Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 42: Buta karena Dunia


__ADS_3

Wafi diam saat terus di pukul, uminya menangis dan kini berhenti memukul dan malah memeluknya erat. Seorang ibu yang ketakutan anaknya kembali di penjara.


”Istighfar Wafi hiks.... Umi gimana? umi gak mau jauh lagi sama kamu. Kenapa kamu begini? karena kamu gak dapat restu hah? bilang sama umi. Istighfar kamu, bunuh orang kamu Wafi...” Raihanah terus memeluk tubuh anaknya erat, tak mau lagi dia berpisah jauh dengan putranya itu. Wafi menggaruk pelipisnya, lalu membalas pelukan Uminya perlahan.


”Enggak umi, ini salah. Aku enggak begitu, aku gak macam-macam sama kakaknya Shafiyah. Dia kecelakaan, aku tolongin, itu doang umi. Percaya sama aku,” tuturnya menjelaskan dan barulah Raihanah nampak tenang, tapi belum sepenuhnya percaya.


”Yang bener?” tanya Raihanah serak dan Wafi mengangguk.” Umi takut kamu disalahin.”


”In sha Allah enggak, banyak saksi. Do'ain aja semoga kakaknya Shafiyah cepat sembuh.”


”Aamiin ya Allah,” ucap Raihanah dan melepaskan pelukannya. Dia mengajak Wafi duduk agar menceritakan semuanya dengan jelas.


*****


Kondisi Fajar masih lemah, operasinya lancar dan kini dia sedang berbaring ditemani Meri. Dia nampak melamun dan memegang perutnya yang ngilu.


”Dimana Shafiyah?” tanya Fajar serak.


”Kuliah mas, nanti pulang pasti langsung kesini. Bilang sama aku, kenapa bisa kamu terluka. Siapa yang bawa kamu kesini? kata perawat seorang pria, pria siapa?” tutur Meri dan Fajar diam, dia nampak melamun dan juga marah. Meri tidak berani bertanya lagi, ataupun mengeluarkan suara kembali. Dia takut memancing emosi suaminya.


Meri dan Fajar menoleh, Herman dan Sara masuk. Di susul orang tua Farel, dan Farel nya juga. Tatapan Fajar dan Farel beradu, tatapan begitu tajam dan penuh dendam. Farel juga babak belur dan orang tuanya tidak terima.


”Lihat anak saya terluka gara-gara kamu,” tegas ibunya Farel.


”Anda buta? saya bahkan harus di operasi karena anak anda!” tegas Fajar lantang dan Farel menunduk.


”Fajar, yang sopan nak.” Tegur Sara sambil meraih tangan Fajar tapi Fajar menepisnya.


”Ketimbang dibawa ke pihak berwajib, mending kita selesaikan dengan cara kekeluargaan. Kita juga akan besanan kan pak Herman? anak kita akan bersanding. Ini kesalahpahaman, dan saya harap tidak berlarut-larut,” ujar ayahnya Farel. Fajar terbelalak, mengapa ia yang seperti tersangka saat ini.


”Minta maaf sama Farel,” titah Sara dan Fajar mengepalkan tangannya kuat. Meri menunduk merasa sedih, suaminya terluka parah tapi kenapa ibu mertuanya buta hanya karena ungkapan tidak jelas keluarga Farel.


”Ibu, mas Fajar gak salah. Kenapa harus dia yang meminta maaf?” lirih Meri dan Fajar menoleh kearah istrinya, dia tatap sendu istrinya yang kecewa itu.


"Diam Meri!” bisik Sara membentak.” Fajar salah, dia yang memulai duluan. Bahkan merusak hapenya Farel, kami semua meminta maaf kepada nak Farel atas kejadian ini, mohon dimaafkan dan tidak dibahas lagi ya nak,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Farel menunduk sambil tersenyum, senyuman penuh kemenangan dan Fajar rasanya ingin merobek mulut pemuda itu.


Ibunya Farel mendelik, tidak diterima, tapi mau bagaimana lagi. Dia terlanjur membeberkan bahwa ia dan keluarga Sara akan menyambungkan tali kekeluargaan yaitu lewat pernikahan. Yang penting bukan Shafiyah yang melukai putranya, tidak apa. Dia akan memaafkan Fajar.


”Aku anak ibu, tapi kenapa ibu melupakan anak ibu ini hanya karena dunia, hanya karena urusan bisnis. Shafiyah sama saja dengan dijual, anak perempuan satu-satunya, adikku yang sangat cantik begitu malang,” gumam Fajar. Mata kirinya yang membiru dan mata kanannya yang merah nampak berair, sebelum menikah saja Farel sudah seperti ini. Apalagi nanti setelah menikah, setelah pria itu memiliki hak atas adiknya.


”Ayo minta maaf, kamu harus berbesar hati untuk meminta maaf duluan,” ucap ibunya Farel berbisik, Farel mengangguk dan mendekati Fajar, mengulurkan tangannya yang kini bergetar hebat.


”Fajar ayo nak, lihat. Betapa baiknya Farel mau maafin kamu," imbuh Sara.


Herman hanya bisa mengusap dada, melihat tingkah laku Sara dan membuat Fajar terlihat begitu kecewa. Anak mana yang tak sakit, diperlakukan seperti itu. Fajar dan Farel berjabat tangan, Fajar mengeratkan genggaman tangannya, mengerahkan sisa tenaganya dan Farel mengerang keras. Fajar melepaskan tangan itu dan Farel berusaha menahan rasa sakitnya.


”Kenapa?” tanya ibunya Farel dan Farel menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


”Yang penting sekarang aku bisa menikah sama Shafiyah, bodo amat dengan Fajar. Orang tuanya sendiri lebih percaya sama aku,” gumam Fajar, bibir tipisnya terus tersenyum.


******


Setelah selesai kuliah, Shafiyah akan kembali ke rumah sakit. Supir sudah menunggu untuk menjemputnya, dari kejauhan Wafi yang sudah menunggu sedari tadi langsung tersenyum melihat Shafiyah. Tapi dia diam saat melihat Ima mengejar gadis itu.


”Shafiyah, tunggu!" Ima lantang dan akhirnya menghadang langkah Shafiyah, untuk menahan gadis itu. Shafiyah diam dan keduanya saling menatap lekat.


”Kenapa lagi? aku sibuk," ucap Shafiyah.


”Aku mau ngomong sebentar Shafiyah, tolong.” Ima merengek-rengek dan Shafiyah memperhatikannya dengan tatapan sebal.” Apa kamu mau sahabatan lagi sama aku?” tanya Ima serak.


Shafiyah tersenyum kecut mendengarnya, setelah apa yang dilakukan dan dikatakan gadis itu, bisa-bisanya sekarang meminta sahabatan lagi.


”Aku gak bisa, maaf.” Shafiyah melangkah dan Ima memeluknya erat, Shafiyah diam, tidak ada menunjukkan tanda-tanda dia akan membalasnya.


”Aku minta maaf Shafiyah, maafin aku,” suara Ima begitu berat dan kedua matanya berair.


”Aku udah maafin kamu, tapi kalau untuk dekat kayak dulu lagi aku gak bisa. Cari aja orang lain yang bisa kamu jadikan sahabat, terus kamu tikung, dan lukai hatinya. Kamu gak mikirin, sehancur apa aku saat kamu mengkhianati aku Ima. Tolong jangan dekati aku lagi, kamu bisa bertanya dan berbicara seperlunya sama aku, tapi jangan pernah memikirkan kita bisa dekat dan akrab lagi,” tutur Shafiyah dengan suara serak, dia juga sedih tapi dia tidak bisa percaya lagi dengan Ima. Ima tertunduk dalam, dan Shafiyah meninggalkan nya. Shafiyah masuk ke dalam mobil saat supir membukakan pintu, Wafi pun mengendarai motor nya menyusul.


Shafiyah menangis, dia menyeka air matanya berulangkali. Dia meminta supir untuk diam sejenak, dan dia ingin menenangkan diri sebentar. Shafiyah membuka kaca mobil dan dia terkejut saat tangan Wafi muncul sambil mengulurkan satu cup minuman.


”Gus Mu." Shafiyah tersenyum dan langsung membuka pintu lalu keluar.


"Neng neng," ujar supir panik dan Shafiyah tidak perduli.


”Enggak," ucap Shafiyah sambil tersenyum. Lalu menyeka air matanya dengan benar.


”Mau ini gak?" menawarkan minuman di kedua tangannya. Shafiyah mengangguk dan Ima dari kejauhan memperhatikan." Mau yang mana?"


Shafiyah diam, melihat kedua minuman itu bergantian." Mau rasa yang Red Velvet boleh?"


”Boleh, ambil." Wafi tersenyum, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Shafiyah berjinjit dan tidak bisa meraih minuman itu. Gadis itu diam dan cemberut, Wafi tersenyum dan berhenti menggodanya. Dia berikan minuman yang Shafiyah mau dan Shafiyah menariknya hati-hati.” Kakak kamu gimana?"


”Alhamdulillah baik, udah gak apa-apa, tinggal pemulihan. Jangan khawatir ya, Gus harus ikut sama aku sekarang. Gus yang bantuin kak Fajar, kalau Gus gak ada mungkin semuanya sudah terlambat.”


"Enggak Shafiyah, maut itu di tangan Allah."


Shafiyah mengangguk.” Ini bisa kita manfaatkan, untuk membuat keluarga aku yakin kalau kamu orang baik-baik, kamu nolongin kakak aku. Ayo ke rumah sakit sama-sama," ajak Shafiyah begitu antusias.


Wafi menggeleng kepala, lalu tersenyum.” Saya gak mau memanfaatkan kejadian ini, jangan bilang siapa-siapa kalau saya yang bawa kakak kamu ke rumah sakit. Untuk restu, biar saya dapatkan dengan cara yang lain, bukan cara seperti ini.” Wafi terus tersenyum, dia tidak mau mengajarkan Shafiyah memanfaatkan setiap kejadian untuk kepentingan pribadi. Dia tidak mau Habibah nya seperti itu.


Shafiyah terdiam dan terlihat kecewa.” Kenapa harus begini Gus?”


"Saya gak mau dianggap gak tulus nolongin kakak kamu, penilaian orang kan beda-beda. Saya gak mau keluarga kamu memberikan restu karena terpaksa dan merasa berhutang budi," tutur Wafi menjelaskan. Shafiyah mendesah kasar lalu berpaling. Gus Mu sama sekali tidak bisa diajak berkompromi.


”Kenapa harus gini sih?" tanya Shafiyah lagi dan Wafi terkekeh.

__ADS_1


”Pahami apa yang saya ucapkan tadi, pulang gih. Atau mau ke rumah sakit?"


"Iya, aku mau ke rumah sakit."


”Ya udah hati-hati, jangan nangis terus ya. Nanti cantiknya hilang."


"Gus kan gak tahu wajah aku kayak apa, aku jelek loh," ucap Shafiyah seperti anak kecil dan Wafi tergelak.


”Kamu cantik luar biasa, dari sikap, dan tutur kata.” Wafi tersenyum tipis dan Shafiyah meleyot mendengarnya.


”Kalau pas aku di lamar nanti, terus Gus lihat wajah aku jelek gimana?" Shafiyah sangat takut, dia takut Wafi berubah pikiran saat melihat wajahnya.


”Saya tetep nikahin kamu nanti, saya cuma mau sama kamu. Yang cantik fisiknya banyak, tapi gak semua perempuan seperti kamu. Yang memandang semua orang sama dan tidak membeda-bedakan dari masa lalunya, terima kasih sudah mau berjuang. Terima kasih untuk perjuangan yang kamu lakukan, kisah cinta kita belum di mulai Habibah. Cinta bagi saya adalah nanti, saat kita menikah dan bersama.” Wafi begitu tulus berucap, dan Shafiyah menunduk, kedua pipinya merah merona dibalik cadar ya. Bibirnya terus tersenyum dan Wafi tersenyum sambil memandangi kedua kakinya. Keduanya sama-sama menunduk.


Setelah percakapan berakhir, Shafiyah pergi. Wafi diam memperhatikan kepergian mobil mewah itu, dan Shafiyah menikmati minumannya dari Gus Mu. Tidak ada makanan dan minuman mahal yang mampu Wafi berikan, tapi apapun yang dia punya, akan dia berikan untuk pujaannya.


*****


”Kita cari laki-laki lain, kita pasti menemukan pria lebih baik daripada Farel si gila. Berani sekali dia melukai kamu bang,” ujar Qais penuh amarah dan Fajar diam.


”Kita mau cari di mana? gak gampang kali,” ketus Adi, dengan kedua tangan terlipat di dada.


”Terus kamu setuju sama Farel? gila kamu Adi. Ini menyangkut kehidupan Shafiyah, rumah tangga itu bukan sehari dua hari.” Tegas Fajar kesal, dia meringis saat perutnya ngilu dan Qais menunduk.


”Tenang bang," ucap Qais.


”Ya enggak begitu juga, tapi cari jodoh itu gak gampang, dalam waktu singkat? kalau pilihan kita salah gimana?” tutur Adi, Qais dan Fajar diam mendengarnya.


Ketiganya sedang berada di ruangan rawat Fajar, keluarga yang lain pergi, dan ketiganya membicarakan tentang Shafiyah. Fajar sangat ketakutan saat ini.


Ketiganya kini diam membisu, hanya satu pria yang ada dipikiran Fajar. Yaitu Wafi.


Di kediaman Raihanah, semua keluarga sudah berkumpul. Fahira dan keluarganya sudah tiba, beberapa orang sedang memasak untuk makan bersama. Afsheen sedang harap-harap cemas menghadapi pernikahan nya. Salam jauh lebih muda darinya, tapi untuk kedewasaan pria itu luar biasa. Afsheen memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia akan segera melepas masa lajangnya. Afsheen juga mengirimkan undangan pernikahan kepada Shafiyah, dia berharap gadis itu bisa datang dan pasti kakaknya bahagia melihatnya.


”Kamu gugup ya neng?" tanya Fahira dan Afsheen menoleh.


”Iya,” jawab Afsheen sambil tersenyum tipis.


”Jangan stres, bebasin aja kalau ada sesuatu yang bikin gak enak hati. Alhamdulillah, kamu akan segera menjadi seorang istri,” tutur Ahmad dan Afsheen tersenyum malu-malu.


Di lantai dua, Fara dan Faiza sedang berunding untuk beberapa makanan yang akan mereka pesan. Sudah dari jauh-jauh hari dan akan datang dua hari sebelum pernikahan.


”Cukup gak si 500 biji?" tanya Fara.


”Cukup in sha Allah, kan di campur kue lain." Balas Faiza dan Fara mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya sedang berada di lantai dua, rumah Raihanah akan ramai beberapa hari ini. Fara terdiam, terpaku melihat foto kakaknya di dinding, yang mulai usang di makan usia, walaupun piguranya terus diganti dan dibersihkan. Melihat tatapan Fara, Faiza pun menoleh, melihat ke arah mana kedua mata itu memandang.


”Bang, jangan khawatir ya. Anak-anak Abang, kami jagain, kami semua akan tanggungjawab atas mereka. Fara masih nyimpen semua hadiah dari abang, udah lama ya kita pisah. Tapi Fara masih denger jelas suara abang kalau marah, suara Abang kalau ceramah sama ketawa. Abang tahu? Wafi ganteng, lebih ganteng dari abang, tapi lebih manis abang. Bayyin sama Afsheen cantik banget, anak-anak abang mau menikah, in Sha Allah Wafi juga akan segera menyusul kalau udah ada jodohnya." Gumam Fara, bibirnya tersenyum lebar. Rasa rindu yang selalu dia rasakan, bukan tidak ikhlas. Tapi itu adalah sebuah kasih sayang antara saudara yang begitu tulus.

__ADS_1


__ADS_2