Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 50: Malu-malu


__ADS_3

Herman berdiri, mengajak Wafi masuk ke dalam kamar rawat Shafiyah. Meri dan Shafiyah menoleh kebingungan.


”Neng, kamu mau nikah sama Gus Mu?” tanya Herman dan Shafiyah diam. Menunduk malu-malu begitu juga dengan Wafi. Meri meraih tangan Shafiyah dan Shafiyah mengangguk sebagai tanda persetujuan. Wajah Wafi memerah, Wafi terus tersenyum dan Herman menatapnya.


”Nikahi anak saya secepatnya, jangan ditunda-tunda. Saya memberikan restu untuk kalian berdua, tapi satu syarat. Segera nikahi anak saya, karena kalian sudah cukup mengenal satu sama lain. Jangan sampai menimbulkan fitnah, cari pekerjaan yang baik mulai dari sekarang,” tutur Herman serak, Wafi membungkuk, meraih tangan Herman lalu menciumnya. Saat dia berdiri tegap, Herman langsung memeluknya. Herman sebenarnya takut hidup anaknya sudah, tapi Shafiyah hanya mau pria itu, dia tidak bisa menyakiti anaknya lagi. Dan berharap Wafi bisa diandalkan untuk membahagiakan putrinya.


”Selamat, kita urus semuanya dari sekarang,” ucap Meri dan Shafiyah mengangguk.


Di luar, Fajar tersenyum memperhatikan suasana di dalam sana dari balik kaca jendela. Dia bahagia melihat binar mata adik perempuannya, sekarang tinggal Sara dan kakak Shafiyah yang lain, yang belum memberikan persetujuan. Apapun yang dikatakan mereka, Herman tidak perduli, dia akan menikahkan Shafiyah dengan Wafi.


Setelah mendapatkan persetujuan, Wafi diminta untuk bergegas pulang, dia tidak sabar untuk memberitahukan kepada keluarganya. Melihat kepulangan anaknya, Raihanah langsung keluar dari rumah.


”Aa," ucap Raihanah memanggil.


”Assalamu'alaikum,” ucap Wafi seraya mendekati uminya.


”Wa'alaikumus Salaam." Jawab Raihanah seraya memperhatikan setiap jengkal tubuh putranya." Kamu gak apa-apa kan nak?” tanyanya serak.


”Aku gak apa-apa, umi jangan khawatir. Ayo masuk, aku mau bicara,” ajaknya sambil merangkul bahu uminya. Kini, keduanya duduk di sofa yang sama. Raihanah diam, dan memperhatikan raut wajah putranya yang nampak bahagia.


”Ada masalah a?” pertanyaan aneh untuk mimik wajah bahagia Wafi.


Puteranya menggeleng kepala dan terus tersenyum.” Aku mau menikah,” ucapnya sambil tersenyum lebar.


”Sama siapa?” Raihanah antara senang dan bingung.


”Umi ini aneh, ya sama Shafiyah atuh mi.”


”Keluarganya?”


”Alhamdulillah, udah dapat restu. Cuma ayahnya minta jangan menunda-nunda, menikah dengan mahar sesuai kemampuan aku,”


”Nanti aja habis Bayyin ya, Bayyin sama Musa kan sebentar lagi.”


”Aku mau secepatnya umi.”

__ADS_1


”Udah kebelet kamu?"


”Dih, umi mah.” Wafi mendelik sebal dan Raihanah terkekeh." Kalau ditunda-tunda, takutnya mereka berubah pikiran. Ayolah umi.”


”Ta'aruf, Khitbah, lamaran?"


”Ayah Shafiyah gak mau, langsung nikah aja katanya.”


”Itu terburu-buru banget Mu... Umi takut ada masalah.”


Wafi diam dan menyenderkan punggungnya pasrah.” Ta'aruf dua Minggu atau dua bulan, terus Khitbah. Kurang lebih 3 bulanan lagi, ya kelamaan umi. Ayahnya Shafiyah gak mau, katanya takut dihalang-halangi nanti aku sama Shafiyah kebablasan.”


”Berarti ayah Shafiyah nuduh kamu kalau begitu.” Raihanah meradang.


”Ya bukan menuduh, aku kan sama Shafiyah udah lama kenal. Aku sama Shafiyah juga manusia, godaan syetan itu kuat. Yang dikhawatirkan ayahnya Shafiyah itu umi.”


Raihanah diam dan mengalihkan pandangannya, Wafi juga diam dan keduanya sama-sama bingung.


”Nanti malam kita datangi keluarga Shafiyah, untuk mengobrol lebih jelas, maunya gimana, mau mahar berapa, nanti kita aja bibi sama mamang kamu,” tutur Raihanah dan Wafi tersenyum.


********


”Anak saya gak punya apa-apa pak, segini buktinya,” ucap Raihanah sambil melirik Shafiyah yang terduduk di ranjangnya, dia perhatikan jarum infusan yang menancap di lengan gadis itu. Wafi berdiri di dekat pintu, dan sama sekali tidak melihat Shafiyah, begitu juga dengan Shafiyah. Keduanya sama-sama tegang.


”Semua manusia sama Bu nyai, ini anak-anak kan udah lama dekat, komunikasi udah sering, bahkan ketemu juga. Saya bukan nuduh anak Bu nyai macam-macam, cuma saya sebagai seorang ayah takut banget anak saya jatuh ke dalam lubang yang salah. Daripada di tunda-tunda, mau nungguin apa. Saya mau keduanya segera mengurus acara pernikahan. Nanti kami akan mengirimkan CV anak kami Shafiyah ke rumah ibu, kalau untuk menunda-nunda lagi saya angkat tangan, Bu nyai mau dan Gus Mu juga mau mending segera kita segerakan," tutur Herman dengan suara serak. Shafiyah melirik ayahnya sekilas, yang sangat khawatir dan takut dia dan Gus Mu melakukan kesalahan.


”Ya sudah kalau begitu, kami siap untuk segera mempersiapkan semuanya, dan anak kami Wafi Muzammil juga sudah siap untuk menikahi anak bapak,” tutur Nafis dan Herman mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah obrolan selesai, semuanya akan pulang, Herman dan Wafi saling memeluk hangat, di susul Burhan yang memeluk Wafi erat. Raihanah, Fara dan Faiza memeluk Shafiyah bergantian.


”Semoga cepet sehat ya neng," ucap Raihanah dan Shafiyah mengangguk. Raihanah bergeser dan Wafi mendekat, Wafi merapatkan kedua tangannya begitu juga dengan Shafiyah, keduanya sama-sama tersenyum lebar.


Di rumah Sara mengamuk, mendengar istrinya mengamuk. Herman lekas pulang, ruang tamu begitu berantakan, di rumah sakit. Shafiyah di jaga Burhan dan Meri.


”Aku gak mau Shafiyah menikah sama laki-laki itu!” tegas Sara lantang, di hadapan suaminya.

__ADS_1


”Aku gak perduli Sara, Shafiyah akan menikah sama Gus Mu. Itu keputusan aku!” balas Herman tak kalah lantang.


”Aku sayang sama anak aku Herman,” lirih Sara sambil menangis.


”Apalagi aku, ayah dan walinya. Kamu mungkin sayang sama Shafiyah. Tapi pandangan kamu salah tentang kebahagiaan yang hanya bisa dinilai dari uang dan uang.” Herman berseru lantang lalu melangkah pergi meninggalkan Sara. Sara menyapu meja dengan tangannya, sampai pajangan dan foto di atas meja berjatuhan ke lantai. Herman sama sekali tidak sejalan dengannya, Sara kecewa dan murka.


*****


Hari ini Shafiyah keluar dari rumah sakit, setelah di rawat selama dua hari. Gadis itu nampak sumringah, akan menikah dengan pria yang dia inginkan. Walaupun ketiga kakak dan ibunya bersikap buruk padanya, setelah rencana pernikahan tersebut. Adi kakak yang paling dekat dengan Shafiyah, kini menjauh. Ada perasaan sedih dan tersiksa, tapi Shafiyah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia berharap secepatnya restu dari semua orang dia dapatkan.


Setelah Shafiyah bisa membuat CV ta'aruf, dia meminta seseorang mengantarkannya kepada Wafi. Supir yang dia minta, Wafi pun tidak sabar untuk melihat, satu yang membuatnya sangat penasaran, foto Shafiyah, calon istrinya. CV Shafiyah diterima oleh Bayyin, Bayyin tidak berani membukanya dan hanya memperhatikan amplop coklat tersebut.


”Aa, sini!” teriaknya berkali-kali agar Wafi turun. Wafi yang baru akan mandi akhirnya turun, hanya memakai celana pendek selutut dan handuk melingkar di bahunya. Dia mendekati Bayyin dan Bayyin memberikan amplop coklat tersebut.


”Apa ini?" Wafi bingung.


”Dari Shafiyah,” ucap Bayyin dan barulah Wafi paham. Dia tersenyum tapi memberikannya kepada Bayyin.


”Kamu aja yang buka," titah nya gugup. Bayyin tersenyum dan akhirnya membuka amplop coklat tersebut, mengeluarkan isinya dan membaca setiap data diri Shafiyah. Bayyin diam memperhatikan foto Shafiyah, sambil tersenyum.


”Ini foto Shafiyah, aa punya hak untuk melihatnya sebelum menikah," ucap Bayyin sambil memperhatikan foto yang menempel di kertas tersebut, Wafi memejamkan matanya sejenak lalu menatap foto calon istrinya. Dia merasa ada yang salah dengan matanya, lalu menyambar kertas tersebut dark tangan Bayyin, memperhatikannya dengan seksama. Bentuk wajahnya, pipinya, hidungnya, matanya dan bibirnya Wafi perhatikan. Apa benar seperti itu wajah Shafiyah. kenapa begitu cantik dan manis, dia merasa malu karena selama ini selalu mengejar seorang gadis secantik itu, bukan hanya cantik fisik tapi juga segalanya. Pantas saja Shafiyah begitu dijaga oleh keluarganya, kini Wafi paham sepenuhnya. Bayyin menyambar kertas tersebut dan Wafi cemberut.


”Belum halal dipandang terlalu lama,” tutur Bayyin dan Wafi mendelik sebal." Aku yang simpan, nanti umi harus lihat juga.”


”Iya deh.” Wafi pasrah.


*******


Hari yang dinanti-nanti pun tiba, Wafi dan Shafiyah hanya bertemu dua kali untuk mengurus pendaftaran pernikahan, didampingi Herman. Wafi menatap bayangannya sendiri di cermin, tubuh tinggi dan kekarnya berbalut jubah berwarna putih. Raihanah di belakang, merentangkan jas berwarna putih lalu Wafi menggerakan tangannya, memakai jas tersebut. Setelah jas terpakai, Raihanah meraih peci berwarna putih dan Wafi membungkuk, membiarkan Umi nya memakaikannya di kepalanya.


”Jangan gugup, nanti bisa-bisa ijab qobul nya diulang,” ucap Raihanah.


”Iya umi," lirih Wafi singkat.


Pernikahan digelar di KUA, dihadiri keluarga dan teman terdekat. Sementara tiga hari lagi adalah pernikahan Musa dan Bayyin. Wafi tidak bisa menyembunyikan wajah tegangnya, membuat Raihanah sangat khawatir. Di rumah, di lantai dua. Sebuah pelaminan sederhana di sediakan, di papan berwarna putih. Tertulis nama Wafi dan Shafiyah.

__ADS_1


******


BUAT YANG KOMPLEN UP NYA DIKIT. KALIAN PERNAH MIKIR GAK SI, AUTHOR JUGA MANUSIA, PUNYA KEHIDUPAN DI DUNIA NYATA, BISA SAKIT DAN SIBUK. KALAU GAK MAU DIGANTUNG JANGAN BACA KARYA ON GOING, PADAHAL SAYA UPDATE TIAP HARI, DAN BANYAK DARI KALIAN YANG GAK DUKUNG KARYA SAYA WALAUPUN HANYA SEKEDAR LIKE, APALAGI VOTE DAN NGASIH HADIAH. ****Kalian gak di suruh bayar koin di sini, buat buka bab. Perbanyak sabar bukan perbanyak komplen yang gak baik, saya sakit dari hari kamis. Jarang pegang hp, banyak juga yang ngasih tahu di komentar kalau saya lagi sakit tapi kalian abaikan, mau baca karya manapun, terutama yang on going perluas sabar ketimbang memperbanyak hate komen. KITA**** HIATUS SEKALIAN YA, TERIMA KASIH.


__ADS_2