Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 23: Ketemu kang lebay


__ADS_3

Semalaman, Wafi tetap terjaga, dengan secangkir kopi dan rokok. Dia hanya menghisap setengah batang, dia teringat dengan Shafiyah yang memergokinya merogok, tatapan gadis itu bahkan terlihat tidak suka. Wafi akan berusaha untuk mengurangi kebiasaan buruknya itu, agar hidupnya lebih sehat juga.


”Abi, abi, abi, abi." Panggil pria itu yang sedang berdiri menutup matanya, merasakan udara pagi hari di puncak gunung yang menenangkan. Dia terus memanggil sosok yang begitu dia rindukan, sampai dia sakit akan kerinduan yang menyiksanya. Belaian, usapan, pujian, pelukan sang ayah begitu masih kuat dalam ingatannya. Dia sangat ingin itu, dia butuh pelukan ayahnya. Kedua matanya tiba-tiba meneteskan butiran air bening dan membasahi pipinya.” Abi, abi... Abi!!!!!!!!” teriaknya begitu kencang, suaranya menggema dan menyiksa telinga. Semua teman-temannya menoleh, Wafi terus berteriak dan Ismail memburunya.


”Abi hiks,, abi. Aku capek!, apa boleh aku menyusul abi saja.. Aku capek, aku gak sanggup lagi. Abi.....!!! aaaa... hiks!! aku capek.” Teriaknya lagi dan Ismail memeluknya erat dari belakang. Tubuh besar Wafi runtuh dan Ismail terus menahannya, di susul yang lain mendekat karena Wafi tidak baik-baik saja saat ini.


”Aaaaaaa,,,,,!!" pria itu terus menjerit dan suaranya menyiksa gendang telinga Ismail yang menahannya kuat. Wafi bisa saja nekad terjun ke bawah gunung.


”Wafi tenang, wafi!" bentak Ismail berharap Wafi tersadar dari bayangan abinya yang tak mungkin bisa dia lihat lagi secara nyata.


”Wafi hei, Wafi," seru Angga ikut mencoba menenangkan.


”Nangis aja kalau kamu mau, tangisan bukan tanda lemah Wafi. Menangis saja,” imbuh Feri agar pria itu tenang dan Wafi terus menangis. Ismail menahannya sekuat tenaga, dan Wafi berontak sampai yang lain ikut menahan dengan menindihnya.


”Hiks....!” Tangisan Wafi semakin menjadi-jadi. Semuanya diam dan beberapa membereskan barang-barang untuk segera menuruni gunung. Wafi terus menangis dan teman-temannya menunggu sampai Wafi siap untuk pergi meninggalkan puncak. Semuanya memiliki kesibukan masing-masing, ada yang kerja dan Ismail hanya izin satu malam kepada istrinya Kamila.


Di puncak anaknya menangis, di rumah sang ibu khawatir dan merasa tidak enak hati bukan kepalang, terus mencoba menelepon putranya namun tidak bisa. Bayyin diam memperhatikan uminya yang dirundung kegelisahan.


”Asstaghfirullah aa kamu, senang banget bikin orang tua khawatir,” lirih Raihanah dan Bayyin membuang nafas panjang.


”Sabar umi, kalau aa udah turun pasti nelepon, dia pasti langsung pulang kesini.” Bayyin berusaha menghibur tapi tetap saja uminya tidak terlihat tenang.


Suara sebuah mobil berhenti di depan rumah membuat keduanya bertanya-tanya, siapa yang datang? Bayyin pun menarik tirai jendela, mengintip. Dia tersenyum saat melihat Jelita, Jane dan Noah datang. Tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.


”Om Noah," ucap Bayyin begitu semangat dan Raihanah menatap keluar kaca jendela, dia bangkit dan membantu Bayyin. Keduanya keluar bersama-sama dan Noah langsung tersenyum melihat adik kesayangannya, dan keponakannya Bayyinah.


”Bang," ucap Raihanah dan berpelukan dengan kakaknya itu. Noah menepuk-nepuk kepala adiknya lembut dan Raihanah menangis haru.


”Bayyin," seru Jelita begitu antusias lalu memeluk Bayyin erat, di susul Jane ibunya.” Dimana Afsheen?”


”Dia kerja, pulang sore," jawab Bayyinah.


”Iya tolong bawa semuanya kemari pak,” pinta Noah kepada supir taksi agar membantunya membawa semua oleh-oleh ke dalam rumah. Raihanah membuang nafas panjang, merasa syok karena melihat semua sembako yang dibeli kakaknya, Jane dan Jelita bahkan menumpangi taksi yang berbeda. Noah tidak mau keluarga adiknya kekurangan bahan makanan, kadang dia meminta grosir langganan untuk mengirimkan ke rumah adiknya setiap bulan, dengan transaksi pembayaran via transfer. Noah masih sama, sangat mencintai adik dan semua keponakannya.


Bayyin berobat di luar negeri hanya setahun. Setelah kondisinya sedikit membaik dia meminta pengobatan dilakukan di Indonesia, karena Wafi sendirian di penjara. Bayyin tidak tega, dan sampai sekarang sering merasa bersalah atas kehidupan kakaknya. Cara Noah memboyong semuanya ke Kanada, untuk menghindari media yang terus menyasar keluarga tersebut karena kasus pembunuhan yang dilakukan Wafi. Dan itu tidak cukup sampai Raihanah dan kedua anak perempuannya harus sabar menghadapi celaan dan makian orang-orang.


”Kamu mau buka toko di rumah aku?” tanya Raihanah dan Noah tertawa begitu juga dengan istrinya.


”Ya gak apa-apa, buka toko aja sekalian,” Noah malah meladeni dan Raihanah pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan kudapan yang dia punya.


”Bayyin dimana Wafi?" tanya Jane yang sudah tidak sabar ingin melihat keponakan suaminya itu.

__ADS_1


Bayyin menggeleng kepala dan Noah mendekatinya.” Kenapa nak?" tanya Noah serak, Bayyin menggeleng kepala lagi dan tidak mau menceritakan apapun. Apalagi semuanya baru datang.


”Nanti aa pulang, dia pasti seneng om sama Tante datang. Kenapa Sandy tidak ikut?” Bayyin mengalihkan pembicaraan dan Noah nampak cemas.


”Sandy sibuk kuliah, nanti dia bisa kesini kalau dia mau.” Balas Jane dan Bayyin mengangguk.


Noah sangat ingin datang ke Indonesia setelah tahu Wafi bebas, tapi dia harus mengurus banyak pekerjaan agar bisa menemui keluarga adiknya tanpa beban. Tahun kemarin dia menjenguk Wafi, dia sangat ingin melihat anak itu saat ini. Tapi malah tidak ada.


”Katanya kamu mau di lamar?” tanya Noah dengan senyuman begitu lebar.


”Bukan lamaran, hanya main saja.” Jawab Bayyin.


”Nikah Afsheen sama Salam kapan? Tante lupa,” ucap Jane.


”Sebulan lagi mungkin, bulan November pastinya, tapi tanggal nya masih diatur lagi,” kata Bayyin dan Jane mengangguk-anggukkan kepalanya.


*****


Di Bandung kota, saat ini malam sudah tiba. Seorang gadis sedang berdiri memperhatikan seorang pria yang juga sedang memperhatikan penjual roti kukus. Pria itu terlihat mau dan mengelus perut sixpack nya, dia lapar tapi tidak memiliki uang. Dia harus menghemat, makan sekali, yang penting air minum ada. Pria itu menoleh ke arah Shafiyah dan dia terkejut.


Deg! jantungnya berdegup kencang, melihat gadis yang dia cintai berdiri memperhatikan. Shafiyah menunduk dan akhirnya Wafi melangkah pergi menghindari gadis itu. Shafiyah mendekati mobil bak terbuka penjual roti kukus lalu membeli beberapa potong roti, dengan rasa coklat dan kacang. Setelah selesai, gadis itu membayar dan menyusul Wafi. Wafi sudah masuk melewati pintu gerbang sanggar dan Shafiyah berlari kecil mengejarnya.


”Gus!” panggil Shafiyah dan Wafi tersentak. Wafi menoleh dan melihat gadis itu berdiri di luar gerbang. Dia tidak mendekat dan diam di tempatnya berdiri.” Assalamu'alaikum.”


”Gus ngusir saya?” suara Shafiyah berat.


”Menurut kamu sendiri?" suara Wafi serak dan Shafiyah menunduk penuh kesedihan.” Pergi Bibah, jangan ganggu saya. Dan tolong, lupain semua yang pernah saya bilang sama kamu sebelum ini. Paham?” begitu ketus dia berucap, padahal dia sendiri pun takut menyakiti gadis itu.


Shafiyah mengangkat kepalanya dan Wafi berpaling dengan kedua mata berair, dia hancur lebur dengan ucapannya sendiri. Kedua mata Shafiyah juga merah dan berair tapi gadis itu tetap berusaha tegar.


”Enggak ada yang harus saya lupain, karena emang gak ada apa-apa diantara kita.” Dia meladeni keinginan Wafi dan Wafi merasa sakit mendengarnya.” Saya bawa makanan, tolong di makan." Ia menyodorkan rantang makanan dan kue kukus yang dia beli tadi.


Wafi diam dan hanya suara perut keroncongannya yang mewakili, dia merasa malu sampai air matanya menetes. Lalu dia buru-buru menyeka air matanya dan Shafiyah juga menangis. Dua manusia yang sama-sama jatuh cinta, namun harus mengubur dalam-dalam keinginan keduanya untuk bersama.


”Pergi Shafiyah,” usir Wafi kembali dan Shafiyah tetap diam di tempatnya.


”Tolong di makan,” pinta Shafiyah dan meletakkan semua makanan di atas kursi panjang di depan pagar.


”Saya gak mau, tolong bawa pergi itu,” titah Wafi kesal dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Gus boleh benci sama saya, tapi izinkan saya mengabdikan diri kepada guru dan anak guru saya. Saya gak bisa makan dengan tenang, kalau Gus sendiri gak punya makanan untuk Gus makan. Tolong di terima,” tutur gadis itu begitu lembut, Wafi menangis begitu juga dengan dirinya. Keduanya sama-sama sakit dan tidak sanggup menahan air mata.

__ADS_1


Wafi menyeka air matanya dan terus menatap ke arah lain.” Pergi Bibah, saya mohon.”


”Gus boleh nangis, silahkan. Saya tetap disini sampai Gus nerima semua yang saya bawa.”


”Enggak, ngapain juga saya nangis," ketus Wafi tapi sialnya air matanya terus jatuh.


”Gus bisa nangis sepuasnya, menangis bagi lelaki memang sering dianggap lemah. Padahal menangis adalah hak semua manusia, Allah menciptakan perasaan yang sama, hanya saja perempuan sedikit lebih peka. Gus nangis silahkan, luapkan semuanya dan jangan di tahan. itu sakit dan malah menambah beban, sabar ya. Saya minta maaf atas semua yang diucapkan Khalisah, saya benar-benar minta maaf,” ucap Shafiyah panjang lebar sambil terisak-isak, dan membuat Wafi tidak tahan mendengar.


”Kenapa kamu harus minta maaf si? udah jangan nangis.”


”Saya juga gak terima Gus saya di hina seperti itu, Khalisah sudah dikeluarkan. Saya harap Gus pulang, semua orang khawatir.” Shafiyah menyeka air matanya dan Wafi terus menunduk. Gus Mu terperangah mendengar sebutan tidak sengaja gadis itu padanya.


”Kamu bilang apa tadi 'Gus saya'. Kamu bilang apa?” tanya Wafi dan Shafiyah gugup.


”Gus pesantren Al Bidayah maksudnya, itu maksud saya gus.” Menjawab gugup lalu menggigit kecil bibirnya. Wafi terkekeh dan dia tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Begitu menggemaskannya Shafiyah saat berbicara.” Di makan ya,” pinta Shafiyah dan Gus Mu diam.


”Kenapa Khalisah harus di keluarkan? ini masalahnya karena salah paham, kamu juga gak harus minta maaf.”


”Ini keterlaluan, dan dia salah. Apa Gus belain dia karena Gus suka?"


”Asstaghfirullah kamu aaaaaakh," Gus Mu mengepal kedua tangannya dan Shafiyah mundur ketakutan, padahal keduanya sudah jauh. Wafi terkekeh begitu frustasi mendengar pertanyaan Shafiyah." Kamu bilang perempuan lebih peka daripada laki-laki? itu salah besar sih, kamu sendiri aja gak peka. Padahal udah terang-terangan, gak tahu ah." Wafi cemberut dan Shafiyah tersenyum.


”Enggak usah senyum,” titah Wafi kesal.


”Saya gak senyum.” Bantah Shafiyah.


”Mata kamu menyipit tadi, saya tahu kamu senyum, kamu ngejek saya?" tuduh Wafi diselingi tawa. Kedua mata merah dan muram itu kini terlihat kembali berbinar setelah bertemu dengan mataharinya, cahaya penerang jiwanya yang lemah.


”Sama sekali enggak gus, ya udah saya pamit aja deh. Tolong makanannya di makan.” Shafiyah menatap jam tangannya sekilas lalu menunjuk makanan yang dia bawa, dia berharap, perut yang berbunyi tadi bisa kenyang dengan semua itu.


”Ini kebanyakan,” Wafi canggung untuk menerima sesuatu dari orang lain, apalagi lagi gadis kesayangannya.


”Gak apa-apa, rotinya buat besok sarapan ya. Gus minta sama saya aja kalau butuh sesuatu." Tutur Shafiyah begitu tulus, berusaha meredam rasa sedihnya karena ucapan awal Wafi tadi.


”Kenapa kamu masih baik Bibah, padahal saya ngusir kamu tadi, dan meminta kamu lupain semuanya.” Gumam Wafi dan dia harus berusaha juga mengubur rasa cintanya.


”Kamu jahat gus, setelah saya hanyut karena rasa cinta saya. Gus meminta saya lupain semuanya, oke kalau memang harus begini. Saya emang gak pantas buat Gus Wafi." Gumam Shafiyah merasa rendah diri.


”Semoga kamu bisa lupain semuanya, tapi saya sepertinya gak bisa. Berusaha menghindari kamu saja saya lemah, Shafiyah, semoga kamu bahagia. Dan kebahagiaan kamu bukan dengan saya, saya gak bisa menjamin kebaikan kalau saya dapetin kamu.” Gumam Wafi dan tatapannya kembali sayu, apa sia sanggup melakukan apa yang dia pikirkan? mana bisa.


”Saya pamit, assalamu'alaikum." Shafiyah mundur menjauh, suaranya terdengar serak, gadis itu melangkah pergi sambil berderai air mata. Wafi keluar melewati pintu gerbang dan memperhatikan Shafiyah sampai dia benar-benar melihat gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Shafiyah terus menangis, dia biarkan saja air matanya berjatuhan, tega sekali pria itu berucap. Setelah dia semakin berharap banyak. Gadis itu memang pandai menyembunyikan luka yang sedang menderanya, luka saat ini adalah luka yang paling sakit. Dia belum pernah jatuh cinta kepada pria manapun kecuali Gus mu, dan pria itu mengakui perasaannya juga. Lalu sekarang dia dijatuhkan dengan kenyataan bahwa pria itu memintanya melupakan semuanya, apa pria memang begitu? pandai membuat kepedean para gadis meninggi, setelah terpancing lalu mengabaikan.


__ADS_2