
Pagi ini di rumah Fara dan Nafis. Wafi sedang membuat kue, dia sibuk sendiri dan Fara membiarkannya. Fara sendirian, Nafis pulang pagi ini mungkin, karena semalam masih di perjalanan dari luar kota. Setelah kedua anaknya menikah, Fara sering meminta keponakan atau sepupunya menginap di rumah.
”Assalamu'alaikum.” Nafis melangkah masuk dan Fara tersenyum melihatnya.
”Wa'alaikumus Salaam," jawab Fara. Dia menyalami tangan suaminya dan keduanya berpelukan hangat. Nafis melirik ke dapur sekilas, melihat Wafi sedang sibuk.
”Wafi nginep bund?" tanya Nafis.
"Iya, dia lagi bikin kue biarin aja.” Fara tersenyum. Dan Nafis juga tersenyum." Aku buatin teh sebentar." Fara pamit dan Nafis mengangguk. Nafis pergi ke kamar dan Fara di dapur memperhatikan Wafi.
”Om pulang?” ucap Wafi.
”Iya, mau teh gak? bibi bikinin sekalian ya." Fara menawari sambil memperhatikan kue kering yang masih di atas loyang untuk dipanggang.
”Enggak usah, aku bisa bikin sendiri nanti.” Wafi tersenyum dan Fara juga tersenyum. Entah untuk apa keponakannya mendadak membuat kue, Fara nampak sedih sejenak dan mengingat kakak lelakinya.
Celemek yang dipakai Wafi nampak terdapat bercak noda dari adonan kue, pria itu memakai bando agar rambutnya tidak menghalangi pandangannya. Dia mencoba sesekali untuk memastikan adonan sudah pas atau belum, sudah lama dia tidak membuat kue, takut gagal dan mubajir.
Setelah membuat teh hangat, Fara kembali ke ruang tamu. Nafis sudah duduk dan berganti pakaian.
”Kasihan Wafi, hubungannya sama Shafiyah kurang dukungan, restu juga susah. Aku jadi inget kita dulu yah,” tutur Fara dan Nafis terkekeh-kekeh.
”Enggak lah beda, aku dulu hanya dimotivasi untuk bertanggung jawab dan memiliki pekerjaan yang baik buat menafkahi kamu. Tapi sekarang Wafi, keluarga gadis itu benar-benar menghinanya. Aku bersyukur keluarga kamu begitu baik sama aku dulu Fara, kalau keluarga kamu kayak keluarga gadis itu, kayaknya aku nyerah deh. Gak kuat dan gak sanggup.” Nafis berucap panjang lebar, Fara tersenyum dan keduanya bernostalgia dengan masa-masa muda. Nafis meminum teh hangatnya dan setelah itu dia pergi ke dapur untuk menemui Wafi. Wafi menyalami tangannya lembut, susah sedikit karena kedua tangannya kotor.
”Mana yang udah mateng Mu?" tanya Nafis.
”Ini." Wafi dengan sigap memberikannya. Nafis duduk dan mencobanya, mengunyah kue yang masuk ke mulutnya lembut sembari memperhatikan keponakannya itu.
”Enak, pinter juga kamu bikin kue. Kue itu buat siapa? ada yang pesen atau apa?”
Wafi terdiam, dia sedang menghias kue bolu untuk dia berikan kepada Shafiyah.
”Ini buat temen, ya dia ulang tahun.” Wafi beralasan.
”Cewek? kamu udah nyerah memperjuangkan Shafiyah?" Nafis cukup terkejut mendengar ucapan Wafi.
”Bukan, cowok kok om hehe," Wafi gugup.
”Masa kamu bikinin kue begitu buat cowok, istighfar Mu. Gak normal kamu?” Suara Nafis meninggi. Wafi melotot mendengar tuduhan tersebut, dia mengibaskan tangannya menolak.
”Enggak om, asstaghfirullah tega bener nuduhnya. Ini buat Shafiyah, sumpah om aku normal.” Tegas Wafi menjelaskan dan barulah Nafis tenang.
”Ya kamu nya ditanya malah bohong,” ketus Nafis dan Wafi tersenyum.” Berjuang Mu selama ceweknya mau, dulu om nya agak susah mau berjuang untuk Fara.”
Wafi terdiam dan menatap Nafis lekat.” Apa Abah galak dan melarang om sama bibi?” tanya Wafi, apa benar kakeknya begitu? rasanya tidak mungkin.
”Lebih tepatnya tegas, om harus melawan dua pria sekaligus. Abah kamu sama Abi kamu, om dulu murid abi kamu di sekolah. Otomatis Abi kamu tahu lah kelakuan om, sempet dilarang tuh, mana Abi kamu galak kan. Eh Alhamdulillah akhirnya om bisa dapetin bibi kamu, merintis usaha dan hidup bersama sampai sekarang. Berjuang ya Mu, sampai Allah memberi petunjuk.” Nafis menyemangati, Wafi tersenyum lebar, siapa yang tak senang saat bertemu dengan prang yang seperjuangan. Nafis berhasil mendapatkan Fara, dan dia berharap, dia juga bisa bersama dengan Shafiyah.
******
Sore harinya, Wafi dan Ali bersembunyi di belakang tembok. Wafi mengintip sedikit rumah besar Fajar, Ismail sedang menunggu satpam membukakan pintu gerbang. Ismail membawa kue yang di kemas rapi, dengan nama toko 'Habibah' yang di cetak mendadak. Ismail berpenampilan seperti kurir, untuk memberikan paket tersebut. Wafi deg-degan dan takut ketahuan.
”Permisi pak, ini ada kiriman paket atas nama penerima Shafiyah." Ismail berbicara sambil tersenyum.
”Ya udah saya tanyain dulu." Pak satpam pergi dan menutup pintu gerbang kembali, kebetulan Shafiyah keluar dan diam saat satpam mendekatinya.” Neng ada paket."
”Paket?” Shafiyah kebingungan, dia merasa tidak memesan apapun.” Paket apa pak?"
”Kurang tahu, kurir nya masih nunggu." Pak satpam melirik Ismail dan Shafiyah menoleh.
”Ya sudah lihat dulu deh,” ucap Shafiyah. Dia melangkah dan pak satpam membukakan pintu gerbang, saat berhadapan dengan Ismail, Shafiyah menatap paket di tangan pria itu. Wafi tersenyum dan memperhatikannya.
__ADS_1
”Paket buat teteh,” ujar Ismail sambil cengengesan, baru pertama kali dia melihat Shafiyah. Dari matanya sih bagus, tapi tidak tahu cantik atau enggak. Sampai Wafi klepek-klepek oleh gadis itu.
”Genit lu Mail, kurang asem." Gerutu Wafi dan mendelik sebal.
”Cemburuan banget si bapak," ucap Ali dan Wafi mendelik lagi.
Shafiyah diam, tak kunjung menerima." Tapi saya enggak...."
”Nama pemilik toko nya Mumu ganteng." Bisik Ismail menyela ucapan Shafiyah, bisa gagal jika gadis itu belum sadar juga.
”Emang ada ya a nama begitu? narsis bener." Pak satpam terkekeh dan Ismail tertawa, Wafi mengernyit dan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
”Oh haha iya, ini langganan saya. Saya kenal banget sama pemilik tokonya, saya pesan kemarin, tapi katanya baru jadi hari ini. Makasih," tutur Shafiyah ikut-ikutan, dan Wafi tersenyum melihatnya. Shafiyah sangat bahagia, dia menerima dengan penuh suka cita. Pria di hadapannya mungkin saja temannya Gus Mu, setelah menerima paket. Shafiyah masuk dan pintu gerbang di kunci rapat kembali. Ismail mengendarai motornya dan berhenti, lalu dia turun mendekati Wafi dan Ali.
”Takut ketahuan," lirih Wafi.
”Sepi sih rumahnya, mudah-mudahan emaknya gak ada," balas Ismail dan Wafi mengeluarkan ponselnya.
Di kamar, Shafiyah langsung membuka kardus kue tersebut, dia tersenyum melihat isinya. Terukir inisial namanya, dengan beberapa krim dibentuk bunga, sangat cantik dan Shafiyah suka.
”Ya ampun Gus sampai ngirim kue segala, ini kayaknya mahal banget.” Ujarnya sambil mencolek kue lalu mencobanya, kepalanya mengangguk-anggukkan karena rasanya sangat enak.
Tring tring tring! suara ponsel tiba-tiba membuat Shafiyah kaget. Shafiyah mengedarkan pandangannya, dia tidak punya hape dan entah dari mana suara itu. Shafiyah menunduk, memperhatikan kue pemberian Wafi. Dia mencondongkan tubuhnya, mengarahkan telinganya di dekat kue. Suara hape berasal dari kue tersebut, Shafiyah meraih pisau plastik kue lalu membelah nya. Dia semakin kaget melihat sebuah ponsel di bungkus plastik bening, sengaja di masukkan sebelum kue tersebut di hias sedemikian rupa. Shafiyah menarik beberapa lembar tisu, lalu membersihkannya dan mengeluarkannya.
”Dia sengaja?" ucap nya serak. Lalu mengangkat panggilan tersebut dan turun dari ranjang, lalu membuka pintu balkon dan kini dia berdiri di sana.
” Assalamu'alaikum.”
” Wa'alaikumus Salaam, Gus..." Suara Shafiyah serak, kedua matanya berair dan terus mengedarkan pandangannya, mencari dimana pria itu. Wafi akhirnya melangkah keluar dari persembunyiannya, Shafiyah menoleh dan keduanya sama-sama tersenyum.” Gus, kamu bisa celaka.”
”Saya jauh lebih bisa celaka, kalau gak tahu kabar kamu. Itu hape bekas, gak apa-apa, masih bisa di pakai. Yang penting kita bisa komunikasi, neng sehat?” tutur Wafi begitu lemah dan dia melambaikan tangannya, Shafiyah membalasnya, sementara Ismail dan Ali menjadi penonton.
”Mumu sayang banget sama cewek itu, tapi rumah kakaknya aja udah besar begini, apalagi rumah orang tuanya.” Ismail cemas, dan takut harapan Wafi tidak sampai, lalu pria itu jadi gila.
”Aku tahu rumah Shafiyah, emang gede. Paling bagus sih di komplek,” tutur Ali dan Ismail mendesah kasar.
”Fiyah sehat a, makasih kue sama hapenya. Kuenya enak." Shafiyah tersenyum lebar dibalik cadarnya.
”Iya sama-sama, kue nya di makan ya. Aku bikin nya lama, capek-capek, cuma buat neng Bibah." Wafi tersenyum lebar dan Shafiyah tertawa renyah.
”Maaf ya kemarin Fiyah udah marah-marah gak jelas, salah paham sama a Wafi.”
”Iya gak apa-apa, udah lewat juga kan. Jangan dibahas lagi."
”Tapi itu beneran kuenya a Wafi yang bikin? kok bisa enak ya?" tutur Shafiyah terdengar ragu.
"Yeah kamu kamu gak percaya?” tanya Wafi di selingi tawa. Bisa-bisanya gadis itu tidak percaya.
”Iya, Fiyah gak percaya.”
”Itu aku yang bikin, beneran. Masa bohong si." Wafi terus terkekeh-kekeh.
”Iya deh percaya,” ucap Shafiyah sambil tersenyum.
Shafiyah menoleh dan kedua matanya membulat saat melihat mobil orang tuanya datang, dia langsung pergi meninggalkan balkon dan Wafi panik.
”Halo neng? kenapa?”
”Ada ibu, Gus pergi ya. Aku gak mau Gus kenapa-kenapa. Ayo cepetan."
Wafi menoleh dan dia panik.” Simpan hapenya di tempat yang aman, jangan sampai ketahuan ya.”
__ADS_1
”Iya gus makasih, assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam."
Panggilan pun berakhir, Ismail langsung mengendarai motornya lebih dulu. Wafi naik ke atas motor Ali, dan menutup kaca helm nya, Ali melajukan motornya kencang menyusul Ismail. Wafi gugup saat berpapasan dengan mobil berwarna putih itu. Sara tidak melihatnya, tidak menyadari, dari tegap nya tubuh Wafi pun wanita itu bisa saja mengenalinya. Wafi sempat menoleh, dan dia mengusap dadanya merasa lega.
Sesampainya di rumah Fajar. Sara keluar dari mobil, dia masuk dan bibi mengatakan Shafiyah di kamar. Sara pun bergegas pergi untuk melihat putrinya. Saat dia masuk, Shafiyah sedang membaca buku sambil menikmati kue dari Gus Mu.
”Eh ibu," ucap Shafiyah.
”Sayang, makan kue? kayaknya enak banget, tapi dari mana? bukannya ibu bilang jangan kemana-mana," tutur Sara sedikit ketus.
"Ih enggak kok, ini di kirim sama temen. Fiyah gak kemana-mana, tanyai aja pak satpam." Ketus Shafiyah kesal. Dan Sara tersenyum. Melihat anaknya begitu lahap memakan kue, Sara mencobanya. Satu dua kali, sampai keterusan dan Shafiyah cemberut.
"Ibu jangan banyak-banyak, punya Fiyah," ucap gadis itu.
”Toko nya sebelah mana si? bilang sama ibu, kita harus jadiin toko kue langganan.” Sara begitu semangat dan Shafiyah menahan senyumnya. Jika ibunya tahu kue dari Wafi, dia yakin semua yang masuk akan dimuntahkan kembali. Keduanya akhirnya menikmati kue bersama, Shafiyah terus tersenyum dan Sara memperhatikan anaknya yang nampak bahagia.
”Kamu pasti bisa melupakan laki-laki itu, Farel jauh lebih baik. Buktinya kamu bahagia sekarang nak." Gumam Sara.
******
Wafi, Ismail dan Ali sudah sampai di pesantren Al Bidayah. Wafi masuk untuk membuatkan kopi, Ismail dan Ali nongkrong di teras. Ali terperangah melihat tempat tinggal pelatih nya, dia tidak menyangka jika pria itu adalah seorang Gus. Karena tidak pernah Wafi menceritakannya.
Ali datang karena rindu, rindu dengan pelatih nya, dia tidak suka pelatih yang sekarang. Dan berharap Wafi mau kembali, dia mewakili semua orang di sanggar untuk meminta Wafi melatih.
”Saya gak punya apa-apa Ali, kenapa kamu datang mendadak?" ujar Wafi sambil meletakkan satu-persatu cangkir berisi kopi. Dia dan Ismail bertemu dengan Ali di lampu merah, saat hendak pergi ke rumah Fajar. Ali sempat kesasar dan sangat bersyukur bertemu Wafi di jalan.
”Pengen ngobrol aja hehe," Ali tersenyum lebar.” Ternyata a Wafi seorang ustadz ya."
"Dia Gus, salah satu turunan Majdi. Pengurus pesantren ini tahu,” ketus Ismail menjelaskan dan Wafi duduk perlahan.
”Oh ya?" Ali semakin terperangah di buatnya.
”Kalau niat kamu kesini untuk meminta saya kembali ke sanggar, saya gak bisa," ujar Wafi dan Ali nampak kecewa. Belum juga ngomong sudah ketahuan dan ditolak.
”Kami gak suka sama pelatih sekarang, udah tua, gak gaul." Ali berbisik.
”Berarti sudah senior, lebih bagus kan?" ucap Wafi dan Ali menggeleng kepala.
”Suka seenaknya, gak suka. Ayolah a Wafi balik aja ke sanggar, aku beliin makanan deh tiap hari." Bujuk Ali dan Wafi terkekeh.
Keduanya menoleh saat hape Ismail berdering, Ismail lekas mengangkat panggilan masuk dari Kamila.
”Pulang!" bentak Kamila dan Ismail terkejut, Wafi dan Ali yang mendengar menunduk sambil terkekeh.
”Kenapa sih neng marah-marah mulu? dinda jangan marah-marah, nanti lekas tua," ucap Ismail sambil tertawa.
”Enggak usah nyanyi, pulang a cepet ih. Katanya tadi sebentar.” Protes Kamila kesal. Kamila merasakan ngilu, entah apa yang terjadi, dia tidak paham. Dan ingin segera pergi untuk memeriksakan kehamilannya.
”Iya aku pulang sayang, belahan jiwaku, manis ku. Aku pulang, jangan marah-marah ya, gak baik buat kehamilan kamu. Nanti si Dede di dalam perut nangis mamah nya marah-marah.” Ismail membujuk sambil meraih jaketnya, dia akan segera pulang.
”Ya udah cepetan pulang a," ketus Kamila.
Panggilan pun diputus Kamil sepihak, Wafi diam memperhatikan Ismail.
"Gue pulang dulu Mu,” ucap Ismail pamit.
”Ya, bawa tuh buat Kamila." Tunjuk kue ke plastik berisi kue.
”Oke, makasih." Ismail tersenyum.
__ADS_1