Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 60: Piknik


__ADS_3

Hari ini Shafiyah disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan rumah. Besok, hari Minggu, ada acara piknik khusus karyawan. Wafi jelas mengajak Shafiyah, jika uminya masih kuat dia juga pasti akan mengajaknya. Pergi dari pagi, pulang mungkin larut malam. Dengan tujuan sebuah tempat wisata di luar kota, membayangkan diperjalanan pasti melelahkan sudah Shafiyah pikirkan, tapi dia tetap mau ikut. Dia akan menyelesaikan semua pekerjaan hari ini, biar besok dia pergi dengan ketenangan dan tidak menyulitkan ibu mertuanya. Shafiyah yang sedang membereskan meja terdiam, saat mendongak dan melihat foto besar, foto pernikahan mertuanya. Shafiyah mundur menjauh, memperhatikan dengan seksama bagaimana ibu mertuanya saat muda, dan almarhumah ayah mertuanya.


”Bu Nyai cantik banget dulu, pak Kyai juga ganteng banget. Fotonya sudah buram, kalau diperbaiki seperti semula apa bisa ya? pasti kelihatannya jauh lebih bagus dan umi juga seneng,” ucapnya berbisik sambil tersenyum.” Pak kyai ganteng, tapi lebih ganteng anaknya. Sayang banget Fiyah belum pernah ketemu sosok pak kyai secara langsung. Fiyah janji, bakal jagain umi sama a Mumu," sambungnya serak lalu Shafiyah membaca Al Fatihah khusus untuk ayah mertuanya itu. Setelah selesai, Shafiyah pergi untuk menjemur pakaian, di belakang rumah. Cuaca begitu panas hari ini, sekujur tubuhnya berkeringat.


”Allahumma sholli alla sayyidina...” Shafiyah bersholawat, dia berhenti saat ada yang menyela sholawatannya, melanjutkannya. Dia tersenyum karena itu suara suaminya. Wafi baru pulang dan Shafiyah sangat senang.


”Aa udah pulang,” ucap Shafiyah begitu riang.


”Assalamu'alaikum, aku masuk gak ada orang, orangnya disini ternyata.”


”Wa'alaikumus Salaam." Shafiyah menjawab lalu menyalami tangan suaminya." Iya umi lagi ke dapur Santriwati, aku habis nyuci. Semua cucian udah beres, besok kita pergi tanpa harus memikirkan pekerjaan rumah," sambungnya sambil tersenyum. Wafi tersenyum lebar lalu menarik pinggang gadis itu, sampai Shafiyah menempel padanya. Shafiyah begitu lucu, dia sangat ingin menggigit nya.


”Nanti ada yang lihat, gak tahu malu," ketus Shafiyah lalu mendorong dada suaminya itu. Pipinya kini memerah dan Wafi tersenyum.


”Aku bantuin, biar cepat selesai." Wafi menarik ember berisi pakaian siap dijemur dan Shafiyah menahan tangannya.


”Aa baru pulang, pasti capek. Ayo masuk, Fiyah bikinin air sirup dingin atau mau teh manis?"


”Maunya bantuin kamu dulu sekarang." Wafi memaksa.


”Ih jangan, aa mending istirahat.”


”Ih enggak mau.” Wafi meniru bagaimana gaya Shafiyah berbicara dan Shafiyah tergelak, dia merasa geli mendengarnya.


”Enggak cocok, jelek,” ucap gadis itu dan Wafi terkekeh. Shafiyah kini menarik lengan suaminya, mengajaknya masuk dan Wafi tidak bisa menolak. Pria itu duduk dan Shafiyah membuatkan minuman dingin yang segar untuk suaminya. Wafi diam memperhatikan, lalu Shafiyah memberikan air minum yang dia buat itu.


”Makasih sayang,” ucap Wafi dan Shafiyah mengangguk. Gadis itu pergi, padahal Wafi hendak meraih pergelangan tangan istrinya.


Setelah Wafi menghabiskan setengah gelas minumannya, dia menyusul Shafiyah lagi sambil membawa payung. Shafiyah terheran-heran karena cahaya matahari yang awalnya menyiram tubuhnya, kini terhalang sesuatu. Dia mendongak dan melihat suaminya memayunginya.


”Asstaghfirullah hal adzim, bandel banget si. Fiyah bilang istirahat.”


”Enggak mau, gak tega. Aku payungin biar neng gak item."


”Dih!" ketus Shafiyah seraya mendelikan matanya. Dan akhirnya dia membiarkan suaminya. Wafi diam memperhatikan jemari lentik Shafiyah, begitu mulus, bersih dan lucu. Tapi dia tiba-tiba berkaca-kaca melihat tangan istrinya penuh goresan luka, kecil-kecil karena mencuci pakaian, berbenturan saat dia membersihkan rumah yang begitu luas sendirian, Raihanah hanya bisa membantu sedikit.


Wafi sangat sedih melihatnya.


”Sayang, mesin cuci berapa ya harganya?"


”Yang sedang harganya dua jutaan kurang, tergantung merk sih. Emang kenapa?"


”Mau beli, kenapa neng tahu harganya?”

__ADS_1


”Ada temen aku yang ngekos, karena laundry disekitar situ kurang bersih, dia gak mau lagi, dan akhirnya beli mesin cuci ukuran sedang, Fiyah nganterin dia jadi tahu. Kalau yang gede, tiga jutaan a. Tapi gak usah beli mesin cuci juga, Fiyah masih punya tenaga, udah biasa juga nyuci pakai tangan."


”Ah enggak, pokoknya nanti kita beli ya, nanti hari senin kita ke pasar, cari mesin cuci.” Wafi bersikukuh dan Shafiyah tersenyum.


*****


Keesokan paginya, habis subuh, Shafiyah dan Wafi sudah siap. Barang-barang, bekal makanan dan nanti di jalan jika berhenti akan membeli Snack tambahan. Raihanah diam memperhatikan, tangannya sibuk mengulur tasbih, lalu dia berhenti saat Shafiyah keluar dari dapur.


”Nginep neng?” tanya Raihanah.


”Enggak umi, nanti malam juga pulang. A Wafi udah minta teh Niyyah datang sama a Salam, buat nemenin umi. Umi jaga diri baik-baik ya, makanan udah Fiyah siapin," jawab Shafiyah panjang lebar dan Raihanah tersenyum.


”Nginep aja di hotel kalau capek buat pulang.” Raihanah memberi usul. Wafi yang baru turun tersenyum mendengarnya.


”Sayang uangnya umi, tidur di rumah sendiri lebih nyaman,” imbuh Shafiyah.


”Ah kamu mah,” ujar Raihanah, betapa polosnya menantunya itu. Dia ingin Shafiyah dan Wafi bebas berdua walaupun sebentar, tapi reaksi Shafiyah membuatnya tidak paham.


”Umi jaga diri baik-baik, nanti Salam sama Niyyah kesini. Kalau ada apa-apa telepon aku,” tutur Wafi dan Raihanah mengangguk mengiyakan.” Aku sama Shafiyah berangkat, berangkat dari kantornya nanti jam 8, cuma banyak yang aku harus urus dulu di kantor,” ucap Wafi serak dan Raihanah melihat kedua mata anaknya nampak begitu sedih. Wafi semakin tidak nyaman dengan pekerjaannya, tapi dia takut untuk mengungkapkannya, karena Noah.


”Hati-hati,” hanya itu yang terucap dari bibir Raihanah. Wafi mengangguk lalu menyalami tangan uminya, mencium punggung tangan itu lembut. Lalu di susul Shafiyah, dan Wafi membawa semua barang-barang ke mobil.


Setelah siap, keduanya pun pergi meninggalkan Pesantren Al Bidayah. Dan Raihanah melanjutkan aktivitasnya, yaitu berdzikir.


”Bibah, coba baca surah Al Kahfi, nanti kalau salah aku benerin," pinta Wafi dan Shafiyah menoleh.


”Malu, kalau di depan kamu mah."


”Cepet, aku candu banget kalau denger suara istriku ini lagi ngaji," ucap Wafi seraya mencubit pipi istrinya gemas. Shafiyah tersenyum dan akhirnya mengabulkan permintaan suaminya. Wafi terus menyetir, dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an dari bibir manis istrinya itu. Wafi tersenyum karena bacaan Shafiyah begitu fasih, walaupun suaranya terdengar bergetar gugup.


******


Di kediaman Fajar, pagi-pagi buta kedatangan tamu. Seno datang sendiri, dari luar kota untuk melihat adik bungsu dan adik iparnya yang diceritakan begitu buruk oleh ibunya. Dia tidak suka, dia tidak memberikan restu, dan khawatir adiknya kenapa-kenapa. Fajar yang sedang sarapan mengajak kakaknya itu langsung sarapan, Meri nampak gugup, karena Seno dan Fajar sedang bertengkar. Kedua anaknya dia minta untuk sarapan di ruangan keluarga sambil menonton televisi.


”Ini kak air teh hangat, pasti capek di jalan,” ucap Meri dan Seno menerimanya.


”Makasih, gimana kabar Fiyah? aku khawatir, anak itu mengambil keputusan salah, dan sangat fatal untuk kehidupannya. Seharusnya kamu tahan, bawa kabur Shafiyah, malah didukung, jadi dijauhi ibu kan kamu," tutur Seno ketus dan penuh emosi. Fajar mendelik sebal dan Meri sudah siap untuk melerai jika ada perkelahian.


”Shafiyah sama Wafi udah gak bisa dilarang, sama-sama mau, aku sama ayah malah khawatir keduanya nekad kalau di halangi. Pria itu unggul untuk urusan bertanggung jawab, aku mengenalnya bertahun-tahun,” ujar Fajar menjelaskan.


”Ya, karena dia mantan narapidana. Dia pembunuh!” suara Seno meninggi.


”Emang iya, tapi ada sebabnya. Jangan dibahas lah, keduanya juga udah nikah sekarang, Fiyah bahagia.” Fajar membela dan takut Seno melakukan hal gila, untuk memisahkan Shafiyah dengan suaminya.

__ADS_1


”Hidup susah, bahagia nya dari mana si Fajar. Aneh.” Seno mendelik tajam lalu memakan sarapannya kasar.


”Kakak kan baru sampai, tenang dulu, lelah sangat berpengaruh pada keadaan suasana hati. Istirahat, setelah itu baru kita bicara. Ini juga masih pagi kak, anak-anak kami juga ada. Tolong jangan bikin anak aku ketakutan," tutur Meri menegur dengan begitu sopan, Seno melirik ke arahnya dan Meri lekas menunduk.” Maaf, aku lancang. Tapi tolong kalian jangan bertengkar di situasi pagi dan dalam keadaan sarapan, tenang dulu,” sambungnya serak. Fajar mendesah mendengar istrinya mengeluh, lalu dia bungkam dan Seno juga diam.


Di rumah orang tua Shafiyah. Sara sedang melamun, merindukan anaknya, apa anaknya baik-baik saja? dia tidak bisa percaya dan yakin bahwa Wafi mampu melindungi Shafiyah nya.


”Pulang neng,” ucap wanita itu sambil menatap foto Shafiyah di hapenya.


Herman menoleh mendengar ucapan istrinya, lalu menggeleng kepala karena pikiran istrinya belum juga terbuka lebar-lebar. Herman menyalakan tv, untuk menonton berita di pagi ini. Dia tersentak saat melihat Farel digelandang pihak berwajib. Sara juga menoleh saat nama pria itu disebut-sebut.


”Farel,” kata Burhan dan duduk ikut menonton. Farel terlibat dalam kasus prostitusi dan awal mulanya dia di ciduk karena menjual barang haram, namun polisi menemukan kasus yang lain, yang dilakukan pria muda itu.


”Asstaghfirullah hal adzim, si neng untung selamat dari pria begituan, ngeri deh amit-amit.” Burhan bergidik ngeri dengan kasus yang menjerat Farel. Sara merasa sesak melihat berita tersebut, dia harus lega atau malu? apalagi jika Wafi tahu, mau ditaruh dimana mukanya itu.


******


Bus berjajar di luar gedung perusahaan, Shafiyah yang terlelap di ruangan suaminya, di atas sofa, sedang berusaha dibangunkan oleh Wafi.


”Sayang, bangun. Mau ikut gak?” ujarnya sambil menatap wajah seperti bayi itu, Wafi berjongkok di sebelah sofa dan terus berusaha membangunkan Shafiyah.” Sayangku, ya ampun gak mau bangun? tinggal ya, tinggal nih.”


”Ngantuk sayang, ngantuk banget.”


”Heh, ngomong apa barusan? manggil aku apa?" Wafi yang senang tidak sadar menggoyangkan bahu istrinya terus-menerus, sampai akhirnya Shafiyah membuka mata.


”Apa?” balik bertanya.


”Kamu manggil aku 'sayang' tadi."


"Emang?" Shafiyah kebingungan.


”Ayo bangun." Wafi menggendong Shafiyah dan Shafiyah menjerit-jerit, takut terjatuh. Wafi menurunkan dan Shafiyah kini sudah berdiri.” Ayo cepet, kita naik bus di kursi paling depan.”


”Asik, makasih.” Shafiyah begitu senang karena itu sesuai permintaan nya.” Aku duduk di dekat kaca, pokoknya di situ."


”Iya terserah, yang penting duduknya sama aku,” ucap Wafi dan Shafiyah tersenyum. Kini di rangkul hangat dan diajak untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Sesampainya di luar gedung, semua karyawan memperhatikan, mereka tidak tahu jika istri bos mereka ikut. Piknik ini tidak diikuti semua karyawan, ada yang memilih menikmati liburan mereka dengan istirahat dan berkumpul dengan keluarga di rumah.


”Di sana, semua barang-barang kita udah masuk." Wafi menarik lengan Shafiyah dan menggenggamnya, karena gadis itu tidak tahu, bus yang mana yang akan dia tumpangi.


”Gandeng terus!” seru karyawan pria karena Wafi tidak berhenti mengenggam tangan Shafiyah.


”Romantisnya bikin iri,” ucap karyawan perempuan.

__ADS_1


”Udah diem, nanti Cindy panas!" sindir karyawan pria julid dan semuanya tertawa.


__ADS_2