
Di rumah Wafi, kakek Burhan sedang mengelus perut besar cucunya, tidak terasa, cucunya kini akan menjadi seorang ibu. Shafiyah diam dan terus tersenyum. Wafi dan Raihanah memperhatikan keduanya sambil tersenyum.
”Kenapa diem terus ya?" tanya Burhan, cicitnya tidak seaktif yang dibicarakan Wafi.
”Baru ketemu sama kakek, gak kenal!" celetuk Wafi datar dan lututnya langsung di tekan Raihanah. Ucapan asal Wafi membuat Burhan langsung tertawa.
”Bener juga,” imbuh kakek-kakek itu dan Shafiyah tersenyum.” Jaga diri baik-baik, jangan stres, kalau butuh apa-apa bilang sama kakek,” ujarnya kembali dan Shafiyah melirik suaminya sekilas, melihat delik mata istrinya, membuat Wafi berhenti tersenyum.
”Kenapa begitu sayang!!! aku salah apa?” gumam Wafi yang gampang sadar akan perubahan sikap istrinya." Apa karena di dedemit lagi?" gumamnya kembali, suudzon.
”Kamu gak cerita sama aku, hal yang akan membuat kesalahpahaman.” Gumam Shafiyah dan terus menunduk. Tidak mau melihat suaminya, dan Wafi menatapnya sendu.
”Bapak sudah makan? kalau belum, biar Wafi yang temani, jangan malu-malu, kami senang bapak datang, apalagi Shafiyah,” ujar Raihanah dan Burhan menoleh, lalu tersenyum, membalas keramahan wanita kurus itu.
”Terima kasih Bu nyai, saya udah makan tadi, saya senang bisa kesini, apalagi melihat cucu saya ini.”
”Iya, bapak sudah lama gak datang."
”Ya beginilah saya Bu, dari rumah anak yang ini terus ke rumah yang lain, dari rumah cucu yang ini terus ke rumah cucu yang lain, kalau di rumah terus saya bosen,” begitu semangat ia menjelaskan.
”Alhamdulillah ya pak kalau banyak anak." Raihanah tersenyum dan Burhan juga.
Sementara Wafi dan Shafiyah, saling menatap lekat. Shafiyah sesekali membuang muka tapi tatapan pria itu terus mengarah padanya, tidak melepaskannya dari kedua mata elang nya.
Malam semakin larut, Burhan akan menginap dan Shafiyah sedang menyiapkan semuanya di kamar, di sebelah kamarnya. Burhan sangat lelah, ia ingin segera merebahkan tubuhnya, sementara Raihanah, dia diajak Faiza pergi ke rumah Chairil, besok, akan diadakan acara gunting rambut anaknya Chairil dan Khalisah. Raihanah di sana untuk membantu, dan berkumpul dengan kerabat yang lain, walaupun sebenarnya ia malas melihat Khalisah. Tapi dia tidak bisa bersikap seperti itu, apalagi kepada saudara iparnya, dia tidak mau, tingkah bodoh Khalisah membuat hubungannya dengan kerabat almarhum suaminya merenggang.
Shafiyah memasangkan seprai baru, semuanya baru untuk kakeknya itu beristirahat, Burhan membantu Shafiyah memasangkan sarung bantal dan dia terus memperhatikan perut cucunya.
”Apa Wafi baik neng?” tanya Burhan." Enggak ada masalah kan?”
Shafiyah tersenyum tipis menanggapi, lalu berucap.” Baik banget kek, jangan khawatir, kenapa kakek nanya begitu? bukannya kakek udah kenal lama sama a Wafi?”
”Ya, namanya juga orang tua, khawatir tetep ada, kita kan gak tahu seperti apa manusia itu sifat aslinya,” ujar Burhan dan Shafiyah mengangguk-anggukkan kepala.
”Iya, Fiyah tahu. Tapi kakek gak usah khawatir, Fiyah bahagia.” Shafiyah meyakinkan dan Burhan tersenyum.” Udah siap, sekarang kakek istirahat, telepon Fiyah kalau mau sesuatu atau ada apa-apa ya kek."
"Iya, besok kita ke rumahnya Khalisah ya neng.”
”Iya, besok kita pergi.”
”Ya udah, kakek mau tidur, capek!"
”Iya sok, Fiyah tinggal ya kek, selamat istirahat kakek sayang." Shafiyah tersenyum lalu mengecup pipi kakeknya sekilas dan Burhan terkekeh-kekeh.
”Sudah menikah tapi kamu gak ada berubah ya neng."
”Ya biarin.” Sahut gadis itu yang sudah melangkah ke arah pintu, dia buka pintu tersebut lalu keluar, Burhan tersenyum lalu ia menutup matanya perlahan-lahan.
Shafiyah melangkah pergi ke arah tangga, tapi tangannya diraih Wafi dari belakang dan Shafiyah tersentak.
”Bikin kaget!!" protes gadis itu kesal. Berusaha mundur tapi pinggangnya kini dirangkul." Aa lepas!" tegasnya kesal dan Wafi memperhatikannya.
__ADS_1
”Kenapa si marah-marah terus? aku punya salah?" tanyanya lirih, lalu perlahan melepas pergelangan tangan Shafiyah, kini dia berganti dengan memeluk tubuh istrinya itu, Shafiyah diam, dan Wafi mengelus rambutnya lembut.” Kangen," sambungnya lagi, yang terasa sudah lama tidak diberikan jatah dan hak nya oleh sang istri.
Shafiyah menggeliat, melepaskan pelukan Wafi dan Wafi melotot, dia ditolak lagi sekarang? apa salahnya? dia begitu frustrasi.
”Neng, aku punya salah?” tuturnya lalu menangkup kedua pipi istrinya lembut, dia kecup bibir istrinya itu tiga kali, saat hendak mencapai lebih dalam, Shafiyah menolak.
”Nanti ada yang lihat, kamu gak tahu tempat ya a!" protes gadis itu sambil mendelik sebal.
”Ya ampun yang, gak ada orang kok! aku salah kan pasti? umi Utun gak begini kalau gak ada masalah mah, sayang, kenapa hei? aku salah apa?” ujarnya serak, dan kini hanya mengenggam tangan Shafiyah, dia tatap gadis itu lekat, matanya, hidungnya, bibirnya, pipinya, semuanya tak lepas dari tatapannya.
”Aa belum cerita sesuatu sama aku?” gadis itu menagih, pria di hadapannya pasti paham, tidak mungkin tidak!.
”Apa yang?” Wafi jujur, ia bingung dengan perkataan Shafiyah.
”Hemmm!" Shafiyah kesal, berusaha melepas genggaman tapi Wafi menahan.
”Sayang!!!!” ujar Wafi mulai merajuk, lalu menjatuhkan dagunya di bahu Shafiyah, Shafiyah diam, tak memeluk pria yang sedang ingin dia peluk itu " Peluk atuh ih!" Wafi kesal menunggu.
Shafiyah akhirnya memeluk tubuh suaminya dan Wafi tersenyum.” Aa gak bilang sama aku, kalau aa pernah diajakin ta'aruf sama adiknya ustadz Aidan,” imbuh gadis itu dan langsung melepas pelukannya, Wafi terkejut dan bertanya-tanya, darimana istrinya tahu?.
”Yang....!”
”Kenapa aa gak cerita?"
”Ya karena itu gak penting sayang!"
"Itu penting, bisa menimbulkan salah paham, apalagi orangnya deketin kamu terus!” suara Shafiyah meninggi dan serak, kedua matanya berair dan Wafi meraih kedua tangan Shafiyah. Shafiyah tidak mau, dan memilih pergi, hendak ke kamar tapi Wafi menggendongnya tiba-tiba, sontak saja gadis itu kaget, Wafi membawanya ke sofa, lalu dia duduk di sebelah Shafiyah.
Shafiyah diam.
”Itu emang bener, tapi udah lama yang, sebelum kita nikah. Aku juga nolak karena aku gak mau. Aku gak pernah ketemu adiknya Aidan satu kali pun, gak pernah yang.” Wafi membantahnya dan Shafiyah mendelik.
”Adiknya ustadz Aidan ada di sini a!! dia salah satu pengajar disini, perempuan yang sering dekat dengan Aidan, itu adiknya! Romlah, yang pernah ngajakin kamu ta'aruf, sampai sekarang dia berusaha deketin kamu, tapi kamu gak sadar itu dia."
"Asstaghfirullah hal adzim sayang, aku gak tahu. Aku gak pernah deket-deket sama siapapun, termasuk santriwati, apalagi para guru di pesantren kita ini sayang. Percaya dong! aku gak tahu dia ada disini, kalaupun aku tahu, aku gak perduli, aku cuma perduli sama kamu, sama calon bayi kita. Udah ya, jangan marah-marah.” Wafi sedikit kesal, sampai mencengkram rambutnya sampai berantakan.
Shafiyah diam dan membuang muka, dengan cepat. Wafi menangkup kedua pipi istrinya itu dan mengarahkan wajahnya, hanya ke padanya.
”Lihat aku!!"
”Aku takut dia nekad."
"Kita berdoa, semoga kita dijauhkan dari godaan para perempuan dan lelaki di luar sana. Aku juga khawatir sama kamu kalau kamu mau tahu, di kampus banyak cowok yang jauh dari aku, itu jelas. Di pesantren, banyak santri dan pengajar yang suka sama kamu. Kamu kira aku ga khawatir? sama, aku juga takut kamu berpaling.” Wafi menjelaskan dan Shafiyah menatapnya, gadis itu mulai tenang dan luluh.
”Aku sayang sama kamu, aku tahu kamu cemburu, itu wajar. Tapi jangan sampai kamu diperbudak dengan godaan syaitan seperti itu cantik, jangan sampai hubungan kita retak sedikitpun, itu adalah hal yang membuat setan bahagia. Terima kasih, untuk istriku ini yang selalu bertanya dan langsung bicara saat ada yang salah dan bikin kamu gak nyaman, terima kasih sudah mempermudah keadaan sayang,” imbuhnya dengan tatapan lemah, tangannya bergerak membelai wajah cantik istrinya itu, Shafiyah diam dan hanyut dalam sentuhan suaminya.” Percaya sama aku gak?"
”Iya!” singkat Shafiyah ketus.
”Aku cuma milik kamu, dapetin kamu gak mudah, kamu juga tahu itu, gimana bisa aku ninggalin perempuan yang sudah berkorban banyak buat aku demi perempuan di luar sana yang gak jelas! cukup percaya sama aku Habibah, selama aku gak berubah dan memperlakukan kamu dengan baik, jika sebaliknya, berarti aku sedang tersesat, tegur dan do'ain aku kalau itu terjadi.” Suara Wafi serak dan Shafiyah menatap suaminya begitu dalam, dia diam saat pipinya di kecup beberapa kali.
”Senyum, jangan cemberut terus!" tegas Wafi dan Shafiyah tersenyum tipis. Pria itupun tersenyum lebar, lalu mengajak Shafiyah segera ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
...✍️✍️...
Esok paginya, embun masih terlihat, udara begitu dingin, dan orang-orang terlihat menggunakan jaket. Gerimis juga turun pagi ini. Seorang kakek-kakek berjalan bersama cucunya, dia memegang payung untuk melindungi diri dan cucunya dari gerimis. Sementara seorang pria lagi di belakang berjalan santai, memakai Hoodie hitam dan kain sarung berwarna hitam, hoodie nya menutup kepalanya yang memakai peci.
”Dingin ya neng, kakek gak kuat." Burhan mengeluh dan Shafiyah merangkul pinggang kakeknya itu. Wafi diam dan memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie nya.
”Nanti di rumah Khalis, Fiyah mintain teh hangat buat kakek." Shafiyah berucap dan Burhan tersenyum, perempuan itu menoleh dan Wafi mencebik, Shafiyah terkekeh melihat suaminya itu.
Sesampainya di rumah Khalisah, dengan berjalan kaki selama 15 menit, Wafi tidak masuk, dia duduk di depan rumah dan mengobrol dengan Ikhsan. Melihat kedatangan Shafiyah dan Burhan, Khalisah antusias, apalagi melihat Burhan membawa kado untuk bayinya. Burhan duduk di sebelah kasur dimana Khalisah duduk dan bayinya berbaring, sementara Shafiyah masuk ke dapur, dimana semua kerabat sedang sibuk sarapan.
”Assalamu'alaikum," ucap Shafiyah.
"Wa'alaikumus Salaam.” Jawab semua orang.
”Neng," ucap Raihanah yang baru saja akan pulang.
"Umi, mau kemana?"
”Umi mau pulang dulu.”
”Teh, biar Chairil antar ya," ucap Faiza.
”Jalan aja, deket." Jawab Raihanah. Lalu dia menatap Shafiyah lagi." Mumu udah pergi?"
”A Wafi ada di depan.”
”Biar Wafi anterin kamu kalau begitu, pakai motor chairil.” Faiza menyahut, Raihanah tersenyum melihat tingkah laku khawatir Faiza yang berlebihan.
Raihanah akhirnya setuju, Faiza mengantarkan Raihanah sambil membawa kunci motor anaknya, dia kaget melihat Burhan ada dan belum di jamu dengan apapun. Wafi akhirnya pergi mengantarkan uminya dan Faiza lekas menjamu Burhan, orang tua Khalisah sedang pulang dulu, nanti siang akan datang lagi dan katanya akan bersama-sama dengan keluarga Shafiyah.
”Pak, disini mah kayak gini kue nya juga, gak ada yang aneh." Faiza meletakkan piring berisi kue yang dia pesan kepada keponakannya sendiri, dan beberapa nya lagi kue kering dari toko yang lain.
”Ini juga udah banyak, gak udah dikeluarin semuanya Bu. Saya minta maaf, baru sempet lihat Khalisah,” tutur Burhan dan Faiza tersenyum.
"Enggak apa-apa, Alhamdulillah bapak sekarang disini, santai aja ya pak,” tutur Faiza dan Burhan mengangguk. Faiza pun meninggalkan ketiganya dan kembali ke dapur. Dia langsung di tarik oleh Shafiyah yang menginginkan sesuatu tapi malu untuk bicara keras.
”Bi, mau teh anget." Shafiyah berbisik dan gelak tawa dari bibir Faiza membuat gadis itu tersenyum.
"Kamu ini, kayak sama siapa aja, ambil apapun terserah neng, jangan sungkan-sungkan.” Faiza berseru dan Shafiyah mengangguk. Shafiyah akhirnya membuat teh dan dia menoleh melihat suaminya masuk ke dapur.
"Bi, kunci," kata Wafi sambil menyodorkan kunci motor pada Faiza.
”Mu, sarapan!" tawar kerabat yang lain dan Wafi hanya mengangguk.
"Mau kopi? rokok minta aja sama mamang kamu." Faiza menimpali dan Wafi terbelalak, Shafiyah diam dan Wafi meliriknya sekilas.
”Enggak, aku gak ngerokok!" kata Wafi gugup.
”Iya sekarang enggak, nanti ngebul terus kayak kereta api." Faiza berucap dan Wafi mendelik, dasar bibinya malah memperkeruh suasana. Wafi tetap menggeleng kepala dan dia berbalik, saat hendak keluar, Wafi mencubit pinggang istrinya gemas dan Shafiyah hampir saja menjerit, Wafi terkekeh kecil dan buru-buru kabur. Dan dia tidak sadar Khalisah memperhatikannya. Kenapa Wafi semakin tampan sekarang? semakin terawat setelah menikah dengan Shafiyah? batin Khalisah berseru.
”Kalau aku jerit tadi gimana? dasar genit!!!” gumam Shafiyah kesal sendiri. Dan setelah selesai membuat teh, dia keluar dari dapur.
__ADS_1