
Fahira duduk bersebelahan dengan Sabilla yang baru datang, telapak tangannya berada di atas paha anaknya itu, Sabilla nampak tegang. Apa Wafi mengadukannya? tebakannya benar, karena sudah terlalu meresahkan dan membuat rugi orang-orang di sekelilingnya, Wafi mengadukan tingkah bodoh Sabilla kepada Fahira. Lewat telepon, dengan hati-hati dan takut Uwa nya itu tersinggung.
”Bisa ikut ibu sebentar?" tutur Fahira dan Sabilla terdiam.
”Bu, aku____,” ucapannya terhenti lalu bangkit untuk menghindar, tapi Fahira menahannya.
”Nak,” ujar Fahira serak dan Sabilla tidak bisa menolak.
Fahira bangkit lebih dulu dan Sabilla mengikutinya, tangan Sabilla ditarik pelan oleh ibunya itu, dia dibawa keluar dari rumah Chairil. Di dalam juga sangat sesak, membuat Fahira yang memiliki gangguan pernapasan tidak kuat, dia merasa lega setelah di luar, menghirup udara segar. Di sekeliling rumah tersebut, banyak lahan kosong, ditumbuhi pepohonan tinggi menjulang. Membuat udara begitu nyaman. Jelasnya, karena dikampung memang masih terjaga.
Fahira membawa Sabilla ke samping rumah, Sabilla sudah berkeringat dingin saat ini.
”Nak, ibu izinin kamu tinggal di sini untuk mengajar, bukan untuk membuat ulah, kamu udah dewasa, udah mau kepala tiga. Ibu dan ayah udah tua, apa gak bisa bersikap baik supaya kami tenang nak?” tutur Fahira dan Sabilla menunduk. Fahira memegang kedua bahu anaknya itu dan Sabilla tetap diam.” Ibu sama ayah sudah sepakat, untuk menjodohkan kamu,” sambungnya dan membuat kepala Sabilla terangkat, dengan kedua mata yang langsung berair dia menatap ibunya itu.
”Bu, aku gak mau!" tegasnya menolak dan Fahira menatapnya tajam.” Kenapa aku yang selalu di sorot? apa karena aku janda?”
”Kamu janda dan kamu keturunan Majdi, jangan menggunakan nama besar keluarga kita untuk kepentingan pribadi. Sadar nak! kamu salah, pahami itu. Ibu kesini, bukan hanya datang, tapi juga untuk menjemput,” lirih Fahira dan air mata Sabilla terus menetes hebat. Isak tangis mulai terdengar, dia tidak mau pergi, tapi itu juga karena ulahnya sendiri.
”Bu, aku minta maaf. Aku gak bakal mengulangi semuanya Bu?"
”Enggak sayang, kita pulang. Bukan hanya kamu yang menjadi sorotan, tapi semua keluarga kita, apalagi Wafi. Dia sudah terlalu lama menderita nak, biarin dia bahagia sama Shafiyah, ibu tahu kamu suka sama Wafi sejak lama, iya kan?” ucapnya penuh penekanan.
Deg! Sabilla diam membeku, ibunya tahu? dan dia hanya bisa menunduk saat ini.
”Kamu masih berharap bisa sama Wafi? dia sudah menikah, jangan berusaha masuk untuk menjadi yang kedua, itu perbuatan yang buruk Salsabila!" suara Fahira berat, dan kedua matanya berkaca-kaca. Tangannya berpindah dari bahu ke pinggang anaknya itu, menariknya lembut lalu dia memeluk Sabilla erat.
”Bu hiks! aku gak mau menikah lagi. Enggak apa-apa Bu!"
”Kamu bukan Raihanah sayang, yang bisa menahan hasrat kepada para pria dan menjunjung rasa cinta kepada almarhum suaminya. Perilaku kamu kepada Khalisah karena Wafi, itu cukup membuktikan bahwa kamu rendah nak, istighfar sayang! kapan ibu mengajari kamu begitu. Rasa malu nak, ingat rasa malu adalah harga diri bagi seorang muslimah,” imbuhnya lirih, tak henti-henti tangan itu membelai kepala putrinya. Sabilla terus menangis di dada ibunya, dia tersadar dengan ucapan ibunya, kenapa bisa dia melakukan hal serendah itu? dia khilaf, dia lupa dengan rasa malu yang tiba-tiba hilang dari jiwanya saat melihat sosok Wafi, yang ia cintai sejak lama.
...-----...
...✍️...
Di toko, Wafi kedatangan ayah mertuanya. Keduanya duduk berseberangan menikmati teh hangat dan kue. Dia juga mempersiapkan beberapa kue untuk dibawa pulang ayah mertuanya.
”Ayah, aku takut ibu marah,” lirih Wafi. Dia takut kue buatannya dibuang oleh ibu mertuanya, mubajir, membuatnya saja susah payah.
”Biar ayah marahin balik dia, kalau dia marah!” Sahut Herman sambil terkekeh dan Wafi hanya tersenyum.” Shafiyah pulang sore?” tanyanya.
”Tadi jam 2 udah pulang yah, aku jemput, tapi aku anterin ke rumah, kalau disini dia gak bisa istirahat. Berisik, suara kendaraan,” jawabnya lemah lembut dan Herman mengangguk-anggukkan kepalanya.
”Kalau ada apa-apa bilang ya, jangan sungkan-sungkan.”
”Iya, siap,” kata Wafi dan Herman memperhatikannya.
Setelah selesai bercakap-cakap dengan menantunya, Herman pamit untuk segera pulang. Wafi melepas kepergian mertuanya itu dengan terus memperhatikan sampai mobil meninggalkan area toko. Wafi tersenyum dan melirik jam tangannya, sudah sore. Habis Magrib, ia, Musa, dan Salam akan pergi untuk ke acara pasaran. Ternyata, Wafi mendapatkan undangan khusus dari pihak pesantren di sana.
Pasaran: kegiatan belajar kitab secara massal.
Wafi langsung pulang meninggalkan dua pegawainya. Dia mengendarai motor dengan kecepatan sedang, pria memakai sarung dan baju Koko itu menjadi perhatian para gadis, khususnya para Ukhti.
Di rumah, Shafiyah sedang duduk selonjoran dengan Bayyin di kamar. Para ibu hamil itu sedang sibuk berselancar di media sosial. Shafiyah menoleh saat pintu terbuka, Fahira masuk dan mendekatinya.
”Neng, Mumu kapan pulang? mau Ziarah kan kita?” kata Fahira.
”Mungkin sebentar lagi sampai, tadi waktu mau berangkat pulang chat Fiyah soalnya,” tutur Shafiyah dan Fahira tersenyum.
__ADS_1
”Ya udah, kita tunggu dia kalau begitu.” Fahira berucap dan suara motor membuat ketiganya terdiam.
”Itu a Wafi pulang,” kata Shafiyah.
”Ya udah siap-siap, kita Ziarah sama-sama,” tutur Fahira seraya bangkit dari duduknya dan berlalu pergi untuk melihat Wafi.
”Aku ikut enggak ya?" kata Bayyin kepada iparnya.
”Gak ikut juga gak apa-apa,” imbuh Shafiyah yang melihat Bayyin kelelahan.
”Aku bilang dulu sama Umi." Bayyin bangkit turun dari ranjang dan Shafiyah memberikan tongkat kakinya. Bayyin pun pergi dan Shafiyah merapihkan kerudungnya.
Shafiyah menoleh saat seorang pria masuk lalu menutup pintu, dan menguncinya perlahan, siapa lagi kalau bukan suaminya, gadis itu mendelik dan Wafi mendekat.
”Assalamu'alaikum sayang."
”Wa'alaikumus Salaam.”
”Kenapa gak keluar?”
”Ini baru mau keluar, kamu malah masuk, kenapa dikunci? di luar orang-orang pasti ngetawain kita dan mikir aneh-aneh, ayo keluar bi." Ajak Shafiyah lalu menyalami tangan suaminya lembut.
”Ya biarin, udah sah juga,” sahutnya seraya mengelus perut besar Shafiyah." Ayang mau ikut ke makam? udah sore, gak usah ikut ya, sama Bayyin aja di rumah.”
”Yaah! padahal pengen ikut bi." Gadis itu nampak sedih.
”Kan bisa lain waktu, sekarang, batasi dulu keluyuran nya, aku takut, kamu kan lagi hamil sayang, ini senja, gak baik. Nurut ya,” tuturnya membujuk dan Shafiyah akhirnya mengangguk menurut. Wafi tersenyum lalu mengecup kening istrinya sekilas. Keduanya pun melangkah bersama ke arah pintu, membuka pintu lalu keluar bergantian.
”Udah siap Mu?" tanya Ahmad.
”Iya.” Wafi mengiyakan.
”Kalian di rumah, jangan kemana-mana,” tutur Raihanah dan kedua ibu hamil mengangguk bersamaan.
”Bikin mie yuk!" ajak Bayyin.
”Aku gak dibolehin sama a Wafi," tutur Shafiyah berbisik-bisik dan Bayyin terdiam sejenak, lalu mengusap bahu Shafiyah.
”Aa orangnya kayak gimana?” tanya Bayyin yang tiba-tiba penasaran.
Shafiyah tersenyum, tak menjawab.
”Ih, malah diem! galak ya?" tuduh Bayyin dan Shafiyah terkekeh-kekeh.
”Hehe iya sih, sedikit,” katanya sambil cekikikan dan Bayyin tertawa.
”Haha, dia emang begitu, jangan dimasukin ke hati, dia sayang sama kamu, jadinya suka berlebihan. Sama aku, sama umi, sama Niyyah juga begitu," ucap Bayyin dan Shafiyah menatapnya lekat.
”Iya, a Wafi sayang sama kalian bertiga.”
”Sayangnya jauh lebih besar buat kamu."
"Enggak, harus umi yang lebih disayang a Wafi.”
Bayyin tersenyum mendengarnya, lalu dia peluk tubuh Shafiyah perlahan dan Shafiyah tersenyum sambil membiarkannya.
Di makam, setelah masuk ke area pemakaman, sekujur tubuh Raihanah merinding, dia melangkah di belakang Wafi yang memimpin semuanya. Dia tatap punggung tegap anaknya itu, dari belakang, Wafi begitu sama dengan Gus Fashan. Cara dia berjalan, cara bicara, caranya mengusap rambut apalagi sekarang Wafi menutupi kepalanya dengan kain sorban, sangat sama dan membuat kerinduan di dada wanita renta itu bergejolak. Tubuh Raihanah terhuyung saat melihat batu nisan almarhum suaminya.
__ADS_1
Afsheen dari belakang langsung membantu uminya berdiri kembali.” Umi," ucap Afsheen berat. Wafi menoleh dan tersentak melihat baju uminya kotor karena tanah merah pemakaman.
”Rai,” seru Fahira serak.
Wafi merangkul bahu uminya erat dan Raihanah merangkul pinggang anaknya itu. Wafi berjalan perlahan, mengikuti langkah lemah uminya. Raihanah berjongkok dan menatap batu nisan suaminya.
”Assalamu'alaikum sayang, sudah berapa tahun kita dipisahkan? aku belum bisa menjadi wanita muslimah yang baik dan Sholehah, apa bisa kita bersama lagi di surga nya Allah? senyuman manis mu terus terbayang, bentakan dan suara pujian mu masih jelas terngiang-ngiang. Anak-anak sudah menikah, kita akan memiliki cucu, andai kamu disini, kamu pasti yang paling heboh. Sayang, suamiku, apa kamu bangga? padaku, yang sudah berjuang sendirian? aku yakin kamu bangga, dan aku merindukan pujian dari bibir manis mu,” tutur Raihanah dalam hati, sambil berderai air mata, tangannya terulur mengelus dan mengusap batu nisan sang suami. Anak-anaknya membersihkan dedaunan kering yang jatuh ke atas makam tersebut.
Yang lain, membersihkan makam Gus Farhan dan umi Nailah. Wafi sesekali melirik uminya yang terus menangis, begitu juga dengan Fahira.
Fashan, saudara kembarnya, adiknya yang selalu dia rasakan kehadirannya, memintanya kembali tidak mungkin. Dia bodoh jika berharap saudara kembarnya kembali pulang, laki-laki yang lahir setelah lima menit kelahirannya, pergi tanpa pamit, tanpa memeluk dan mengucapkan selamat tinggal. Perpisahan paling sakit bagi orang lain adalah pengkhianatan, tapi perpisahan karena kematian jauh luar biasa sakit dan menyiksa batin.
”Shan, Hira kangen Shan,” lirih Fahira tidak sadar dan semuanya menoleh ke arahnya. Wafi berpaling dengan kedua mata yang memupuk air mata. Dia kuat? tentu tidak, rasa rindu kepada ayahnya sangat menyiksa.(😭).
”Mu, ayo mulai." Titah Ahmad dan Wafi menoleh.
”Chairil, tolong pimpin,” titah Wafi kepada Chairil untuk menggantikannya. Chairil bingung dan Raihanah meraih tangan anaknya itu, Wafi akhirnya setuju untuk memimpin doa.
Wafi akhirnya memimpin doa, dengan suara lirih, berat dan berulangkali tercekat. Semuanya menunduk khusu sambil menadahkan tangan.
Setelah selesai, semuanya diam sejenak dan Wafi mengusap batu nisan ayahnya perlahan, lalu dia berdiri dan membantu uminya.
”Kita pulang,” ajak Wafi dan merangkul bahu uminya itu. Semuanya pulang beriringan. Sesampainya di rumah, adzan Maghrib berkumandang dan semuanya siap untuk sholat. Setelah Maghrib, keluarga Fahira akan kembali pulang, ke Jakarta.
Setelah Fahira salat, dia mengecek barang-barang kembali.
”Hati-hati teh,” ucap Raihanah yang masih memakai mukena dan keluar dari kamarnya. Fahira menoleh dan tersenyum, dia mendekat dan memeluk Raihanah erat.
”Maaf, bikin repot,” bisik Fahira.
”Sama sekali enggak, aku senang kalian semua datang," balas Raihanah.
”Terima kasih, sudah kuat sampai detik ini, kamu luar biasa Raihanah, rasa bangga dalam hati aku, pasti sama dengan rasa bangga di hati kembaran ku," tutur Fahira dan Raihanah tak sanggup menahan air matanya. Dia menangis terisak-isak dan mengeratkan pelukannya, keduanya menangis bersama dan Shafiyah yang baru turun bersama Afsheen hanya terdiam. Afsheen meleos pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Kedua matanya berair dan dia pergi ke dapur.
Setelah semuanya siap, semuanya berkumpul di luar dan masuk ke mobil bergantian. Sabilla yang sudah masuk diam memperhatikan Wafi, yang bersebelahan dengan Shafiyah. Dadanya sesak, karena cemburu, cemburu tanpa status, apalagi dianggap.
”Assalamu'alaikum!" seru Ahmad.
”Wa'alaikumus Salaam." Jawab semuanya.
Kedua mobil itupun melaju perlahan, Wafi mundur menjauh lalu pergi tanpa di sadari siapapun. Setelah mobil keluar melewati pintu gerbang pesantren, keluarga Raihanah masuk. Shafiyah mencari keberadaan suaminya tapi dia tidak tahu kemana suaminya pergi.
Shafiyah menatap ke lantai dua cukup lama, sampai akhirnya dia naik untuk melihat ke kamar. Sesampainya di depan pintu kamar, dia menarik gagang pintu perlahan.
”Abi." Panggil nya lembut, dia terdiam melihat Wafi duduk di kursi di depan meja kerjanya. Di pojok kamar dekat jendela. Pria itu menundukkan kepalanya sampai menempel di atas meja dan kedua tangannya menghalangi wajahnya dari kedua sisi. Shafiyah perlahan mendekat, melihat suaminya nampak aneh dan tidak mungkin tidur secepat ini.
”Bi,” ucapnya kembali. Dia sudah sampai di belakang suaminya tapi Wafi tetap diam. Tangan Shafiyah terulur dan mengelus bahu suaminya, tiba-tiba Wafi berbalik dengan wajah merah, air mata bercucuran dan langsung memeluk pinggang istrinya, wajahnya tenggelam di perut besar Shafiyah. Suara isakan tangis mulai merajai seluruh ruangan, Shafiyah diam dan mengelus rambut suaminya itu.
”Fiyah tahu, aa kangen kan sama abi Fashan? Kita semua sama.
Aa hebat ya, udah bisa jagain semua orang gantiin pak kyai, ngurus pesantren juga, ngurus rumah tangga dan itu luar biasa. Pak kyai pasti bangga sama abi, nangis aja gak apa-apa, Fiyah disini,” tutur Shafiyah serak. Air matanya berlinang membasahi pipi, dan beberapa buliran jatuh ke atas kepala suaminya.
Wafi tidak berkata-kata, dia hanya menangis dan butuh pelukan. Shafiyah membelair rambut suaminya terus-menerus, menunggu sampai pria itu tenang dan selesai dengan tangisan rindu dan kedukaan nya.
Itulah Wafi, kuat di depan semua orang, tapi tidak dengan saat dia sendiri, hanya Shafiyah yang baru melihat tangisan kehancurannya, tangisan hebat penuh kepedihan dan kerinduan. Pria yang dipaksa dewasa sedari kecil, menjaga dan bertanggungjawab atas keluarga, padahal dia sendiri masih butuh perlindungan sosok orang tua yang lengkap.
Dia tidak pernah mengeluh, anak laki-laki seperti Wafi banyak, keluarga beruntung yang memiliki sosok sepertinya. Keras di luar tapi lembut di dalam, dingin di luar tapi hangat saat memberikan pelukan. Ia, Wafi Muzammil.
__ADS_1