
Waktu berlalu, Shafiyah sudah mulai pulih, sudah satu Minggu dia membatasi kegiatannya. Shafiyah sedang berdiri, di depan gerobak penjual batagor. Dia dengan Ima menunggu batagor mereka jadi.
”Pedes neng?" tanya si mamang.
”Dikit aja,” jawab Shafiyah.
Si mamang mengangguk dan Shafiyah menoleh bersamaan dengan Ima saat Bus berhenti, di depan pesantren mereka.
”Oh Gus Mu pulang," bisik Ima dan Wafi terus turun. Shafiyah langsung berpaling saat Wafi meliriknya. Wafi melangkah melewati Shafiyah dan Shafiyah memegang dadanya.
”Lemah banget nih jantung, lewat doang deg-degan.” Gumam Shafiyah. Dia baper sendiri saat Wafi lewat di belakangnya, bahkan aroma parfum pria itu tercium jelas oleh hidungnya. Shafiyah sangat ingin melirik, tapi dia tahan.
”Assalamu'alaikum." Wafi mengetuk pintu rumahnya, lalu dia mengintip dari kaca jendela, tidak ada siapa-siapa di dalam rumah.
”Wa'alaikumus Salaam, kamu pulang?” jawab Ikhsan sekaligus bertanya. Wafi menoleh dan saling menatap dengan Ikhsan.
”Iya, kok sepi ya? pada kemana semuanya."
”Afsheen kerja, Bayyin ada urusan, umi kamu lagi di aula pesantren. Biasanya gak dikunci, coba pintu belakang, mungkin aja gak dikunci," tutur ikhsan dsn Wafi mengangguk. Ikhsan berlalu pergi setelah menepuk bahu Wafi sekilas. Benar saja, pintu belakang tidak dikunci dan Wafi langsung masuk.
Tidak lama dia keluar lagi dan menarik selang air. Pecinya dia simpan, dan rambut gondrongnya terus-menerus tertiup angin. Wafi menyiram tanaman di teras rumahnya, sebenarnya itu alasan agar dia bisa melihat Shafiyah. Saat Shafiyah lewat dia sengaja menyemprotkan air yang sudah dia perkecil alirannya dengan jarinya di mulut selang air, dia begitu, agar gadis jutek itu menoleh padanya. Shafiyah tersentak dan Ima menahan tawa.
”Basah," protes Shafiyah. Dia menoleh dan menatap Wafi kesal, Wafi tersenyum manis dan Shafiyah menunduk.
”Darimana neng?" tanya Wafi dan Shafiyah diam. Dan mengusap kerudungnya berwarna hitam itu.
”Habis beli batagor Gus,” jawab Ima sambil cengengesan.
”Saya tanya anak itu," tunjuk Wafi kepada Shafiyah dan Ima menyenggol lengan Shafiyah.
”Fiyah itu ditanya Gus Mu," bisik Ima dan Shafiyah menoleh kearah Wafi.
”Ganjen banget punya Gus,” ucap gadis itu ketus dan Wafi tetap saja tersenyum.
"Terima kasih pujiannya.” Wafi berseru dan kedua mata Shafiyah membulat.
__ADS_1
”Idih,” lirih Shafiyah dan melangkah cepat meninggalkan tempatnya berdiri.
”Permisi gus, assalamu'alaikum.” Ima pamit.
”Wa'alaikumus Salaam," jawab Wafi dan Ima pergi menyusul Shafiyah. Wafi melanjutkan aktivitasnya dan Shafiyah memperhatikan dari kaca jendela kamarnya. Wafi merasa tenang, setelah melihat Shafiyah sudah sehat kembali.
(Kang Bucin jurus deketin nya gemes bener si, ya Allah. Kasihan yang mblo..hihi)
******
Bayyin begitu senang mendengar kakaknya sudah ada di rumah, ia sedang menunggu angkot dan dia sering mendapatkan tatapan tidak baik dari sekitar, karena kekurangannya.
Seorang pria yang sedang mengendarai mobil berwarna hitam tersenyum melihat gadis itu, dia mengenal bagaimana Bayyin dengan baik. Dia Musa, seorang pria sederhana dan berasal dari keluarga kaya raya, sering hadir di acara Manaqib pesantren Al Bidayah secara rutin. Dia sudah lama menaruh hati kepada gadis sederhana itu, usut punya usut. Musa sudah membicarakan niat baiknya kepada Yaman. Dan Yaman akan mengatakannya kepada Raihanah nanti malam. Bayyin melambaikan tangannya dan angkot berhenti.
”Masya Allah Bayyin, apa saya akan kamu terima? kamu begitu luar biasa, sementara saya,” lirih Musa dan terus memperhatikan Bayyin, dia mengikuti angkot dsn ingin memastikan Bayyin selamat sampai tujuannya.
Sepanjang perjalanan, Bayyin menyadari jika dari belakang Musa membuntutinya, dia risih dan terus menoleh ke belakang. Sesampainya di depan pesantren Al Bidayah, Bayyin turun dengan susah payah, beberapa penumpang menatapnya sinis karena lama, mereka memiliki mata tapi buta hati. Sudah jelas Bayyin memiliki kekurangan, tetap saja di hardik dengan tatapan seperti itu.
”Ini mang, makasih," ucap Bayyin meletakkan uang di atas tangan supir angkot itu, tapi tangannya di raih dan sengaja di belai, Bayyin emosi dan menarik tangannya.” Mamang jangan macam-macam ya sama saya!" suara Bayyin meninggi.
Deg! si supir angkot tegang, saat Wafi yang memang sudah menunggu Bayyinah di tepi jalan, kini sudah mencengkram kuat kerah baju lusuhnya. Bayyin tersentak melihat Wafi langsung bereaksi, Musa terlihat langsung keluar dari mobilnya. Untuk menghadang Wafi yang bisa saja lepas kendali, pemuda itu baru keluar dari penjara. Jika dia terlibat kembali dalam masalah, akan apa jadinya masyarakat yang sudah memandanginya begitu hina.
”Maaf a," ucap si supir angkot yang sudah bermandikan keringat. Wafi murka bukan kepalang saat melihat adiknya kembali mendapatkan pelecehan, urat-urat di lehernya timbul, tatapannya tajam dan dia terus menarik pria yang terbilang masih muda itu.
”Keluar kamu, kamu ngapain adik saya tadi hah? kurang ajar kamu, ini pelecehan. Keluar sekarang!" teriak Wafi dan pelaku itu terus mencoba bertahan, dia bisa babak belur di tangan mantan atlit itu.
”Gus sabar Gus," ucap Musa dan menarik Wafi ke belakang. Sampai cengkraman Wafi terlepas dan merobek baju si supir angkot.
”Aa tenang!" suara Bayyin lantang dan dia sudah menangis, takut kakaknya lepas kendali." Aa jangan begini, lihat Bayyin a hiks." Tangisan Bayyin pecah, Wafi terus menatap pria itu dengan seksama, mengingat-ingat wajahnya untuk dia hajar di lain waktu.
”Pergi, saya laporkan kamu ke pihak kepolisian jika begitu lagi!" ancam Musa berteriak. Si supir angkot langsung menancap gas, dan Wafi berontak dalam penahanan tubuh Musa yang tidak sebanding dengan besar tubuhnya.
Wafi memperhatikan plat nomor angkot tersebut dan Bayyinah meraih jemarinya lembut." Pulang a, ayo." Ajak Bayyinah seraya menariknya.
Wafi mendengus dan melangkah pergi meninggalkan adiknya itu, dia kesal dan tangannya terus terkepal kuat. Kini, Bayyinah menoleh ke arah Musa.
__ADS_1
”Kang, terima kasih sudah bantuin saya. Assalamu'alaikum" dalam gugup dia berkata, dan Musa terus menunduk dalam.
”Wa'alaikumus Salaam Ning," balas Musa lembut. Bayyin melangkah pergi dan Wafi sudah masuk ke dalam rumah.
Bukkk! Brak!! bug bug. Suara pukulan Wafi di lemari, lalu di dinding.
”Wafi!" jerit Raihanah." Istighfar nak, sabar. Asstaghfirullah hal adzim, anak umi sholeh." Raihanah memberanikan diri mendekat. Mengusap rambut Wafi, Wafi berhenti dan membungkuk dengan kening menempel di dinding. Isak tangis nya mulai terdengar, dia lelah karena menahan amarah.
”Sabar nak, gak semua hal bisa kamu lawan dengan kekerasan. Kamu sudah rugi, kamu sudah tinggal dipenjara karena gak bisa menahan amarah. Jangan begini nak, umi takut. Kita sudah berkumpul kembali, lihat umi, bayangin umi kamu ini kalau sedang marah. Supaya kamu tahu, wanita renta ini gak sanggup lagi kalau untuk jauh dengan putranya,” suara Raihanah serak, air matanya berjatuhan. Wafi lekas berbalik dan memeluk uminya erat, dia sudah membuat uminya sedih dan khawatir. Bayyin masuk dan diam melihat keduanya. Bayangan masa lalunya kini berputar, menyiksa jiwanya yang sudah rusak karena trauma.
Saat melihat Bayyin, Wafi melepas pelukannya, dia melangkah menghampiri Bayyinah.
”Bayyin gak apa-apa a, Bayyin takut lihat aa marah. Aa jangan begitu, Bayyin gak mau karena Bayyin lagi hidup aa semakin rendah di mata masyarakat.”
”Kamu gak apa-apa?"
Bayyin mengangguk lalu memeluk kakaknya erat. Wafi membalas dan Raihanah perlahan duduk lalu memperhatikan keduanya.
*****
Malam pun tiba, Wafi sedang melangkah untuk segera pulang saat mendengar Yaman dan Faiza datang.
”Eh Khalisah lewat,” seru Ustadz Jaidi menggoda Wafi. Tapi yang di goda sedang sibuk memikirkan satu nama, yaitu Shafiyah. Dia seolah tuli dan mengabaikan godaan ustadz Jaidi. Ustadz Jaidi mengernyit heran melihat Wafi tidak bereaksi.
"Eh Khalisah, Khalisah," seru beberapa santri yang iseng dan Wafi terdiam. Kebetulan ada Chairil dan Wafi langsung disuguhi tatapan tajam darinya.
"Pada kenapa si?" tanya Wafi kebingungan dalam gumaman nya. Chairil mendengus dan melangkah pergi. Wafi memperhatikan kepergian Chairil, entah kenapa sepupunya itu semakin dingin padanya. Ia salah apa? kenapa tidak langsung menegur jika dia memang salah. Wafi melanjutkan perjalanan menuju pulang, tidak mau menyiksa pikirannya dengan hal tidak penting.
Bayyinah duduk tertunduk, saat mendengar kabar dari bibi dan paman nya atas niatan Musa. Baru sore tadi dia bertemu pria itu, dan sekarang langsung mendapat kabar mengejutkan. Afsheen dan Raihanah senang, tapi semuanya tergantung pada Bayyinah sendiri. Dia cantik luar biasa, tapi kekurangannya menjadi penolakan pihak lelaki, saat paman dan uwa nya sering menawarkan dirinya kepada pria yang terbilang sudah matang dan dipercaya, jika bukan si pria yang menolak, pasti keluarganya si pria, selalu begitu.
”Bagaimana Bayyinah?” ujar Faiza bertanya.” Kita sudah cukup mengenal Musa seperti apa, dia memang kalah untuk soal fisik, tapi tata caranya berbicara, sopan santunnya, keunggulannya dalam kepandaiannya tentang ilmu agama, sangat istimewa. Rupa bukan segalanya Bayyinah, dia manis kalau di lihat-lihat kayak mamang kamu,” tutur Faiza kembali dan ucapannya di akhirnya penjelasannya, membuat Yaman menyenggol lengannya, menegur. Dia kan malu kalau disebut seperti itu di depan orang lain. Faiza tahu Bayyinah menyukai Amran yang memang rupawan, seorang ustadz. Tapi Faiza lebih setuju dengan Musa, karena Amran sudah memiliki istri, dia tidak mau keponakannya menjadi madu.
”Gimana neng?" tanya Raihanah dan Bayyinah tersenyum.
”Kalau kamu tertarik, keluarga Musa akan kesini langsung mengkhitbah.” Seru Yaman sambil mendorong CV milik Misa." Pikirkan dulu, sholat istikharah dulu. Kalau kamu ada kepastian, hubungi mamang ya. Nanti mamang minta Musa menghubungi kamu, apa boleh begitu?” Yaman meminta izin dan Bayyinah mengangguk.
__ADS_1
”Nanti Bayyin kabari lagi," kata Bayyin dan semuanya tersenyum. Tidak terlihat tanda-tanda penolakan, gadis itu juga menyukai Musa. Tak semua perempuan memandang fisik, fisik kesekian untuk perempuan yang memang melihat lelaki dari sikapnya, lemah lembutnya, dan sopan santun nya. Fisik memang utama, kita harus melihat dulu fisik calon pendamping hidup kita seperti apa. Tapi fisik tidak menjadi acuan untuk menilai baik dan buruknya seseorang.