
Wafi diam mendengarkan Elang menjelaskan, Elang sampai datang dan Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya.
”Tanda tangan disini," tunjuk Elang ke atas kertas bagian ujung. Wafi menandatanganinya.” Di sini, sini, sini juga," ucap Elang dan Wafi membanting pulpen ke atas meja. Elang tersenyum melihat wajah Wafi kesal.
”Belum saya periksa!" ketus Wafi dan Elang mengangguk.” Haduh capek banget deh ah, kenapa gak kamu aja jadi CEO? CEO gak harus selalu keturunan pemilik perusahaan. Orang kepercayaan seperti kamu juga bisa.”
”Enggak pak, saya kan udah berkeluarga. Kalau saya terlalu sibuk, gak ada waktu buat keluarga saya," tutur Elang dan Wafi melongo.
”Seriusan udah nikah?"
”Iya pak," jawab Elang sambil tersenyum.
”Usia kamu berapa si?" tanya Wafi lagi lalu menarik laptopnya.
"26, anak saya udah dua.”
”Masya Allah!” seru Wafi lancang.” Sumpah saya iri Elang, saya iri sama kamu. Saya kira masih lajang.” Wafi berdecak kagum dengan sosok rekan kerjanya itu, bisa-bisanya dia dihadapkan dengan mereka yang lebih muda dan sudah berkeluarga, dia juga mau.
*****
Keesokan paginya, seorang gadis yang sedang terbaring lemah dia atas ranjang tempat tidur sebuah kamar rumah sakit, membuka matanya. Dia pijat keningnya, kepalanya berdenyut saat dia membuka mata. Kedua matanya bergerak menyapu sekeliling, menerka-nerka dia ada dimana sekarang? apa dia sudah benar-benar bertunangan dengan pria gila itu, atau bahkan mungkin saja dia sudah menikah? pikirannya kacau, ketakutan pun menyelimuti. Air matanya mengalir deras dan suara isak tangisnya membuat semua orang di luar panik. Semuanya masuk kecuali Sara.
”Ayah hiks,” ucap Shafiyah dan langsung memeluk ayahnya erat. Herman membalas pelukan anaknya itu. Ketiga saudara laki-laki Shafiyah hanya bisa diam membisu.
Di luar, Burhan baru saja datang. Dia baru pulang dari rumah anaknya yang lain, dia tatap anaknya Sara yang sedang tertunduk dalam dan duduk di sebuah kursi panjang.
”Dimana Fiyah?” tanya Burhan dan Sara mengangkat kepalanya. ” Keterlaluan kamu, kamu bahkan gak bilang sama ayah kalau Shafiyah mau tunangan. Anak kamu sakit sekarang,” ketus Burhan dan Sara hanya diam.
”Jangan nangis, udah.” Burhan berusaha menenangkan Shafiyah dan Shafiyah terus menangis.
”Makan ya," ucap Herman dan gadis itu menggeleng kepala.
”Kamu lemes banget neng, makan dulu. Kakak suapi," tutur Qais dan tetap saja Shafiyah tidak mau. Fajar mundur perlahan dan akhirnya dia melangkah pergi, setibanya di luar. Dia tidak melihat Sara, entah kemana ibunya pergi.
Di kediaman Wafi, pria itu sedang duduk. Bari selesai mencuci motor dan mobil, hari Minggu menjadi hari bersih-bersih untuknya. Dia bahkan membantu membersihkan rumah, Raihanah tidak sanggup bekerja gesit, dan Bayyin tahu sendiri dia memiliki kekurangan. Wafi sedang memeriksa hapenya, beberapa email masuk dari Elang. Tapi bukan itu yang jadi beban pikirannya, wa Shafiyah tidak aktif cukup lama, dari kemarin. Akun media sosial nya juga begitu, Wafi khawatir. Dia gelisah dan menyibukkan diri untuk mengusir sedikit rasa gelisah nya.
”Enggak ngabarin ke saya gak apa-apa, yang penting semuanya aktif, gak harus tiap saat on-line juga. Kemana kamu neng? baru juga kita baikan. Gak mungkin kalau gak ada masalah,” tuturnya dalam gumaman nya.
Wafi berdiri, untuk masuk ke dalam rumah. Namun, kedatangan mobil Fajar membuatnya sedikit kaget. Mau apa pria itu? mau berkelahi dengannya atau apa. Wafi diam sampai mobil Fajar berhenti tepat di depan rumahnya. Fajar keluar dari mobil dan beberapa ustadz mendekat.
” Assalamu'alaikum,” ucap mereka.
” Wa'alaikumus Salaam,” jawab Fajar dan Wafi.
__ADS_1
”Ada apa ya ini? sekiranya akan membuat keributan tolong silahkan pergi,” usir Chairil.
”Iya, nanti dia nyakitin Gus kita lagi,” ketus Ikhsan.” Tolong pak, jangan bikin semua santri takut. Kejadian waktu itu aja masih menyisakan trauma untuk anak-anak didik kami," sambung Ikhsan lemah lembut.
”Enggak, saya gak akan cari masalah. Saya cuma mau bicara sebentar sama Wafi,” tutur Fajar mengutarakan niatnya, Raihanah keluar dari rumah mendengar suara ribut-ribut. Betapa terkejutnya wanita itu, melihat pria yang sering melukai putranya. Raihanah langsung memeluk Wafi, memeluk erat dan tidak akan dia biarkan, putranya disakiti lagi.
”Bawa dia pergi Chairil,” tegas Raihanah memerintah.
”Tolong, saya mau bicara sebentar,” ucap Fajar memelas.
”Tolong pergi pak silahkan, kami juga bisa main kasar,” tutur Chairil. Dia menarik lengan Fajar di bantu Ikhsan. Wafi diam dan membalas pelukan pelukan uminya dengan satu tangan.
”Wafi, Shafiyah masuk rumah sakit. Dia pingsan dan kejang-kejang, dia kambuh. Dia gak mau makan dan minum, tolong Wafi. Shafiyah saudara perempuan saya satu-satunya, tolong bujuk dia, cuma kamu yang bisa membujuknya!" Fajar berteriak-teriak, karena dia terus ditarik Ikhsan dan Chairil. Wafi tersentak mendengarnya dan Raihanah melepas pelukannya. Wafi melangkah cepat, menarik lengan Fajar kasar agar tidak diusir dari pesantren.
”Biar saya bicara baik-baik sama dia, tolong bubar semuanya," tutur Wafi meminta. Dia dan Ikhsan saling menatap lekat, Ikhsan mendengus dan mengajak semuanya pergi.
”Shafiyah masuk rumah sakit," lirih Fajar.
”Apa ada masalah?” tanya Wafi cemas.
”Ada masalah kemarin sore, semalaman dia di rawat. Rumah sakit ------.” Fajar menatap Wafi penuh harap, Shafiyah bisa dirawat lebih lama kalau dia tidak mau makan apa-apa. Wafi akhirnya setuju dan Fajar merasa lega, Raihanah diam dan Wafi mendekatinya, meminta izin untuk pergi, wanita itupun yang juga cemas akhirnya memberikan izin. Wafi pun bergegas untuk bersiap ke rumah sakit menggunakan motor, agar bisa sampai lebih cepat.
Di rumah sakit, Shafiyah mencekal pergelangan tangan ibunya, yang memaksanya untuk makan dan dia tidak mau. Apalagi dipaksa seperti itu, mana ada yang selera untuk mengisi perut.
”Aku gak mau, jangan paksa aku Bu!" jerit Shafiyah. Sara sangat ingin memukul anaknya itu, padahal pipi Shafiyah sudah membiru karena tamparannya kemarin. Sebuah tamparan keras dan tidak terkendali, dan Sara sedang dalam keadaan marah. Bisa dibayangkan rasa sakit yang Shafiyah derita, tapi sakit batin yang dia rasa jauh lebih mengerikan. Sara akhirnya pergi keluar, mencari udara segar. Shafiyah terus menangis, meraih cadarnya dan memakainya. Dia duduk, memeluk kedua lututnya, wajahnya tenggelam di atas pahanya. Dia terus menangis dan matanya terasa perih, air mata sudah tak sanggup lagi menetes dari kedua mata bengkak nya.
Suara langkah kaki terdengar, sesekali berhenti dan akhirnya pintu di buka dari luar. Shafiyah mengangkat kepalanya, dia ketakutan, takut itu Farel.
”Habibah,” suara Wafi yang bergetar, serak dan lemah lembut memanggil belahan jiwanya yang menggigil ketakutan. Shafiyah mengangkat kepalanya, dan tatapan keduanya bertemu. Pintu terbuka kembali, dan Herman masuk. Wafi menunduk dan Shafiyah takut.
”Bujuk dia,” pinta Herman sambil menepuk bahu Wafi. Wafi mengernyit heran, Herman membuka pintu, dan dia menarik kursi plastik, duduk di bibir pintu untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan dan menakutkan, salah satunya fitnah. Wafi membuka helm nya, lalu meletakkannya di atas meja. Dia duduk di tepi ranjang bagian ujung, jauh dari Shafiyah.
”Kamu kenapa? ada masalah apa? sampai sakit begini,” tutur Wafi lalu mengusap peluh di keningnya. Shafiyah berpaling dan menarik selimut.
”Ngapain aa di sini, pergi. Aku lagi sakit, jelek. Aku malu,” ucapnya seraya menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut berwarna putih, dengan corak garis-garis itu.
”Iya jelek nangis terus,” ejek Wafi. Shafiyah membuka selimut, lalu melemparkan bantal ke pria itu, tapi ditangkap Wafi begitu mudah." Kok mukul?”
”Pulang, aku gak apa-apa.” Titah nya sambil melirik sang ayah, yang nampak mesem mesem sendiri.” Pulang,” ujarnya kembali.
”Enggak, sebelum saya lihat kamu makan, minum terus minum obatnya,” tutur Wafi menolak dan Shafiyah cemberut. Keduanya tidak saling menatap, dan terus menunduk.” Kenapa bisa pingsan, kejang-kejang juga?”
”Enggak apa-apa,” jawab Shafiyah serak.
__ADS_1
”Ada masalah itu cerita, jangan di pendam sendiri,” ucap Wafi lemah lembut dan Shafiyah diam.” Kamu sakit?”
”Kalau iya aku sakit, kamu gimana?”
”Gimana apanya?”
”Kalau aku sakit, a Wafi tetap mau sama aku?” bisik Shafiyah dan melirik ayahnya lagi. Wafi mengangguk tanpa ragu dan Shafiyah tersenyum lebar.
”Mau bubur gak? saya tahu bubur yang enak di sekitar sini. Saya beliin ya?” ujarnya menawari, Shafiyah menggeleng kepala tidak mau.” Harus makan, nanti gak pulang-pulang. Makan ya,” bujuknya lembut.
”Iya deh,” akhirnya Shafiyah mau, walaupun malas sebenarnya. Dia tidak mau membuat kedatangan Wafi jauh-jauh, menjadi sia-sia. Wafi pun pergi untuk membeli bubur.
**********
Suara benda jatuh terdengar, lemari yang di dorong dan ambruk ke lantai menggema. Kamar mewah dengan nuansa cat orange itu begitu berantakan, pintu terus di gedor tapi pria yang sedang terduduk sambil menangis di depan ranjang tempat tidurnya hanya diam. Pintu akhirnya di dobrak, Jessie masuk dan mengedarkan pandangannya, melihat kamar Farel begitu berantakan.
”Tenang Farel, perempuan masih banyak,” tutur Jessie.
”Aku cuma mau Shafiyah,” balas Farel dan Jessie mendelik mendengarnya.
”Nanti kita cari gadis yang lebih cantik, jangan begini. Ayo pindah ke kamar lain ya,” ajak Jessie sedikit kesal dan Farel tidak mau.” Jangan kayak anak kecil, ayah kamu pulang. Bisa marah nanti, lihat kamar kamu berantakan.”
Farel akhirnya bangkit, dia dibawa ibunya ke kamar lain. Para pelayan dan satpam diminta segera membereskan semuanya, sebelum ayahnya Farel pulang.
Di tempat Raihanah, wanita itu diam. Dia khawatir karena Wafi sedang berhadapan sendirian dengan keluarga Shafiyah, dia takut anak lelakinya terluka lagi. Pernikahan Bayyin sebentar lagi, kesibukan di rumah Bu nyai akan terlihat lagi. Wafi di langkahi Afsheen saja nampak murung, apalagi nanti dilangkahi adiknya yang satu lagi.
”Ya Allah, berikan kami gadis yang baik, yang sayang sama Mumu kami ya Allah. Jika itu Shafiyah, hamba mohon permudah segalanya, hamba tidak kuasa melihat putra hamba dalam kesulitan kembali.” Gumam Raihanah, lalu ia merapihkan meja makan dan berharap Wafi segera pulang.
Di rumah sakit, Shafiyah sedang di suapi oleh Meri. Wafi di luar kamar menunggu, duduk bersebelahan dengan Herman. Wafi gugup bukan main, dia grogi dan takut salah bicara.
”Kerja dimana?” satu pertanyaan akhirnya terucap, sekaligus membuka percakapan juga.
”Di perusahaan pak, Tirta Madya,” jawab Wafi.
”Jadi office boy kamu di sana?” tutur Herman sambil membuang nafas panjang.
Wafi diam sejenak, dan menggaruk kepalanya.” Iya," singkatnya menjawab sambil tersenyum kikuk.
Herman mengangguk-anggukkan kepalanya.” Kemarin Shasha mau tunangan, tapi dia tidak mau. Dia berontak terus pingsan. Saat kecil, anak perempuan saya itu sakit-sakitan. Pulang pergi ke luar negeri untuk berobat. Saat usianya 10 tahun, kondisinya mulai stabil. Dia sakit paru-paru dulu, anak perempuan kami satu-satunya. Kalau dia capek, stres berat. Dia pingsan, kalau kejang. Dulu hanya pernah terjadi sekali, sama sekarang,” tutur Herman menceritakan semuanya, dengan suara serak. Wafi menunduk, mendengar Shafiyah akan bertunangan, terus ia bagaimana? raut wajah Wafi begitu murung saat ini.
”Apa pertunangannya akan dilanjut setelah Shafiyah sembuh pak?” tanya Wafi dan berharap jawabannya, 'Tidak'.
”Iya,” jawab Herman dan Wafi menunduk lesu. Wafi merasa hancur mendengarnya, merasa ada kesempatan baik. Wafi bergeser dan duduk menghadap ke Herman.
__ADS_1
”Pak, apa saya boleh menjadi pria yang anak bapak cintai setelah bapak,” ucap Wafi dan kedua mata Herman membulat. Keduanya saling menatap lekat dan Wafi melihat tatapan mengejek dari Herman. Lalu dia menepuk pipinya.” Bapak boleh tampar saya,” ujarnya kembali begitu pasrah. Dan Herman memperhatikan pipi pria itu.