
”Sah!” seru semua tamu, mengesahkan ijab qobul yang sudah diserukan oleh Ahmad Salam Narwawi, mempersunting Afsheen Daniyyah Farihatul ZM dengan mas kawin 25 gram emas. Afsheen meneteskan air matanya, sekarang dia sudah menjadi istri Salam.
Semuanya menadahkan tangan untuk membaca doa bersama. Wafi terus menunduk dan Shafiyah memperhatikannya. Entah kenapa pria itu begitu murung, Shafiyah tidak tahu, hubungan Wafi dengan adiknya sangat buruk. Di caci dan hina bukan sekali dua kali dia terima.
Sudah saatnya pengantin wanita dibawa keluar, Salam terus tersenyum. Pria berkulit hitam manis itu sudah tidak sabar ingin melihat Afsheen, sementara Afsheen ragu-ragu untuk keluar.
”Ayo neng,” bujuk Fahira.
Afsheen diam dan mengusap air matanya perlahan-lahan, dia akhirnya didampingi dua pager ayu. Semua tamu tersenyum melihat pengantin wanita bercadar itu, apalagi keluarga Salam yang paling antusias. Salam menoleh, dia perhatikan Afsheen yang berjalan menunduk. Dan sesekali menatap Wafi, bukannya menatap sang suami, Afsheen malah sibuk memperhatikan kakaknya yang diam dengan ekspresi wajah datar. Wafi mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang dia tunggu sedari tadi. Kedua matanya yang tajam terus mencari sampai akhirnya berhenti pada Shafiyah yang sedang menunduk, menatap layar ponselnya. Raut wajah muram pria itu berubah drastis, bagai bunga yang sudah layu, tersiram dan segar kembali.
”Apa itu gadis yang disukai Wafi?" tanya Noah berbisik-bisik kepada Nafis.
”Iya om, itu. Anaknya Herman Affandie, dan Sara yang pemilik pabrik kosmetik nomor satu di tanah air." Balas Nafis dan Noah membuang nafas panjang, bisa-bisanya keponakannya bermimpi terlalu tinggi. Noah pernah bertemu dengan Herman dan Sara, di sebuah acara dan kesan pertama bertemu kedua orang itu sangat tidak baik, sama-sama sombong. Tapi kadar kesombongan Sara lebih melangit. Noah malah khawatir sekarang, takut keponakannya bermasalah dengan keluarga itu.
Kini, Afsheen sudah duduk. Menandatangani beberapa lembar kertas, dan saling melirik dengan Salam. Wafi mundur menjauh, sampai akhirnya dia bangkit dan turun dari pelaminan. Raihanah yang ingin menahan pun tidak bisa, kedua mata Afsheen berair dan terasa panas melihat kakaknya menghindarinya.
Wafi akhirnya duduk, Shafiyah diam memperhatikan punggung, tengkuk dan rambut pria yang duduk di kursi di hadapannya. Tidak lama bibirnya tersenyum tipis. Dari belakang saja kalau orang ganteng memang beda. Di sebelah Wafi adalah bibi bibinya.
”Wafi, duduk di pelaminan. Temani umi kamu." Bisik Faiza dan Wafi menggeleng kepala, Shafiyah diam mendengarkan percakapan tersebut. Sampai akhirnya Noah yang menemani Raihanah, adiknya yang nampak sedih di hari bahagia ini. Keluarga Fatur juga hadir, acara pernikahan berlangsung begitu meriah. Wafi terlihat mengeluarkan hapenya, tidak lama hape Shafiyah berdering. Chat masuk dari pria itu.
”Assalamu'alaikum, datang sama siapa kesini?"
Shafiyah diam, dan menatap punggung besar di hadapannya itu. Lalu dia mengetikan beberapa kata." Wa'alaikumus Salaam, aku sama Rosa. Kan udah bilang waktu itu." Pesan terkirim.
”Saya takut kamu sendiri,” balas Wafi.
”Hehe😁." Pesan terkirim, pesan yang membuat Wafi langsung tersipu melihatnya.
”Dih,😒 gak usah ketawa." Pura-pura jutek supaya tidak ketahuan.
”Kenapa mukanya murung tadi? Fiyah dengar a Wafi sempet hilang. Dari mana? a Wafi bikin semua orang panik tahu.” Pesan terkirim. Shafiyah sangat penasaran, kemana perginya pria itu sampai membuat seisi pesantren geger.
”Jajan batagor dulu😎." Balas Gus Mu tanpa beban.
Shafiyah membuka pesan balasan dari Wafi, dia terbelalak membacanya." Astaghfirullah Gus." Seru Shafiyah lantang, Wafi tersentak saat disebut gadis itu, dan ia langsung menutupi wajahnya dengan telapak tangan seraya menunduk dalam. Bibirnya nampak menahan tawa, kenapa bisa Shafiyah begitu. Keduanya kan sedang berkirim pesan.
”Hah? Gus kenapa?" tanya Rosa. Shafiyah gugup dan kebingungan, semuanya menoleh ke arahnya. Wajah gadis itu memerah karena malu.
”Anu itu.... Enggak!" bantah Shafiyah terbata-bata. Wafi cengengesan dan Shafiyah sangat ingin memukul bahu pria itu yang bergetar, karena terus cengengesan.” Enggak Rosa, aku salah baca pesan. Itu aja,” sambungnya grogi dan Wafi terus terkekeh.
__ADS_1
”Ih malu atuh, itu Gus di depan kita. Nanti dikirain ke Gus Mu, ah kamu mah." Bisik Rosa dan Shafiyah tersenyum lebar.
"Lucu banget sih kamu Bibah." Gumam Wafi dan terus tersenyum, membuat orang-orang yang melihatnya bingung melihatnya.
Shafiyah dan Wafi berhenti berkirim pesan, takut ada yang curiga dan menyadarinya. Tapi Raihanah sudah terlanjur menyadari hal tersebut, dan wanita itu berharap, dia bisa berbicara dengan Shafiyah walaupun sebentar.
Suasana begitu haru dan bahagia menjadi satu, diam-diam Wafi memperhatikan adiknya. Yang begitu cantik dengan gaun pengantin berwarna putih itu, begitu indah dipandang mata. Beruntung nya Salam, di usia muda sudah sukses dan menikah. Rasa iri tiba-tiba menyeruak, Wafi lekas mengusap dadanya, tepat di hatinya. Lalu beristighfar berulangkali dalam gumaman nya. Bagaimana pun kehidupannya, dia harus bersyukur. Terlebih, kebahagiannya bertambah, yaitu Habibah.
_______
Di rumah Fajar, Sara membawa Farel untuk mempertemukannya dengan Shafiyah, Farel mengadu. Jika Shafiyah sama sekali tidak pernah membalas pesan ataupun mengangkat teleponnya, bahkan kemarin Shafiyah memblokir nomor pria itu. Jelas saja Farel murka, betapa jual mahalnya Shafiyah dan membuatnya tidak tahan dan akhirnya mengadu. Dia yakin Sara adalah jalan untuknya mendapatkan Shafiyah, wanita renta itu hanya memikirkan uang dan sangat ingin besanan dengan orang tuanya.
”Shasha gak ada," ucap Fajar dan menatap Farel begitu tajam.
”Gak ada kemana?ini hari Minggu, kenapa Fiyah keluar gak izin sama ibu dulu. Ada Farel kan, kasihan dia jauh-jauh,” tutur Sara kesal dan mengeluarkan hapenya. Dia menelepon Shafiyah tapi gadis itu tidak mengangkatnya.
”Ada acara pernikahan temannya, dia kesana. Biarin aja kenapa sih Bu, kasihan Shafiyah di rumah terus.” Fajar berucap dan menatap ibunya sekilas, dia kini kembali menatap Farel tajam. Sara tak kunjung menyerah, dia mengirimkan pesan dan sesekali menelepon tapi Shafiyah tidak merespon. Sara mendengus sebal dan akhirnya mengajak Farel duduk.
”Gak tahu malu,” ujar Fajar ketus saat melihat Farel memperhatikan seisi rumahnya.
”Fajar!" bentak Sara.
Farel tersenyum dan menatap Sara lekat." Gak apa-apa Tante,” ujarnya sok baik dan Fajar mendengus.
”Air putih aja Tante,” pinta Farel.
”Tunggu disini,” kata Sara dan Farel mengangguk.
Mimik wajah tampan Farel berubah ganas, dia mengeram penuh emosi. Tetap saja begitu susah mendekati Shafiyah, kurang apa dia? kaya, tampan dan mapan. Dia stres sendiri dan bisa saja gila karena kebingungan bagaimana caranya menaklukan hati Shafiyah.
__________
Kembali ke acara pernikahan, sepasang pengantin baru itu sedang meninggalkan pelaminan untuk berganti pakaian. Kebetulan Wafi juga ada di dalam rumah, sibuk merebahkan tubuhnya yang lelah. Bisa dibayangkan, betapa menggemaskannya anak bujang Raihanah itu. Wafi duduk saat Afsheen mendekat. Adiknya langsung menangis dan berjongkok lalu memeluknya. Semua keluarga kebingungan dan Bayyin tersenyum melihatnya.
”Aa hiks,,, maafin Niyyah. Maaf!” dengan suara berat, hembusan nafas yang tercekat, dia meminta maaf atas semua perbuatannya, semua ucapannya yang sudah menyakiti sang kakak. Wafi diam, dia memalingkan wajahnya, tak bisa dipungkiri dan disembunyikan. Kedua matanya tiba-tiba layu dan berair. Afsheen terus memeluk dan menggoyangkan tubuhnya.
”Maafin Niyyah, makasih udah tetep sayang sama Niyyah. Walaupun Niyyah kasar terus, Niyyah sayang sama a Wafi. Maafin Niyyah a, aa ngomong dong hiks! Niyyah minta maaf.” Air mata terus bercucuran, bercampur dengan keringat. Wafi yang tidak kuat mempertahankan pendiriannya untuk mengabaikan Afsheen, akhirnya membalas pelukan adiknya, menciumi pucuk kepala adiknya berulangkali, seperti yang sering dia lakukan.
”Jangan nangis Niyyah, udah aa maafin. Udah ya.”
__ADS_1
"Aa jangan dendam sama Niyyah ya a.”
”Mana mungkin aa begitu, aa sayang sama kamu. Selamat, kamu sudah menjadi seorang istri. Turuti semua ucapan suami kamu, selama itu benar dan untuk kebaikan bersama.” Wafi mengusap air mata Daniyyah dengan kedua tangannya, Daniyyah diam dan menatap wajah kakaknya itu yang begitu dekat. Wafi mengecup kening Afsheen sekilas, melihat kedekatan keduanya, membuat Salam tersenyum. Wafi menggerakan tangannya meminta Salam mendekat, dia peluk Salam dan Afsheen hangat.
Apa yang lebih menenangkan selain kedamaian, kedamaian hati adalah sesuatu hal yang begitu mahal dan berharga. Di wajah Raihanah, terlihat jelas kelegaan tersendiri melihat kedua anaknya sudah saling melepas maaf tanpa ragu, saling memeluk dan mengusap lembut. Satu anaknya sudah menikah, begitu sedih tapi juga bahagia. Raihanah terus tersenyum, senyumannya terhenti saat rombongan keluarga Musa datang. Afsheen juga diminta untuk segera berganti pakaian, dan keluarga Musa duduk berjajar di atas kursi di teras rumah tersebut. Wafi yang baru saja hendak bersantai langsung bangkit, saat air cup habis. Dan harus segera dibeli kembali. Bayyin melangkah keluar, menyapa dan bersalaman dengan wanita keluarganya Musa. Musa tersenyum dan memperhatikan Bayyinah sesekali.
”Gimana kabar kamu neng?” tanya ibunya Musa.
”Alhamdulillah baik Bu,” balas Bayyin lembut. Dan ibunya Musa tersenyum lebar.
Sementara itu, Shafiyah mampir sebentar ke asrama. Ada Ima pun dia mengabaikannya, Rosa tidak mau banyak bertanya yang bukan urusannya, dia malas terlihat masalah orang lain. Shafiyah tidak bisa berlama-lama, dia harus segera pulang sekarang.
”Shafiyah,” ucap Rosa saat melihat Raihanah memperhatikan keduanya. Shafiyah bingung dan melirik ke arah yang di tatap Rosa.
Keduanya pun mempercepat langkah dan kini berhadapan dengan Raihanah.” Assalamu'alaikum,” ujar Rosa dan Shafiyah.
”Wa'alaikumus Salaam," jawab Raihanah dan membiarkan keduanya menyalami tangannya.” Saya mau ngomong sama Shafiyah sebentar ya, apa boleh?”
Shafiyah terdiam dan gugup. Rosa mengangguk dan dia harus meninggalkan keduanya sekarang.
”Ada apa ya, sampai Bu nyai mau ngobrol berdua sama saya?" tutur Shafiyah dan dia selimuti rasa takut saat ini. Raihanah merangkul bahu Shafiyah, mengajaknya ke tempat sepi. Sampai lah keduanya di sebelah asrama, dan di sana cukup aman untuk berbicara serius.
”Saya mau bicara tentang anak saya Wafi Muzammil. Hubungan kalian sudah terlalu dalam, apa kalian tidak takut dosa?” tutur Raihanah dan Shafiyah diam.” Anak saya tidak punya apa-apa, sekuat apapun kalian berjuang untuk bersama, kalian melupakan semua hal yang realistis. Kalian tidak mungkin bisa bersama, dan tolong lepaskan anak saya," tutur Raihanah lemah lembut tapi tetap tegas dan membuat Shafiyah terguncang hebat.
”Bu nyai..." Berusaha menjelaskan, tapi tangan Raihanah terangkat ke udara, tidak mau mendengar penolakan dari Shafiyah.
”Sudah banyak penghinaan yang kami dapat, apa itu belum cukup?” suara Raihanah kini berat, kedua matanya berair dan Shafiyah meneteskan air matanya.
Kedua tangan gadis itu merapat dan Shafiyah juga menatap Raihanah lekat.” Fiyah minta maaf, atas semua yang dilakukan keluarga Fiyah Bu. Maaf, tapi Fiyah sayang sama Gus Mu.”
"Ini bukan kasih sayang nak, ini hubungan terlarang. Jauhi anak saya, kalian sama-sama manusia bersyahwat. Kalian harus tahu batasan, kalian paham kan? obrolan antara laki-laki dan perempuan jika berlarut-larut itu tidak baik. Tolong hentikan semuanya, tolong tinggalkan anak saya. Karena saya meminta anak saya percuma, tapi kalau kamu yang bilang dan memintanya mundur, dia akan mundur. Kasihani kami Shafiyah, yang sudah tidak kuat menerima penghinaan lagi.” Raihanah sudah menangis, keduanya menangis bersama, terisak-isak pelan. Shafiyah terus menggeleng kepala, menolak permintaan Bu nyai itu. Bagaimana lagi, dia sudah sangat menyayangi Gus Mu. Dia tidak bisa menghindari perasaannya. Apalagi untuk membuang dan melupakannya.
”Kasihani wanita renta ini nak, yang hanya ingin ketenangan di masa tuanya. Tolong, minta Wafi pergi dan mengikhlaskan kamu. Kamu dan kami berbeda, tidak akan pernah bisa menyatu. Saya gak sanggup lagi di dera rasa khawatir karena anak saya mendekati kamu, seorang anak dari keluarga terpandang.” Raihanah mendesah kasar, menyeka air matanya sesekali yang tak mau berhenti menetes. Shafiyah menangis sesenggukan, tapi hal tersebut tidak merubah keputusan Raihanah." Jauhi anak saya, bilang sama anak saya, kamu gak suka sama dia. Walaupun dia akan sakit, dan hancur. Itu lebih baik ketimbang terus memperjuangkan kamu dan membuat kehidupannya dalam bahaya. Kamu anak baik saya tahu, dan saya butuh bukti kalau kamu benar-benar baik. Lepas Gus Mu kami, dan cari lah pria lain yang sederajat dengan kamu. Assalamu'alaikum.” Raihanah melenggang pergi dan Shafiyah terus menangis. Menjawab salam Bu nyai pun suaranya tidak jelas.
Harus bagaimana dia sekarang? Bu nyai tidak menyukainya, tidak memberikan restu. Semuanya malah semakin rumit, tapi untuk menyerah dia tidak mau. Bagaimana bisa dia melakukan hal yang akan membuatnya sengsara. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Shafiyah pergi untuk segera pulang. Padahal dia belum makan. Wafi yang baru pulang terkejut melihat Shafiyah pergi, tanpa memberitahunya? pria itupun lekas turun dari motor, dan melangkah cepat lalu menghadang jalan Shafiyah. Shafiyah terus menunduk, dan Wafi bingung.
”Kamu belum makan, makan dulu."
"Aku masih kenyang.” Jawab Shafiyah serak. Wafi menunduk dan gadis itu berbalik badan.” Aku mau pulang Gus, tolong jangan ganggu aku.”
__ADS_1
”Ada masalah?”
Shafiyah menggelengkan kepalanya dan Wafi diam. Gadis itu akhirnya kembali melangkah dan akan mencari taksi sendiri. Wafi menyusul dan dia berdiri sangat jauh dari Shafiyah, keduanya berdiri di trotoar jalan. Menunggu taksi atau angkutan umum yang lainnya. Wafi tidak bisa menahan gadis itu walaupun ingin.