Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 52: Malam pertama


__ADS_3

”Jangan lihat Fiyah begitu Gus.”


”Jangan Gus lagi manggil nya.”


”Terus?”


”Panggil 'sayang'.” Pinta Wafi sambil terkekeh.


”Dih, dasar genit.” Maki nya sambil tersenyum, menampilkan barisan gigi bersih dan bergingsul. Wafi tersenyum melihat istrinya itu tersenyum. Dia bergeser mendekat dan Shafiyah diam.


”Enggak nyangka ya, kita udah nikah sekarang.” Wafi tersenyum lebar dan mengelus punggung tangan istrinya itu.


”Kecewa gak?"


”Kecewa kenapa?”


”Wajah Shafiyah begini, walaupun Gus udah lihat dari foto sih. Tapi pasti ada perbedaan foto sama aslinya...”


”Kamu cantik Habibah.” Puji Wafi, menyela ucapan gadis itu yang terus merendah. Shafiyah diam dan menatap wajah tampan suaminya begitu dalam. Wafi melepaskan genggaman tangannya, tangannya beralih menyentuh pipi istrinya. Lalu jemarinya mengelus bibir ranum gadis itu, Shafiyah diam, memasrahkan diri untuk menerima apapun yang akan dilakukan suaminya. Wafi sangat ingin merasakan bagaimana bibir seorang gadis, hanya bibir istrinya. Shafiyah menutup matanya, dia akan dicium sekarang.


Wafi tersenyum sambil terus mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya itu. Shafiyah mencengkram kuat seprai saat bibir suaminya menyentuh bibirnya, Wafi meraih tangan istrinya yang mencengkram kuat seprai itu lalu dia menggenggamnya hangat. Shafiyah mulai merasa tenang, tapi dia merasa ngilu saat bibirnya yang tidak mau terbuka di gigit gemas oleh suaminya sampai terbuka. Shafiyah mengerutkan keningnya saat bibirnya kini mulai di cecapi suaminya, bibir yang masih perawan kini sudah menjadi milik suaminya. Wafi mulai hanyut, dalam kenikmatan bibir manis istrinya. Mungkin ini yang sering dia dengar, bibir manis seorang gadis yang masih perawan. Yang menjaga kesucian dan kehormatan nya hanya untuk dinikmati suaminya setelah menikah.


Brak! brak!


”Om Wafi, ada tamu!" teriak anak-anak dan keduanya tersentak. Wafi menggigit


”Ampun!! baru juga mulai,” bisik Wafi sambil memijat tulang hidungnya. Shafiyah menggigit bibir bawahnya juga dan saling menatap lekat dengan suaminya.


”Keluar sana, Fiyah nanti!" titah Shafiyah dan Wafi mendelik sebal.


Wafi akhirnya bangkit dan Shafiyah merai tangannya, bibir pria itu tersenyum simpul." Boleh minta tolong gak? Fiyah mau mandi, tas Fiyah masih di luar.” Pinta Shafiyah sambil tersenyum dan Wafi mengangguk. Shafiyah melepaskan tangan suaminya dan Wafi pergi, setelah semua tas masuk, Shafiyah memilih baju dan dia masuk ke kamar mandi, memperhatikan kamar mandi di kamar tersebut. Sangat sederhana dan tidak terlalu luas.


Di luar, Wafi mengobrol dengan para tamu. Banyak yang menanyakan istrinya, dan Wafi menjawab istrinya sedang istirahat. Dan waktu Dzuhur pun sebentar lagi tiba. Wafi mandi dan berganti pakaian di kamar lain, dia tidak berani mandi di kamarnya. Sementara Shafiyah ada di sana, dia tidak seberani itu untuk di awal-awal pernikahan seperti ini dan takut membuat Shafiyah tidak nyaman. Para tamu mulai berhenti, karena memang tidak banyak yang tahu Wafi menikah hari ini.


Setelah pulang dari masjid, Wafi pergi ke dapur. Tapi dia tidak melihat istrinya.


”Shafiyah lagi tidur, mau umi tawarin makan tadi. Kata kakaknya semalaman Fiyah gak tidur, biarin. Jangan diganggu,” tutur Raihanah dan Wafi duduk sambil memperhatikan mereka yang sedang membuat kue.


”Om, bukain,” pinta cucunya Fahira. Dari anak keduanya, Sulis. Wafi mendelik dan membukakan permen untuk anak itu. Wafi masih kesal karena anaknya Sulis yang menggebrak pintu kamarnya tadi.


”Jangan masuk kamar om sembarangan mulai sekarang,” ucap Wafi, sambil mengacungkan dua jari nya yang seperti akan menyentil anak itu.


”Kabur!” teriak anak lelaki tersebut, mengajak anak-anak yang lain tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Wafi. Wafi mendesah kasar melihatnya.


”Makan Mu," ujar Faiza menawari, dia duduk dan akan makan saat ini.


”Masih kenyang,” balas Wafi. Wafi bangkit, menarik sedikit kain sarungnya lalu pergi menaiki tangga, Raihanah cengengesan begitu juga dengan yang lain.


Wafi diam mematung, di depan pintu kamarnya, dia ragu untuk masuk tapi dia merindukan istrinya yang baru dia nikahi tadi pagi itu. Wafi akhirnya menggerakkan tangannya, memegang gagang pintu lalu memutarnya. Pintu pun akhirnya terbuka, matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang berbaring memakai gamis berwarna merah, dan kerudung instan berwarna hitam. Wafi bisa melihat jelas, raut wajah lelah istrinya, tapi kenapa Shafiyah begitu cantik jika sedang tidur begitu? bibir Wafi tersenyum tipis, dia menutup pintu perlahan lalu menguncinya.


Wafi naik ke atas ranjang perlahan, dia menopang kepalanya dengan tangan kiri. Lalu memandangi Shafiyah di sebelahnya lekat, wajah cantik yang tadi di rias itu kini menampakan wajah cantik alaminya, yang tanpa polesan. Tangan kanan pria itu bergerak, punggung tangannya menyentuh pipi istrinya lembut. Shafiyah terbangun dan membuka matanya.


”Asstaghfirullah!” jerit Shafiyah dan langsung dibungkam dengan tangan suaminya.

__ADS_1


”Jangan berisik.” Bisik Wafi dan Shafiyah menepis tangannya kasar.” Udah sholat?” sambungnya dan Shafiyah mengangguk.


”Bikin kaget,” ucap gadis itu sambil melotot. Wafi tersenyum simpul dan memperhatikan raut wajah istrinya yang begitu menggemaskan.” Ngantuk, mau bobo.”


”Ya udah sok bobo, aa jagain.” Wafi tersenyum dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Nanti diapa-apain sama aa." Tuduh Shafiyah sambil menutupi dada ranumnya. Wafi melirik sekilas tapi dia dengan cepat melirik ke arah lain kembali.


Wafi langsung menyentil kening gadis itu dan Shafiyah meringis." Mesum pikirannya, gak boleh begitu. Gak tahan atau gimana?”


”Ih apaan si!” Shafiyah mulai kesal.


”Ngaku aja.” Goda Wafi, seolah belum puas melihat Shafiyah kesal padanya.


”Enggak!”


”Dih, Fiyah mesum.” Godanya kembali.


”Ih aa mah rese, gak mau ah, awas! Fiyah mau bobo, satu jam."


”Bobo bareng.” Pinta Wafi dan Shafiyah ketakutan.


”Enggak mau!” Gadis itu terus menolak tanpa ragu.


”Nolak suami dosa Bibah, auww sakit.” Wafi terus meringis karena tangannya dicubit.


”Ya jangan sekarang juga, banyak orang. Malu ih, gak tahu malu banget punya suami.” Bisik Shafiyah sambil melirik pintu.


”Pengen peluk.” Pinta Wafi merengek dan Shafiyah tidak mau.” Pengen tahu rasanya di peluk sama Bibah gimana, bibir Bibah manis tadi. Sini cobain lagi.”


”Ya udah bobo sini," ucap Wafi.


”Hiks.” Shafiyah malah menangis dan Wafi terperanjat, dia lekas mendekati istrinya itu dan meraih kedua tangannya.” Maaf ya, cuma godain neng doang tadi, gak serius. Jangan nangis."


”Fiyah takut.”


”Iya maaf, saya bikin kamu takut. Maaf ya.”


Plak! Shafiyah memukul dada Wafi kesal dan Wafi menahan tawanya, pukulan hanya bersuara, tapi tidak terasa sakit sama sekali.


”Aa mah gitu ah, rese terus.”


”Iya maaf ya, cup cup cup udah jangan nangis.” Wafi bergeser mendekat, merasa mendapat kesempatan untuk memeluk istrinya. Shafiyah diam saat dipeluk suaminya hangat, aroma parfum suaminya menyeruak ke dalam hidungnya, kedua matanya perlahan tertutup, Shafiyah sangat lelah. Saking gugup dan khawatir memikirkan pernikahan, dia tidak bisa tidur semalaman. Wafi mengusap-usap kepala istrinya lembut, di awal dia masih biasa, tapi lama kelamaan dia mulai tidak kuat menahan sesuatu yang menegang hebat di bawah sana.


”Tidur ya,” ucap Wafi. Dia melepaskan pelukannya tapi Shafiyah malah memeluknya erat, gadis itu sudah setengah tidak sadar.” Neng....” Wafi panik sendiri. Tapi Shafiyah tidak mau melepaskannya. Wafi sudah berkeringat dingin sekarang, antara menyesal dan juga senang. Setelah kedua tangan Shafiyah di punggung terlepas, lemah dan menandakan gadis itu sudah terlelap. Wafi membaringkan tubuh istrinya perlahan-lahan, lalu menyalakan AC. Wafi terdiam melihat kerudung Shafiyah tersingkap, menampilkan dada ranumnya. Wafi langsung menutup matanya, menarik kerudung istrinya sampai menutupi dengan sempurna. Setelah itu dia memilih kabur dari kamar, daripada terus menegang di dekat istrinya.


*****


Malam harinya, tangisan Sara masih berlangsung, anaknya hari ini jatuh ke tangan pria yang tidak dia sukai. Sara sedang berdiri di samping kolam renang, menikmati angin malam yang membuat perut kosongnya semakin terasa perih, dia tidak selera makan, makan juga sedikit setelah perencanaan pernikahan putrinya dengan Gus Mu.


”Kamu pasti nyesel neng, kamu gak akan bahagia. Kalau kamu nyesel terus pulang, ibu akan tetap menerima kamu. Pulang nak,” tutur Sara serak dan terus menangis terisak-isak.


Herman di belakang istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Sara seolah mendoakan keburukan untuk anak perempuannya sendiri.

__ADS_1


Sementara di rumah Wafi. Shafiyah sedang membuka semua kado dari teman-temannya, Wafi yang merebahkan tubuhnya dengan punggung bersandar pada bahu ranjang memperhatikan sedari tadi. Gadis itu begitu sibuk sampai mengabaikannya, padahal sekarang malam pertama keduanya. Malam spesial.


”Ini bagus,” ucap Shafiyah memuji. Dia memperhatikan piyama yang diberikan Rosa. Shafiyah tiba-tiba menoleh, ingin meminta pendapat suaminya.” Aa ini bagus gak?”


”Enggak tahu," jawab Wafi ketus dan Shafiyah cemberut.


Shafiyah juga membuka semua hantaran pernikahan dan mengumpulkannya.” Aa ini bagus gak?” tanya Shafiyah sambil memperlihatkan sebuah dress selutut berwarna hitam, dengan tangan pendek dan Wafi terdiam sejenak, apalagi saat dress itu di rapatkan oleh Shafiyah ke tubuhnya.


”Bagus banget itu neng, jempol.” Wafi mengangkat ibu jarinya dan Shafiyah mendelik sebal, giliran baju seperti, suaminya memuji. Wafi terkekeh melihat wajah istrinya kesal. Kini Shafiyah membuka dua amplop dari Adi Qais. Dia mengintip sedikit sampai akhirnya menariknya. Shafiyah membuang nafas kasar, bukan uang yang dia mau. Dengan cepat gadis itu memasukkan uang kembali dan ke dalam tas nya. Wafi sedang sibuk membaca pesan dari Ismail, Ismail sudah menjadi seorang ayah. Anaknya perempuan, lahir pukul 9 malam pas. Satu jam yang lalu, dan Wafi tersenyum membaca pesan dari sahabatnya itu. Dia janji akan datang besok, bersama istrinya.


Shafiyah diam memperhatikan suaminya cengengesan dan entah berkirim pesan dengan siapa. Perempuan memang sensitif. Shafiyah meraih hapenya dan duduk di tepi ranjang sebelah kiri, Wafi menoleh dan memperhatikan istrinya sibuk sendiri. Shafiyah tersenyum membaca semua komentar berisi ucapan selamat untuk pernikahan nya. Shafiyah sesekali terkekeh dan Wafi tersenyum sambil memperhatikannya.


”Neng!" panggil Wafi karena Shafiyah benar-benar melupakannya." Jangan main hape terus, ada suami masa begitu.”


”Tadi aa juga main hape.” Balas Shafiyah ketus dan Wafi bergeser mendekat.


”Itu Mail, Alhamdulillah istrinya udah lahiran. Bayinya perempuan.” Jawab Wafi menjelaskan dan Shafiyah menoleh.


Deg! dia tersentak dan menahan nafasnya saat wajahnya dan wajah suaminya begitu dekat. Wafi tersenyum dan memperhatikan bibir istrinya yang tadi siang dia cium itu. Wafi mendekatkan bibirnya, ingin merasakannya kembali tapi Shafiyah menahan bibir suaminya dengan tangannya.


”Ada yang datang,” ucap Shafiyah dan melihat bayangan di bawah pintu.


Tok tok tok.


”Mu, turun sebentar," tutur Raihana dan Wafi menjauh dari Shafiyah.


”Iya." Sahut Wafi dan bayangan Raihanah pun pergi. Wafi meraih baju pecinya dan turun dari ranjang, Shafiyah diam dan saling menatap lekat dengan suaminya." Jangan tidur, awas!" tegas Wafi.


”Udah malam, malam emang waktunya tidur kan?”


”Iya kan ini malam pertama kita sayangku, asstaghfirullah. Begini doang harus suami kamu ini jelasin, heuh!” tutur Wafi merasa gemas sendiri, dan Shafiyah mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lucu juga kalau suaminya seperti itu, tapi dia juga gugup karena dipanggil dengan sebutan 'sayang' oleh suaminya.


”Pergi ya, pergi nih. Gak ada ciuman sedikit aja gitu neng?” ucap Wafi sambil menunjuk bibirnya.


”Cepetan a, umi nungguin.”


Wafi berbalik badan begitu malasnya, Shafiyah tersenyum tapi Wafi berbalik lagi dan naik ke atas ranjang, mendekati Shafiyah lalu mendera istrinya itu dengan ciuman di seluruh wajah. Shafiyah terkekeh dan tidak bisa menolak, sampai wajahnya kini memerah karena terus tertawa.


Cup! kecupan terakhir di kening, Wafi menatap istrinya sejenak dan Shafiyah mendorongnya.


”Cepetan.” Titah Shafiyah.


”Iya,” ucap Wafi singkat lalu mundur menjauh dan pergi meninggalkan kamar. Shafiyah tersenyum dan merapihkan kerudungnya, kecanggungan diantara keduanya jelas masih ada. Tapi Wafi jelas lebih berani karena Shafiyah adalah miliknya sekarang. Dia tidak ragu mencium dan memeluk istrinya, belum satu hari menikah, apalagi nanti setelah berhari-hari.


Di lantai satu, Wafi berhadapan dengan Faiza dan uminya. Pria itu membaca setiap rincian belanjaan yang harus dibeli besok, bersama bibinya.


”Kamu pergi sama bibi Faiza, harus subuh-subuh. Habis sholat lah pokoknya, gak apa-apa gak ngajar dulu juga ya a,” tutur Raihanah dan Wafi mengangguk.


”Oh iya umi, besok. Gak tahu siang atau sore, aku mau ke klinik. Mau lihat bayinya mail, bayinya udah lahir. Alhamdulillah perempuan,” ucap Wafi sambil tersenyum.


"Alhamdulillah,” seru Raihanah dan Faiza bersamaan.


”Titip salam buat Mail dan keluarganya dari Umi, bilangin juga Umi belum bisa nengok, keadaannya repot begini.” Raihanah tersenyum lagi, dia sangat bahagia, mendengar kabar baik tersebut, Mail adalah kawan terbaik bagi putranya.

__ADS_1


”Iya," singkat Wafi.


Wafi melirik tangga sekilas, sepertinya dia dan Shafiyah belum bisa merencanakan program tempur mereka. Rumah begitu ramai, anak-anak hebohnya apalagi. Wafi juga tidak tega menggauli istrinya situasi yang ramai seperti ini, mungkin nanti. Jika suasana sudah sepi dia akan meminta jatahnya sebagai seorang suami, dan membicarakan tentang prihal ia yang ingin segera memiliki momongan.


__ADS_2