
Pagi ini, Shafiyah melamun di balkon, berbalut selimut sambil menikmati segelas susu coklat panas. Dia menghirup udara segar dalam-dalam, berharap mendapat ketenangan, tapi hatinya sudah terluka dan diselimuti rasa kecewa karena seorang manusia yang dia harapkan. Sejenak dia melakukan kesalahan, terlalu berharap kepada manusia, sementara manusia adalah tempatnya kecewa.
”Ya Allah aku salah, aku sudah berharap kepada manusia. Bahkan percaya kalau semua kata-katanya bisa dipertanggungjawabkan, Fiyah salah ya Allah. Fiyah minta maaf.” Gumam Shafiyah dan air matanya menetes.
Wafi yang sedang joging berhenti di depan rumah gadis pujaannya itu, dia tidak mendongak dan bisa saja dia melihat Shafiyah yang tidak memakai cadarnya. Shafiyah menoleh kearah pria itu, dia tersentak dan Wangi mendongakkan kepalanya, Shafiyah panik langsung menunduk dan gelas dari tangannya jatuh menimpa punggung kakinya.
”Auw!” jerit gadis itu. Dia terus meringis dan membungkam mulutnya, Wafi mengelap keringatnya dan terus memperhatikan balkon kamar gadis itu, dia melihat seorang gadis cantik luar biasa di sana, di susul benda jatuh dan pecah. Apa ada sesuatu? Wafi begitu khawatir dan siapa gadis yang tak asing itu, apa itu Shafiyah? kenapa tidak memakai cadarnya. Dia senang melihat wajah gadis itu, tapi dia cemburu jika ada pria lain yang melihatnya.
”Wafi!" panggil Burhan dan Wafi menoleh. Shafiyah terus diam dan menatap punggung kakinya yang mengeluarkan darah, bisa-bisanya pria itu muncul di saat ia sedang tidak memakai cadarnya.
”Dia lihat aku gak ya? pasti enggak kan?" gadis itu berbisik dan mencoba menghilangkan rasa khawatirnya.
Kini, Wafi dan Burhan berhadapan.” Joging sendirian," ucap Burhan dan Wafi hanya tersenyum." Minum kopi sama-sama ayo,” ajaknya sambil menepuk bahu pemuda itu.
”Saya gak bisa kek, maaf." Wafi menolak, dia tidak mau lagi terlalu dekat dengan Burhan. Takut Burhan berharap banyak padanya, Burhan tidak tahu jika mantan napi, jika tahu. Mana mungkin seorang kakek mendekatkan cucunya padanya.” Permisi,” ucap Wafi seraya melangkah pergi.
Burhan terdiam, menatap kepergian pemuda itu. Yang sikapnya tiba-tiba berubah, biasanya begitu ramah, tapi sekarang malah menghindar.
Di balkon, Shafiyah mengintip sedikit, melihat Wafi pergi dia juga pergi dan darah berceceran dimana-mana.
”Sakit,” gadis itu meringis dan ibunya Sara terkejut melihatnya.
”Neng kamu kenapa?” Sara panik dan menatap kaki putrinya.
”Sakit Bu,” ucap Shafiyah lalu ibunya mengajaknya duduk.
”Bibi tolong bi, ambilkan kotak p3k!” teriak Sara. Shafiyah diam saat ibunya membersihkan darah dengan tisu. Raut wajah Sara terlihat begitu cemas. Sedikit saja Shafiyah terluka, ia tidak rela.
”Ini Bu," ucap bibi sambil memberikan kotak p3k." Neng Fiyah kenapa bisa berdarah begitu kakinya?” tanyanya ikut gemas, saat melihat gadis yang saat kecilnya dia rawat seperti anaknya sendiri terluka.
”Enggak apa-apa bi, tadi Fiyah gak sengaja jatuhin gelas di balkon. Tolong segera dibersihin ya Bi, hati-hati tapinya. Pecahan gelas nya kemana-mana, takutnya ke injak." Tutur Shafiyah dan bibi segera pergi untuk membersihkan apa yang di tinggalkan anak majikannya.
”Hati-hati kenapa sih neng, robek ini. Darah nya gak berhenti-henti, kita ke rumah sakit deh. Telepon ayah," Sara meraih hapenya untuk lekas menelepon sang suami. Dan membawa Shafiyah ke rumah sakit.
__ADS_1
”Bu, gak usah.” Shafiyah menolak tapi ibunya tidak perduli.
”Ini si neng kakinya berdarah yah, gimana atuh? aku mau bawa ke rumah sakit aja ya, nanti ayah nyusul.” Sara mengeratkan genggaman tangannya yang sedang memegang hape di telinganya itu, tangan kirinya terus menahan tisu, agar darah bisa tertahan. Dia takut Shafiyah kekurangan darah, Sara memang selalu begitu jika anaknya terluka.
”Bu, Fiyah gak apa-apa,” ucap Shafiyah dan ibunya tetap histeris, membuat ayahnya di kantor ikut panik juga.
”Minta mang Ucok nganterin kalian berdua, sekarang ayah otw ke rumah sakit. Kita ketemu di sana,” ucap ayah Shafiyah dan Shafiyah menggaruk kepalanya.
Panggilan pun berakhir, dan Sara bersiap untuk membawa Shafiyah ke rumah sakit.
Di sanggar, tetangganya Shafiyah yaitu mang Koko sedang mengobrol dengan satpam sanggar, Wafi diam saat nama belahan jiwanya di sebut-sebut.
"Iya ih tadi anak perempuannya pak Herman di bawa ke rumah sakit, kata mang Ucok sih gitu. Gak tahu kenapa, tapi saya lihat bajunya neng Fiyah berdarah-darah. Kata mang Ucok mau di bawa ke RS bakti Husada,” tutur mang Koko dan pak satpam mengernyit.
”Yang bener mang, kasihan ya. Semoga neng Fiyah gak kenapa-kenapa." Pak satpam berseru lantang dan raut wajah Wafi langsung pucat. Habibah nya kenapa? darah apa? kenapa gadis itu, kenapa bisa ceroboh dan celaka. Wafi berlari mendekati Ali, menarik bahu Ali dan Ali terkejut.
”Pinjam motor, sebentar." Pinta Wafi dan Ali memberikan kunci motornya.
"Mau kemana kang?" tanya yang lain.
”Iya silahkan kang, hati-hati." Ali mempersilahkan dan Wafi memakai jaketnya terburu-buru, dia memakai helm sambil berlari, lalu keluar dan menuju parkiran. Wafi mengendarai motor moge milik Ali itu dengan kecepatan tinggi, bisa dibayangkan betapa cool nya kecengan Shafiyah ini. Para gadis kompleks perumahan tersebut memperhatikan si pelatih sanggar yang sedang mengendarai motor, mereka tidak pernah bisa mendekati Wafi, wafi yang memang malas walaupun cuma di sapa oleh para gadis. Tapi kalau Shafiyah, beda urusannya.
Sesampainya di rumah sakit, Wafi langsung masuk dan menanyakan ke bagian pendaftaran. Dimana pasien bernama Shafiyah.
”Di ruangan dokter Hidayat ya pak." Balas seorang wanita dan Wafi segera pergi mencari ruangan tersebut. Di lorong, Shafiyah sedang duduk di atas kursi roda, dia kebingungan saat melihat Wafi.
”Bibah," ucap Wafi saat dia akhirnya melihat gadis itu.
”Ngapain dia disini, ngos-ngosan begitu?" Shafiyah bertanya-tanya dan dia hendak bangun, tapi Wafi yang sudah dekat padanya mengarahkan tangannya ke bawah.
”Duduk,” titah Wafi begitu tegas dan takut gadis itu semakin sakit.” Bibah kamu kenapa sebenernya? kamu sakit gak bilang sama saya, kamu kenapa hmmm?”
Shafiyah diam dan menunjukan pandangannya, Wafi berdiri cukup jauh dari kursi rodanya. Gadis nya hanya terluka kecil, tapi Wafi takutnya bukan main. Pria itu masih mengatur nafasnya yang tersengal. Peluh membasahi wajah pria itu, wajahnya begitu pucat dan tatapannya yang begitu sendu. Shafiyah yang terluka, tapi dia malah lebih mengkhawatirkan Wafi sekarang.
__ADS_1
”Saya....”
”Diam, istirahat. Mana yang sakit? kenapa kamu bisa berdarah, apanya yang berdarah?” tutur Wafi memotong ucapan gadis itu, Shafiyah diam dan takut ibunya tiba-tiba muncul.
”Saya gak apa-apa Gus, cuma kena pecahan gelas.” Jawab Shafiyah dan Wafi mengingat suara yang dia dengar tadi, dan seorang gadis di balkon, jadi itu benar Shafiyah.
”Hati-hati dong, kalau mau ngapa-ngapain itu pelan-pelan aja, jangan grasak-grusuk. Celaka kan, kamu bikin saya jantungan tahu. Mana yang kena beling?"
”Cuma kaki,” lirih Shafiyah dan Wafi melirik kakinya.
”Kata dokter gimana?”
”Enggak apa-apa, cuma diperiksa terus di kasih obat.”
”Oh,” ucap Wafi singkat lalu mengusap tengkuknya gugup. Keduanya sama-sama diam, Shafiyah terus tersenyum dibalik cadarnya karena pria itu begitu mengkhawatirkannya.
”Saya duluan,” seru Sara dan Shafiyah panik.
”Gus mending pergi, ayo sana," usir gadis itu dan Wafi langsung berbalik lalu melangkah pergi, dia panik dan sempat menoleh. Shafiyah terus memperhatikan ibunya yang sedang mengobrol dengan dokter yang tak lain adalah sahabat ibunya itu.
Wafi pun pergi dan menunduk saat melihat ayahnya Shafiyah, keduanya berpapasan dan ayahnya Shafiyah tidak sadar.
”Aduh, ayah." Gumam Shafiyah dan ayahnya tersenyum padanya. Bersamaan dengan Sara yang juga mendekat.
”Ayah telat, kamu kenapa sebenernya?" tanya Herman sambil memperhatikan putrinya itu.
”Ibu aja yang lebay, orang aku gak apa-apa. Aku dipaksa duduk disini ayah, kan kesel.” Gerutu Shafiyah dan Ayahnya tertawa.
”Kamu itu sakit, harus banyak istirahat Fiyah,” tegas Sara dan Shafiyah cemberut.
Shafiyah akhirnya dibantu ayahnya bangun, dan Sara yang cemberut sekarang, Shafiyah di rangkul erat oleh ayahnya dan melangkah bersama, Sara di belakang terus menggerutu. Herman kira anak gadisnya celaka besar atau apa, tahu-tahu hanya luka kecil dan istrinya heboh sampai membuatnya panik sendiri. Saat di parkiran, Wafi masih di sana. Memperhatikan Shafiyah yang masuk ke dalam mobil, gadis itu melihat Wafi sekilas tapi Wafi langsung bersembunyi.
”Saya semakin minder Shafiyah, bagaimana bisa saya mendapatkan kamu. Yang di besarkan begitu baik, di jaga begitu ketat. Tapi kenapa saya gak bisa lupain kamu?" tutur Wafi berbisik dan diam menunggu sampai keluarga itu pergi lebih dulu. Shafiyah terus menatap keluar kaca mobil, ingin melihat pria yang ia cintai. Tapi pria itu sedang berusaha melupakannya.
__ADS_1
”Jika benar itu kamu, yang Allah takdir kan untuk bersamaku. Bagaimanapun kamu di masa lalu, itu bukan masalah gus.” Gumam Shafiyah lalu menoleh saat ibunya menarik bahunya, dia sandarkan kepalanya di bahu ibunya itu.