
Wafi beranjak dari tempat tidur, di menyambar hapenya untuk menelepon Sabilla. Shafiyah panik, turun perlahan-lahan, lalu memeluk suaminya.
”Fiyah udah jujur, bukan berarti aa harus begini. Aa, Istighfar! Tahan emosi a, tahan amarah, istighfar sayang. Fiyah gak suka lihat aa marah, Fiyah takut.” Shafiyah terus mengusap dada suaminya itu lembut, Wafi berhenti dan menatap ke arah lain. Tatapannya sangat menyeramkan saat ini. Shafiyah yang dia dapatkan susah payah, Shafiyah yang dia jaga setengah mati, bisa-bisanya disakiti oleh sepupunya sendiri.
Sebaik-baiknya pasangan, adalah yang bisa meredakan amarah, bukan pemancing amarah.
”Istighfar,” ucap Shafiyah kembali. Tangan Wafi terulur turun, lalu dia membalas pelukan istrinya. Keduanya saling memeluk dan mengkhawatirkan satu sama lain. Shafiyah kini mendongak dan saling menatap dengan suaminya. ”Fiyah gak apa-apa, cuma lebam, gak berdarah kok. Nanti juga ilang.”
”Kamu kira aku rela?” Suaranya berat.
Shafiyah tersenyum, lalu mengecup leher suaminya itu, sampai Wafi bergidik geli.
”Iya, Fiyah tahu. Aa khawatir, tapi dengan menelepon orang jam segini, di malam pernikahan, apa pantas? Apa perlu juga sampai nelepon? Aa mau marah kan, sama Ning Sabilla? Istighfar a, gak baik, menjalin silaturahmi itu susah, jangan sampai merusak karena masalah sepele,” imbuhnya panjang lebar, dan Wafi malah mendelik.
Shafiyah menangkup kedua pipi suaminya itu, dan Wafi kembali menatapnya. "Sayang, kan sama Fiyah?”
Wafi mengangguk. ”Aku sayang sama kamu habibah.”
”Iya, tahu. Apa bisa, belajar menahan emosi buat kebaikan rumah tangga kita?” pintanya lirih dan Wafi terdiam. ”Bisa?"
”Iya, bisa,” menjawab dengan terpaksa. Shafiyah tersenyum lebar, lalu perlahan-lahan, mengambil hape dari tangan Wafi, dia letakkan di atas meja, lalu mengajak suaminya kembali ke atas kasur. Shafiyah merapat ke tubuh suaminya, Wafi diam, dan rasa kantuknya tiba-tiba lenyap. Dia terus mengusap rambut Shafiyah, sampai istrinya terlelap dalam dekapannya.
****
Keesokan paginya, Afsheen dan Salam pulang. Shafiyah pergi ke kampus, dan Raihanah sedang sarapan bersama Noah dan Sandy. Sandy menjadi sorotan, karena ketampanannya, menurut Noah, Sandy akan tinggal di Indonesia. Dia harus banyak dan memahami bagaimana kehidupan di tanah air, sebelum memimpin perusahaan cabang. Sandy yang memiliki hobi traveling, ingin mengunjungi beberapa tempat di Indonesia yang sudah menjadi incarannya, dia akan berangkat traveling dengan beberapa tempat dari tanah air, dan dari Malaysia.
Wafi sedang duduk bersama ustadz Jaidi, Chairil dan ustadz yang lain di Aula. Wafi mengantar istrinya ke kampus tadi, dia sedang menuliskan sesuatu, entah apa.
”Gus, ngajar santriwati hari ini,” kata ustadz Jaidi.
”Ngapain? Santriwati yang saya mau udah saya dapetin, ngapain saya masih harus ngajar Santriwati, ustadz?” tutur Wafi refleks, dan semua yang mendengarnya melongo.
Ustadz Jaidi tertawa kencang. ”Oh, jadi selama ini, cuma buat bikin luluh neng Shafiyah ya, Gus.” Ustadz Jaidi terkekeh. Wafi menggaruk kepalanya dan tersenyum miring.
”Dasar,” celetuk Ikhsan dan terus tertawa.
”Menurut saya sih, ini bagus ustadz. Jangan terlalu dekat dengan Santriwati ataupun ustadzah, ini berlaku untuk semua pengajar laki-laki, termasuk saya. Saya lihat, banyak santriwati yang terlalu berani kepada pengajar laki-laki, saling bergurau sementara ini jelas di larang, perbuatan yang salah. Beberapa kejadian memalukan, hubungan antara santriwati dan ustadz, ataupun ustadz dengan ustadzah, bukannya kita harus memberikan contoh yang baik? Kalau pengajar nya sendiri ketahuan menjalin hubungan di luar pernikahan, bagaimana jadinya anak didik kita,” tutur Wafi menjelaskan.
”Bukannya kedekatan antara pengajar dan anak didik itu baik, Gus?” sahut ustadz muda.
”Saya tidak menyalahkan kedekatan dalam bentuk silaturahmi, tapi yang saya maksud di luar jalur, ustadz,” timpal Wafi cepat. Obrolan sepertinya mulai memanas, ditambah Chairil yang merasa tersindir. ”Kalau ada ketertarikan khusus, antara ustadz dengan santriwati, atau ustadz dengan ustadzah, apa tidak bisa menempuh jalan yang baik? Ta'aruf, bukannya ini jalan terbaik, tapi kalau hanya untuk sekadar bergurau berlebihan, timbul syahwat yang tidak diperkenankan, namanya juga manusia, bisa lupa dan khilaf,” sambungnya keras.
”Bener sih apa yang dibilang Gus Mu, pesantren Al Bidayah mulai kehilangan para anak didik yang menjunjung tinggi rasa malu, ini keadaan serius menurut saya. Pengajar tidak dilarang untuk berprilaku baik kepada anak didiknya, hanya saja, kita harus bisa menjaga kewibawaan, dan rasa malu,” imbuh Ikhlas meneruskan.
Semuanya mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
”Jadi, apa pemberlakuan ini akan kita bahas dalam rapat kapan, Gus?” imbuh ustadz Jaidi.
”In sha Allah, malam ini. Kita bahas semuanya dengan baik, secara rinci, kelebihan dan kekurangan pengajar, untuk ilmu saya juga sangat miskin. Tapi ilmu bisa tergerus dengan berkurangnya rasa malu, mohon diinfokan kepada semuanya, kita adalah rapat malam ini, semoga semuanya lancar,” tutur Wafi dan semuanya mengaminkan.
Setelah obrolan selesai, semuanya bubar. Wafi melangkah perlahan, memperhatikan sekitar. Ikhsan menyusul dan merangkul bahunya.
”Mu, kamu sengaja nyindir?” tanya Ikhsan dan kening Wafi mengerut, ia tak paham.
”Hah! Apa? Menyindir siapa?” balik bertanya.
”Kamu membahas tengang ketertarikan antara ustadz dan ustadzah, sementara Chairil sama Romlah kemarin kan..” Tersekat.
Wafi berhenti melangkah dan menatap Ikhsan lekat. ”Asstaghfirullah hal adzim, demi Allah, aku gak ada maksud menyindir siapapun. Obrolan tadi aja refleks, karena memang ini menjadi kekhawatiran aku selama ini, untuk menyindir, sama sekali gak ada niatan begitu,” ia panik sendiri.
Ikhsan terkekeh-kekeh dan menepuk bahu Wafi. "Iya, aku percaya, mana mungkin kamu begitu, Mu. Biar aku jelaskan nanti, kalau ada kesalahpahaman, antara kamu dan Chairil,” ujar Ikhsan dan Wafi nampak tidak tenang.
Di teras rumah, Raihanah masih mengobrol dengan Noah dan Sandy.
”Aku besok pulang,” kata Noah dan Raihanah terbelalak.
”Cepet banget,” ucap Raihanah sinis. ”Seminggu dong.”
”Enggak! Kamu mau Jane ngomel terus apa, aku pulang besok soalnya, aku cuma nganterin Sandy.” Tangannya menepuk bahu anaknya itu. ”Sandy, jangan bikin ulah, jaga sikap, sesekali datang ke sini, temuin bibi kamu.”
”Iya siap, ayah." Sandy tersenyum.
****
Khalisah tertunduk dalam, mendengarkan ucapan ayahnya. Ayahnya sudah meminta Chairil datang, membawa pulang Khalisah dan Nurul.
”Apa abi gak punya perasaan? Anaknya di selingkuhi, terus abi seenaknya minta suami Khalisah datang, tanpa persetujuan Khalisah lebih dulu?” Dengan lancang dia menyela ucapan ayahnya.
”Demi Allah, abi tidak suka melihat sikap kamu. Jangan terus meratapi kesalahan suami kamu, lihat juga kesalahan kamu apa, nak. Sikap kamu yang kasar, ucapan kamu yang tidak bisa dijaga, mau kamu menikah dengan pria sebaik apapun, mereka tidak akan kuat, dan pasti akan berpaling, dalam Islam, memiliki istri lebih dari
satu itu bukan sebuah dosa," serunya lantang.
Khalisah berkaca-kaca, karena abinya lebih membela suaminya. ”Abi jahat!"
”Kamu yang jahat, hati, pikiran dan mulut kamu yang jahat. Asstaghfirullah hal adzim, seumur hidup kamu, apa abi sama umi pernah mengajari hal begini Khalisah? Jika umi kamu memiliki sikap seperti kamu, bukan tidak mungkin, abi juga akan menikah lagi.”
”Iya, abi sama saja sama a Chairil."
”Bukan... Tapi karena kamu para suami juga butuh dihargai, diperlakukan seperti manusia, bukan dituntut untuk nafkah semata. Mau apa kamu sekarang? Mau cerai, hah!!” Berteriak-teriak frustasi.
Khalisah menangis sejadi-jadinya, dan dia belum pernah melihat abinya marah sampai seperti itu, sebelumnya.
__ADS_1
”Salat, minta petunjuk sama Allah, harapan kita yang utama dan selamanya, hanya Allah, Khalis. Allah tahu Chairil yang terbaik atau bukan, kurang sabar apa pria itu? Dengan semua tingkah laku kamu, apa dia pernah mengeluh? Jika dia ingin menikah lagi, sampai mendekati gadis lain, harusnya kamu sadar diri, apa penyebab suami kamu berpaling? Tidak mungkin, sudah memiliki istri baik, shalihah, seorang suami mau menikah lagi. Kecuali karena berniat menolong, tidak ada manusia yang bisa sabar Khalisah, termasuk kamu,” tuturnya untuk yang terakhir. Pria bertubuh gemuk itu bangkit dan meninggalkan Khalisah yang terus menangis. Khalisah tak kuasa, membendung air matanya. Dan sekarang, suara motor sudah terdengar, Chairil sudah sampai, setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam. Betapa senangnya pria itu, saat ayah mertuanya, memintanya datang.
*****
Di kediaman keluarga Bu Nyai. Shafiyah sedang membantu suaminya memasukkan kue kering ke dalam toples, Shafiyah memperhatikan tubuh suaminya, yang semakin berisi, tapi bukan buncit.
”Sayang, istirahat,” titah Wafi.
”Enggak, mau bantuin abi.”
”Yeah! Kamu mah emang bandel ya!” Tangannya bergerak, mencubit hidung mancung istrinya gemas, gemeletuk gigi pun terdengar, betapa gemasnya sang suami kepada istrinya yang nakal. ”Ini udah jam berapa sayang?"
”Baru jam 9, kasihan abi kalau kerja sendiri, Fiyah bantuin." Dia bersikukuh.
”Ya udah deh terserah, perut kamu ngilu lagi gak?”
”Enggak bi, anak-anak kita anteng beberapa hari ini, kalau kata Umi sih, lagi siap-siap buat keluar."
”Mudah-mudahan lancar ya sayang, semoga dua-duanya mirip aku." Wafi tertawa.
”Enak aja, aku yang hamil." Shafiyah mendelik sebal.
”Kan aku yang nanam." Wafi terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
”Enggak! Pokoknya harus mirip aku." Shafiyah mendelik lagi dan Wafi tersenyum, Wafi memperhatikan istrinya itu kembali, yang sibuk memasukkan kue, semakin lama, Shafiyah semakin merasa pegal. Dia berhenti, lalu menikmati kue kering tersebar, sambil terus menggoyangkan kepalanya ke kanan-kiri, karena sangat enak.
Wafi terus tersenyum memperhatikan.
Waktu berlalu, malam semakin larut, setelah selesai. Wafi mengajak istrinya ke lantai dua, untuk segera tidur.
Pukul 3 dini hari. Shafiyah terbangun, dia memperhatikan suaminya yang sudah mandi, dan bersiap untuk ke masjid, melihat istrinya terjaga, membuat Wafi cukup tersentak dibuatnya.
”Abi udah siap?” tanyanya serak.
”Iya,” jawab Wafi seraya mendekat. "Kenapa?” ia bertanya, karena melihat Shafiyah meringis.
”Apa sekarang waktunya ya bi? Sakitnya makin terasa,” ia mengeluh dan Wafi panik. Dia sentuh, perut istrinya itu lembut.
”Siap-siap,” imbuh Wafi.
”Enggak bi, kita tunggu aja sampai jam 6, kalau makin ngilu, berarti bener, Fiyah mau lahiran. Abi pergi aja, ngajar dulu. Bilang sama ustadzah, Fiyah gak bisa ngajar subuh ini,” tutur Shafiyah tapi Wafi sepertinya ragu untuk meninggalkannya. "Abi cepetan pergi.”
”Mana hape kamu neng, jangan jauh-jauh sama hape, kalau sebelum subuh sakitnya masih kerasa, telpon aa ya," lirihnya meminta, seraya terus membelai rambut istrinya. Shafiyah mengangguk dan menunjuk tas nya yang menggantung, hapenya ada di sana dan Wafi lekas mengambilkannya.
”Aduh neng, nanti aja deh, aku pergi ke masjid,” imbuh Wafi dan memeluk Shafiyah erat.
__ADS_1
”Abi pergi aja, Fiyah gak apa-apa, bantuin Fiyah ke lantai satu dulu, Fiyah mau sama umi aja, biar abi gak khawatir ya,” imbuhnya serak dan Wafi semakin khawatir untuk meninggalkannya.