Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 9: (Semoga cepat sehat)


__ADS_3

Wafi membelikan tiga bungkus nasi goreng, dia diajak masuk dan ketiganya duduk bersama di teras, rumah tersebut begitu besar, bagus, dan sangat bersih. Tapi begitu sepi, hanya ada Burhan dan Shafiyah, anak dan menantunya yaitu Herman dan Sara sedang pergi menghadiri sebuah acara, Shafiyah dijemput tadi sore, dia diberikan waktu sampai sembuh, dia bukan Santriwati lagi dan tidak terlalu cemas saat ini.


”Wafi, apa kakek boleh bertanya?"


”Silahkan.” Wafi tersenyum.


”Kamu orang mana sebenernya? Kakek baru lihat kamu di daerah ini.” Burhan begitu penasaran dan Wafi melirik Shafiyah.


Shafiyah diam, walaupun tahu itu Gus Mu, dia tidak mau menyapanya.


"Cucu kakek tahu saya orang mana." Wafi tersenyum tipis dan Shafiyah tersentak.


"ish," Shafiyah berdesis dan sangat ingin mengangkat kepalanya, dia tidak mau, takut dosa, apalagi pria itu sangat tampan mempesona, dia takut khilaf. Sekarang saja kedua kakinya gemetaran, karena berdekatan dengan seorang Gus.


”Fiyah, kamu kenal sama dia?" Tanya Burhan dan Fiyah terpaksa mengangguk.


”Dia...”


”Saya dari kampung....” Wafi menyebutkan nama kampung tempat tinggalnya, menyela ucapan Shafiyah dan Shafiyah meliriknya sekilas. Wafi menyela, karena dia yakin Shafiyah akan menyebutkan bahwa ia adalah seorang gus, dia tidak mau orang-orang di tempat tersebut mengenalinya seperti itu, cukup Wafi saja.


Burhan terlihat mengangguk, tapi tidak memahami sikap canggung Shafiyah dan Wafi saat ini. Wafi diam begitu juga dengan Wafi.


”Usia kamu berapa sekarang?" Tanya Burhan lagi, Shafiyah menggeleng kepala, kakek yang banyak bertanya dia yang malu.


”28." Jawab Wafi jujur.


”Oh dia udah dewasa banget ternyata, tapi gak kelihatan dari wajahnya umur segitu, mukanya kayak 40 tahun." Cibir Shafiyah bergumam. Gadis itu memang sedikit jahil.


”Sudah dewasa, jangan-jangan sudah menikah?" Tanya kakek sambil tertawa kecil.


”Belum." Singkat Wafi dan mengunyah makanannya lembut. Suasana saat ini, membuatnya merindukan saat-saat dengan keluarganya. Entah sedang apa, umi, Bayyin dan Afsheen sekarang.


”Kenapa dia kelihatannya sedih sekarang?" Gumam Shafiyah bertanya-tanya. Kini Wafi mengambil segelas air dan meminumnya.


”Sama cucu saya mau gak?" seru Burhan begitu enteng dan Wafi kaget.


”Uhuk!" Wafi tersedak dan Shafiyah melongo.

__ADS_1


”Kakek, asstaghfirullah," ucap Shafiyah sambil mencubit lengan kakeknya itu.


”Uhuk, maaf.” Wafi terus batuk dan Shafiyah memberikan air nya. Wafi diam tak kunjung menerima.


”Belum saya minum," tegas Shafiyah yang mengira Wafi jijik, tapi Wafi diam karena terpukau dengan keperdulian yang dilakukan Shafiyah untuknya, Wafi akhirnya meraih segelas air itu lalu meminumnya perlahan.


Shafiyah mendelik dan kembali melanjutkan memakan makanannya. Wafi tidak menjawab pertanyaan kakek, dia ingin segera pulang sekarang.


Malam semakin larut, obrolan kakek semakin kemana-mana, ayah ibu, berapa saudara, punya apa aja, itu yang kakek tanyakan. Shafiyah bahkan sudah mengantuk dan memangku kepalanya dengan tangan kanannya.


”Saya permisi ya kek." Wafi pamit dan kakek mengangguk. Wafi melirik Shafiyah dan ingin berbicara sebentar." Kek, apa saya boleh saya ngomong sama Shafiyah, cuma sebentar."


Shafiyah melotot dan kebingungan." Loh kok saya Gus?" Tanya nya kesal.


"Gus? Gus apa?" Tanya kakek dan Wafi menunduk.


”Fiyah salah ngomong. Maaf, a Wafi" Shafiyah tersenyum. Wafi tersenyum lebar karena Shafiyah ternyata pintar.


”Kamu mau ngomong sama Fiyah? Boleh lah masa enggak." Kakek mengizinkan dan Shafiyah cemberut." Sekalian antar dia ke depan, kunci gerbang juga ya neng." Titah kakek dan Shafiyah mengangguk.


”Wa'alaikumus Salaam." Kakek tersenyum dan memperhatikan keduanya." Masya Allah, kok serasi banget ya. Yang satu judes, yang satunya malu-malu meong."


Kakek diam dan memperhatikan.


”Shafiyah saya mau nanya." Wafi melangkah keluar gerbang, dan berjauhan dengan Shafiyah.


"Ada apa Gus? Kenapa Gus gak mau kakek saya tahu kalau kamu ini seorang Gus?" Shafiyah penasaran.


"Pokoknya jangan sampai ada yang tahu saya seorang Gus, disini saya gak mau ada yang mengenal saya seperti itu. Emmm begini, kamu baru pulang dari pesantren?" tegas Wafi dan Shafiyah mendelik sebal.


”Iya, kenapa Gus bisa tahu saya seorang santriwati disana?"


"Kita pernah ketemu di jalan, kedua kamu pernah ngintip saya di madrasah." Cibir Wafi dan Shafiyah terlihat malu.


”Dih, enggak kok." Berusaha membantah dan Wafi terkekeh.


”Saya tahu, saya kenal mata kamu. Jangan membantah, dengerin saya. Saya mau tanya, apa keluarga saya baik-baik aja?” suaranya terdengar begitu serius sekarang.

__ADS_1


Shafiyah mengangguk dan melirik kakeknya sekilas." Keluarga pak kyai baik-baik aja."


”Umi saya?" tanya Wafi lagi dan Shafiyah melihat sekilas kedua mata tajam itu menjadi sayu.


”Bu nyai sehat, adik-adik Gus semua sehat."


Wafi tersenyum lebar merasa senang mendengarnya, dia merasa lega.” Makasih, satu lagi. Apa ada masalah? Kamu tahu kan saya baru keluar, apa ada masalah setelah saya pergi?"


”Orang-orang masih membicarakan kamu, pesantren butuh kamu Gus. Gak semua orang benci sama kamu, buktinya saya biasa aja. Manusia memang tempat nya salah, dan mendapatkan kesempatan untuk bertaubat dan berubah seburuk apapun kesalahannya. Banyak yang berharap Gus pulang," ucap Shafiyah begitu lembut dan Wafi menggeleng kepala.


”Untuk sekarang gak bisa." Tolak Wafi dan Shafiyah terlihat kecewa.


”Kenapa?"


”Maaf, saya gak bisa jelasin sama kamu."


”Enggak apa-apa, ya sudah pergi sana. Saya mau kunci gerbangnya.” Usir nya sambil menarik pintu gerbang.


Wafi mengangguk, tapi tidak lama dia menahan pintu gerbang dan Shafiyah terkejut.


”Satu lagi." Wafi mengangkat satu jari tangan kanannya.


”Apalagi?" ketus Shafiyah.


”Jangan makan telur, daging dan makanan yang sekiranya akan bisa menambah gatal ruam kamu. Semoga cepat sehat, assalamu'alaikum." Wafi berbalik lalu melangkah pergi.


"Wa'alaikumus Salaam, Masya Allah. Ya Allah ciptaan-Mu begitu luar biasa, indahnya." Jawab Shafiyah dan tidak sadar langsung memuji pria yang kini sudah mulai jauh dari pandangannya.


”Fiyah cepet!" Teriak kakek dan Shafiyah buru-buru menutup gerbang lalu menguncinya.


Shafiyah terus menepuk-nepuk pipinya, berusaha menghilangkan bayangan gus Mu yang tersenyum, apalagi suaranya yang terngiang-ngiang di telinganya.


”Semoga cepat sehat." Bayangan raut wajah Wafi, dan suaranya kembali terbayang dan terdengar.


”Auw auw auw!"Jerit jerit Shafiyah kegirangan.


”Asstaghfirullah. Maafin Fiyah ya Allah." Shafiyah menoyor kepalanya sendiri dan masuk menyusul Burhan.

__ADS_1


__ADS_2