Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 32: Menyerah?


__ADS_3

Hari ini hari Minggu, waktu yang dipilih Gus Mu untuk datang ke rumah keluarga Shafiyah. Kemeja putih, kain sarung berwarna hitam, tidak lupa dengan pecinya. Wafi begitu terlihat gagah dan tampan saat ini, dia tidak mau mengecewakan. Dia bersiap dengan baik, dan apapun hasilnya. Dia berharap itu sebuah persetujuan, bukan penolakan.


Di asrama, Shafiyah sedang gelisah, mondar-mandir, duduk. Terus itu yang dia lakukan, dia takut terjadi sesuatu. Perasaannya tidak karuan, jika sesuatu terjadi kepada pria itu bagaimana? dia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Wafi.


CV ta'aruf sudah siap, data diri lengkap Muhammad Wafi Muzammil Ali Majdi. Sebelum dia, sudah banyak lelaki yang datang termasuk Aidan, ke rumah Shafiyah, CV ta'aruf dari 10 pria belum di lirik keluarga Shafiyah dengan baik-baik. Karena tidak ada yang meyakinkan mereka untuk memeriksanya dengan teliti. Setelah pertemuan di Taman waktu itu, Shafiyah dan Wafi tidak pernah berkomunikasi. Saat bertemu pun, keduanya pura-pura cuek.


Setelah siap, Wafi keluar. Raihanah menyemprotkan parfum ke baju putranya itu, lalu merapihkan kancing baju putranya. Orang tua mana yang tidak senang, saat mendengar bahwa anaknya mau menikah, Shafiyah baik. Raihanah sangat mendukung, dan berharap keluarganya juga mau memahami keadaan putranya.


”Hati-hati,” ucap Raihanah sambil tersenyum.


”Do'ain ya mi," lirih Wafi dan uminya mengangguk, sambil membelai pipinya.


”Iya nak, tetap tenang kalau ada apa-apa. Inget umi, keluarga kamu. Tahan emosi, anak umi sholeh,” ucap Raihanah. Wafi menunduk, sampai uminya bisa mencium keningnya. Wafi tersenyum dan Raihanah membalas senyumannya.


Wafi keluar dari rumah, diantar Raihanah. Bersamaan dengan Shafiyah yang hendak pergi ke warung, Shafiyah menoleh dan memperhatikan Wafi yang tersenyum manis padanya.


Wafi mengangkat ibu jarinya dengan raut wajah memelas, meminta pujian dari gadis itu atas penampilannya. Shafiyah malah mengarahkan jempolnya ke bawah, sebagai ungkapan, pria itu terlihat jelek saat ini. Wajah Wafi nampak masam melihatnya dan Shafiyah terkekeh.


Shafiyah berdiri di trotoar untuk menyeberang, Wafi melajukan motornya dan Raihanah masuk ke dalam rumah. Shafiyah nampak bingung dan menunggu ada yang orang yang akan menyeberang juga. Tapi Wafi turun dari motornya, saat membantu Shafiyah menyeberang, setidaknya dia bisa bicara dengan gadis itu sebentar. Shafiyah menoleh saat Wafi berdiri di sebelahnya, dia diam dan takut ada yang melihat.


”Saya gugup Bibah,” bisik Wafi tanpa melihat gadis itu.


”Hati-hati, jangan sampai kamu salah bicara. Kalau ada apa-apa, dan keluarga saya main kasar. Bilang sama mereka, saya sayang sama Gus Mu, saya sudah mau dipinang dan Gus Mu datang untuk meminta persetujuan dari keluarga saya. Gus paham kan? saya gak mau Gus kenapa-kenapa, sebut nama saya kalau ada sesuatu," tutur Shafiyah terus menunduk, pura-pura tidak memperdulikan pria itu dan Wafi mendengarkan dengan baik.


”Apa harus seperti itu?"


”Keluarga saya keras Gus, kalau Gus bilang yang sejujurnya. Bahwa kita sudah saling menerima, dan hanya tinggal restu dari pihak keluarga, mereka gak akan macam-macam," ucap Shafiyah tegas dan Wafi mengangguk. Wafi melangkah dan Shafiyah juga melangkah, tangan pria itu terangkat ke udara agar semua pengendara kendaraan, melambat laju kendaraan mereka. Shafiyah menyeberang dengan tenang, tubuh Wafi melindunginya.


Sesampainya di seberang, Shafiyah pergi ke warung. Wafi menunggu, untuk membantu gadis itu menyeberang kembali.


”Nungguin siapa Gus di sana?” Diva bertanya-tanya, dia baru pulang sekolah saat ini.


Setelah Shafiyah membeli kebutuhannya, Wafi melirik kanan-kiri, dia melangkah dan Shafiyah di sebelah kirinya. Keduanya menyeberang bersama, Shafiyah hampir terjatuh. Karena gugup dan takut, Wafi menarik ujung cardigan gadis itu kuat dan Shafiyah tersentak.


”Maaf." Wafi mengangkat tangannya ke udara, menyentuh baju gadis itu saja membuat nya merinding. Shafiyah mengangguk dan akhirnya keduanya sampai di seberang.” Gila, merinding,” gumam Wafi dan mengusap tengkuknya yang bergidik geli.


”Saya masuk." Shafiyah pamit dan Wafi mengangguk." Hati-hati," suaranya berat dan Wafi mengangguk lagi.


”Jangan khawatir, saya pergi ya. Assalamu'alaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam," jawab Shafiyah dan Wafi melangkah pergi mendekati motornya.


”Dih, apaan si?" ketus Diva.


Shafiyah menunggu sampai pria itu pergi, Wafi melihat Shafiyah sekilas dari kaca spion motor. Shafiyah tersenyum dan berharap tidak ada kejadian buruk.


”Shafiyah!" panggil Diva dan Shafiyah menoleh. Diva melangkah menghampiri dengan raut wajah kesal.” Kamu ngapain tadi?”

__ADS_1


”Usia kamu kan jauh lebih muda dari saya, kamu masih kelas 3 SMP. Yang sopan sedikit bisa? jangan sampai Santriwati junior yang lain ikut-ikutan kayak kamu. Kamu gak bisa seenaknya di pesantren,” tutur Shafiyah dengan lemah lembut dan Diva mendelik tajam.


”Aku gak nanya dan gak minta diceramahi, aku cuma mau tahu. Kalian tadi ngapain? bukan mahram tahu.”


”In sha Allah, akan segera menjadi mahram,” gumam Shafiyah dan sangat ingin meneriakkan hal tersebut di hadapan Diva. Gadis itu memang terang-terangan, menunjukan ketertarikannya kepada Gus Mu.


”Saya gak punya waktu, saya sibuk. Permisi." Shafiyah melenggang pergi dan Diva meradang melihatnya.


”Shafiyah!" teriak Diva tapi Shafiyah tidak memperdulikannya.


******


Setelah menempuh perjalanan panjang, terjebak macet, dan lelah. Akhirnya Gus Mu sampai di rumah keluarga Shafiyah, ayah ibu gadis itu ada. Herman yang sedang menikmati secangkir kopi di teras rumah bersama Burhan kebingungan, melihat seorang pemuda berdiri di depan pagar rumah nya. Apa maling? mana mungkin maling segagah itu, tampan dan rapi.


”Wafi,” seru Burhan yang langsung mengenali Wafi. Dia rindu dengan pemuda itu, yang sering mendengarkan ocehan nya tanpa lelah dan tanpa mengeluh. Wafi tersenyum dan memperhatikan Herman yang diam di tempatnya.


”Assalamu'alaikum,” ucap Wafi.


”Wa'alaikumus Salaam, rasanya udah lama kita gak ketemu.” Burhan tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Wafi.


Herman diam, apa itu Wafi pelatih sanggar? yang sering diceritakan Burhan padanya? dia baru pertama kali melihatnya, memang ganteng sih. Tapi dia dengar, pemuda itu mantan narapidana. Ada yang mengenal dan menjadi bahan gosip, identitas Wafi terkuak bersamaan dengan dirinya yang berhenti dari pekerjaannya. Jika dia masih ada di sanggar, mungkin mereka akan mengusirnya.


”Begini kek, saya mau mengajukan CV lamaran, untuk Shafiyah,” tutur Wafi dan Burhan nampak muram. Dia senang, tapi anak dan menantunya apa bisa menerima Wafi? dia malah jadi takut, pemuda itu tersakiti.


Herman yang mendengar Wafi menyebut nama putrinya langsung bangkit, dia melangkah mendekat dan Wafi mengutarakan niatnya. Dengan kening mengerut, mimik muka yang mengejek nampak jelas di wajah Herman. Saat mendengar seorang narapidana ingin mengajukan diri. Tak mengapa, dia akan memberikan kesempatan, lalu mengajak Wafi masuk.


”Ada tamu,” ucap Herman. Seorang Wanita keluar dari sebuah ruangan, terlihat memakai celemek karena sedang memasak. Kerudung berwarna hitam menutup kepala wanita renta itu, tapi masih nampak cantik dan fashionable. Herman juga sudah berumur, anak pertamanya saja sudah berusia 34 tahun. Tapi wajah keriput itu masih menyisakan ketampanan di saat mudanya. Tubuhnya timbun dan pendek. Sara terdiam melihat Wafi, Wafi menunduk dan merasakan telapak tangannya berkeringat dingin saat ini.


”Siapa ya?" tanya Sara dan dia duduk di sebelah Herman. Burhan diam dan nampak gelisah. Wafi mengangkat kepalanya, Sara pun akhirnya mengenali wajah itu.


”Dia mau mengajukan CV ta'aruf untuk anak kita,” tutur Herman dan Sara mengernyit terheran-heran. Dia perhatikan lagi pria itu, takut salah orang.


”Kamu Wafi kan?" tanya Sara.


”Iya Bu,” balas Wafi.


”Kamu mantan napi itu? yang kerja di sanggar, saya ingat. Punya apa kamu sampai datang untuk mengajukan diri melamar anak saya, kamu gak tahu diri atau apa sebenarnya? harusnya kamu sadar, mantan napi yang kamu sandang saja itu membuat semua orang ragu. Mana bisa ada orang tua yang mau menyerahkan putrinya sama kamu? ini kelewatan, ini malah kesannya menghina anak saya.” Sara langsung emosi, suaranya langsung tinggi dan Burhan panik.


”Sara,” ucap Burhan serak.


”Tolong, dilihat dulu. Di terima Bu," ucap Wafi. Dia memberikan amplop coklat berisi data dirinya. Herman yang menerima, Sara diam dan menatap Wafi tajam. Herman yang memeriksa sambil terkekeh geli, bisa-bisanya ada pemuda begitu percaya diri seperti itu.


Tangan Wafi terkepal kuat, urat-urat di lengan dan lehernya timbul, dia sedih, malu dan takut saat ini. Sara menghinanya tanpa ragu, Herman memang diam, tapi raut wajah dan gelak tawa nya begitu merendahkan Wafi. Sementara Burhan, dia bingung dan hanya diam memperhatikan. Dia tidak memiliki hak apa-apa tentang Shafiyah, orang tuanya yang lebih berhak.


”Tahun ini 28 tahun ya?" tutur Herman dan Wafi mengangguk.” Sarjana teknik sipil, anak pertama, kerjaan sehari-hari serabutan, pengalaman kerja gak ada, mantan Atlet bela diri......" Herman membaca semuanya dan Wafi diam, ia terus menekuk wajahnya dalam-dalam.


”Teknik sipil cukup susah untuk masuk jurusan itu, cukup menjamin, tapi kamu bekerja serabutan. Karena pendidikan kamu gak berguna untuk mantan narapidana, pembunuh!" seru Sara lantang, menyambar kertas yang sedang di baca suaminya, lalu melemparkannya ke wajah Wafi. Wafi diam, menatap kertas tersebut jatuh ke kakinya.

__ADS_1


”Bisa dibicarakan baik-baik, jangan begini. Shafiyah juga sepertinya suka sama Wafi,


Wafi ini anaknya seorang kyai, keturunan Majdi. Majdi yang terkenal itu, lihat saja namanya, nama orang tua dan keluarganya yang lain. Kalian harus sopan,” tutur Burhan agar anak menantunya berhenti. Herman terkejut dan meraih kertas itu lagi, saat dia melihat alamat lengkap Wafi. Ternyata pria itu tinggal di alamat yang sama dengan pesantren Al Bidayah, dimana Shafiyah menimba ilmu selama ini.


”Kamu..." Tunjuk Herman dan wajahnya pucat sekarang.” Kamu anaknya Gus Fashan hah?” teriak Herman dan Wafi mengangguk.


Sara semakin murka mendengarnya, pria itu berarti sering bertemu dengan putrinya.


”Kamu sering bertemu anak saya?" tegas Sara bertanya.


”Ya, saya kesini atas izin dari Shafiyah. Saya sama Shafiyah saling suka Bu, kami sudah saling menerima kekurangan masing-masing, dan siap untuk menikah. Tolong beri saya kesempatan,” tutur Wafi dan akhirnya jujur, seperti yang Shafiyah katakan.


"Anak saya gak punya kekurangan, dia cantik, baik pintar. Kamu yang banyak kekurangan, kamu gak pantas buat anak saya. Pergi!!!!!” Sara berteriak, menunjuk pintu yang terbuka lebar. Wafi diam dan Burhan hanya bisa menunduk.


”Sabar," ucap Herman dan Sara tidak mau disentuh sama sekali..Butuh perjuangan untuk mendapat anak perempuan, setelah lahir harus dijaga dengan baik dan ketat, Shafiyah sangat berharga untuk keluarganya. Tapi kenapa gadis itu malah menyerahkan perasaannya untuk pria yang bagi Sara hanya pria rendahan. Ini tidak bisa terjadi, dia tidak akan tinggal diam, dan akan segera membawa anaknya pulang.


”Tolong Bu, saya sayang sama anak ibu.” Wafi bangkit dan memohon-mohon, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kekasihnya. Sara yang sudah dibaluti rasa emosi, langsung mendekat, mencengkeram dan menarik baju Wafi. Burhan dan Herman panik, keduanya mengejar. Sara menarik Wafi keluar. Dia lepaskan cengkraman nya kasar sampai baju Wafi begitu kusut.


”Tolong Bu," ucap Wafi serak.” Saya memang gak punya apa-apa, tapi saya sayang sama anak ibu. Saya gak akan menyia-nyiakan Shafiyah, saya pasti bahagiain anak ibu." Wafi terus memohon.


Sara mendekat dan hampir terjatuh saat terpeleset, bibi sedang mengepel lantai, bibi diam menunduk dan tidak tega melihat Wafi pujaan hati Shafiyah diperlakukan serendah itu.


"Tolong Bu, saya bisa membuktikan kata-kata saya,” ucap Wafi. Sara melangkah, meraih ember bekas ngepel. Berwarna keruh dan kotor.


Byur!! air membentur tubuh Wafi, Wafi menutup matanya. Dari rambut sampai kakinya basah kuyup, kedua mata Wafi merah. Antara ingin menangis dan menahan emosinya. Apa sampai harus disiram air kotor seperti itu? apa tidak bisa berbicara baik-baik padanya? Wafi diam, bayangan gadis yang dia cintai muncul di pikirannya. Burhan meradang melihat perilaku anaknya.


”Sara! Keterlaluan kamu!" bentak Burhan.


”Pergi, saya panggil keamanan kompleks kalau kamu gak pergi juga. Dan jangan pernah mendekati anak saya lagi!!” Sara berteriak-teriak, seolah belum puas mempermalukan pria yang sudah berani mendekati putrinya. Dia meraih pengepel lantai, lalu memukuli Wafi. Wafi diam tidak melawan sama sekali, Herman menahan istrinya yang tiba-tiba tidak terkendali. Sedari dulu, semua keluarga Shafiyah memang tidak suka jika ada lelaki yang mendekati Shafiyah. Apalagi berani seperti Wafi saat ini.


Sebuah mobil berwarna putih datang, Qais bersama keluarganya. Qais panik dan menarik Wafi ke belakang tubuhnya, agar terhindar dari pukulan Sara.


”Ibu, apa ini? kenapa begini? jangan memukuli orang sembarangan, nanti ibu kena masalah!" teriak Qais. Kening dan pelipis Wafi berdarah-darah, karena pukulan keras gagang pengepel, gagang pengepel bahkan sampai retak karena saking kencangnya tenaga Sara. Wafi merasakan kepalanya berdenyut ngilu, perih dan sakit. Tapi sakit hatinya, luka di hatinya jauh lebih hebat menyiksanya.


”Pergi kamu!" teriak Sara.


Qais menarik Wafi dan kedua anaknya sudah menangis histeris, melihat kejadian tersebut. Takut dan bingung, itu yang dirasakan kedua anaknya.


”Tolong pergi, saya minta maaf. Saya gak tahu masalahnya apa, ini kartu nama saya. Hubungi saya kapanpun," tutur Qais dan Wafi menerimanya.


Wafi akhirnya berhasil di bawa keluar, Qais menutup pintu pagar dan mendekati orang tuanya.


"Ibu kenapa sih?" Qais kesal.


”Telepon Fajar, minta dia buat jemput Shafiyah. Jemput Shasha!" teriak Sara kembali.” Aku gak mau anakku dengan pria seperti itu, aku gak mau. Telepon Fajar sekarang, dia jauh lebih bisa diandalkan ketimbang anak-anakku yang lain," tutur Sara. Qais menunduk dan tidak suka dengan ucapan ibunya itu.


Di dalam rumah, Burhan mengambil CV ta'aruf Wafi. Lalu pergi untuk menyembunyikannya, dia tahu cucunya suka dengan Wafi, dan Shafiyah akan sedih jika tahu kejadian saat ini.

__ADS_1


Wafi masih membeku di depan pagar rumah tersebut, air matanya berlinang, mendengar penghinaan dan penolakan keluarga Shafiyah. Lalu sekarang bagaimana? dia pergi dengan doa dan harapan dari keluarganya, kebahagiaan di wajah uminya teringat jelas. Lalu sekarang dia harus pulang dengan keadaan kotor, terluka dan hina? dia bisa menanggung semuanya sendiri, tapi jika keluarganya tahu, khusus uminya sendiri. Apakah uminya akan baik-baik saja? tidak akan baik, saat orang tua apalagi seorang ibu tahu jika anaknya dihina dan disakiti.


__ADS_2