Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 27: Kenyataan masa lalu


__ADS_3

Setelah makan malam, Wafi diajak jalan-jalan di pusat perbelanjaan, untuk mencari pakaian. Pria itu pantas dan tampan memakai baju apapun, tapi Noah mau keponakannya berpenampilan menarik agar ada gadis yang tertarik. Dia tidak mau Wafi menikah di usia yang terlalu tua, dia sendiri menyesal karena seperti itu. Tapi kembali lagi pada takdir dari Allah yang Maha Kuasa.


Noah memilah dan memilih pakaian, baju koko, kemeja, celana, sarung dan yang lainnya. Wafi diam dan raut wajahnya nampak malas, dia pegal karena diminta berdiri, lalu satu-persatu pakaian di rapatkan ke tubuhnya oleh om nya itu, untuk melihat cocok atau tidak.


”Besok kan Bayyin di lamar, dia harus berpenampilan bagus, kita cari juga baju untuk dia nanti," ucap Noah begitu semangat.


”Ini aja udah banyak om, kita pulang aja. Yang lain udah pulang, kita masih di sini." Ajak Wafi dan Noah tidak mau, Wafi mendesah kasar dan diam menunggu lagi.


”Mau yang hitam atau putih?" tanya Noah, mengangkat dua baju Koko dengan desain sangat bagus.


”Yang gak berwarna ada gak?" tanya Wafi dan Noah terdiam. Dia paham maksud keponakannya itu.


”Kamu merasa hidup kamu gak berwarna, terus kenapa kalau main hape cengengesan sendiri? kamu butuh pendamping, untuk membuat hidup kamu berwarna."


”Enggak tahu om, keluarga mana yang mau menerima pria seperti ini untuk anaknya.”


”Ada, pasti, in sha Allah. Percaya dong, semua manusia diciptakan berpasang-pasangan. Kamu pasti akan memiliki pendamping terbaik, asal perempuannya mau, untuk urusan keluarga mah itu bisa nyusul. Om dulu sama tante kamu juga sempat gak disetujui, tapi tante kamu mau sama om, terus dengan seiringnya waktu, semua keluarga bisa menerima. Allah maha membolak-balikkan hati manusia Wafi, kita berusaha dan membuktikan yang terbaik sama mereka. Jangan minder, mulailah kehidupan yang baru, yang lebih baik, lupakan masa lalu. Kalau kamu terus nengok ke belakang, kapan maju nya?” tutur Noah dan Wafi perlahan tersenyum mendengarnya.


”Nah gitu senyum dong, kan cakep." Puji Noah dan Wafi terkekeh-kekeh, dari kejauhan seorang gadis memperhatikan, dia terpaku melihat pria itu. Wafi terus tersenyum dan tertawa mendengar ucapan Noah yang berusaha menghiburnya.


******


Keesokan harinya, hari yang mendebarkan untuk Bayyinah. Om dan tantenya yang dekat datang untuk membantu uminya menyiapkan jamuan. Makanan siap untuk menyambut keluarga Musa. Harusnya kemarin hari Minggu, tapi karena ada halangan akhirnya hari ini.


Bayyin di kamarnya gugup, tidak diizinkan bekerja dan dia menatap bayangannya di cermin. Afsheen dan Sabilla masuk dan memperhatikannya.


”Gugup ya?" tanya Sabilla dan Bayyin mengangguk.


”Neng,” ucap Raihanah yang baru masuk. Bayyinah menoleh dan tersenyum. Raihanah berdiri di belakang Bayyin yang sedang duduk itu, lalu dia cium pucuk kepala putrinya lembut.” Semuanya sudah datang, ayo." Ajak Raihanah dan Bayyin gemetar saking gugupnya.


Wafi terlihat sibuk, dari pagi dia mengantar ke pasar, bolak-balik dan yang lainnya. Shafiyah yang melihat tersenyum, dan Wafi masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Semuanya sudah datang dan Bayyin memintanya agar hadir, sebagai pria satu-satunya, kakak dan wali nikah nya nanti menggantikan sang ayah.

__ADS_1


”Saya om nya Bayyin, ini kakaknya Bayyin." Noah menunjuk dirinya sendiri, lalu Wafi. Wafi bersalaman dan merapatkan kedua tangannya ke arah para wanita.


”Calon ipar nya a Musa, ganteng banget,” bisik keponakannya Musa kepada kakaknya. Lalu kakaknya mengangguk dan ikut memperhatikan Wafi.


Musa terlihat malu-malu, dia menunduk dan tidak sabar ingin melihat Bayyin. Ibunya terus mengusap bahu putranya itu, keluarga Musa terlihat begitu ramah, senang karena akan besanan dengan keluarga Majdi. Walaupun mereka tahu, kakaknya Bayyin seperti apa.


Pintu kamar akhirnya terbuka, Bayyin keluar dan tidak lupa dengan tongkat kakinya, sebuah tongkat berkaki satu. Raut wajah ibunya Musa nampak muram, saat melihat keadaan gadis cacat tersebut.


”Yang mana?" tanya ibunya Musa kebingungan, karena melihat Bayyin yang digandeng oleh Afsheen.



Siti Bayyinah Alilatul Haniyyah ZM. (Bayyin sekilas mirip neneknya, mirip Tante nya. Cabi, cantik, dan tertutup)



Afsheen Daniyyah Farihatul ZM. (Ketus, bentuk wajah seperti Raihanah, paling mirip sama Raihanah).


****


Ayah dan ibu Musa, serta saudara dan kerabat merasa kebingungan. Musa melihat tatapan sedih Bayyin, karena penerimaan dari keluarganya kurang baik. Musa memang belum mengatakan, seperti apa keadaaan anak kedua pasangan Fashan Ali dan Raihanah itu. Dia tidak mau, dan ingin semuanya tahu hari ini, dan Bayyin adalah pilihannya. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusannya.


”Dia cacat?" bisik ibunya Musa, di samping telinga putranya itu. Musa meraih tangan ibunya dan ibunya menepis kasar. Bayyin menunduk dan Raihanah nampak sedih melihatnya.


”Kakaknya juga mantan napi, sekarang ini. Kita pulang aja," ajak kakaknya Musa, Maesaroh yang tidak rela adiknya menikah dengan Bayyin, dan memiliki ipar mantan napi.


”Kak!" tegur Musa dan kakaknya mendengus sebal.


”Diam," ucap ayah Musa kepada anaknya itu. Walaupun dia juga nampak enggan melanjutkan niat Musa.


Ibu Musa kembali memperhatikan Bayyin, Bayyin duduk di sebelah Wafi, dan Wafi mengusap punggung adiknya agar tetap tenang.

__ADS_1


”Nak, jika boleh jujur. Kami gak tahu kamu dalam keadaan begini, jika boleh kami bertanya. Kamu kenapa nak?” tutur ibunya Musa, Dian. Begitu lemah lembut, dan tidak mau menyakiti gadis itu.


”Dia jatuh....” Wafi menjawab, dan ucapannya terhenti saat Bayyin memegang lututnya, adik kakak itu kini saling menatap lekat dan Bayyin tidak mau ada kebohongan, entah dia dan Musa jadi ke pelaminan atau tidak.” Neng,” lirih Wafi dan Bayyin tersenyum. Kedua matanya nampak berair.


Bayyin mengalihkan pandangannya, kepada Dian. Dan Musa merasa tidak tega melihatnya. Dia salah, karena tidak jujur dari awal.


”Saya yang salah," seru Musa dan semuanya menoleh ke arahnya.


”Saya paham, kang Musa gak salah disini. Biar saya ceritakan semuanya,” sahut Bayyinah begitu pasrah apapun yang akan dia katakan, mungkin akan membuat keluarga itu mundur. Musa menutup matanya dan menunduk sedih.” Dulu, 9 tahun yang lalu. Saya mengalami pelecehan seksual, dan sering mendapatkan pelecehan secara verbal. Saya berat mengatakan ini, malam itu. Saya hampir di perkosa oleh dua orang pria, saya di siksa dan di lecehkan. Kakak saya, tulang punggung keluarga sedari kecil, datang menolong. Berusaha menolong adiknya yang hampir mati karena terus di pukuli dan di tendang. Saya bahkan gak bisa lupa rasa sakit di malam itu, dan bekasnya masih ada sampai sekarang, kaki saya.


Kakak saya semua orang tahu dia seperti apa, tapi jangan menilai dari satu kejadian. Kakak saya hanya menolong adiknya, melakukan pembunuhan karena keadaan mendesak. Dia hanya kakak yang berusaha melindungi adiknya, dia salah tapi jangan pandang rendah kakak saya. Saya sayang sama dia, kejadian itu sangat membuat kami syok. Saya bangga sama kakak saya, dia bertanggung jawab atas kesalahannya. Ini keluarga kami, seperti ini keadaannya. Saya menceritakan semuanya karena saya gak mau, suatu hubungan didasari oleh kebohongan, walaupun sangat kecil. Saya terima, apapun keputusan keluarga kang Musa. Terima kasih sudah mau datang, ke rumah kami.


Saya sudah melakukan pengobatan apapun, tapi hasilnya nihil. Keadaan saya gak bisa normal seperti dulu lagi, saya cacat, dan saya akan terima apapun keputusan kalian setelah melihat kekurangan saya. Saya malam itu selamat walaupun terluka parah, saya masih ingat samar nya wajah kakak saya yang berlumuran darah, dia gendong saya ke rumah sakit. Dia gendong saya walaupun dia sendiri terluka parah, media itu jahat, keadilan itu gak ada buat kami. Tapi kakak saya menyesal, dan sudah berhasil mempertanggungjawabkan perbuatannya 8 tahun mendekam di penjara, ini kakak saya, kebanggaan kami.” Tutur Bayyinah panjang lebar, dia genggam tangan Wafi kuat dan Wafi menunduk, semua keluarga menangis mendengar cerita gadis itu, Bayyin mengelus punggung tangan Wafi dan Wafi menoleh ke arahnya.


”Harusnya kamu bohong Bayyin, gak usah berusaha membela kakak kamu ini," gumam Wafi dan terus-menerus saling memandang dengan adiknya.


Air mata Musa menetes, ibunya juga menangis mendengar semua cerita Bayyinah.


”Neng,” ucap Wafi serak dan Bayyin menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tersenyum di balik cadarnya.


”Jika memang ini gak bisa dilanjutkan, biarkan saat ini menjadi ajang silaturahmi. Kami sudah memasak banyak, takutnya mubajir. Tolong semuanya makan dulu, jangan sampai kami membuang-buang makanan,” tutur Raihanah sambil berderai air mata. Dian bangkit lalu mendekati Raihanah, dia peluk tubuh kurus itu dan Raihanah menangis sesenggukan. Dian begitu hangat memeluk Raihanah, Musa diam dan Bayyinah juga diam.


Dalam suasana tersebut, Dian menatap suaminya, suaminya mengangguk lalu memperhatikan Musa dan Bayyinah bergantian. Noah membuang nafas lemah, Jane menenangkannya, Noah begitu sakit melihat penghinaan yang di dapat oleh kedua keponakannya.


”Musa, kamu benar-benar bisa bertanggung jawab atas Bayyinah nak?” tutur Santo dan putranya mengangguk. Lalu Santo menatap Bayyinah." Neng, anak bapak ini gak punya apa-apa, tapi in sha Allah dia bisa bertanggung jawab, bapak ngomong begini bukan karena dia anak bapak. Sebagai orang tua, saat anaknya meminta untuk melamar seorang gadis. Tentu saja dilihat dulu kesiapannya, anak bapak sudah siap. Apa neng mau menerima anak bapak?” tuturnya kembali dan semuanya merasa bahagia mendengarnya. Wafi tersenyum dan merangkul bahu Bayyinah. Hanya mengangguk sebagai jawaban Bayyinah.


Akhirnya, dua belah pihak keluarga saling menerima, rasa keduanya tak mungkin bisa di tepi lagi, keduanya dengan niatan yang sama, yaitu berumah tangga. Raihanah melayani semua tamu di bantu sanak saudara dengan baik, akhirnya Bayyin ada yang mau menerima. Acara tersebut adalah acara pertunangan juga, bukan sekadar pertemuan keluarga. Dian membawa cincin tanpa sepengetahuan Musa, dia kukuh dengan apa adanya Bayyinah, kejujuran memang pahit, tapi itu lebih baik ketimbang berbohong.


Jari manis tangan kanan gadis itu kini melingkar sebuah cincin, pengikat antara ia dan keluarga Musa. Dan tidak ada yang boleh meminangnya karena pernikahan akan dilaksanakan secepat mungkin, dan Afsheen harus berbicara lebih dulu kepada Salam calon suaminya, apakah mau dan rela di dahului oleh Musa dan Bayyin. Jujur, Afsheen sendiri takut melangkahi dua kakaknya, Wafi dan Bayyin.


Jika keduanya menikah, berarti kang Bucin yang harus rela di langkahi kedua adiknya.

__ADS_1


__ADS_2