
Shafiyah melambaikan tangan, menghentikan sebuah angkot, agar Khalisah segera pergi. Dia terbayang-bayang raut wajah kemurkaan Gus Mu tadi. Pria itu bisa saja membalas atau memaki Khalisah yang sudah sangat keterlaluan.
”Jahat kamu Shafiyah.” Khalisah memaki dan mencubit punggung tangan Shafiyah, Shafiyah meringis dan menepis tangan Khalisah kasar.
”Sakit.” Shafiyah kesal dan menatap Khalisah penuh amarah.
Khalisah masuk ke dalam angkot dan saling menatap tajam dengan Shafiyah. Shafiyah berbalik lalu melangkah pergi.
*****
Pemandangan yang begitu indah, Diva tersenyum memperhatikan Wafi yang sedang menyiram tanaman. Sementara Wafi menunggu Shafiyah lewat.
”Aa, kesini sebentar!" seru Bayyin dari dalam rumah. Wafi diam dan tersenyum saat melihat Shafiyah.
”Kebetulan banget dia ada di depan rumahnya,” gumam Shafiyah dan Wafi diam memperhatikan, tapi air dari selang terus mengalir. Bukan ke pot bunga, tapi ke sembarang arah.
”Aa,” ucap Bayyin. Hendak keluar tapi dia berhenti saat melihat Shafiyah berdiri di depan pagar rumah, padahal ada kakaknya di sana. Mau apa gadis itu? Bayyin jadi penasaran dan diam memperhatikan.
Wafi nampak pura-pura tidak perduli, dia mau Shafiyah memanggilnya. Jika memang gadis itu ada keperluan dengannya.
”Assalamu'alaikum," ucap Shafiyah.
”Wa'alaikumus Salaam," jawab Wafi tanpa melihat gadis itu. Shafiyah menunduk dan kebingungan, dari mana dia harus memulainya.
”Gus." Panggil Shafiyah dan Wafi mulai tidak tahan untuk tersenyum. Dari kejauhan Diva memperhatikan dengan seksama, untuk apa Shafiyah berdiri di sana? itu sangat menganggu pandangannya. Padahal gadis itu harus segera ke sekolah, dan malah sibuk memandangi Wafi.
”Gus." Panggil Shafiyah lagi begitu lembut.
”Hmmmm?” hanya itu yang keluar dari bibir Wafi.
”Aa Wafi, Fiyah mau bicara sebentar. Boleh a?" tutur Shafiyah dan Wafi melotot, dia berbalik dan memegang dadanya yang berdegup kencang.
”Ambyar dah ini hati,” gumam Wafi lalu berbalik dan melangkah ke dekat pagar. Shafiyah mundur menjauh, dia hampir serangan jantung karena pria itu mendekat padanya. Pagi-pagi begini sudah melihat pria ganteng, entah mimpi apa dia semalam.
”Iya mau ngomong apa neng?" ujar Wafi dan Shafiyah mengeratkan genggaman tangannya pada tali tas nya. Wafi memperhatikan, dan jelas sadar kegugupan yang dialami gadis itu.
”Begini, untuk masalah kemarin. saya minta maaf ya gus, maafin Khalisah ya. Dia memang kalau ngomong suka begitu, saya benar-benar minta maaf,” tutur Shafiyah serak dan Wafi langsung mendelik sebal.
”Kamu apaan sih neng? Khalisah yang salah bukan kamu, satu negara salah, terus kamu yang harus minta maaf. Begitu?"
”Ya enggak juga Gus, tapi kan Khalisah sepupu saya.”
”Iya saya tahu, bukan berarti dia salah kamu yang selalu bertanggung jawab. Biarin dia minta maaf sendiri, itu juga kalau dia punya kesadaran atas kesalahannya. Saya gak mau terima maaf dari kamu Habibah, kamu gak salah." Wafi merasa gemas dan kesal sendiri, karena Shafiyah sangat polos.
”Jangan panggil saya Habibah Gus, kan saya udah bilang jangan." Shafiyah protes.
”Ya biarin, kamu berani ngatur saya?" suara Wafi meninggi.
Deg! Fiyah menciut ketakutan dan Wafi mendengus sebal.” Ya udah deh, terserah Gus mau manggil saya apa saja, terserah!" Shafiyah kesal.
”Ya jangan gitu juga, kesannya saya maksa kamu."
"Dih, gak tahu diri, emang tukang maksa.” Gumam Shafiyah dan Wafi menatapnya, ia buru-buru menunduk takut.
”Mengumpat ya?"
”Enggak.”
”Ya sudah sekarang kamu pergi kuliah, hati-hati di jalan. Dan jangan terlalu polos, hidup itu keras neng. Kamu gak bisa jadi manusia pasrah terus. Nanti kamu di manfaatin, jangan begini lagi. Kamu ngerti?" tutur Wafi lemah lembut dan Shafiyah malah menggeleng kepala.
”Enggak," singkat gadis itu dan Wafi terbelalak melihat nya. Sudah berbicara panjang lebar tapi gadis itu entah polos atau apa.
__ADS_1
”Untung belum saya nikahin kamu,” ucap Wafi dan gemeletuk gigi yang merasa gemas terdengar.
”Lah, emang kenapa Gus?”
”Enggak tahu ah, saya pusing.” Wafi mematikan keran air dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah, tapi dia berhenti dan kembali melangkah mendekati Shafiyah. Shafiyah mundur dan Wafi memegang pagar rumahnya itu.” Satu lagi."
”Apa?" Shafiyah bingung.
”Bales chat saya,” pinta Wafi dan Shafiyah melongo. Pria itu masuk ke dalam rumahnya dan Shafiyah pergi sambil kebingungan. Bayyin cengengesan dan Wafi memperhatikannya.
”Kenapa kamu?" ketus Wafi bertanya.
”Enggak,” ucap Bayyin dan Wafi mendelik.
Di dapur, Raihanah sedang memasak sarapan. Ketiga anaknya berkumpul untuk sarapan bersama, Wafi kerja hari ini. Ikut dengan Raihan.
”A, ini bekal makan siang kamu." Raihanah meletakkan kotak bekal makanan dan Wafi mengangguk.
”Emang aa siang gak pulang?" tanya Bayyin.
”Enggak, bolak-balik boros bensin. Aku pulang sore, jagain umi." Balas Wafi dan Bayyin mengangguk mengiyakan.
”Aku pergi pakai apa, kalau motornya di pake?" ketus Afsheen, dan semuanya menoleh ke arahnya.
”Kamu bisa pergi sama aa, pulang naik angkot kan bisa neng,” ujar Raihanah dan Afsheen mendengus sebal.
”Aku gak mau,” tolak Afsheen.
”Ya sudah kamu pakai motor, aku bisa pakai angkot,” usul Wafi dan Raihanah yang tidak suka.
”Tempat kerja kamu jauh Wafi," ucap Raihanah kesal.” Niyyah, ngalah sama aa kamu dong neng. Jangan gitu,” suara Raihanah lemah lembut dan Afsheen diam.
”Dek, jangan gitu. Kasihan aa kalau naik angkot, kalian bisa berangkat sama-sama. Kalau aa pulangnya pas di jam kamu pulang, kalian bisa pulang bareng juga. Jangan bikin umi sedih terus.” Bayyin berbisik-bisik di telinga Afsheen, mau tidak mau, Afsheen akhirnya pasrah dan terus memasang wajah masam. Wafi nampak sedih dan Raihanah meraih tangan putranya lembut, Wafi menoleh dan berusaha untuk tersenyum.
*****
Gadis itu Shafiyah, mungkin pesan tersebut yang dimaksud Wafi. Sebuah nomor tanpa gambar. Shafiyah akhirnya membuka pesan tersebut.
”Assalamu'alaikum, saya Wafi," hanya itu pesan dari Wafi. Begitu kaku, dan membuat Shafiyah terkekeh.
Ima menoleh dan kebingungan melihat Shafiyah, dia senggol lengan gadis itu dan Shafiyah berhenti.” Kamu kenapa si?” Ima bertanya.
”Enggak,” singkat Shafiyah sambil tersenyum. Tapi tiba-tiba dia memikirkan sesuatu." Eh aku mau tanya."
”Tanya apa?”
”Kalau ada cowok yang bilang 'untung belum saya nikahin kamu' itu maksudnya gimana?” tutur Shafiyah dan Ima menatapnya lekat.
”Berarti cowok itu ada niatan menikahi kamu, siapa yang bilang ke kamu begitu Fiyah? awas, jangan-jangan kang ghosting." Nur memperingatkan, karena dia mengenal Shafiyah. Gadis itu antara polos dan ogeb.
”Kang lebay si lebih tepatnya, si kaku.” Shafiyah tersenyum simpul.
”Heh siapa?" Ima penasaran dan menggoyangkan bahu Shafiyah.
”Sakit, sakit," Shafiyah meringis dan Ima melepaskan kedua bahunya.
”Siapa? cepetan bilang.” Rosa memaksa dan Shafiyah menggeleng kepala, dia tidak mau memberitahu.
”Ah kamu mah rese!" cibir Ima dan Shafiyah terkekeh.
Teman-temannya penasaran, dan Shafiyah cengengesan. Dia paling muda diantara mereka, pulang pergi kadang bersama, karena tinggal di pesantren yang sama.
__ADS_1
Di tempat lain, di sebuah saung beratap jemari berlapis-lapis. Dan di tambah lagi dengan sebuah terpal untuk mencegah hujan masuk. Wafi sedang menikmati makan siangnya, nasi yang sudah dingin, dengan lauk tempe orek dan sambal. Dia mengunyah makanannya lembut dan merogoh sakunya saat hapenya bergetar. Hari ini adalah hari pertama bekerja, melelahkan, dia begitu nampak lunyai.
”Wa'alaikumus Salaam, maaf baru balas," chat balasan dari Shafiyah. Wafi tersenyum dan langsung begitu bersemangat.
”Simpan nomor saya.” Pinta Wafi dan Shafiyah di tempatnya mengernyit, benar-benar ya. Lelaki ini memang selalu memaksa. Shafiyah tidak membalas lagi, dan Wafi juga tidak berharap banyak. Dia dan Shafiyah belum bisa berkomunikasi dengan bebas.
”Saya akan berjuang, saya cukup sadar diri saya siapa dan kamu siapa. Saya memang susah, tapi saya gak akan bikin hidup kamu susah. Setelah saya yakin, saya akan mengutarakan niat saya untuk meminang kamu. Kalau kamu suka, saya akan berjuang. Kalau enggak, semoga Allah membuat rasa suka itu hadir di hati kamu. Hanya untuk saya.” Gumam Wafi, sebuah doa dan harapan yang begitu memaksa.
Sore harinya, Wafi sudah berganti pakaian. Koko putih dan lain sarung berwarna biru membalut tubuh kekar itu, dia diam di depan laundry. Tempat kerjanya Afsheen, menunggu adiknya walaupun dia tahu adiknya tidak suka. Afsheen mendelik, saat melihat kakaknya. Setelah itu, dia pamit kepada bos nya dan keluar dari laundry. Wafi yang duduk di atas motor langsung bangkit, dan menatap semu wajah kesal Afsheen.
”Ayo naik,” ajak Wafi yang sudah duduk kembali.
"Gak usah nunggu aku besok,” ketus Afsheen dan Wafi mengangguk. Afsheen naik, berpegangan pada bahu lebar kakaknya itu, dia tidak sadar dan Wafi tersenyum.
”Sudah?" tanya Wafi dan mesin motor sudah menyala.
"Ya," ucap Afsheen sewot.
Motor pun melaju meninggalkan laundry, sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama diam. Wafi menoleh sekilas, melihat kedai bakso tempat favorit keduanya dulu.
”Kita dulu sering makan bakso di sana ya neng,” ucap Wafi, dia akan berusaha mendekati Afsheen kembali.
”Enggak tahu,” ketus Afsheen menjawab.
”Kamu sering nambah, kamu gemuk banget dulu. Mau makan bakso dulu gak?”
Afsheen menggeleng kepala.
”Atau mau makan es krim? di minimarket, dulu aa sering beliin Niyyah es krim kalau hari Senin, habis jualan kresek di pasar. Mau ya?” begitu semangat pria itu mengajak adiknya, berharap hubungannya dengan Afsheen kembali baik.
Kedua mata Afsheen berkaca-kaca, semakin lama dia tidak tahan.” Aku bilang gak mau, aa kenapa sih?” teriak Afsheen dan Wafi langsung bungkam dengan raut wajah muram.
”Ya udah kalau gak mau, gak usah teriak juga," lirih Wafi serak dan Afsheen menunduk. Keduanya hening, dan air mata Afsheen terus menetes. Sekilas, Wafi melihat adiknya dari kaca spion.
”Niyyah, begitu rendahnya aku, kakak kamu sendiri untuk kamu. Kamu akan segera menikah, dibawa suami kamu. Aku mau hubungan kita baik lagi, sebelum kita jauh lagi.” Gumam Wafi dan kedua mata tajamnya nampak berubah begitu lesu.
Sesampainya di pesantren, motor melaju perlahan. Wafi tersentak dan Afsheen refleks berpegangan saat seorang gadis melintas begitu saja, lalu terjatuh di depan motor.
”Pelan-pelan," protes Afsheen.
”Perasaan udah pelan.” Wafi bingung kenapa gadis itu bisa jatuh, body motor sama sekali tidak menyentuh tubuh gadis itu.
”Aaaagh!" jerit Diva meringis dan Wafi hanya diam. Afsheen memukul bahu kakaknya itu lalu turun.
Afsheen membantu Diva bangkit dan Diva memperhatikan Wafi yang sibuk memperhatikan orang lain, pria itu sedang memperhatikan Shafiyah. Shafiyah baru pulang kuliah, bersama teman-temannya.
”Mana yang sakit neng? maaf ya," ucap Afsheen dan Diva mengangguk.
”Tangan saya sakit,” ucap Diva dan Wafi sama sekali tidak terusik.
”Saya obati," ucap Afsheen. Lalu melirik Wafi yang nampak tidak masalah, padahal Diva jatuh karena ulahnya. Wafi melajukan motor dan berhenti di depan rumah. Afsheen menggeleng kepala lalu mengajak Diva ke teras rumahnya.
”Itu siapa?” tanya Ima bertanya-tanya, melihat Diva bersama Afsheen. Shafiyah menoleh dan ikut memperhatikan.
”Jangan-jangan calon nya Gus mu," ucap Nur dan Shafiyah langsung menunduk. Melihat sahabatnya sedih, Ima tidak tega.
”Ah bukan, itu mah santriwati baru. Masih sekolah juga, gak mungkin calon nya Gus mu.” Rosa menimpali.
”Iya gak mungkin, Gus Mu kan udah punya calon hehe." Ima terkekeh dan Shafiyah mendelik.
”Hah siapa?" Nur penasaran.
__ADS_1
”Ayo kita ke asrama, udah sore. Jangan sampai telat siap-siap sholat magrib." Ajak Shafiyah mengalihkan pembicaraan. Ima tertawa dan melangkah sambil menyenderkan kepalanya di bahu Shafiyah." Apaan sih Ima?” ucap Shafiyah sambil tersenyum.
”Pura-pura dasar,” bibir Ima dan tertawa kembali.