
Shafiyah tertunduk dalam, nampak murung di hari bahagianya. Bagaimana dia bisa bahagia sepenuhnya, kedua kakak dan ibunya tidak hadir di hari membahagiakan ini. Kedua mata Shafiyah sudah merah, dia hanya bisa memijat keningnya berulangkali, mengepal tangan dan meminum air botol nya. Untuk meredakan rasa gugup dan sedihnya.
Balutan gaun berwarna putih sederhana dan syar'i, hiasan wajah yang alakadarnya, mahkota kecil bertengger di atas kepalanya. Shafiyah begitu cantik hari ini, begitu pangling karena gadis itu tidak pernah memoles wajah cantiknya yang setiap saat tertutup cadar. Cadar berwarna putih pun kini menjadi penghalang untuk wajah cantiknya.
”Foto dulu Fiyah," tutur Meri.
”Dari tadi foto terus." Protes Shafiyah tapi akhirnya dia berdiri. Meri tersenyum, mengarahkan Shafiyah agar bergaya sedikit.
”Tahan,” ucap Meri.
Di depan gedung KUA, mempelai pria beserta keluarganya sudah sampai. Raihanah terus merapihkan baju putranya itu dan Wafi hanya diam. Rambut gondrong nya di potong pendek, begitu rapi. Wafi tersenyum saat melihat Elang dan keluarganya. Tidak ada karyawan yang diundang, acara pernikahan sederhana yang kehadiran tamu pun ditunggu atas dasar sukarela. Tidak ada desas-desus rencana pernikahan tersebut ditengah-tengah masyarakat, saat lamaran pun dilaksanakan dengan sederhana dua hari sebelum mendaftar kelengkapan persyaratan pernikahan di KUA. Pihak keluarga perempuan maupun laki-laki memang tidak mau kabar gembira tersebut tersebar, sebelum benar-benar yakin pernikahan akan di gelar.
”Si Mumu mau nikah,” ucap Mail menggoda. Wafi menyikut dada sahabatnya itu dan Mail hanya terkekeh, Kamila tidak hadir karena dari semalam mengeluh perutnya sakit, Mail datang pun dipaksa oleh Kamila. Mana mungkin dia tega, membiarkan Mail tidak hadir di acara pernikahan sahabatnya sendiri.
”Yang bener kamu nanti ijab qobul, jangan bikin malu," tutur Noah memberikan peringatan dan Wafi hanya cemberut.
Semuanya masuk ke dalam kantor KUA. Beristirahat sejenak dan ijab qobul sudah siap dilaksanakan, Raihanah memperhatikan Wafi dengan seksama. Begitu tampan dan gagahnya putranya itu hari ini. Pak penghulu membuka acara dengan petuah bijak tentang pernikahan, adab suami dan istri serta yang lainnya. Wafi diam mendengarkan, begitu juga dengan Shafiyah, gadis itu di tahan di sebuah ruangan. Belum bisa melihat Wafi, ataupun sekedar mengintip.
”Sudah siap?" tanya pak penghulu dan Wafi mengangguk.
Wafi mengangkat kepalanya sejenak, menatap Herman yang nampak murung, karena dia tidak bisa membujuk Sara untuk hadir di acara pernikahan anak perempuan satu-satunya. Sara bersikukuh mempertahankan keegoisannya. Herman bisa membayangkan, betapa sedihnya Shafiyah saat ini.
Wafi dan Herman kini berjabat tangan, semua tamu ikut degdegan melihatnya. Mail nampak terharu melihat sahabatnya akan menikah, dia yang tahu bagaimana perjuangan Wafi selama ini dan akhirnya perjuangan tersebut tak sia-sia. Dengan ikhtiar dibarengi doa.
”Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau ananda Muhammad Wafi Muzammil Ali Majdi Bin Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi, dengan putri saya Shafiyah Ummu Habibah Binti Herman Affandie dengan mas kawin 50 gram emas di bayar tunai," ucap Herman dengan suara serak.
”Saya terima nikah dan kawinnya Shafiyah Ummu Habibah Binti Herman Affandie dengan mas kawin 50 gram emas dibayar tunai,” balas Wafi dengan suara lantang, jelas, dalam satu tarikan nafas.
”Bagaimana saksi, sah?”
”Sah!!” seru semua orang.
”Alhamdulillah,” ucap Raihanah sambil bercucuran air mata. Wafi menunduk dan bahunya di tepuk Noah berulangkali. Semua orang menadahkan tangan untuk berdoa.
Di tempatnya, Shafiyah menangis. Dia terus menatap pintu gerbang kantor KUA. Berharap keluarganya yang lain datang, tapi tak kunjung terlihat.
”Bu, Fiyah nikah. Ibu beneran gak mau lihat." Gumam Shafiyah, lalu mengusap air matanya perlahan. Shafiyah menadahkan tangannya dan mendengarkan setiap doa, lalu mengaminkannya. Dia sudah sah menjadi istri dari Gus Mu, pernikahan yang dia idam-idamkan akhirnya terjadi. Suasana bahagia berbalut duka, dengan tidak hadirnya ibu dari pihak perempuan, membuat banyak orang bisa menyimpulkan, pernikahan tersebut tidak direstui, apalagi semua orang tahu tentang masa lalu Wafi.
”Ayo Shafiyah, kamu bisa keluar sekarang.” Ajak Rosa yang menemani Shafiyah sedari tadi. Shafiyah diam, dia sangat gugup sekarang. Tidak lama Meri datang, dan memaksa adik iparnya untuk segera keluar.
Sementara Wafi terus menunduk, dia sangat ingin melihat Shafiyah, tapi dia begitu lemah dan tidak berani sekarang.
”Wafi, itu istri kamu," bisik Ikhsan. Wafi menggeleng kepala dan tetap menunduk.” Malu dia," ejek Ikhsan dan sontak saja Wafi tersenyum.
”Masya Allah," seru semuanya dan terus menatap Shafiyah penuh kekaguman. Herman tersenyum lebar memperhatikan putrinya, Shafiyah juga sama seperti Wafi. Belum sanggup menatap suaminya itu, dia bisa membayangkan betapa gagahnya Wafi saat ini.
”Silahkan," ucap pak penghulu.
Wafi langsung bergeser saat Shafiyah duduk di sebelahnya.
”Heh, kok malah jauh-jauh si," protes Bayyin sambil memukul lengan Wafi. Wafi refleks melakukannya, dia bahkan terus membuang pandangan.
”Dia istri aa sekarang, Fiyah cantik banget. Lihat tuh," seru Afsheen dan Wafi menggeleng kepala.
Shafiyah hanya tersenyum dibalik cadarnya, lalu dia menandatangani beberapa lembar kertas. Saat mendengar suara Shafiyah, Wafi berkeringat dingin. Raihanah bahkan harus mengusap peluh di tengkuk putranya itu.
Setelah selesai, keduanya menerima buku nikah. Keduanya diminta berdiri dan sama-sama tidak saling menegur.
”Wafi," ucap Raihanah merasa geregetan sendiri melihat putranya. Wafi dipaksa berhadapan dengan Shafiyah tapi tatapannya terus ke langit-langit ruangan.
”Pegang ubun-ubun nya,” kata Ikhsan, dan Wafi terus mengepal tangannya yang berkeringat, tangannya bahkan bergetar saat ini.
”Gue aja yang pegang!" seru Mail langsung berdiri dan Wafi meliriknya tajam. Wafi akhirnya menjatuhkan telapak tangannya di ubun-ubun istrinya, tidak berani menatap begitu juga dengan Shafiyah, gadis itu terus menunduk gugup.
”Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih,” tutur Wafi serak. Masih lekat dalam benaknya, awal mula dia tertarik kepada gadis itu, mencari tahu semua tentangnya, sampai berjuang dan sekarang gadis itu sudah menjadi istrinya. Dia masih tetap tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, tapi sekarang tangannya berada di ubun-ubun istrinya. Setelah selesai Wafi melepaskannya, Shafiyah diam dan melirik tangan Wafi sekelebat.
”Salami tangan suami kamu.” Titan Fajar. Shafiyah menggerakkan tangannya tapi tak kunjung meraih tangan Wafi, Wafi juga tak kunjung mengulurkan tangannya.
”Nanti, nanti," ucap Wafi gugup.
”Asstaghfirullah hal adzim, sekarang!" suara Raihanah terdengar kesal.
”Nanti umi nanti,” ucap Wafi merengek tapi Raihanah mencekal pergelangan tangannya. Lalu meraih tangan Shafiyah, memaksa kedua tangan itu agar berjabat tangan. Shafiyah terkekeh saat merasakan keringat di tangan suaminya. Dan Wafi mendelik sebal. Shafiyah akhirnya mencium punggung tangan suaminya, Wafi bergidik geli walaupun bibir itu terhalang kain cadar. Raihanah menarik bahu putranya, menekan pipi kiri putranya itu sampai pipi kanannya menempel di pipi kiri Shafiyah. Keduanya cengengesan dan Raihanah menahannya beberapa detik agar fotografer gadungan bisa mengabadikan momen tersebut.
Gelak tawa terdengar dalam acara pernikahan sederhana tersebut, karena melihat pasangan suami istri baru itu sama-sama pemalu. Setelah acara sungkeman yang begitu mengharukan, semuanya pergi meninggalkan kantor KUA menuju kediaman Bu nyai. Dimana kerabat yang lain sudah menunggu di sana.
Mobil Wafi dikendarai oleh Wafi sendiri, di sebelahnya Shafiyah diam dan Wafi terus berdehem berusaha keras menetralkan rasa gugup yang semakin menjadi-jadi, harusnya ada yang ikut mobilnya tadi, mungkin situasi tidak setegang ini.
”Fiyah haus,” ucap Shafiyah. Wafi tersentak sampai membanting setir mobil, tangan satunya menahan perut Shafiyah, agar gadis itu tidak terluka, dan bisa saja terbentur body mobil." Pelan-pelan, asstaghfirullah!!" jerit Shafiyah.
”Maaf, maaf. Saya kaget, kamu ngomong mendadak begitu."
”Aa nyalahin Fiyah? orang cuma bilang haus.”
__ADS_1
”Ya enggak. Alhamdulillah gak kenapa-kenapa," ucapnya lirih. Mail dan Rangga yang mengendarai motor berhenti di depan mobil, dan melangkah mendekat. Wafi menurunkan kaca mobil dan Mail memperhatikan keduanya.
”Kenapa?” tanya Mail." Baru aja nikah udah oleng.”
”Enggak, duluan sana!" jawab Wafi sambil mengusir sahabatnya itu. Mail cengengesan melihat tangan Wafi masih memeluk dan menahan perut Shafiyah, Wafi dan Shafiyah kebingungan. Sampai Shafiyah menunduk dan melihat tangan pria itu di perutnya, dengan cepat Shafiyah menepisnya kasat dan Wafi kaget. Mail tertawa renyah melihat keduanya.
”Ya udah deh, gue gak bakal ganggu,” kata Mail seraya meleos pergi. Mail melambaikan tangan saat rombongan yang lain kebingungan melihat mobil pengantin berhenti, Raihanah sampai khawatir sekarang. Wafi pun lekas melajukan mobilnya kembali, memimpin kendaraan yang lain.
”Ada air minum di belakang, coba lihat." Titah Wafi dan melirik Shafiyah sekilas. Shafiyah menoleh ke belakang dan berusaha meraih air botol mineral sampai dia mendapatkannya. Keduanya diam kembali dan akhirnya sampai di tempat tujuan, semua orang sudah menunggu dengan raut wajah suka cita. Shafiyah diam dan merasa malu untuk keluar, banyak santriwati yang memperhatikan juga saat ini.
Wafi keluar lebih dulu dan semuanya bersorak gembira melihat pengantin laki-laki itu, Wafi membukakan pintu mobil dan Shafiyah tak kunjung keluar.
”Ayo neng," ucap Wafi.
”Malu ih,” ucap Shafiyah pelan.
”Enggak apa-apa, ayo,” ajak Wafi kembali dan Shafiyah tetap diam. Kedua matanya sibuk memperhatikan semua kerabat suaminya, Wafi dengan gugup dan canggung akhirnya memberanikan diri meraih jemari lentik itu, dan Shafiyah reflek mengenggam tangan suaminya.
Shafiyah akhirnya keluar dengan mata yang terus memperhatikan wajah suaminya. Wafi menoleh dan tatapan keduanya bertemu. Wafi menutup pintu mobil dan Shafiyah masih menatapnya lekat.
”Ayo masuk, silakan," ujar Raihanah mempersilahkan. Wafi dan Shafiyah langsung tersadar dari lamunan dan sama-sama menunduk. Saling melepas genggaman tangan dan melangkah masuk melewati pagar rumah, Shafiyah langsung di sapa semua kerabat Wafi, dan dipeluk serta mendapatkan ucapan selamat.
Semua hidangan sederhana sudah disiapkan, kue dan potongan buah semangka juga. Shafiyah dan Wafi kini terpisah, Shafiyah langsung dibawa masuk bertemu dengan kerabat yang lain, sementara Wafi mengobrol dengan kerabat dan teman-temannya.
”Makan dulu ya neng," ucap Raihanah, dan Shafiyah diam sejenak.
”Nanti aja Bu nyai,” jawab Shafiyah.
”Manggilnya 'umi' ya sekarang,” tegur Afsheen dan Shafiyah menunduk.
”Maaf Umi,” ucap Shafiyah dan Raihanah tersenyum.
Raihanah pun pergi ke luar untuk meminta Wafi menemani Shafiyah makan, karena Wafi juga belum makan sedari pagi.
”A, temenin si neng makan,” ucap Raihanah. Wafi menoleh dan mengangguk.
Sementara Mail nampak tegang saat membaca pesan dari ibu mertuanya, Kamila sudah dibawa ke klinik, istrinya akan melahirkan anak pertama mereka.
”Mail, makan dulu.” Ajak Wafi.
”Enggak deh, gue pulang ya." Balas Mail serak.
”Yeh makan dulu.” Wafi memaksa.
”Kamila mau lahiran, gue mau ke klinik.”
Keluarga Shafiyah juga sedang makan, Shafiyah diam dan memperhatikan sekitarnya. Wafi mendekat membawa satu piring berisi nasi dan lauk pauk.
”Makan dulu," ucap Wafi sambil menyodorkan piring. Shafiyah menarik jubah suaminya itu, karena jas yang Wafi pakai sudah dilepas. Wafi sampai langsung duduk di hadapan istrinya.
”Temenin,” ucap Shafiyah dan Wafi tersenyum lalu mengangguk. Akhirnya keduanya makan bersama, di satu piring yang sama dan sendok yang sama, walaupun harus bergantian keduanya menikmati suasana yang baru pertama kali keduanya lakukan.
”Mau nambah?" tanya Wafi.
”Gus belum kenyang ya?"
”Iya." Wafi begitu jujur dan Shafiyah mencubit lengannya.” Ambil gih."
”Ih malu, Gus aja sana."
"Oh berani nyuruh nyuruh ya, baru juga nikah.”
”Ih, rese!" Shafiyah cemberut dan Wafi tersenyum. Wafi akhirnya pergi, Shafiyah diam menunggu sampai suaminya kembali. Setelah Wafi kembali, keduanya melanjutkan kegiatan. Dengan diperhatikan banyak orang, setelah makan keduanya mengambil foto bersama memakai hape Shafiyah. Mengabadikan momen bahagia, sangat penting. Semuanya naik untuk mengambil foto bersama di pelaminan sederhana, saat Wafi dan Shafiyah harus mengabadikan momen bahagia keduanya dengan sangat rapat di hadapan semua orang, keduanya gugup sampai Radit yang menjadi fotografer dadakan capek sendiri mengarahkan. Hasil jepretannya sangat bagus, Wafi tahu itu dan sudah sepakat hasil foto pernikahan nya akan dipromosikan oleh Radit, yang sedang memang sangat ingin menjadi seorang fotografer terkenal, tapi belum banyak yang percaya pada bakatnya.
Semua orang nampak bahagia, Fajar dan keluarganya pulang lebih dulu, Herman dan Burhan masih ada dan sekarang juga akan pulang.
”Jaga diri, jaga lisan, jaga perilaku. Kamu istri dari seorang Gus, bagian dari keluarga Bu nyai. Kakek percaya kamu anak baik, tapi kadang kita sering melakukan kesalahan, ingat perjuangan kamu untuk bersama dengan pria yang kamu suka gak gampang. Jadilah istri yang penurut, apapun yang suami kamu bilang karena dia gak akan menjerumuskan kamu ke dalam kesalahan,” tutur Burhan yang sedang memeluk Shafiyah erat. Shafiyah mengangguk dan dia menangis saat ini.
”Jaga anak saya, dia manja, tapi saya yakin dia bisa mandiri, karena dia juga di didik untuk mandiri selama mondok di pesantren ini. Titip anak saya,” ucap Herman, sambil menepuk-nepuk bahu menantunya yang sedang dia peluk itu. Wafi hanya mengangguk dan membalas pelukan ayah mertuanya.
Herman melepaskan pelukannya dan beralih memeluk putrinya." Ayah pulang ya nak.”
”Nanti Fiyah main ke rumah sama Gus Mu, boleh kan ayah?" ucap Shafiyah serak.
”Iya, datang kapanpun kalian mau ya.” Balas Herman dan Shafiyah mengangguk.
Shafiyah akhirnya diam, harus melepas kepulangan keluarganya. Dia pendiam sampai akhirnya rombongan teman-temannya datang, teman kuliah dan teman mondok nya termasuk Ima. Shafiyah meladeni apapun yang ditanyakan Ima, tapi tidak bisa akrab seperti dulu.
”Selamat Shafiyah,” kata Nur sambil memberikan sebuah kado. Lalu disusul Rosa.
”Makasih ya,” ucap Shafiyah begitu antusias. Dan meletakkan kado diantara kado yang lain, walaupun pernikahan sangat sederhana, Wafi tetap membuat hantaran pernikahan sebanyak 50 hantaran sederhana. Pakaian, kosmetik, tas, sepatu, dan yang lainnya. Kakak-kakak Shafiyah memang tidak datang, tapi Seno yang tidak tega meminta Meri membelikan barang-barang elektronik seperti kulkas, televisi dan ranjang, beserta kasurnya yang kini sudah sampai di depan rumah. Dari kedua kakak lelakinya Adi dan Qais, uang tunai yang diberikan keduanya dan dititipkan kepada Fajar. Sementara Sara sama sekali tidak mau memberikan apapun, walaupun bukan itu yang penting, tapi kehadirannya yang sangat diidamkan Shafiyah.
Setelah mengobrol lumayan lama, Shafiyah meminta teman-temannya untuk makan terlebih dahulu. Dan setelah itu mereka semua pergi meninggalkan rumah tersebut, satu jam lagi waktu Dzuhur tiba. Waktu berjalan terasa begitu cepat, Shafiyah memperhatikan suaminya yang sibuk dengan teman-temannya dan akhirnya dia mendekati Bayyin.
__ADS_1
”Ning, Fiyah mau istirahat sebentar. Dimana ya?” tanya Shafiyah malu-malu.
”Itu kamarnya aa." Tunjuk Bayyin.
”Oh iya, makasih,” ucap Shafiyah sambil tersenyum. Shafiyah pun melangkah pergi menuju ke kamar, sambil menenteng tas nya yang paling kecil berisi pakaian dan make up nya, sepasang mata tajam suaminya diam-diam memperhatikan. Wafi pun bangkit dari duduknya untuk menyusul istrinya.
Saat masuk ke kamar, Shafiyah diam memperhatikan seisi kamar tersebut. Begitu rapi, bersih dan wangi. Tidak ada dekorasi yang istimewa, Shafiyah akhirnya duduk dan tersentak saat pintu terbuka, sosok suaminya muncul lalu masuk dan menutup pintu. Shafiyah bangkit dari duduknya dan saat Wafi berbalik, tatapan keduanya bertemu.
Keduanya sama-sama gugup, dan menghindar adalah pilihan Shafiyah.” Fiyah keluar ya,” ucap gadis itu. Dia melangkah tapi Wafi mengunci pintu. Shafiyah panik dan mundur menjauh.
”Jangan begini, serem tahu.” Protes Shafiyah lalu menutup kedua matanya dengan kedua tangannya, Wafi terkekeh geli melihat nya.
”Enggak mau ngobrol?"
”Enggak!”
”Bener?”
”Iya, Fiyah mau keluar.”
”Ngobrol dulu sini." Ajak Wafi yang sudah duduk di tepi ranjang tapi Shafiyah tetap tidak mau, gadis itu terus menggeleng kepala dan Wafi bangkit lalu mendekatinya.
Kini keduanya berhadapan, Wafi menarik kedua tangan gadis itu lembut dan Shafiyah tetap menutup matanya. Wafi juga gugup, tapi dia sudah memiliki hak untuk menyentuh Shafiyah, lebih dari itu juga tidak masalah.
”Gugup ya?” tanya Wafi dan Shafiyah reflek mengangguk, tapi tidak lama gadis itu menggeleng kepala.” Suami kamu ini, mau lihat wajah istrinya. Boleh?”
”Enggak mau, malu,”
”Malu kenapa?”
”Nanti aja.”
”Nanti kapan hmmm?”
Shafiyah akhirnya membuka matanya, karena kedua tangannya tak kunjung dilepas suaminya. Kini tatapan suami istri itupun beradu, Shafiyah seolah sihir begitu juga dengan Wafi. Kedua mata indah milik Shafiyah yang sudah bisa dia pandangi selama mungkin sekarang, kedua tangan Shafiyah akhirnya terlepas. Dan tatapan keduanya pun terus berlangsung.
Wafi menggerakan tangannya, menyentuh ujung cadar istrinya.” Boleh?” tanyanya serak.
”Iya,” ucap Shafiyah memberi izin. Wafi tersenyum dan kedua mata Shafiyah membulat saat pria itu mendekatkan bibirnya ke keningnya.
Cup! kecupan lembut dan mesra mendarat di kening Shafiyah, gadis itu memejamkan matanya, menikmati kecupan mesra dari suaminya. Kedua mata Wafi juga tertutup, dia melepaskan kecupannya dan kedua mata Shafiyah terbuka.
Wafi terus memandangi kedua mata istrinya, dan perlahan melepaskan mahkota kecil dari atas kerudung Shafiyah. Agar dia bisa membuka cadar berwarna putih itu.
”Malu,” ucap Shafiyah lembut dan memegang tangan Wafi yang sudah menyentuh tali cadarnya, yang terikat.
”Baru cadar, belum baju.” Gumam Wafi.
Wafi menangkup kedua pipi istrinya dan Shafiyah menatapnya lekat.” Saya suami kamu, jangan malu-malu kalau sama suami.”
Shafiyah mengerucutkan bibirnya, bukannya pria itu yang sangat pemalu, sampai menyentuh tangannya saja tadi setelah akad begitu tidak berani, sampai tangannya Tremor.
Shafiyah akhirnya diam, dan..
Cup! satu kecupan lagi dia dapatkan di hidungnya yang masih terhalang cadar. Wafi perlahan membuka ikatan tali cadar dan Shafiyah tidak sadar, Wafi menjauhkan bibirnya dari hidung Shafiyah dan sekarang dia sudah memegang kedua tapi cadar tersebut, dan siap untuk melihat wajah istrinya.
Cadar itupun dia turunkan, sampai wajah Shafiyah kini tidak terhalang lagi. Shafiyah menunduk dan Wafi melemparkan cadar ke atas ranjang, namun tidak mendarat dengan sempurna. Hanya tangannya yang bergerak, tapi kedua matanya sangat fokus memperhatikan wajah Shafiyah. Shafiyah diam, sesekali mengangkat kepalanya dan dia gugup di tatap seperti itu oleh Wafi.
”Masya Allah, kok lebih cantik aslinya si. Daripada di foto,” ucap Wafi sambil tersenyum.
”Issh malu, jangan lihat Fiyah begitu!” protes gadis itu dan berbalik badan, membelakangi suaminya. Wafi menarik lengan Shafiyah agar berbalik dan Shafiyah tidak mau.” Gus keluar ya.”
”Saya di usir?”
”Enggak, bukan begitu.”
”Lihat saya dulu sini.”
”Enggak mau.”
”Saya belum jelas lihat wajah kamu, sini,” ucap Wafi beralasan.
Shafiyah tetap tidak mau, sampai akhirnya Wafi menggendong gadis itu dan Shafiyah memukul dadanya.
”Mau turun Gus."
”Duduk,” ucap Wafi sambil mendudukkan Shafiyah di tepi ranjang. Shafiyah menyilang kan kedua tangannya di dada, saat melihat Wafi melepas jas nya.
"Jangan om." Celetuk gadis itu dan Wafi terbelalak.
”Om, om. Enak aja.” Ketus Wafi seraya duduk dan Shafiyah bergeser menjauh. Shafiyah diam saat tangannya di raih, di genggam dan di tempelkan di bibir suaminya, kedua mata Wafi kini kembali menatap Shafiyah dengan seksama. Tatapan penuh kekaguman dan takjub melihat keindahan wajah yang selama ini tersembunyi di balik cadar.
****
__ADS_1
Misi dah ada yang punya...