampak ikut juga menikmati makanan, mengobrol dan banyak yang menyapa mereka. Raihanah terdiam saat mendengar ucapan Sara yang duduk di belakangnya.
”Pernikahan Khalisah biasa aja ternyata, orang laki-laki nya cuma pengajar," tutur Sara tanpa ragu. Bayyin menoleh, menatap tajam wanita itu dan Sara mendelik sebal. Sara sengaja duduk di sana bersama Qais dan Adi, agar bisa membuat keluarga Wafi sadar.
”Bu, cukup,” ucap Qais yang merasa malu karena ibunya terus mengoceh." Malu,” ujarnya berbisik.
”Harusnya anak mereka yang malu, menyukai anak kita. Suaminya Khalisah yang bukan napi aja hanya bisa memberikan sedikit uang kepada keluarga uwa kamu, apalagi yang mantan napi. Semoga laki-laki itu cepat sadar, dia gak pantas buat adik kamu.” Sara berseru lantang, dan memperhatikan punggung Raihanah. Raihanah diam, hanya kepalan tangan yang mewakili kemarahannya. Perlahan, Afsheen meraih dan mengenggam tangan uminya itu.
”Semoga Allah jodohkan Gus Mu kita dengan Shafiyah ya umi,” ucap Afsheen. Dan Sara yang mendengarnya melotot.” Ya Allah jodohkan keduanya, secepatnya, karena jalan satu-satunya hanya pernikahan. Keduanya sudah saling menerima rasa satu sama lain, nikahkan keduanya ya Allah," sambung Afsheen, Zoya dan Bayyin menahan tawa karena ibunya Shafiyah langsung berdiri saat ini.
”Heh ngomong apa kamu tadi?" ketus Sara sambil menarik bahu Afsheen.
”Aamiin,” ucap Afsheen.
”Heh kamu!" bentak Sara dan
Afsheen tidak perduli.
”Buset dah, nih cewek cantik banget." Gumam Qais dan memperhatikan Afsheen sambil tersenyum.
”Niyyah, diam,” tegur Raihanah dan Afsheen menatap ke depan. Mengabaikan Sara yang terus menatapnya tajam.
”Cih!" Sara berdesis dan akhirnya pergi, untuk mencari Shafiyah.
Sementara Shafiyah, dia di dalam rumah Khalisah tadi. Tapi sekarang, gadis itu keluar diam-diam untuk mencari Wafi. Sudah lama setelah akad, pria itu tak kunjung terlihat. Apakah pria itu sudah menyerah? sampai tidak mau datang ke acara pernikahan saat ini, Shafiyah hanya bisa menunduk lesu dengan rasa kecewa yang teramat dalam. Dia terlalu banyak berharap, nyatanya hadapannya tidak sesuai ekspektasi. Pria mana yang mau berjuang untuk mendapatkannya yang dikekang begitu gila oleh keluarganya.
Shafiyah menunduk dengan kedua mata berkaca-kaca, harapannya untuk mengobati rasa rindu hanya sia-sia.
”Siapa itu? ganteng nya."
”Iya siapa itu ya? orang ganteng mah suka kelihatan lebih mencolok dari yang lain."
Para tamu ibu-ibu membicarakan seorang pria yang baru datang, memakai kemeja berwarna Navy, sarung putih dan tidak memakai peci. Shafiyah terus melangkah pergi, untuk kembali ke rumah Khalisah. Shafiyah mengangkat kepalanya, dia tersentak melihat seorang pria bertubuh tegap sedang memperhatikan dan melangkah ke arahnya.
Deg! jantungnya berdegup kencang, Wafi melangkah dengan raut wajah datar. Saat tatapan keduanya beradu, keduanya sama-sama mendesah kasar. Sedih dan senang menjadi satu karena bisa melihat satu sama lain. Dan Wafi lebih kaget bukan kepalang saat melihat Sara. Saat hampir melewati Shafiyah, Wafi berucap...
”Maaf telat, kita cari waktu yang cepat untuk bicara,” bisik pria itu dan Shafiyah terus mendongak menatapnya.
”Sha,” panggil Sara. Shafiyah tersentak dan langsung merangkul pinggang ibunya, mengajak ibunya pergi. Wafi langsung duduk diantara tamu yang tidak dia kenal, bisa bahaya jika Sara melihatnya. Dia mengeluarkan masker dan memakainya, dia yakin Fajar juga ada di sana saat ini.
”Sudah makan?” tanya Sara lembut.
”Belum, tadinya aku mau beli bakso,” ucap Shafiyah beralasan.
”Makan nasi dulu, makan di dalam ayo ibu antar,” ucap Sara dan Shafiyah mengangguk. Keduanya melangkah bersama, Shafiyah menoleh dan tatapannya dengan tatapan Wafi beradu. Wafi tersenyum dan Shafiyah juga tersenyum.
Di dalam rumah, seorang pria bertubuh tinggi besar sedang menunggu, memakai pakaian begitu formal dan duduk sambil memangku satu kakinya. Sara dan Shafiyah masuk, tatapan pria itu langsung tertuju kepada Shafiyah. Pria itu tersenyum dan Shafiyah melotot.
”Dia pria itu kan? yang sering nongkrong gak jelas, dan pernah di tegur kak Fajar?” gumam Shafiyah, lalu dia menunduk.
”Sha, itu Farel. Anaknya temen ibu,” ucap Sara seraya merangkul bahu Shafiyah, agar mendekati Farel.
”Aku lapar, mau makan,” ucap Shafiyah menolak.
Farel tersenyum dan melangkah mendekat. Akhirnya dia ada jalan mendekati Shafiyah sekarang, dia sangat penasaran, wajah di balik cadar itu seperti apa.
”Diam dulu,” tegas Sara dan Shafiyah menunduk.
__ADS_1
Farel mengulurkan tangannya kepada Shafiyah, dan Shafiyah terbelalak melihatnya.” Farel," ucap pria itu dan Shafiyah diam.
Sara menyenggol lengan anaknya itu dan Shafiyah merapatkan kedua tangannya.
”Shafiyah,” ucapnya serak. Farel menjauhkan tangannya dari hadapan gadis itu, lalu dia tersenyum simpul.
”Mending kalian makan sama-sama," ucap Sara dan Shafiyah panik.
”Bu,” suara Shafiyah berbisik tapi begitu tegas, bisa-bisanya ibunya menyarankan seperti itu.
”Duduk!” tegas Sara, memaksa anaknya duduk. Farel juga duduk dan Sara pergi untuk meminta makanan.
”Kita ketemu lagi,” ucap Farel dan Shafiyah diam.” Aku sama sekali gak tahu, kalau orang tua kita temenan. Ini baik untuk kita,” tuturnya lembut.
”Tolong cukup, jangan begini." Shafiyah kesal dan langsung berdiri. Dengan lancang, Farel meraih jemari lentik dan telapak tangan lembut itu, Shafiyah terperanjat dan menepis tangan Farel." Kamu gak sopan, jangan sentuh saya!!” teriak Shafiyah murka.
”Aku cuma mau ngobrol!”
”Kamu memang gak pernah bisa menghargai seorang perempuan." Shafiyah memaki lalu melenggang pergi, Farel merasa bersalah dan hanya bisa diam membisu.
Shafiyah menangis karena disentuh pria bukan mahramnya, dia bahkan mencuci tangannya. Untuk apa ibunya memperkenalkannya kepada pria mesum itu? Shafiyah sangat ingin pulang, ke pesantren saja.
Shafiyah berhenti saat Wafi melangkah melewatinya, Wafi pergi menuju penjual bakso yang berjajar dengan pedagang lain. Shafiyah mengedarkan pandangannya, dan melangkah untuk menyusul.
”Dua,” pinta Wafi kepada penjual bakso. Dan penjual bakso lekas membuatnya. Wafi menoleh saat Shafiyah datang, Wafi diam dan Shafiyah duduk di seberang meja, cukup jauh dari Wafi. Setelah bakso siap, Wafi mengucapkan terima kasih. Lalu menggeser satu mangkok ke hadapan Shafiyah.
”Saya khawatir," ucap Shafiyah.
”Saya kira kangen,” Wafi tersenyum.
”Saya juga, mau pakai sambal atau saos?”
”Pakai kecap aja,” ucap Shafiyah dan memperhatikan Wafi menuangkan kecap ke mangkuk baksonya. Gadis itu terus tersenyum merasa senang. Keduanya bisa mengobrol cukup anteng, obrolan serius untuk kebaikan bersama.
”Sudah berapa tahun kita gak ketemu?” tutur Wafi sambil tersenyum simpul.
Shafiyah terkekeh-kekeh.” Baru juga beberapa hari.”
”Bagi saya itu beneran lama, lama banget. Kamu sehat?”
”Alhamdulillah, Gus gimana?"
”Saya sehat, terimakasih obatnya. Saya sudah mencari tempat kamu tinggal sekarang, sabar ya. Sampai saya jemput nanti." Tuturnya begitu yakin dan Shafiyah akan menunggunya.
”Terima kasih sudah mau berjuang, gak mudah, sangat sulit. Tadi, saya dikenalin sama temannya orang tua saya.”
”Iya, saya yakin itu terjadi. Keluarga kamu gak akan biarin kita sama-sama, tapi tolong sabar sedikit, saya janji bakal nikahin kamu. Kamu nangis ya tadi?”
”Saya di pegang tadi, saya....”
”Apa?” suara Wafi meninggi. Dia kaget dan marah mendengarnya." Yang mana orangnya?" tegasnya bertanya.
Shafiyah menggelengkan kepalanya.” Nanti Gus terlibat masalah, saya gak apa-apa, dia cuma pegang tangan saya. Saya takut, tolong perjuangkan saya. Atau Gus mu mau saya jatuh ke dalam pelukan pria seperti itu? saya dikenalin sama dia, ini bukan sekedar perkenalan. Gus paham kan?” tutur Shafiyah serak dan tangan Wafi terkepal kuat.
”Kamu pilih saya atau lelaki yang orang tua kamu pilih?” lirih Wafi dan Shafiyah diam sejenak, dia menarik nafasnya lalu berucap.
”Jelas saya pilih Gus Mu.”
__ADS_1
Wafi tersenyum lebar mendengarnya.” Hindari lelaki itu, jangan dekat-dekat. Dia berani menyentuh tangan kamu, bukan gak mungkin dia berani melakukan hal gila lebih dari itu. Paham Habibah?” tegas Wafi dan dia sangat takut Shafiyah terluka, dan Shafiyah mengangguk-anggukkan kepalanya memahami ucapan Wafi.
”Di makan,” titah Wafi dan Shafiyah mengangguk lagi. Keduanya menikmati bakso bersama, Wafi nampak gusar dan bingung bagaimana caranya mendapatkan Shafiyah dengan cara baik-baik dan secepatnya. Dia lirik gadis itu yang menikmati bakso yang dengan lahap.” Enak?" tanya nya lembut dan Shafiyah mengangguk.
”Makasih,” Shafiyah tersenyum.
”Sama-sama,” balas Wafi dan tersenyum manis.
Shafiyah tiba-tiba merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat dan Wafi memperhatikan.” Kita gak bisa ngobrol banyak, saya tulis surat ini karena takut kita gak bisa ketemu. Gus bisa membalas surat ini terus dititip ke Ima, saya masih belum bisa pegang hape,” tutur Shafiyah. Dia meletakkan surat di tengah-tengah meja lalu Wafi meraihnya.
”Sabar ya, jangan nangis terus," tutur Wafi dan Shafiyah tersenyum. Harusnya dia yang mengatakan itu, menyemangati pria yang sedang berjuang untuk meminangnya.
Suara ponsel Shafiyah yang berdering, membuat gadis itu kaget. Panggilan masuk dari Fajar.” Saya harus pergi.” Shafiyah berdiri dan Wafi mengangguk.
”Assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam,” balas Wafi.
Shafiyah melangkah pergi, dan belum sempat menghabiskan makanannya. Wafi diam memperhatikan, sampai gadis itu di rangkul oleh Fajar dan entah akan dibawa kemana. Keluarga Shafiyah akan pulang, keluarga Wafi juga. Setelah bakso nya habis, Wafi meninggalkan gerobak bakso dan mencari keluarganya. Dia bahkan tidak naik ke atas pelaminan, padahal Chairil sedang memperhatikannya. Keluarga Raihanah pulang lebih dulu, dan Raihanah tidak mau berlama-lama saat melihat ibunya Shafiyah.
*******
Hari ini, Wafi datang ke penangkaran ikan milik Ismail. Dia duduk di tepi kolam ikan, memperhatikan Ismail yang dan dua orang lainnya yang sedang mengambil ikan untuk dipindahkan.
”Ngelamun terus, gila lu nanti," tegur Ismail dan Wafi melepas sepatunya. Menarik celananya sampai setengah betis lalu turun ke kolam ikan keruh itu.
”Makin bingung gue Ismail, makin rumit aja urusan gue sama keluarganya Shafiyah.”
”Kenapa lagi?”
”Ternyata dia adiknya Fajar," ucap Wafi begitu lemah.
”Fajar siapa?” tanya Ismail masih santai.
Bug! Wafi memukul bahu Ismail dan Ismail meringis." Ya Fajar mana lagi? fajar ya Fajar yang itu." Sewot Wafi sambil mendelik.
”Yang bener lu?" lirih Ismail dan merasa prihatin dengan sahabatnya itu, Wafi mengangguk lemah dan Ismail menggeleng kepala.” Gue sebagai sahabat, tolong dengerin kata-kata gue. Mending lu nyerah, dia gak sepadan sama elu Mu. Jangan nyiksa diri sendiri, kita udah capek mikirin gimana caranya dapat duit buat makan sehari-hari, gak usah ditambah dengan persoalan perempuan. Lepas deh, cewek banyak. Gak cuma dia yang mau sama elu, lepas ya Mu. Gue khawatir, Fajar itu gila. Dia bukan otak duluan yang jalan, tapi tangan. Dia udah nyiksa lu bertahun-tahun di penjara, kalau bukan karena polisi baik itu, elu gak bakal selamat. Yang ada dipikiran Fajar itu duit, dia gak bakal ngasih adiknya ke elu Mu. Sadar diri, kita cuma mantan napi, dipandang buruk dan gak mungkin bisa bersanding dengan perempuan seperti Shafiyah.” Tutur Ismail dan memperhatikan wajah Wafi yang begitu tegang.
”Enggak deh, gue maunya dia."
"Susah ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta, lieur," ketus Ismail dan yang lain hanya tersenyum mendengarkan.
Lieur:pusing
”Gue lagi mikirin cara, harus gimana supaya dapat restu."
”Ya udah gini, gimana kalau elu cicil aja?” usul Ismail dan Wafi tidak paham.
”Wah kang Ismail sesat,” ucap anak buah Ismail dan Ismail tersenyum.
”Apa?" ucap Wafi.
”Hamilin dulu, gue yakin restu nyusul walaupun kepaksa."
”Dih gila, enggak!” seru Wafi dengan suara yang begitu tandas.” Gue gak pernah pegang kulit perempuan yang bukan mahram, gue gak bisa begitu. Kalau begitu, gue gak sayang dong sama Shafiyah. Gue ngerusak dia, gue dosa dan Shafiyah juga dosa. Gak ada pikiran gue kesana Mail, sesat lu ya. Asstaghfirullah hal adzim, bertaubatlah wahai Ismail bin mail," tuturnya ketus dan emosi. Ismail tertawa mendengarnya.
”Ya gue bingung, ikut stres gue Mu.” Ismail terus tertawa dan Wafi bergidik ngeri, bisa-bisanya Ismail seperti itu.
__ADS_1