
Khalisah sedang berjalan-jalan dengan teman-temannya, habis mengaji, semuanya diam melihat seorang pria mengendarai motor matic, itu Gus Mu yang baru datang. Gus Mu melirik empat gadis itu, tapi gadis yang ingin dia lihat tidak ada diantara mereka, dia pun membuang nafas panjang begitu resah dan gelisah. Apa Shafiyah pulang? mana mungkin, kakek Burhan pasti bilang padanya jika Shafiyah pulang.
Wafi turun dari motornya, membuka helm nya lalu duduk dan membuka sepatunya.
”Si Napi pulang," maki Chairil bergumam, lalu dia dengan Khalisah saling melempar pandangan.
”Aa,” panggil Bayyinah dan Wafi menoleh, pria itu terperanjat dan langsung berdiri saat melihat Bayyin bersama Shafiyah, Wafi menggaruk tengkuknya, merapihkan rambutnya yang berantakan. Laki-laki selalu begitu kan, jika bertemu dengan kecengan nya." Aa udah sampai Alhamdulillah, umi lagi ke majelis taklim. Pulangnya sebentar lagi."
”Oh emmmm ya udah.” Wafi gugup. Shafiyah terus menunduk dan teringat dengan jaket Wafi yang masih ada padanya. Bayyin mendekat dan mengalami tangan Wafi." Niyyah dimana?”
”Niyyah kerja," jawab Bayyin dan Wafi mengangguk.” Ayo Fiyah, kamu mau pilih-pilih kerudung kan?" ajak Bayyin dan Shafiyah menggeleng kepala.
”Nanti saja Ning, saya izin ke asrama ya." Pamit seraya mundur.
”Ih kenapa begitu? gak apa-apa.” Bayyin melirik Wafi, penyebab kegugupan Shafiyah.
”Enggak Ning, permisi. Assalamu'alaikum." Shafiyah langsung pergi meninggalkan keduanya.
”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab Wafi dan Bayyin. Wafi menunduk lalu mengajak adiknya masuk. Bayyin pergi membuatkan minuman dingin untuk kakaknya itu, Wafi melarang pun tidak dia pedulikan.
”Nih a, ayo diminum," ucap Bayyin begitu lemah lembut.
”Makasih, jadi bikin kamu repot. Maaf ya, aku gak beli apa-apa, males berhenti dulu, capek. Nanti sore kita cari makanan ke pasar," tutur Wafi dan Bayyin menggeleng-gelengkan kepalanya.
”Enggak usah, aa kalau punya uang, harus hemat. Aa harus mikirin masa depan aa kedepannya." Bayyin menatap Wafi sendu dan Wafi diam. Masa depan apanya? semua cita-citanya sudah pupus sirna tak tersisa.
”Iya," singkat Wafi agar Bayyinah tidak sedih." Kamu emang jualan kerudung? kenapa bilangnya tadi mau pilih-pilih kerudung?” tanya Wafi bingung.
”Aku cuma jualin punya temen a, terus dikasih untung dari barang yang terjual.”
"Oh begitu, kerudung dari aa di pakai gak?"
”Bayyin pakai kok, makasih." Bayyin tersenyum lebar di balik cadarnya dan Wafi tersenyum lebar.
Tidak lama Raihanah pulang, tubuhnya yang semakin renta, tak sanggup berjalan cepat, tertatih-tatih dan penuh kehati-hatian. Wafi menyalami tangan uminya lembut, Raihanah tersenyum bahagia melihat kepulangan putranya.
”Makan ayo." Ajak Raihanah yang memang sudah memasak spesial hari ini, menyambut putranya.
”Niyyah pulang kapan?” Wafi khawatir.
”Sebentar lagi sampai biasanya.” Jawab Bayyin dan Wafi mengangguk.
”Umi seharusnya gak masak begini, pasti capek.” Wafi sedih dan Raihanah mengusap bahunya.
”Jangan bilang begitu, ayo makan. Makan yang banyak, kamu kurus sekarang.”
”Kurus darimananya sih mi," ucap Bayyin bingung dan Wafi tersenyum. Semua orang tua begitu, meminta anaknya makan banyak dengan alasan terlihat kurus, padahal biasa-biasa saja.
__ADS_1
Ketiganya memulai makan bersama, Wafi terlihat begitu semangat dan Raihanah tersenyum melihatnya.
”Enak?" tanya Raihanah.
”Enak banget umi.” Puji Wafi dan Bayyin memperhatikan keduanya bergantian. Sambil tersenyum tipis. Raihanah memasak ikan pesmol, tumis dan bakwan jagung. Apapun yang dimasak uminya, Wafi puji itu, sekalipun hanya semangkuk mie.
*****
Sore harinya, Shafiyah memperhatikan semua instastory Instagram nya, Wafi selalu muncul melihat instastory nya. Shafiyah bukan risih, tapi dia malu, dia takut kelepasan membuat instastory lebay dan dilihat pria itu.
”Ih Fiyah kok kamu di follow gus Mu si? khalisah aja gak saling follow sama Gus Mu. Kenapa Gus Mu follow kamu Fiyah? jangan-jangan kalian berdua berhubungan ya? terus Khalisah gimana, kamu gak kasihan sama Khalisah?” tutur Rani dan Shafiyah menggeleng cepat, membantah tuduhan itu.
”Aku gak tahu, sumpah aku gak berhubungan sama Gus Mu. Aku gak ada apa-apa, aku juga bingung." Shafiyah gugup lalu merapihkan cadarnya.
”Cuma kamu yang di follow Fiyah." Rani memperlihatkan orang yang diikuti Gus Mu di instagramnya, hanya satu baris, satu nama, yaitu Shafiyah.
”Kenapa Ning Bayyin sama Ning Afsheen gak di follow balik? itu kan keluarganya, kok malah aku si. Aku malu, ya ampun Gus. Jangan bikin anak orang kejang-kejang kenapa si, aku gak bakal bisa tidur malam ini, belum lagi Khalisah. Kalau dia nuduh aku macam-macam gimana? aaaaaa stress,,,,,,” gumam Shafiyah dan berhenti mengerjakan tugasnya. Akun Instagram Gus mu adalah akun lama, masih ada foto Gus Mu bersama teman-temannya di sana. Beberapa teman mengirim pesan saat Gus mu melihat instastory mereka. Tapi ada juga yang mengirim pesan hanya untuk meracau dan memaki pria itu.
Shafiyah akhirnya memutuskan untuk mencari Gus mu, ada yang bilang pria itu pergi ke tempat memanah, Shafiyah akan menyusul dan dia ditemani Ima. Shafiyah membawa kantong plastik berwarna hitam, berisi jaket Wafi.
”Ima ih, coba cium dulu udah wangi belum. Aku ngembaliin nya nanti aja deh, takutnya masih kotor." Rengek Shafiyah dan Ima terbelalak. Lalu mencium aroma jaket pria itu yang sudah di cuci dua kali oleh Shafiyah.
”Ini udah bersih, udah wangi, kamu heboh banget gara-gara jaket ini Fiyah."
”Takut,” ucap gadis itu seraya menggoyangkan tubuhnya merengek. Ima terkekeh lalu merangkul bahu nya, untuk segera pergi menemui Gus mu.
”Fadlan, heh Fadlan." Panggil Ima dan santri laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanyanya.” Kan sekarang jadwalnya santri laki-laki, ngapain kalian kesini.” Ketus.
”Ih anu, kang Fadlan begini...” Ucap Shafiyah bingung, Fadlan tersenyum melihat Shafiyah malu-malu, dia kira Ima yang mau meminta tolong, ternyata gadis itu.
”Eh iya neng kenapa? ada yang bisa saya bantu?” tutur Fadlan begitu lembut.
”Gareleuh." Maki Ima karena sikap Fadlan langsung berubah saat Shafiyah yang berbicara.
Gareuleuh\= jijik.
Shafiyah menunduk dan bingung, Wafi bangkit dari duduknya melihat Fadlan terus menatap Shafiyah, kedua tangannya ke belakang, terkepal kuat dan Wafi terus melangkah mendekat. Melihat kedua kaki panjang itu ke arahnya, Shafiyah rasanya jantungan.
Deg! jantungnya berdegup kencang.
”Ada apa?" tanya Wafi begitu tegas dan Ima cengengesan.
”Hehe Gus, Fiyah mau ngomong katanya," ucap Ima lalu menyenggol lengan Shafiyah.
"Enggak! kita cuma lewat,” bantah Shafiyah dan berbalik untuk pergi, Ima menarik tangannya kuat menahan.
__ADS_1
”Fiyah, ari kamu nyebelin banget. Ayo ngomong, itu orangnya,” Ima berbisik-bisik. Justru karena itu orangnya, Shafiyah ingin kabur.
Ima melangkah menjauh dan Fadlan juga pergi, kini Wafi dan Shafiyah berhadapan diantara orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya.
”Kenapa?" tanya Wafi.
Shafiyah menyodorkan kantong plastik dengan tangan yang bergetar hebat." Jaket Gus, udah saya cuci, pakai pewangi juga. Nih," serunya begitu lucu, Wafi mengusap wajahnya kasar sambil menahan senyumnya.
”Simpan aja buat kamu.”
”Ih gak mau Gus, ini kan jaket laki-laki." Tolak Shafiyah sambil menggerakkan tangannya, karena kantong plastik tak kunjung diterima.
”Oh jadi kamu mau jaket perempuan, saya beliin nanti ya." Wafi tersenyum simpul, pipi nya kini mulai memerah. Dia tidak sanggup menahan senyumannya di hadapan gadis itu.
"Ih bukan begitu gus, asstaghfirullah hal adzim.” Shafiyah mengangkat kepalanya, mendongak tidak sengaja sampai tatapan dua pasang mata itu bertemu, Shafiyah menunduk lagi." Maaf,” merasa bersalah.
”Mau saya beliin?”
”Enggak Gus, ayo ini ambil.” Titah Shafiyah dan Wafi malah menyembunyikan kedua tangannya ke punggungnya, Shafiyah mendelik sebal dan meletakkan kantong plastik di atas rumput, Wafi jelas saja langsung terkekeh melihatnya.” Permisi, assalamu'alaikum." Shafiyah pamit.
" Wa'alaikumus Salaam," jawab Gus Mu sambil membungkuk mengambil apa yang Shafiyah berikan, gadis itu berbalik lagi dan Wafi terkejut, pria itu terjungkal ke belakang karena Shafiyah begitu tiba-tiba. Semua orang menahan tawa dan Shafiyah panik.
”Gus, kenapa?" ia bingung.
"Saya kaget, kamu balik badan mendadak banget. Saya kira kamu mau pergi,” ketus Wafi lalu berdiri dan mengusapnya kain sarungnya. Jatuh pun tetap saja terlihat berkarisma.
”Maaf Gus, maaf. Saya mau ngomong lagi soalnya.”
”Ngomong apa?" suara Wafi meninggi dan gadis itu menciut.
”Saya mau tanya, kenapa saya di follow? Bisa gak jangan follow saya. Saya ditanyain banyak orang gara-gara ini Gus, punten sebelumnya ya. Tolong jangan follow saya, follow Khalisah aja ya Gus,” meminta sekaligus memberikan usul yang membuat Wafi mengernyit heran.
”Ya terserah saya dong.” Sewot Wafi dan Shafiyah mendengus." Heh, kenapa begitu?” tegur Wafi.
”Maaf Gus maaf," Shafiyah terus menunduk.” Ya sudah saya permisi.” Shafiyah berbalik dan Wafi memperhatikannya.
”Tunggu!" seru Wafi dan Shafiyah terdiam. Wafi melangkah ke sebelah gadis itu, Shafiyah menunduk, melihat bayangannya dan bayangan pria itu, tinggi tubuh gadis itu sebahu Gus Mu." Foto kamu dari Ig tolong di hapus ya.”
"Hah kenapa Gus? yang mana?"
”Kan cuma satu, tolong hapus itu. Saya gak suka sama komentar para lelaki di foto kamu," tutur Wafi serak dan kening gadis itu mengerut.
”Kok ngatur si. Dasar nyebelin, untung ganteng, eh asstaghfirullah" Gumam Shafiyah kesal.
”Jangan mengumpat!” tegas Wafi dan Shafiyah kaget.
”Enggak kok," jawab Shafiyah.
__ADS_1
Wafi melangkah pergi begitu saja dan Shafiyah mengepalkan tangannya, pria itu begitu menyebalkan, tapi kenapa dia malah suka.