Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 58: Benci


__ADS_3

Wafi dan Shafiyah belum pergi dari komplek perumahan tersebut, keduanya kini berada di sanggar. Mumpung ke sana, Wafi ingin mampir dan Shafiyah juga berharap ibunya berubah pikiran, dan dia akan menunggu di sanggar. Shafiyah yang diam melamun terus di tatap suaminya lekat.


”Sayang, jangan melamun.” Tegur Wafi sambil terus mengelus punggung tangan istrinya. Shafiyah menoleh, lalu tersenyum hambar dibalik cadarnya yang berwarna abu-abu dan basah karena air mata itu.


”Iya a, aa sabar ya. Maafin ibu ya, jangan benci sama ibu. Tolong do'ain, supaya ibu bisa berubah, bisa menerima hubungan kita,” tutur Shafiyah serak. Wafi merasa terharu mendengar permintaan istrinya itu, dia langsung merangkul bahu Shafiyah dan menariknya sampai Shafiyah bersandar di bahunya.


”Pasti sayang, kita do'ain sama-sama ya. Aku bangga, bagaimana pun ibu kamu, kamu gak pernah mau sampai aku benci sama ibu kamu. Makasih udah terus ngingetin suami kamu ini, selama kamu dukung aku, kamu ada di samping aku, aku punya penguat yaitu kamu, in sha Allah aku akan berusaha sabar sayang.” Wafi berucap dengan suara berat, Shafiyah meraih tangan suaminya dengan telapak tangan yang begitu kasar itu, lalu mendekatkannya ke bibirnya, menciumnya lembut dan Wafi memperhatikannya.


”Iya,” ucap gadis itu singkat dan Wafi tersenyum lebar. Tatapannya begitu lemah menatap istrinya yang begitu luar biasa.


”Gus!” teriak Ali yang baru datang, dengan wajah berseri-seri, dia senang melihat kedatangan Wafi bersama istrinya. Wafi tersenyum dan Ali dan yang lain berlari kecil menghampirinya.” Mau datang gak bilang-bilang, untung kita semua latihan hari ini,” ujarnya kembali.


”Cuma mampir,” ucap Wafi sambil tersenyum. Dan kini Shafiyah sudah tidak bersandar padanya. Gadis itu menundukkan kepalanya, karena banyak pria, yaitu anak didik suaminya dulu saat di sanggar.


”Ayolah a Wafi balik lagi.” Kata sedang pemuda berbadan kurus meminta dengan merengek.


”Hehe, gak bisa. Saya juga udah kerja sekarang." Sahut Wafi dan dia nampak kecewa.


”A Wafi udah nikah ya. Kok gak ngundang kita semua si?" tanya yang lain.


”Memang gak nyebar undangan, pernikahan sederhana. Mohon do'anya ya buat pernikahan saya,” imbuh Wafi sambil tersenyum lebar. Semuanya mengangguk-anggukkan kepala berusaha memahami.


Ke tujuh pemuda itupun bersiap untuk berlatih, Wafi memperhatikan dan mereka mengajaknya untuk bermain.


”Pengen lihat aa latih mereka, bisa?”


”Enggak ah malu kalau Bibah ngelihatin mah.”


”Ih kok malu si, ayo sana gabung sama yang lain. Aku di sini mau lihatin.”


”Dasar.” Wafi terkekeh dan menyentil gemas pipi istrinya. Wafi akhirnya pergi dan dia juga di paksa Ali untuk bergabung. Shafiyah diam memperhatikan, suaminya seperti sebaya dengan mereka semua yang usianya seusia dirinya. Setelah keluar dari penjara, jelas banyak perubahan pada Wafi. Khususnya setelah bertemu dengan Shafiyah, dia yang redup mulai bersemangat, dia yang hidup bagaikan sebuah kuncup bunga yang tak pernah mekar, langsung mekar begitu indah setelah bertemu dengan Shafiyah. Jika dulu doanya selalu begini 'Ya Allah, hamba mau Shafiyah. Hamba mau dia ya Allah' sekarang Wafi juga masih terus menyebut nama yang sama dalam setiap doa-doanya dengan versi berbeda. 'Ya Allah, berikan hamba kesempatan untuk membahagiakan istri hamba, mencukupi nafkah lahir dan batin, dan mendidiknya' tidak ada yang lebih romantis dari ini. Sebuah doa dari pria yang sama, jika dulu sebagai pejuang, kini dia sebagai seorang pemimpin rumah tangga.


Shafiyah diam-diam merekam, tapi dia ngeri sendiri saat suaminya melawan pemuda bernama Razi. Saling mempertahankan diri dari pukulan, sikutan dan tendangan masing-masing. Shafiyah mulai lupa dengan kesedihannya. Dia tidak menyangka suaminya memang seorang atlet dulu, dan dia melihat langsung kepiawaiannya sekarang. Shafiyah bertepuk tangan begitu riang saat suaminya berhasil melumpuhkan Razi.


”Suami Bibah gitu, jagoan." Puji Shafiyah berbisik dan berhenti merekam video. Wafi berdiri dan mengulurkan tangannya, membantu Razi berdiri dan keduanya tertawa bersama. Wafi duduk dan Razi juga duduk. Keduanya sama-sama berkeringat dan meminum air dari botol yang sama bergantian.


”Kaki kamu sakit Razi?" tanya Wafi cemas.


”Jatuh dari sepeda seminggu yang lalu, lumayan parah.”


”Astaghfirullah, hati-hati. Kamu udah berlatih lama, kalau cedera sebelum pertandingan gimana. Ke tukang urut aja, semoga cepat sembuh,” ucap Wafi sambil menepuk-nepuk bahu Razi dan Razi mengangguk sambil tersenyum.


”Haduh! capek ah." Ali langsung duduk di sebelah Wafi dan Wafi menatapnya sekilas. Razi bangkit dan dia berlari ke arah toilet. Wafi dan Ali terkekeh melihatnya.

__ADS_1


”Ali." Wafi memanggil.


”Iya?” sahut Ali.


”Hubungan kamu sama Zoya gimana?” tanya Wafi dan Ali menggeleng kepala.” Hah, maksudnya?”


”Gagal alias putus. Zoya kan lebih tua dari aku, keluarga aku gak setuju. Zoya dijodohin sekarang, gak tahu sama siapa," tutur Ali nampak sedih.


”Apa kamu gak mau berjuang Ali?"


”Kalau Gus memperjuangkan Shafiyah kan wajar, Shafiyah masih muda, lah aku. Aku masih muda, masih kuliah, belum mau mikirin ke jenjang pernikahan. Aku sama Zoya gak serius banget kok selama ini.” Ali tersenyum dan Wafi mendelik tajam.


”Asstaghfirullah, kalian ngapain si, pacaran segala.” Wafi menegur dan Ali terkejut mendengarnya.” Sekiranya belum bisa ngajakin anak orang ke jenjang serius, jangan main-main ngumbar rasa. Emang Zoya sering bikin status sih, kalau dia gak mau nikah muda malah ketemu sama kamu yang playboy," ujarnya ketus dan Ali mendelik sebal.


”Apaan sih Gus, siapa juga yang playboy.” Ali langsung cemberut.


”Ya kamu, usahakan jangan begitu lagi. Pacaran itu gak enak, yang enak itu nikah.” Wafi begitu ketus berucap, seraya menepuk-nepuk bahu Ali.


”Berarti Gus pernah nyoba pacaran ya? cie dosa." Ali terkekeh-kekeh sambil menunjuk Wafi tepat di hidungnya.


”Naudzubillah, cuma saya sering denger curhatan temen-temen saya tentang pacaran. Pacaran saya versi berbeda, pacaran setelah menikah, dimana setiap kegiatannya mendapatkan pahala bukan dosa.” Wafi menjawab seraya bangkit dari duduknya, karena dia melihat Shafiyah sudah terlihat bosan.


Deg! Ali langsung memegang dadanya, mendengar ucapan Wafi yang membuatnya sesak.


”Saya pergi semuanya, assalamu'alaikum.” Wafi pamit dan semuanya menjawab. Dia dan Ali berjabat tangan sekilas lalu Wafi pergi mendekati Shafiyah." Ayo sayang pulang,” ucapnya.


”Lapar." Shafiyah mengadu.


”Kita cari makan dulu," ucap Wafi dan Shafiyah tersenyum. Keduanya keluar dari sanggar, Shafiyah harus mengubur keinginannya, ibunya memang tidak mau bertemu dengannya.


Di rumah orang tua Sara. Sara mengunci diri di kamar, tidak mau berbicara dengan suaminya. Herman terus mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, akhirnya Herman pergi lagi saat sekertaris nya menelepon. Dan sekarang, Sara sedang menatap makanan yang dibawa anak dan menantunya sudah berada di atas meja ruang makan. Entah siapa yang membawanya masuk, dia kesal dan tidak suka. Wafi menitipkannya pada satpam, dan satpam mendapatkan izin dari Herman untuk membawanya ke dalam.


”Bi,,,Bibi!!" teriak Sara.


”Iya Bu!" sahut bibi dari kamarnya, paling belakang. Dengan bersungut-sungut, Sara memandangi rantang makanan dari keluarga besannya, dan dia tidak sudi menerimanya.” Ada apa Bu?” tanya bibi yang baru tiba, dengan raut wajah takut, takut membuat kesalahan.


”Buang semuanya!” tegas Sara memerintah, jadinya menunjuk-nunjuk rantang makanan itu dan bibi hanya bisa mengangguk.” Awas kalau gak di buang,” ucap Sara penuh ancaman. Bibi mengangguk lagi dan Sara pergi meninggalkan dapur.


”Ya ampun, makanan segini banyaknya masa mau di buang, sayang banget, mubajir juga. Mending buat pekerja di rumah ini aja, Bu Sara kan bilang dibuang. Di buang ke perut lebih baik," ucap bibi sambil tersenyum dan membawa semuanya ke belakang, untuk dibagikan dengan PRT yang lain dan juga satpam.


******


Hari ini, seperti biasa. Shafiyah menjalani aktifitas nya. Sebagai seorang istri, pengajar, seorang menantu, dan pelajar. Bisa dibayangkan, sesibuk apa dia. Hubungannya dengan sang suami semakin baik, semakin romantisme, walaupun sesekali cekcok dan berdebat. Sangat wajar dan lumrah terjadi pada rumah tangga setiap pasangan, tidak akan ada yang selancar jalan tol, tanpa hambatan dan kendala. Shafiyah sedang melangkah bersama teman-temannya, dia akan pergi ke kantor dari kampus untuk memberikan suaminya kejutan dengan kedatangannya.

__ADS_1


”Fiyah, jadi kan nanti hari Minggu jalan-jalan?” tanya Vera.


”Enggak tahu, aku belum izin.” Shafiyah menjawab. Dan Vera cemberut.


”Emang harus ya, apa-apa itu izin ke suami dulu?” tanya Vera, dia penasaran karena Shafiyah nampak dikekang setelah menikah.


”Wajib, gak boleh keluar dari rumah tanpa seizin suami, walaupun perginya cuma ke warung hehe,” tutur Rosa menjelaskan.


”Loh, kenapa kamu yang jawab?” ketus Vera.


”Karena, jawaban aku sama Rosa itu sama. Seorang istri nurut sama suami, bukan berarti dilarang ataupun dikekang. Sebelum menikah aja, seorang perempuan muslimah lebih bagusnya di rumah, jangan keluyuran,” ujar Shafiyah meneruskan.


”Betul itu.” Nur Membenarkan sambil merangkul bahu Shafiyah. Vera cemberut dan mengibaskan rambutnya.


Shafiyah menoleh saat melihat sebuah taksi datang, dia yakin itu taksi yang dia pesan. Supir taksi juga keluar dan terlihat menelepon seseorang dan hape Shafiyah berdering.


”Aku duluan ya, assalamu'alaikum."


”Wa'alaikumus Salaam. Hati-hati Shafiyah!” seru Nur sambil melambaikan tangan. Shafiyah tersenyum dan melangkah pergi. Shafiyah berbicara sebentar dengan supir taksi dan tidak lama dia masuk.


”Jalan pak." Shafiyah meminta.


”Siap teh." Sahut supir taksi dari depan dan lekas melajukan kendaraan.


******


Di kantor, Wafi sedang melangkah diikuti Elang dari belakang. Wafi melonggarkan dasinya dan dia sangat lelah saat ini. Nanti malam, akan diadakan seperti biasa acara Manaqib di pesantren Al Bidayah, kehadiran Gus Mu sangat penting dan Gus Mu tahu itu.


Di lobby, seorang gadis berniqob dan berpakaian serba hitam berdiri menunggu. Shafiyah sudah setengah jam yang lalu, tidak ada yang percaya jika dia istri dari CEO di perusahaan tersebut. Sorot mata Shafiyah nampak sedih, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.


”Siapa sih itu, ngaku-ngaku istrinya bos?” ucap Cindy ketus dan menatap Shafiyah dari ujung kepala sampai ujung kaki.


”Katanya sih istrinya pak Wafi.”


”Apa?” suara Cindy meninggi.” Bos kita udah menikah? katanya belum. Gimana sih."


”Pak Wafi udah nikah kok, pak Elang waktu itu share fotonya di Instagram. Kamu gak tahu? sekitar dua mingguan yang lalu,” kata karyawan yang lain, seorang wanita paruh baya.


”Enggak mungkin lah,” ketus Cindy menyangkal.


Beberapa karyawan menoleh saat pintu lift terbuka. Wafi dan Elang keluar dan Shafiyah langsung sumringah melihat suaminya. Wafi mengerutkan keningnya, melihat sang istri muncul di hadapannya.


”Sayang,” ucap Wafi refleks. Dan semua orang melongo.

__ADS_1


__ADS_2