Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 87: Cembokur


__ADS_3

Pukul satu siang, rombongan keluarga Majdi sampai di kediaman Fahira, disambut dengan baik. Shafiyah masih di dalam mobil, ditemani suaminya, dia sedang tidur, dan Raihanah meminta anaknya membiarkan Shafiyah, yang sedari tadi tidak tidur. Wafi memperhatikan kedua mata istrinya, yang tertutup. Di luar, udara begitu panas, istrinya pasti mengeluh nanti.


Bibir Wafi mengukir senyuman, tangannya memangku kepalanya, dia terus memperhatikan Shafiyah, yang mulai menggeliat karena dia terus-menerus mencubit pipinya.


”Yang bangun yang, udah sampe,” kata pria itu.


”Bentar lagi bi, aku ngantuk.”


”Semua orang nungguin kamu, ayo sayang. Uwa udah nanyain kamu terus,” tuturnya lembut. Jemarinya kini bergerak, membelai pipi istrinya. Kedua mata Shafiyah terbuka perlahan, tangannya menggeliat ke kanan-kiri, dan hampir mengenai wajah Wafi, tapi Wafi menahannya. Shafiyah terkekeh-kekeh, karena dia sengaja.


”Mulai deh, jahil,” ucap Wafi dan Shafiyah tersenyum tipis.


”Udah sampai?" Mengedarkan pandangannya, lalu mengucek matanya perlahan.


”Iya, ayo turun,” ajak suaminya lembut.


”Iya,” Shafiyah mengiyakan. Wafi keluar lebih dulu, lalu dia membukakan pintu untuk istri tercintanya. Shafiyah keluar perlahan dan menunduk saat menjadi sorotan.


”Itu menantunya Bu?” tanya tetangganya Fahira kepada Raihanah, yang sedang mengobrol sedari tadi.


”Iya,” Raihanah mengiyakan. Dia memperhatikan tangan sigap Wafi yang merangkul pinggang Shafiyah, saat keduanya melewati gerombolan pemuda di depan rumah tersebut, yang sedang ikut memasang tenda, butuh bantuan beberapa orang, karena besok harus segera dipasang. Fahira juga sedikit kecewa, karena tenda yang lainnya datang di luar waktu yang ditentukan. Pernikahan sederhana yang direncakan di luar ekspektasi semua orang, mengingat permintaan pengantin pria yang seorang duda itu ingin menggelar acara pernikahan mewah, menuruti kemauan anaknya. Yang begitu antusias, mendapatkan ibu sambung.


”Shafiyah!" seru Fahira antusias. Lalu menarik Shafiyah untuk dia peluk sekilas. Fahira begitu senang melihat perut besar Shafiyah. Cucu pertama saudara kembarnya. Shafiyah hanya terus tersenyum dan Wafi tersenyum memperhatikannya. "Gimana kabar kamu?"


”Alhamdulillah, baik. Uwa gimana?" Shafiyah balik bertanya.


”Uwa baik, ayo masuk,” ajak Fahira begitu lembut.


”Fiyah mau disini aja wa, hehe.” Ia tersenyum lebar. Dan Fahira juga tersenyum, dari dalam, di balik kaca jendela berwarna gelap, sepasang mata memperhatikan semua orang. Lalu berhenti di Wafi, Wafi mengambil kursi plastik untuk istrinya duduk, lalu ia berjongkok di sebelahnya. Sepasang mata yang memperhatikannya nampak sedih, melihat sikap perhatian yang tidak salah itu.


”Andai, posisi itu aku yang mengisi,” imbuh manusia tersebut, Sabilla. Ia masih belum bisa merelakan Wafi untuk Shafiyah, rasa cintanya kepada sepupunya sendiri, jauh lebih besar, ketimbang rasa cintanya untuk almarhum suaminya.


”Bi... Mau bakso kering,” pinta Shafiyah, sambil menggoyangkan bahu suaminya, pria itu masih setia di sebelahnya.


Wafi menoleh, dengan kening mengkerut. ”Bakso kering yang kayak gimana sih yang?” ia tidak paham.


Shafiyah terkekeh-kekeh dan membelai pipi suaminya reflek, lalu Wafi menepisnya lembut. Tidak baik, jika ada yang melihat bagaimana Shafiyah ketika membelai manja, itu sangat menggemaskan, ia tidak rela jadi tontonan beberapa pasang mata.


”Bakso nya doang bi, pakai kecap sama sambel, gak pake sayuran atau kuah nya,” ibu hamil menjelaskan dan Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya.


”Sekarang? Nanti aja ya,” goda Wafi dan bahunya digoyangkan kuat. ”Iya, sekarang.” Dia bangkit dan Shafiyah tersenyum senang.


Wafi melangkah pergi, mendekati penjual bakso yang mangkal sejak awal ketibaan semuanya, dan menjadi pusat perhatian istrinya. Setelah membeli bakso, Wafi kembali, sempat menawari yang lain, semuanya menolak, karena saat sholat Dzuhur di masjid, di rest area, semuanya makan masih kenyang. Shafiyah menikmati bakso keringnya, dan Wafi mengobrol dengan yang lain.


Setelah itu, semuanya masuk ke dalam rumah. Wafi terus berjalan, tidak ada tanda-tanda Sabilla ramah menyambut semuanya. Wajahnya begitu masam, dan dia terus melirik Wafi. Malam pun tiba, Shafiyah kebingungan harus tidur dimana. Sementara untuk situasinya saat ini, berbagai macam posisi tidur begitu serba salah.


”Disini neng,” ajak Faiza dan Shafiyah hanya tersenyum. Dia tidak bisa tidur di dekat dinding, sesak dan tidak nyaman.


Wafi tiba-tiba masuk dan semuanya menoleh ke arahnya. ”Sayang,” panggil pria itu, dia meraih tangan istrinya dan Shafiyah menoleh. ”Kenapa?”


”Aku bobo dimana bi?" lirih Shafiyah.


”Shafiyah sama Mumu, yang lain juga separuh, tidur aja di rumah adik uwa gih, di sebelah. Kosong, gak ada orang, semuanya lagi kerja, uwa udah minta izin dari kemarin,” tutur Ahmad dan Shafiyah saling menatap dengan Wafi.


”Iya sempit disini, di sana aja sebagian,” seru Hasna.


”Ya udah deh,” kata yang lain, walaupun canggung.


”Bawa selimut kamu, sama mau bawa apalagi?" ujar Wafi dan Shafiyah meraih botol minumnya. Wafi mengambil alih, membawakan selimut dan botol minum, lalu cemilan Shafiyah tidak lupa. Ahmad mengajak mereka menuju ke rumah adiknya. Di sana, Shafiyah dan Wafi tidur di sebelah sofa, di minta di kamar pun mereka canggung. Wafi memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan tangan kanan, tangan kirinya mengelus perut istrinya lembut, dan Shafiyah mencoba menutup matanya, selang beberapa menit kemudian, ibu hamil itupun tertidur dan Wafi terus memperhatikan kedua mata istrinya itu.


”Istriku yang shalihah, Habibah sayang. Tidak mudah bercampur dengan keluargaku yang banyak ini, tapi kamu memang luar biasa, mau prihatin dalam setiap situasi, aku bangga sayang. Bobo ya, perjalanan panjang, kamu terus duduk, pasti capek. Anak-anak abi Wafi di dalam perutnya umi Habibah, sehat-sehat ya nak, tinggal menghitung hari,” tutur Wafi dalam hati. Bibirnya terus tersenyum bahagia, sambil mengelus kepala istrinya. Dia melirik kanan-kiri, semuanya sudah tidur, lalu dia mengecup bibir Shafiyah yang terhalang cadar itu sekilas, Shafiyah menggeliat, memiringkan tubuhnya sampai wajahnya menempel di dada bidang sang suami. Mencari kehangatan, di tubuh pria tersayangnya.


Waktu berlalu, pagi pun tiba. Semua orang sibuk, apalagi pribumi yang tak ada waktu untuk menyapa. Shafiyah masih berdandan, tidak ada yang spesial, dia dandan sendiri dan setelah siap, dia pamit meninggalkan rumah adiknya Ahmad. Di kamar pengantin, Sabilla diam, membiarkan perias pengantin melakukan apapun padanya. Kedua matanya memupuk air mata, dia menahan sesak dan tangisnya, ingin kabur rasanya tidak pantas, sampai kapan dia berkelana, dalam menunggu balasan cinta. Pria yang dia perhatikan pun, nampak tidak tertarik walaupun untuk sekadar melihatnya sekilas.


”Pernikahan memang momen mengharukan, akan jauh dari orang tua, ikut suami, itu selayaknya yang dilakukan seorang istri,” ujar perias pengantin, membuka percakapan, untuk menjalin kedekatan dengan klien nya yang memang sangat ketus itu. Sabilla diam, bungkam. ”Apa karena calon suami kamu duda, jadi kamu sedih?” tanyanya begitu berani.

__ADS_1


”Saya juga menikah untuk yang kedua kalinya, saya janda,” jawab Sabilla dan perias pengantin tersentak. Dia kira, kliennya masih perawan, perawan tua.


”Emmm maaf,” ucap perias pengantin gugup dan Sabilla diam.


***


Di Pesantren Al Bidayah, ketegangan terjadi, saat ketibaan seorang pria tua dan muda ke rumah Bu nyai. Sementara keluarga Bu nyai sedang tidak ada, dua pria itu adalah Noah dan anaknya Sandy. Keduanya duduk, setelah mengetuk pintu tak ada jawaban. Noah diam saat melihat seorang pria mendekat, yaitu Ikhsan.


”Assalamualaikum,” ucap Ikhsan.


”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Noah dan anaknya. ”Pada kemana ya? Sepi?" ujar Noah kembali.


Ikhsan tersenyum tipis. ”Semuanya lagi pergi pak, ada acara nikahan anaknya Ning Fahira, di Jakarta. Kemarin semuanya pergi, tapi kayaknya hari ini juga pulang, tapi mungkin nanti malam. Saya ada kuncinya, mari masuk pak, silakan,” ujar Ikhsan mempersilakan, dia yakin keluarga bu Nyai tidak akan marah, toh yang datang saudaranya.


”Kita tunggu di apartemen aja, yah,” ajak Sandy dan Noah mengangguk setuju.


”Kami mau ke apartemen aja, nanti kami kesini lagi, kalau semuanya sudah pulang,” imbuh Noah dan Ikhsan mengangguk.


Noah dan anaknya bangkit, lalu bersalaman dengan Ikhsan. Setelah mengucap salam, keduanya pergi dan dijemput oleh Elang.


***


Kembali ke acara, akad sebentar lagi di mulai. Shafiyah dan Wafi terus bersama, Shafiyah kembali merasakan ngilu di perutnya.


”Jangan sekarang ya Allah, nanti aja, kalau udah pulang,” imbuh Shafiyah dan mencengkeram kuat lutut suaminya, membuat suaminya menoleh dan meraih tangannya. ”Ngilu lagi,” adu nya lirih.


”Tuh kan,” wajah Wafi langsung tegang. Dia meletakkan tangannya di perut Shafiyah, lalu saling menatap lekat dengan istrinya. ”Pulang duluan yuk,” ajaknya.


"Ih masa begitu,” ujar Shafiyah.


”Aku khawatir,” suara Wafi serak.


”Iya Fiyah tahu, aa khawatir. Tapi gak pulang juga.”


Shafiyah mengangguk, lalu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya itu. Wafi diam membiarkannya, dia terus berdoa dalam hati, untuk kebaikan bersama, bisa dibayangkan betapa repot nya jika Shafiyah melahirkan sekarang. Wafi terus mengelus punggung tangan istrinya lembut.


”Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, oleh saudara Gus Mu, yaitu saudara sepupu calon pengantin perempuan, dari kota Bandung, Pesantren Al Bidayah. Dipersilakan untuk segera naik ke atas panggung,” tutur pembawa acara dan Wafi menoleh. Dia ragu untuk meninggalkan Shafiyah.


”Aa cepetan,” bisik istrinya.


Semua mata terus mencari, dimana keberadaan pria yang disebutkan MC.


”Kamu ditemenin yang lain dulu ya,” Wafi berucap begitu lembut dan Shafiyah mengangguk. Shafiyah menjauhkan kepalanya, lalu suaminya berdiri. Wafi mendekati Fara, dan berbisik-bisik agar menemani Shafiyah, Fara nampak tegang mendengar keponakannya mengadukan apa yang Shafiyah rasakan sedari kemarin.


”Biar bibi temenin istri kamu,” Fara menyanggupi dan Wafi merasa lega. Raihanah yang duduk dengan Faiza cukup jauh memperhatikan, bertanya-tanya apa yang terjadi, sampai wajah Wafi nampak tegang.


Fara melangkah, mendekati Shafiyah. Shafiyah diam memperhatikannya. ”Neng, ngilu nya kayak gimana?” tanya Fara.


”Ya ngilu bi, bingung jelasinnya gimana,” jawab Shafiyah.


”Jangan kemana-mana, diem disini sama bibi,” tegas Fara dan Shafiyah tersenyum. Lengannya sampai di pegang Fara, saking takutnya dia tidak bisa diam.


Shafiyah mengarahkan hapenya ke atas panggung, dia merekam video suaminya saat ini. Begitu juga dengan semua orang, khususnya para tamu rombongan seserahan yang muda-muda, mereka kira seorang Gus hanya orang tua, ternyata ada sosok seperti Wafi yang luar biasa pesonanya. Suaranya begitu lembut masuk ke telinga. Shafiyah tersenyum, merasa takjub dan bangga.


Tiba-tiba Shafiyah ingin buang air kecil dan melirik rumah Fahira. Shafiyah bangkit, tapi Fara menahannya.


”Mau kemana neng? Jangan kemana-mana,” tandasnya.


”Bibi, Fiyah mau pipis. Gak kuat!" pekik Shafiyah dan barulah lengannya dilepaskan.


”Kalau udah selesai, balik kesini,” titah Fara dan Shafiyah mengangguk. Shafiyah pun pergi ke dalam rumah untuk menuntaskan misi nya. Setelah selesai, Shafiyah bergegas untuk pergi kembali ke tempat duduknya, tapi sikutnya di cekal kasar dan ditarik. Dia di seret masuk ke dalam kamar.


”Ning!” teriak Shafiyah, tapi suaranya tersamarkan oleh suara suaminya yang masih melanjutkan aktivitasnya.


”Saya mau bicara,” tegas Sabilla.

__ADS_1


”Akad sebentar lagi Ning, sebaiknya siap-siap, mengobrol bisa nanti,” balas Shafiyah tak kalah tegas. Dia berbalik, tangannya bergerak untuk menarik gagang pintu, tapi Sabilla mengunci serta menarik kunci. ”Saya mau keluar,” suara Shafiyah berat.


”Saya bilang, saya mau bicara!" Sabilla geram dengan sikap Shafiyah.


”Apa?” suara Shafiyah melemah.


”Apa kamu bahagia menikah sama Wafi?” tanya Sabilla dan kedua matanya berair.


”Ning bertanya buat apa? Buat memperdalam patah hati? Ini gak bisa saya jawab, maaf.” Shafiyah kembali berbalik, kali ini sikutnya benar-benar di cekal sangat kuat sampai dia meringis.


”Aaagh! Sakit!” Jeritnya kecil.


”Kamu jadi sombong ya sekarang, Shafiyah!” Sabilla kesal. Shafiyah merebut kunci dari tangan Sabilla cepat. Sabilla sampai kelabakan dibuatnya.


”Saya juga bisa marah!" tandasnya sambil melotot, tidak mau mengulur waktu, suaminya juga terdengar sudah selesai, Shafiyah membuka pintu, lalu keluar sambil memegang lengannya yang ngilu. Sementara Sabilla, hanya bisa diam mematung, sambil mengepal lengan kuat-kuat.


Di luar, Wafi mengerutkan kening, melihat bibinya hanya sendirian, dan entah dimana istrinya. Tiba-tiba seseorang merangkul lengannya, Wafi menoleh dan tersenyum karena itu adalah istrinya, yang sedang dia cari-cari dan khawatirkan.


”Suara abi agak serak, harus nyari kencur sama madu,” ujar Shafiyah. Suaminya sangat sibuk, berhubungan dengan suaranya.


”Iya nanti kalau udah pulang, aku cari kencur sama madu. Neng dari mana?” tutur Wafi dan Shafiyah diam.


Keduanya duduk kembali dan Fara pergi, dia lapar dan memilih makan duluan di dalam rumah. Wafi mengenggam tangan istrinya terus-menerus dan Shafiyah memainkan hapenya, Wafi mengintip sesekali, tapi dia melotot saat Shafiyah yang sedang scroll media sosial berhenti, di sebuah video orang ganteng, entah siapa, dan entah kenapa Shafiyah tertarik melihatnya, apa dia kurang ganteng? Mohon di jawab sodara sodara.


Wafi merebut hape istrinya itu dan Shafiyah panik. "Aa asstaghfirullah, kalau jatuh awas aja, ganti pokoknya!”


”Emang ini hape siapa yang beliin? Aku tanya siapa?” tegas Wafi dan Shafiyah cengengesan.


”Berisik bi, diem!"


”Ngapain lihat beginian?" Memperlihatkan layar hape istrinya, yang masih di video tadi.


”Cuma lihat doang a, apaan si!" balik sinis.


”Kalau aku begini, boleh?" tanyanya menantang. Semu wajah Shafiyah semakin panik. Mencoba meraih hapenya, tapi Wafi mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Shafiyah kesusahan menggapainya. ”Boleh gak?”


”Ya enggak, balikin hape Fiyah."


”Dosa kamu lihat aurat pria lain."


”Aurat apanya? Ya Allah, orangnya juga pakai baju.”


”Enggak, otak kamu pasti traveling, bajunya ketat begini. Nanti aku juga pakai beginian, boleh?” ancamnya dan Shafiyah reflek menggeleng kepala.


”Ya jangan. Nanti semua orang tahu, tubuh a Wafi kekar nya minta ampun,” pujinya genit dan Wafi mendelik.


Wafi akhirnya menurunkan tangannya, tapi tidak memberikan hape istrinya itu, dia malah memasukannya ke saku bajunya.


”Lebih ganteng aku atau yang tadi?” tanyanya sewot.


”Ya a Wafi dong."


”Terus ngapain di lihat?"


”Yang tadi brewokan, Fiyah cuma lihat sebentar juga, udah diem, kalau ada yang denger, malu.”


”Nanti aku gak cukuran, biar brewokan,” ketus Wafi dan Shafiyah terkekeh-kekeh, karena suaminya sedang kesal padanya. ”Enggak usah ketawa!”


”Hihi, abi ih. Udah marah nya.”


Wafi diam.


”Aa Wafi.”


Wafi tetap diam, walaupun Shafiyah memanggilnya berulangkali. Shafiyah berhenti dan merangkul lengan suaminya lagi, sambil berusaha merogoh saku baju suaminya, tapi terus di tepi suaminya pelan.

__ADS_1


__ADS_2