
...------------...
...✍️...
Wafi dan dua karyawannya kewalahan, menghadapi para pelanggan yang membludak menjelang siang, ditambah anak-anak SMA yang membeli minuman, ngantri dan mereka juga sambil bersantai. Wafi memang membuat tokonya nyaman untuk semua kalangan, apalagi untuk para anak muda. Wafi hanya diam saat mendapatkan cat calling, dibilang ganteng, dibilang manis, diajak kenalan, dia tidak perduli, hati dan pikirannya sudah terpatri nama Habibah dan wajahnya.
”Mas, kalau pesen kue nya buat acara acara gitu bisa gak ya?” tutur seorang wanita paruh baya dan Wafi langsung mengangguk.
”Bisa Bu, ibu bisa menghubungi nomor ini nanti. Cuma pesannya dua hari sebelum hari H.” Tunjuk Wafi pada sebuah stiker yang di tempel, bertuliskan alamat, no telp, dan di sana ditulis menerima pesanan.
”Oh ya udah saya catat dulu nomor nya,” ujar wanita berbadan gemuk itu.
”Iya, silakan." Wafi menjawab sambil memberikan senyuman tipis di sudut bibirnya.
”A Wafi, mau yang rasa red Velvet!" seru seorang gadis begitu manja, Wafi bergidik ngeri dan berlalu pergi masuk ke ruang belakang, gadis memakai Hoodie itu langsung cemberut.
"Haha!” suara teman-temannya mengejek.
”Kak, itu bos nya usia berapa si?" tanya gadis lain kepada Hanan.
”Gak tahu!" jawab Hanan singkat dan terus menunduk.
”Udah punya pacar atau belum?" bertanya lagi sambil tersenyum manis.
”Udah nikah,” jawab Hanan seraya pergi, untuk mengambil uang kembalian. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, dan duduk lagi bersama teman-temannya.
Waktu berlalu, sore pun tiba, kue di etalase berkurang banyak, Alhamdulillah, tah henti-hentinya Wafi dan dua pegawainya mengucap syukur. Ketiganya sedang beristirahat, Wafi tidak makan karena sebentar lagi harus menjemput Shafiyah.
”Saya mau jemput istri saya, kalian makan santai aja di sini, kalian boleh pulang kalau nanti saya balik."
”Loh, kok pulang Gus?" Hanan melongo.
”Ini hari pertama kita buka, rame Alhamdulillah, kalian harus banyak istirahat buat hari esok."
"Makasih Gus!” seru kedua laki-laki itu begitu senang, Wafi mengangguk sambil tersenyum tipis.
Wafi bangkit, melingkarkan tas selempang nya di bahu. Lalu meraih kunci mobilnya.
”Saya pergi, assalamualaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam, hati-hati gus.” Mereka menjawab
"Iya!” mengiyakan singkat.
...---------...
...✍️...
Di kediaman Salam dan Afsheen, keduanya duduk termenung, Salam sedang menatap istrinya itu dengan seksama. Untuk membujuknya bicara, apa yang membuat istrinya murung sedari pulang dari rumah mertuanya.
”Kamu berantem sama teh Bayyin?" tanya pria itu dengan suara lemah lembut.
”Enggak,” jawabnya sambil membuang muka.
”Gak mau ngomong sama aku? apa aku yang salah?” suara Salam serak, lalu dia menggenggam kedua tangan Afsheen.
”Aku juga lagi banyak pikiran,” menjawab sambil menunduk dalam.
Salam menarik dagu lancip itu, lalu menangkup kedua pipi istrinya." Berantem sama Shafiyah? dia masih muda, lagi hamil, kalau dia menyinggung kamu entah ucapan atau tindakannya, dimaklumi aja ya sayang,” ujarnya di susul dengan mengecup kening Afsheen sekilas.
Kedua pasang mata itu kini saling menatap lekat, bergerak ke kanan-kiri sesekali.” Aku belum hamil juga, apa ada yang salah dengan aku ya?" Afsheen berseru, lalu air matanya berjatuhan begitu cepat.
Ya, Salam sudah menyadari apa yang dikhawatirkan istrinya, tapi dia mau Afsheen jujur, jika bukan kepada pasangan mengadu, setelah Allah, mau sama siapa?.
”Istighfar banyak-banyak, jangan sampai kebahagian saudara kamu, membuat kamu iri. Kita pasti akan merasakannya, butuh proses dan waktu, Fiyah sama teh Bayyin juga kan kosong dulu, mungkin hormon nya Fiyah bagus, rezeki juga dari Allah jadi Fiyah sama Gus Mu di kasihnya cepet. Kalau mau jangan berduka, tapi berdoa,” ujarnya menguatkan dan Afsheen mengangguk.
Wanita itu diam, saat air matanya di usap dan pipinya di kecup mesra.
”Sudah cukup, kita jalan-jalan ya, biar suasana hati kamu lebih baik. Mau?"
"Iya mau." Afsheen tersenyum manis dan Salam juga tersenyum.
...------...
...✍️...
Di kampus, Wafi menyenderkan punggungnya di pintu mobil, kedua tangannya terlipat di dada, dia menunggu Shafiyah dan akhirnya Shafiyah terlihat. Shafiyah tersenyum dan Wafi juga tersenyum.
”Ih, kenapa aku senyum si!! aku kan lagi kesel sama dia.” Shafiyah bergumam, dan menggigit bibir bawahnya kelu.” Enggak sih, mana mungkin a Wafi tahu aku senyum, kan gak kelihatan,” sambungnya berusaha tenang.
Shafiyah mendelik dan Wafi mengerutkan alis tebalnya." Salim dulu,” Wafi menyodorkan lengannya.
”Ya iya, ini juga mau."
”Ya ampun, uminya Utun Utun masih ngambek."
Shafiyah tidak merespon, dia menyalami tangan suaminya lembut, lalu Wafi merangkulnya. Membuka pintu mobil dan meletakkan tangannya di atas kepala Shafiyah, agar tidak kejedot body mobil.
Setelah Shafiyah duduk, Wafi menutup pintu. Dia juga masuk dan Shafiyah sibuk bermain hape.
”Yang." Panggilnya lembut.
”Hmmm?" tak menoleh sedikitpun.
__ADS_1
”Yang, simpen hapenya," ucapnya masih santai, dan tak kunjung menyalakan mesin mobil." Yang sayang!!!!!” intonasi suaranya berubah.
”Apa? aku lagi balas chat yang nanyain kue!" Shafiyah beralasan, padahal tidak sesibuk itu.
”Simpen sendiri, atau aku banting!!" tegasnya penuh penekanan dan Shafiyah terperanjat, dia buru-buru meletakkan hapenya ke pangkuan." Aku gak suka kamu sibuk sama hape kalau aku ada, aku dianggap Ghaib?"
Shafiyah menggigit bibirnya, menahan tawa." Enggak abi, maaf. Maafin aku, aku salah."
”Enggak tahu ah,” ucapnya sambil cemberut.
”Ya udah terserah, aa juga kemarin ngerokok, padahal udah janji sama aku, aku juga kesel," ketusnya seraya menyilang kedua tangannya di dada.
”Aku gak kuat banget yang, jadinya nyobain, satu batang aja enggak." Wafi jujur dan Shafiyah susah dibujuk.
”Setengah batang, gak ada cium satu Minggu!" ujarnya sambil mendelik dan Wafi terbelalak mendengarnya.
”Asstaghfirullah hal adzim, habibah!!! jangan gitu!” Wafi frustrasi, lalu melepas pecinya.
”Apalagi satu batang, gak ada jatah seminggu," katanya lagi semakin membuat Wafi sedih, pria itu menjatuhkan wajahnya di pangkuan Shafiyah, sekilas.
Lalu dia mengangkat kepalanya lagi.
”Neng! istighfar kamu, jangan begitu, itu hak aku.”
”Ya terus kenapa aa ingkar janji?”
”Aku udah bilang gak kuat! apalagi kalau enggak cium kamu, anu itu emmmmm! aku gak bisa sayang, emang kamu sendiri kuat gak aku belai, gak percaya aku kamu kuat!” imbuhnya sambil mencubit hidung istrinya gemas.
”Aku kuat!" katanya yakin.
”Jangan minta pijitin ya, itu termasuk!” Wafi kesal.
”Ih aa mah!" Shafiyah panik sendiri.
”Apa? kamu yang seenaknya, aku juga bisa, gak tidur sama aku. Mau?” ancamnya sinis dan Shafiyah menatap kedua mata suaminya yang memang tajam, semakin tajam menghujam karena kesal.
”Hmmm!" Sebagian menunduk kesal, malah dia yang kena akibat ucapannya sendiri.
”Maaf aa ngerokok! cium sama jatah jalan terus ya, apalagi pelukan. Aku kalau capek langsung peluk kamu, kalau kamu larang, aku gimana?” suara Wafi melemah, tangannya meraih tangan Shafiyah, mencium punggung tangan istrinya itu berulang-kali.
”Iya, maafin Fiyah juga ngomong gak jelas barusan.” Shafiyah akhirnya luluh, dengan ucapan Wafi yang mengakui kesalahan dan meminta maaf padanya. Gengsi jelas ada, tidak mau kalah pasti, tapi keduanya sudah sering membicarakan hal tersebut, jika Wafi tidak memulai minta maaf, Shafiyah yang memulai, jika salah satunya memulai, yang satunya harus menerima maaf. Untuk kedamaian rumah tangga, berkomunikasi dengan baik memang sangat utama.
”Sini, peluk dulu." Wafi langsung menarik tangan istrinya dan keduanya berpelukan, Shafiyah diam saat pipinya yang terhalang terus diciumi.
”Aku lagi hamil, asap rokok itu gak baik a, aku larang karena aku sayang. Fiyah sayang kamu a Wafi,” imbuhnya seraya mengeratkan pelukan, Wafi tersenyum simpul mendengarnya. Lalu mengusap punggung Shafiyah lembut.
”Makasih, untuk kasih sayang yang luar biasa ini Habibah,” lirih Wafi Shafiyah menganggukkan kepalanya.
Tidak lama, pelukan pun terlepas. Mobil melaju meninggalkan area kampus, menuju toko dan di sana dua pegawai langsung pulang setelah Wafi datang. Shafiyah memperhatikan semua kue, yang awalnya penuh sudah sisa sedikit.
”Alhamdulillah,” ucap gadis itu dan berbalik badan menatap suaminya yang sedang bersiap untuk menutup toko.” Abi gak nyimpen satu aja minuman boba nya buat aku?” tanyanya.
Wafi perlahan-lahan mendekat, memegang dua minuman boba di tangannya.
Shafiyah kaget saat tangan Wafi muncul di hadapan wajahnya." Buat uminya Utun spesial, Boba nya banyak, susunya apalagi." Wafi tersenyum lebar, dan Shafiyah meraih minuman dari tangan suaminya.
Cup! Shafiyah mengecup pipi suaminya itu, walaupun terhalang kain tipis berwarna hitam itu, Wafi bisa merasakan lembutnya dan mesranya senyuman Shafiyah.
”Makasih,” imbuh gadis itu sambil mengedipkan matanya genit.
”Jangan sampai aku seret ke lantai dua toko ini yang,” kata Wafi dan Shafiyah memukul dada suaminya itu kesal. Wafi terkekeh-kekeh dan dia juga menikmati minumannya.
Dari tepi jalan, sebuah mobil menepi, seorang wanita memperhatikan anaknya dengan seorang pria yang tak lain menantunya, sedang tertawa-tawa begitu riang. Sara hanya dirawat semalam, hari ini dia akan kembali ke rumah Fajar. Dia dan Herman belum bertemu, untuk membicarakan bagaimana kelangsungan hubungan keduanya.
Sebuah tawa yang tak pernah dilihat oleh Sara sebelumnya. Wafi yang apa adanya, sikap tegas, manja, manis, galak dan mendidik Shafiyah keras, semua itu adalah kado yang terindah dari Tuhan, yang pernah Shafiyah terima.
”Jalan!" titah Sara kepada supirnya, dan supir itupun mengangguk, mobil melaju kembali dan Sara diam termenung, meratapi kesendirian yang dia ciptakan sendiri, sebuah permusuhan yang dia anggap sendiri.
...-----...
...✍️...
Hari ini, adalah kepulangan Khalisah dari rumah sakit. Sehabis istrinya melahirkan, dan mempunyai anak, Chairil sangat sibuk. Sebelum istrinya pulang, dia membersihkan rumah sampai bersih, ada mertuanya juga, dan dia tidak enak jika rumah dalam keadaan berantakan, saat mertuanya datang.
Raihanah bersama Shafiyah melihat Khalisah, membawa kue dan Shafiyah membelikan kado untuk si kecil. Bayi perempuan itu sedang digendong oleh Raihanah, di do'akan sambil di usap usap kepalanya lembut.
”Masya Allah, cucu kamu Za," imbuh Raihanah, senyuman tak lepas dari wajahnya saat melihat bayi cantik itu. Dia melirik Shafiyah, tepat di perutnya, sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana cucu kembarnya nanti.
”Alhamdulillah,” kata Faiza sambil mengusap perut cucunya.
”Selamat untuk kalian berdua, mohon doanya untuk persalinan Shafiyah nanti,” ujar Raihanah dan menatap Khalisah dan Chairil.
”Pasti uwa, semoga persalinan neng Fiyah lancar,” Chairil menyahut. Raut wajahnya begitu berseri-seri setelah kelahiran putrinya, untuk nama, Chairil dan Khalisah masih memilih.
”Sha, aku denger kamu hamil anak kembar? mau operasi SC?" tutur Khalisah, dan Shafiyah langsung menggeleng.
”Aku pengennya normal,” Imbuhnya menjawab diiringi senyuman, tapi senyumannya lenyap seketika saat Khalisah mendengus, mengejek.
”Sha, Sha. Aku aja lahiran cuma satu susah, apalagi dua, sediakan deh biayanya, jangan sampai buat lahiran aja kamu harus minta sama om Herman, dan tante Sara,” imbuh perempuan yang sedang berbaring di sofa, merapatkan kedua kakinya dan Shafiyah langsung menunduk, tidak percaya diri dan rasa takut langsung menyelimuti.
”Khalis!" tegur Fatimah membentak anaknya yang sudah keterlaluan, Raihanah terlihat langsung meraih tangan menantunya yang terkepal, Shafiyah merasakan wajahnya panas, gemeletuk gigi terdengar karena dia menahan amarah. Belum puas kah Khalisah mencela suaminya? tak henti-hentinya, terus seperti itu, dan Khalisah seperti itu bukan hanya ke satu, dua, orang. Sampai dia tidak memiliki teman, atau kerabat yang akrab dengannya.
”Asstaghfirullah neng! Shafiyah punya salah apa sama kamu?” imbuh Raihanah serak.
"Uwa,” lirih Chairil dan Raihanah mengangkat tangannya yang bergetar hebat, agar pria itu berhenti berkata.
__ADS_1
”Bu nyai saya minta maaf, anak saya, memang begini." Fatimah langsung mendekat, merasa malu atas mulut kotor anaknya.
”Kami datang dengan baik-baik, tapi malah begini, anak saya memang gak punya pekerjaan tetap, penghasilan gak jelas, tapi dia bertanggung jawab. Kata-kata Khalisah, adalah sebuah penghinaan untuk anak saya dan menantu saya. Jika mulutnya tidak bisa dijaga, rumput pun tidak akan bisa tumbuh di dekatnya,” tandasnya seraya bangkit, menarik lengan Shafiyah.
”Teh Rai, tunggu dulu,” Faiza panik, berusaha menahan.
”Aku sama Fiyah pulang, kami ada urusan yang lain, assalamu'alaikum.” Raihanah tetap ingin pergi, dan terus menggenggam tangan menantunya, Shafiyah sudah tidak sanggup menahan air matanya. Setelah berseru, Raihanah menatap Khalisah sinis, dan Khalisah menunduk.
”Keterlaluan kamu!” tegas Chairil dan Khalisah diam, dia memalingkan wajahnya ke dinding, menatap dinding dengan tatapan kosong.
Raihanah dan Shafiyah akhirnya pergi, berjalan perlahan-lahan dan tanpa mengeluarkan kata-kata. Raihanah khawatir, Shafiyah terpengaruh dengan ucapan orang, lalu meninggalkan putranya yang serba kekurangan. Raihanah perlahan menoleh, menatap menantunya yang menunduk menahan sesuatu, yaitu tangisan.
”Sekali kamu menuruti penghinaan seseorang, kamu akan hancur nak, hidup memang harus bisa menutup telinga, walaupun terdengar, gak semuanya harus kita ladeni, cuek itu perlu, bukan monoton, membela diri malah memperkeruh suasana. Jika diam menjadi senjata paling kuat, apa salahnya di lakukan.” Raihanah memberikan wejangan, tal selamanya kita harus melawan, dan kita juga tidak bisa diam, jika bicara untuk membantah, itu juga jika diberikan kesempatan untuk menjelaskan.
”Fiyah paham maksud umi bicara begitu, umi takut Fiyah terpengaruh, terus ninggalin Gus Mu. Enggak akan mi, Fiyah juga gak mau begitu, do'ain Fiyah semoga kuat. Dibanding mereka yang menghina Gus Mu, Shafiyah yang sudah hidup dengannya beberapa bulan ini, sudah bisa mengenal suami Fiyah seperti apa, dia gak pernah ngeluh, selalu berusaha memenuhi kebutuhan Fiyah.
Dia yang gak pernah menunjukkan rasa penat mencari nafkah, hanya istri yang bodoh, jika meninggalkan pria beriman kepada-Nya dan bertanggung jawab atas orang-orang yang sudah menjadi hak nya,” tutur gadis itu dan membuat mertuanya terperangah, Raihanah merasa lega, dan dia berharap semua itu nyata untuk selamanya.
...----...
...✍️...
Malam hari tiba, Shafiyah masih terjaga, menunggu kepulangan Wafi yang pergi sejak tadi sore. Perempuan itu tidak sanggup lagi untuk menahan, tidak menelepon suaminya, akhirnya dia membuat panggilan dan langsung diangkat oleh suaminya.
”Assalamu'alaikum sayang,” suara Wafi langsung terdengar, begitu lembut dan mendamaikan.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Shafiyah serak. Wafi terdiam, mendengar suara yang berbeda.
"Neng, kenapa?"
”Enggak.”
”Sayang....?”
"Iya?”
”Aku sebentar lagi pulang, mau dibeliin apa?”
”Enggak mau apa-apa, aku mau kamu, aku mau dipeluk bi.”
Wafi terdiam lagi, apa yang terjadi? sebelum dia pergi, Shafiyah baik-baik saja. Apa ada sesuatu? sampai istrinya sekarang menahan tangisannya.
”Iya sayang, nanti aku peluk ya. Aku pulang sekarang, love you umi.”
”Ya udah."
”Assalamu'alaikum."
”Wa'alaikumus Salaam.”
Panggilan berakhir, Shafiyah meletakkan hapenya, dan meringkuk lagi, dengan berbalut selimut. Pukul 22:00, Wafi sampai. Dia ke masjid terlebih dahulu, dan setelah itu pulang. Raihanah sudah tidur, kecuali Shafiyah yang sedang menunggu nya.
Shafiyah yang sedang melihat-lihat isi galery hapenya diam, saat mendengar suara langkah kaki, dan suaminya berdehem.
”Abi pulang!” seru nya begitu antusias, dia lekas turun dan Wafi mendorong pintu, lalu masuk.
”Assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Shafiyah lalu memeluk suaminya perlahan-lahan. Wafi tersenyum dan menggiring istrinya ke atas ranjang, pelukan Shafiyah terlepas dan Wafi duduk. Lalu gadis itu bergerak cepat dan duduk di pangkuan suaminya. Kedua tangannya melingkar di tengkuk Wafi.
”Kamu kenapa?” tanya Wafi, dia tatap mata yang terlihat memerah itu." Kamu nangis neng?” tanyanya lagi.
Shafiyah menggeleng kepala, lalu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya." Cuma kangen sama aa."
”Ah bohong, ayo cerita, kamu kenapa?”
Shafiyah tetap diam, dan malah memainkan kancing baju Koko berwarna Navy itu. Wafi melepas pecinya, dia letakkan di atas nakas lalu memeluk pinggang istrinya erat.
”Kalau aku tahunya dari orang lain, aku marah sama kamu ya!"
”Ngancem terus!"
”Kamu kalau gak digituin, susah buat jujur.”
"Enggak, aku gak apa-apa.”
”Oh bener berarti, kamu mau lihat aku marah, kamu belum pernah lihat aku marah kayak apa, kalau sekadar diam itu masih wajar. Tapi kalau udah marah beneran nanti kamu takut, jangan pancing aku sayang.”
”Hiks!” Shafiyah malah menjawab dengan tangisan. Wafi panik dan lekas menyeka air mata istrinya.” Aku kesel, takut juga," sambungnya mulai mengadu, dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
”Siapa yang bikin kamu kesel sama takut yang? bilang sama aku!” mulai terpancing emosi, dari suaranya yang tegas, itu jelas terlihat.
”Khalisah!”
”Astaghfirullah hal adzim, dia lagi yang? lagi-lagi dia yang bikin kamu nangis, kamu ngapain sih, jangan deket-deket sama Khalisah, aku udah bilang berkali-kali umi!!!”
”Ih enggak, aku sama umi ke rumah Khalisah, buat lihat dia sama bayinya, baru pulang tadi. Terus dia bilang di depan semua orang, katanya mana bisa aku lahiran normal, lahiran satu aja susah apalagi dua, dia kayak merendahkan kamu juga, kalau misal aku di operasi SC, kamu mana ada biaya, katanya gitu hiks!”
”Ya ampun yang, pantes kamu sedih begini. Emang dasar dedemit, kalau gak bikin masalah gak cari musuh hidupnya gak tenang, hidup orang yang punya penyakit hati emang begitu yang, lihat orang senang gak suka, lihat orang susah di cela.” Wafi kesal, berbicara begitu ketus sambil terus mendelik dan mendengus.
”Kamu bisa lahiran normal, in sha Allah, kalau Allah mentakdirkan kamu lahiran dengan jalan operasi, aku akan usaha cari biaya, kalau perlu pinjam, jangan takut sama ucapan Khalisah, kita bergantung sama Allah sayang, bukan sama manusia. Udah jangan nangis, jelek kamu kalau nangis."
”Aa mah gitu ah rese! awas aku mau turun!” Berontak kasar dan Wafi tersenyum.
Wafi langsung menahan kaki Shafiyah dengan kakinya, sampai gadis itu tidak bisa bergerak, dan Akhirnya diam dalam pelukan hangat suaminya.
__ADS_1
”Udah ya, jangan nangis lagi, aku sayang kamu Habibah.” Bisik nya lembut dan Shafiyah diam, keduanya saling memeluk, masih dengan posisi Shafiyah di pangkuan Wafi.
...🦋🌻🦋...