Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 54: Olahraga malam nya Mumu


__ADS_3

Malam pertama, malam kedua, Shafiyah terus ketiduran. Sekarang sudah pukul 10 malam, gadis itu masih terjaga dan menunggu suaminya ke kamar, banyak orang di bawah, apalagi di luar dan kebanyakan laki-laki. Wafi melarang Shafiyah untuk keluar, tidak mengizinkan mata para lelaki memandangi istrinya. Shafiyah memang salah satu santriwati, tapi santriwati kan banyak. Tidak semua orang tahu nama dan bagaimana rupa santriwati di pesantren Al Bidayah, dan sekarang salah satu santriwati, sekaligus pengabdi menjadi istri Gus Mu. Shafiyah menjadi sorotan, dan banyak orang yang ingin melihatnya. Bagaimana sosok istri dari Gus Mu itu.


”Aa lama ah,” kata Shafiyah. Dia menarik selimut lalu memejamkan matanya. Suara pintu dibuka pun membuatnya sedikit terkejut, Wafi masuk dan mengira Shafiyah sudah terlelap, karena biasanya juga begitu.


Wafi tersenyum dan memperhatikan istrinya, Shafiyah tetap saja memakai kerudung. Walaupun Wafi sudah mengatakan, asal dibuka di hadapannya. Wafi kini naik ke atas ranjang, Shafiyah gugup dan takut. Wafi membelai pipinya, bibirnya lalu keningnya di cium cukup lama. Melihat kelopak mata istrinya bergerak-gerak, Wafi mulai menyadari, gadis itu belum tidur saat ini.


”Bibah belum tidur?” tanya Wafi. Shafiyah mengangguk dan membuka matanya perlahan.


”Kenapa lama? Fiyah belum ngantuk.”


”Banyak orang di luar, maaf ya. Biasanya juga tidur sendiri kan?"


”Temenin, takut.”


”Takut apa? ada apa?”


”Ya takut aja,” ucap Shafiyah hanya beralasan.


”Lapar?” tanya Wafi kembali dan Shafiyah menggeleng kepala. Keduanya diam dan saling menatap lekat, Shafiyah menepis tangan Wafi yang tiba-tiba merangkul pinggang rampingnya.” Pegang doang neng, pelit banget si.”


”Geli, jangan pegang-pegang.”


”Hemmm!" Wafi mendelik sebal, dia berbalik, membelakangi istrinya. Shafiyah tersenyum lebar dan menusuk-nusuk punggung kekar suaminya itu dengan jarinya." Jangan pegang-pegang,” ketusnya menegur. Shafiyah tidak perduli dan malah memeluk tubuh besar suaminya itu, dengan tangannya yang mungil. Wafi tersenyum lebar dan menunduk, melihat tangan Shafiyah memeluknya.


”Aa.” Shafiyah memanggil begitu lembut.


”Apa?” sahut Wafi.


”Aa sayang gak sama Fiyah?”


”Sayang lah, kalau gak sayang ngapain diperjuangkan, sampai dinikahin. Aneh kamu,” ucap Wafi sambil berbalik badan. Shafiyah tersentak saat hidungnya dan hidung suaminya beradu, bibir keduanya hampir menempel sekarang. Wafi diam, memandangi wajah cantik jelita istrinya dengan seksama. Yang selalu membuatnya terbuai setelah dia melihatnya.


Shafiyah hendak mundur, tapi Wafi menekan tengkuknya. Mencium bibirnya dengan cepat, Shafiyah menerimanya dan keduanya berhenti saat Shafiyah mulai tersengal.” Banyak orang,” ucap gadis itu.


”Justru berisik begini, aman buat kita sayang. Mau gak? kalau mau hayu siap-siap.” Wafi berucap sambil mengusap bibir istrinya yang basah karena ciumannya tadi. Shafiyah menggigit bibir bawahnya kelu dan akhirnya dia mengangguk. Sontak saja Wafi tersenyum lebar.


”Praktekin yang di kitab ***** ya neng.” Wafi terkekeh-kekeh dan Shafiyah bergidik geli.

__ADS_1


”Enggak mau, serem.” Shafiyah langsung bergidik ketakutan.


”Ih gak apa-apa, penasaran tahu." Wafi tersenyum. Shafiyah diam, dan Wafi menunggu dengan setia jawaban dari istrinya itu. Akhirnya Shafiyah mengangguk setuju, mau bagaimana lagi? suaminya sudah tidak bisa menahan lagi.


”Sana, sholat dulu. Aku juga mau siap-siap.” Shafiyah mendorong dada Wafi, karena Wafi mencondongkan tubuhnya untuk menciumnya.


Wafi mengangguk, begitu penurut dan Shafiyah tersenyum. Keduanya pun bersiap, untuk sama-sama menunaikan kewajiban suami istri, saling melayani dan memanjakan. Setelah keduanya bersiap, Wafi masuk membawa air minum dingin, jeruk dan roti. Supaya dia tidak harus keluar lagi setelah melakukan olahraga malam, yang belum pernah dia lakukan sebelumnya itu. Shafiyah mematikkan lampu, menyalakan 4 lilin aromaterapi, untuk membuat seisi ruangan beraroma dan sekaligus sebagai penerang. Wafi gugup, meletakkan semua yang dia bawa ke atas meja. Shafiyah apalagi, dia sangat takut. Apalagi dia sudah melihat berkali-kali dada telanjang suaminya, begitu kokoh dan kekar. Pasti tenaganya juga kuat, dia takut tapi lebih takut berdosa jika menolaknya.


”Ekhem neng.” Wafi memanggil, sambil naik ke atas ranjang, dia duduk bersila, di hadapan Shafiyah yang mendekap kedua lututnya.” Lampunya nyalain.”


”Enggak, udah gini aja. Kalau mau sok, kalau tetep mau di nyalain, mending gak usah.” Tegas gadis itu dan Wafi panik.


”Iya deh iya, segini juga terang kok. Cuma kurang aja gitu, gak apa-apa. Cantiknya a Wafi tetep kelihatan, mana sini lihat mukanya.” Wafi menarik dagu gadis itu, menatap wajahnya dengan seksama. Tatapan Wafi berubah sayu, dan dia sangat bersyukur memiliki Shafiyah. Rambut Shafiyah yang panjang sepinggang dibiarkan terurai, bibirnya diolesi dengan lipglos dan Wafi menciumnya.


”Rasanya makin manis, tapi ini rasanya kayak anggur. Gak suka, mau rasa yang aslinya aja. Hapus,” tuturnya sambil mengusap bibir berminyak Shafiyah dengan ibu jarinya. Shafiyah menepis tangan suaminya itu kesal.


”Aa ih, udah dandan juga. Malah di hapus sembarangan.”


”Gak enak," ucap Wafi dan Shafiyah mendelik. Wafi menjatuhkan telapak tangannya di ubun-ubun Shafiyah sekarang, Shafiyah diam merasakan sentuhan lembut itu." Assalamu'alaikum yaa ba baarrohmaan,” ucap Wafi dan Shafiyah menatapnya lekat.


”Wa'alaikumus Salaam yaa sayyidal Aamiin.” Balas Shafiyah dan keduanya sama-sama tersenyum. Wafi meraih kedua tangan istrinya kini, dan mengelusnya lembut, tidak lama dia melepaskannya.


Bibirnya memang hanya nampak sibuk mencium dan mencium, tapi dalam hatinya setiap doa dia lafalkan begitu fasih dan berharap kebaikan dan keberkahan dalam pernikahan, dan kegiatan menggauli istrinya. Shafiyah sudah berkeringat dingin, Wafi juga sama. Setelah selesai, keduanya membaca doa lagi, doa hendak bercampur antara suami dan istri.


Shafiyah pasrah, menyerahkan diri kepada sang suami malam ini. Shafiyah menegang hebat dan Wafi menenangkannya, Shafiyah takut melihat urat-urat di tubuh suaminya semakin timbul, mengikuti tenaga yang dikeluarkan suaminya.


”Fiyah malu."


”Aa merem nih merem, gak lihat."


Suasana hening pun kembali memenuhi ruangan.


*****


Keesokan paginya, acara pernikahan terjadi. Shafiyah tak kunjung keluar dari kamar. Dan Raihanah khawatir, apa menantunya itu sakit? jika keluarganya tahu, akan seperti apa anaknya Wafi dituduh ini dan itu.


”Istri kamu yang mana Wafi?” tanya seorang wanita paruh baya, kerabat yang baru datang hari ini.

__ADS_1


”Ada." Jawab Wafi sambil melirik ke tangga.


”Istri kamu sakit?” tanya Fara.” Itu anak emang gak bisa diem, pemalu tapi dia gak ragu berbaur sama kita. Bantuin ini, itu. Bibi lihat deh." Fara sudah bangkit dan Wafi panik.


”Dia lagi siap-siap tadi, biar aku lihat." Wafi tersenyum gugup dan Fara mengernyit heran. Wafi pun segera pergi ke lantai dua untuk melihat sedang apa istrinya, kenapa tak kunjung turun sedari tadi. Wafi membuka pintu kamar dan melihat Shafiyah sedang meringkuk sambil bermain ponselnya. Wafi menghambur memeluk istrinya itu dan langsung mendapatkan pukulan keras di bahunya.


”Galak banget si.”


”Sakit, pelan-pelan.”


”Lebay, mana bisa masih sakit.”


”Oh aa gitu ya, gak tanggung jawab banget, sakit tahu. Fiyah gak mau keluar.”


”Sayang, banyak yang nanyain kamu. Ayo keluar yuk, mau mandi lagi? aa mandiin ya.” Menawarkan diri, sebuah kegiatan yang sangat ingin Wafi lakukan, tapi Shafiyah tidak seberani itu.


”Ogah, nanti di serang lagi.”


”Enggak bakal, seriusan.” Wafi tersenyum mesum dan Shafiyah terus menggeleng kepala.


”Semalam sama yang tadi sebelum tubuh masih kerasa a, gak usah macam-macam. Fiyah mau pipis aja ngilu.” Keluh Shafiyah merengek, sambil menarik-narik ujung baju Koko suaminya.


”Maaf ya, tapi kamu tetep harus keluar sayang. Cepet siap-siap.” Titah Wafi sambil mengelus rambut istrinya lembut, dan menciumnya. Aroma wangi dari shampo tercium kuat oleh hidungnya.


Shafiyah cemberut dan Wafi pergi karena akad sebentar lagi tiba, Shafiyah akhirnya berganti pakaian dan bersiap. Saat Shafiyah tengah bersiap, akad akan segera dimulai, Shafiyah kelabakan dan buru-buru memakai kerudungnya. Dia memakai gamis berwarna hitam, sesuai permintaan suaminya semalam karena Wafi juga memakai Koko dan sarung hitam.


”Sah!!” seru semua orang terdengar.


”Asstaghfirullah aku telat, kan pengen videoin a Wafi jadi wali nikah Ning Bayyin, gara-gara a Wafi bikin aku capek." Gerutu Shafiyah, dia meraih dompet dan hapenya lalu bergegas keluar. Belum lama dan jauh dia melangkah, Shafiyah meringis dan hampir kebablasan menyentuh area sensitifnya.” Perih, auw!” terus meringis.


”Kakak kenapa?" tanya Ridho, Shafiyah tersentak dan menoleh. Berusaha berdiri dengan benar lalu melambaikan tangannya. Ridho anaknya Sulis. Anak laki-laki jahil, musuhnya Wafi(canda).


”Hehe enggak." Shafiyah tertawa kecil.


*****


Peringatan terakhir ya.

__ADS_1


Jangan screenshot bab cerita aku, untuk judul dan bab manapun. Apalagi untuk cerita spiritual 🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2