
Shafiyah masih terjaga, dia mengunci pintu kamarnya dan melangkah perlahan ke lemari, mengambil hape yang dia sembunyikan di sana. Shafiyah duduk di tepi ranjang dan chat masuk dari nomor tidak dikenal, Bayyin yang mengirim pesan, sebuah video saat Wafi sedang berolahraga Voly ball dengan para santri. Shafiyah tersenyum, dia menarik rambut coklatnya yang terurai menghalangi pandangannya, lalu menyelipkannya di belakang telinga. Gadis dengan piyama berwarna merah mewah itu begitu bahagia melihat video tersebut.
”Ganteng," pujinya sambil terus tersenyum. Memperhatikan keringat di wajah pria itu, Wafi nampak menikmati permainan. Dia memang sedang berusaha lebih dekat dengan para santri, khususnya yang masih sangat belia, tidak semua santri tahu dia masuk penjara karena apa. Dan malah mudah untuk diprovokasi gosip di luar sana. Wafi ingin membuktikan jika dia tidak sejahat itu, dia menjelaskan dan menceritakan tentang kehidupannya di penjara dan apa sebabnya. Dia ingin semua santri menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dan menghargai para perempuan siapapun itu. Beberapa berita tentang pengajar atau kyai yang melecehkan para santri dan santriwati juga membuat Wafi tersudut. Mantan narapidana yang menjadi sebutannya saat ini menjadi alasan untuk semua orang curiga padanya, dan hal yang paling menyedihkan adalah, ada beberapa orang tua yang membawa anak mereka pulang dari pesantren Al Bidayah, dengan alasan ketidaknyamanan atas kehadirannya yang seolah ancaman untuk semua orang di pesantren.
Pria itu tidak pernah membagi masalahnya dengan siapapun, dia genggam dan atasi sendirian. Hanya Shafiyah yang membuatnya semangat, meski jarang berkomunikasi dan melihat. Karena memang gadis itu belum menjadi hak nya, tapi nanti saat dia berhasil menikahi Shafiyah. Hidupnya lengkap sudah, berkumpul bersama keluarga tercinta dan orang yang dia cintai. Bahagia bukan? sebuah angan-angan yang sangat diidam-idamkan pria itu. Usaha dan doa seolah bertanding, siapa yang akan sampai lebih dulu. Usaha yang dinilai manusia, atau doa yang dia panjatkan kepada Allah SWT yang mengatur segala urusan dunianya.
”Semangat beraktivitas ya Gus, berjuang dan jangan lupakan kebahagiaan kamu sendiri. Aku senang melihat kamu bermain seperti ini, lucu, gemesin. Kamu manis banget kalau lagi senyum, orang-orang akan tahu kamu luar biasa. Kapanpun itu, aku yakin hal itu akan mengubur masa lalu kamu yang kelam, nama kamu yang buruk, akan digantikan dengan nama yang dikenal dengan kebaikannya. Terima kasih, sudah membuat gadis kecil ini bahagia dalam kedukaannya, semoga Allah satukan kita. Supaya saat kamu lelah dan penat, aku menjadi tempat kedua setelah Allah untuk kamu datangi. Gus Mu, Wafi Muzammil Ali Majdi, aku mencintaimu." Shafiyah terus tersenyum, dia terus memperhatikan calon suaminya, sebuah pengakuan yang dia harapkan menjadi doa dan akan dikabulkan oleh Allah SWT.
******
Kembali ke tempat kecelakaan, Fajar tidak sadarkan diri. Pintu tidak bisa di buka, Wafi berusaha pun percuma.
”Pak Fajar!!" teriak Wafi." Bapak lihat saya, lihat saya!” Wafi terus menjerit dan berteriak-teriak, yang lain pun ikut membantu. Wafi mundur menjauh, dia memutar tubuhnya mencari sesuatu, sampai akhirnya dia melihat beberapa batu dan dia mendekati batu paling besar, mengangkatnya." Minggir!" teriak Wafi. Dia panik karena melihat sekilas pisau menancap di perut pria itu, ini bukan kecelakaan, bisa saja pria yang memiliki banyak musuh itu sengaja dilukai.
Brug! brug! brug! Wafi terus memukul kaca mobil dan akhirnya kaca hancur. Wafi melempar batu dan menepuk-nepuk pipi Fajar.
"Bangun pak!" teriak nya lagi tapi Fajar tidak bereaksi. Wafi membuka pintu mobil dan beberapa orang membantunya menarik tubuh tambun itu. Yang lain berusaha menghentikan taksi, sudah larut malam dan begitu susah untuk menghentikan taksi. Setelah dapat, tubuh Fajar di bawa masuk ke dalam, Wafi masuk lebih dulu dan merangkul bahu pria itu, bajunya berlumuran darah Fajar. Supir taksi langsung tancap gas dan Wafi merogoh sakunya untuk memberitahu Shafiyah.
Shafiyah di tempatnya kebingungan, Wafi tiba-tiba meneleponnya saat ini. Dia pun akhirnya mengangkatnya.
__ADS_1
”Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus Salaam," jawab Wafi dengan nafas tersengal-sengal. Shafiyah panik dan langsung berdiri dari duduknya, apa yang terjadi? kenapa suara Wafi seperti itu? Shafiyah diam dan mendengarkan Wafi yang terus mengatur nafasnya.
”Gus?” Ucap Shafiyah serak.
”Kakak kamu Bibah,,,,” ucap Wafi serak. Shafiyah terdiam dan semakin bingung.” Fajar,,," ucap Wafi kembali.
”Gus, kakak aku kenapa? tolong bicara yang benar Gus, tolong hiks,” tangisannya pecah, mendengar kepanikan Wafi, sudah pasti kakaknya tidak baik-baik saja.
”Jangan nangis shuttt... Tenang ya, saya bawa kakak kamu ke rumah sakit ---. Hubungi keluarga kamu yang lain, dan susul kami secepatnya, jangan nangis." Wafi berbicara dengan suara berat dan terus menatap Fajar di sebelahnya. Shafiyah mengiyakan semua ucapan nya, panggilan pun berakhir dan Shafiyah langsung keluar dari kamar.
Meri diam memperhatikan adik iparnya itu." Kamu belum tidur neng? ini jam berapa coba, cepetan tidur. Mungkin kakak kamu sebentar lagi pulang,” ujarnya lembut dan Shafiyah menangis lagi, gadis itu mengatakan segalanya. Meri terhuyung lemas, menjatuhkan gelas dari tangannya sampai terburai di anak tangga. Shafiyah memeluk kakak iparnya itu dan tangisan Meri menggema di seluruh ruangan.
****
Pukul 2 dini hari, keputusan dari dokter adalah operasi. Luka di perut Fajar sangat fatal, semua keluarga menangis mendengar kabar duka tersebut. Dan Meri langsung menandatangani beberapa lembar surat sebagai tanda persetujuan. Wafi masih ada di sana, dia tidak menunjukkan dirinya. Dia diam di lorong sepi dan menekuk wajahnya dalam-dalam. Wafi duduk dengan kondisi bercak darah di bajunya.
Suara langkah kaki pun tetap tidak membuat pria itu tersadar dari lamunannya. Sampai akhirnya Shafiyah menyodorkan satu botol minuman dan tangan kirinya memegang kantong plastik berisi roti. Wafi mengangkat kepalanya dan dia lekas berdiri.
__ADS_1
Kedua mata Shafiyah bengkak karena terus menangisi kondisi Fajar, kelopak mata yang dihiasi bulu mata panjang dan lentik itu basah.
”Pulang Gus, ngapain disini?” tanyanya serak.
”Gimana keadaannya? saya gak tahu apa-apa Habibah, sumpah. Apa saya akan disalahkan sama keluarga kamu? jika begitu, hubungan kita akan semakin sulit untuk mendapat restu.” Dengan suara serak dan tercekat pria itu berbicara, membantah tuduhan yang bisa saja dia terima. Lalu harapannya untuk memiliki Shafiyah, semakin terkubur dalam.
”Enggak Gus, Gus gak salah. Kenapa harus takut? banyak saksi juga di sana. Jangan khawatir ya,” ucap Shafiyah sambil terisak-isak pelan. Wafi yang sedang dirundung kegelisahan yang mendalam refleks mengangkat tangannya, hampir menyentuh pipi gadis itu untuk menyeka buliran air mata. Shafiyah tersentak, mundur pun dia telat. Wafi mengepal tangannya setelah tersadar dari kesalahannya.
”Saya minta maaf, untung gak kena. Pergi Habibah, kita berduaan di sini. Saya takut,” tuturnya mengusir gadis itu lemah lembut, seraya berbalik badan membelakangi Shafiyah. Dia merinding hebat dan sangat takut tidak sanggup menahan syahwatnya nya. Shafiyah meletakkan roti dan botol minuman di kursi.
”Tolong di makan ya, aku gak mau Gus sakit. Pulang, ini udah malam. Keluarga Gus Mu pasti khawatir,” tutur Shafiyah dan hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Wafi.” Assalamu'alaikum,” sambungnya kembali.
”Wa'alaikumus Salaam," balas Wafi dan diam mendengarkan suara langkah kaki Shafiyah, yang perlahan tapi pasti, suaranya semakin samar.
Wafi menuruti permintaan Shafiyah. Pria itu pulang menggunakan ojeg, sesampainya di rumah. Raihanah sedang menunggu. Wafi masuk lewat pintu dapur, lalu mengunci pintu kembali.
”Darimana kamu?" tanya Raihanah dengan nada suara yang begitu kesal. Wafi menunduk lesu dan Raihanah memperhatikannya. Raihanah terbelalak melihat pakaian putranya bersimbah darah, seperti saat itu, saat putranya membunuh dua pria yang melecehkan Bayyinah.
”Wafi Muzammil, apa yang kamu lakukan di luar sana nak? asstaghfirullah hal adzim, darah siapa?” suara Raihanah berat, meraba-raba baju putranya itu.
__ADS_1
”Kakaknya Shafiyah,” jawab Wafi dan Raihanah memukul dada putranya itu kesal.