Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 12: Enggan pergi


__ADS_3

Pagi ini, Wafi joging sendirian, kedua telinganya ditutup earphone. Dia terus melangkah dan berhenti di trotoar jalan. Dia tepat di atas jembatan, menatap sungai yang mengering, musim kemarau mulai menyapa, siang hari panasnya luar biasa, dan di pagi hari dinginnya begitu menyiksa. Wafi mendekap kedua bahunya lembut, lalu lari di tempat dan setelah selesai, dia berbalik untuk kembali pulang.


Sesampainya di seberang pesantren Al Bidayah, Wafi berdiri, menunggu ada kesempatan untuk menyeberang. Di sisi yang sama, Shafiyah juga sedang menunggu, gadis itu takut menyeberang, dia memiliki trauma dan tadi saja di seberang kan oleh bapak-bapak, Shafiyah harus menyeberang dengan seseorang. Dia sudah menunggu 10 menit untuk menyeberang. Dia sudah tidak nyaman, kantong plastik yang dia tenteng berisi pembalut. Shafiyah tidak sadar, noda merah menembus dan terlihat di gamis berwarna abu itu.


Shafiyah mengernyit, saat melihat bayangan seorang pria berdiri, tubuh tinggi dan besar itu membuatnya terlindung dari cahaya matahari yang semakin membumbung tinggi. Shafiyah mendongak dan melihat Wafi di sebelahnya. Dia bergeser lebih jauh. Wafi melangkah duluan, dan Shafiyah mengikuti langkahnya. Wafi merentangkan tangannya, melambai agar pengendara memperlambat kecepatan. Shafiyah terus melangkah, peluh membasahi wajahnya, ketegangan yang dia rasakan membuat degup jantungnya berdetak lebih kencang, dia hampir tersengal dan akhirnya kakinya berpijak di trotoar. Wafi mengernyit heran melihat gadis itu.


”Kenapa?" Tanya Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala, gadis itu melangkah pergi dan kedua mata Wafi nampak membulat, dia mendongak ke langit, seraya melangkah dan membuka jaketnya. Shafiyah tersentak saat mendengar langkah pria itu mengejarnya.


Puk! Wafi menjatuhkan jaketnya di atas kepala gadis itu.


"Bocor Habibah." Bisik Wafi dan Shafiyah terperanjat lalu melipir ke samping. Dia tutupi bagian belakangnya yang bocor, sementara Wafi melangkah pergi meninggalkan Shafiyah, agar gadis itu tidak merasa malu.


Wajah Shafiyah memerah, dia sangat malu. Apa Gus mu melihatnya? Melihat pantatnya tadi? pria itu mesum ternyata. Memberi pertolongan tidak selamanya diterima baik. Shafiyah salah paham.


”Malu, Astaghfirullah hal adzim," ucap Shafiyah dan mengikat kedua lengan jaket tersebut ke pinggangnya, dia melangkah cepat menuju asrama. Malu, tapi bibirnya tersenyum tipis, untuk pertama kalinya dia bahagia dengan perhatian seorang pria padanya, sementara pria yang lainnya yang berusaha menarik perhatian nya, membuatnya malah ilfil.


Sementara Wafi, dia mengintip dari dalam rumah, lalu bernafas lega." Bisa-bisanya dia gak sadar," bisik Wafi.


”Ekhem, aa lihatin siapa?" Tanya Bayyin dan Wafi terkejut.


”Dek, kamu bikin kaget aja si.” Wafi mengusap dadanya terus-menerus. Bayyinah terkekeh dan Wafi mendelik sebal. Keduanya sama-sama duduk dan Wafi mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


”Umi dimana?" Tanya Wafi.


”Lagi ke kebun sama Afsheen,” jawab Bayyin lembut.


”Niyyah gak kerja neng?" Tanya Wafi sembari mencium aroma kerudung Bayyin yang berbau bawang.


”Cuti katanya, lagi capek."


Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya." Mandi sana neng, kamu bau. Kerudung ini jangan dipakai lagi, udah jelek begini, warnanya udah pudar, mana kelunturan warna lain. Nanti aku belikan yang baru ya.” Titah Wafi sambil memegang ujung kerudung berwarna hitam pudar, yang tertimpah luntur warna merah.


”Enggak mau, Bayyin suka sama kerudung ini a.” Tolak Bayyin, lalu menarik kerudungnya. Wafi menghela nafas panjang, dia khawatir, umurnya tahun ini 28. Jelas Bayyin juga sudah sangat dewasa, apa kondisi kaki adiknya itu menjadi bahan pertimbangan para pria yang akan meminang? Jika begitu, dia bersyukur kedua pelaku itu mati. Urat-urat di lehernya timbul, tatapannya begitu tajam, rahangnya tiba-tiba mengeras. Melihat semu wajah tak bersahabat sang kakak, Bayyin takut, dan mengusap bahu kakaknya itu.


Dia tatap adiknya sayu." Asstaghfirullah enggak neng, bukan itu. Aku gak apa-apa, kalau mau dipakai gak apa-apa, tapi tetap aku belikan yang baru ya nanti.” Wafi tersenyum dan Bayyin tersenyum tipis.


”Abi, aku janji, aku akan menjaga ketiganya. Aku kuat, abi pasti bangga bukan? Anak yang dulu sering merepotkan ini, kini sedang berusaha menjaga dan membahagiakan semua orang. Entah aku bisa atau tidak, aku akan tetap berusaha. Abi Fashan, sampai sekarang umi masih setia. Dan aku mau memiliki pendamping seperti umi, umi yang dicintai dan mencintai begitu luar biasa.” Gumam Wafi dan menundukkan kepalanya. Bayyin diam memperhatikan, entah apa yang kakaknya pikirkan, tapi dia merasa sedang memandang abinya, abinya seperti itu ketika menunduk dan duduk.


”Bawa ini,” suara Raihanah terdengar. Wafi mengangkat kepalanya, dan melihat kedatang umi dan adiknya. Raihanah tersenyum simpul melihat kedua anaknya sedang duduk bersama." Wafi, kamu pergi kapan nak?" Tanya Raihanah dan Wafi menunduk.


Wafi harusnya sore sudah kembali ke sanggar, tapi dia merasa balas untuk kembali, dia ingin bersama keluarganya.


”Nanti malam umi." Jawab Wafi dan Raihana mengangguk.

__ADS_1


”Gantikan mamang kamu nanti, pas pengajaran kitab kuning.” Titah Raihanah dan Wafi menelan salivarnya susah payah. Dia takut ada masalah.


”Umi, ada Chairil. Dia aja," usul Wafi dan tatapan Raihanah berubah, terlihat kesal dan Wafi menunduk lemah.


”Perlahan tapi pasti, mulai semuanya perlahan nak. Semua orang yang membicarakan kamu akan diam jika sudah lelah, bukan berarti kamu harus terus menghindar. Dunia itu di hadapi, bukan dihindari Wafi Muzammil. Kamu paham?” tegas Raihanah dan Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya.


”Asik aa yang ngajar," ucap Bayyinah seperti anak kecil lalu memeluk Wafi erat, Afsheen mendelik sebal dan pergi ke dapur membawa keranjang berisi sayur dan yang lainnya.


*****


Sore harinya, Wafi sudah siap untuk datang mengajar di aula. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin, apa ada yang mau menerimanya? Dia tidak yakin. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Wafi pergi dan Raihanah tersenyum melihatnya. Kabar Wafi yang akan menggantikan Yaman tersebar cepat, kini Wafi sudah masuk ke aula. Dia menunduk dan mendesah, melihat tidak ada yang datang, padahal. Sebelum pengajar datang, semuanya harus segera berkumpul.


”Ya Allah,” Wafi mendesah kasar. Rasanya dia ingin mengeluh, dia capek, dia begitu sulit diterima oleh siapapun, kapan semuanya berakhir, dia lelah dan sangat ingin berteriak sejadi-jadinya. Dia tetap diam menunggu, satu dua santri laki-laki datang, itu juga terlihat terpaksa setelah di desak Ikshan. Ikhsan duduk dan saling melempar senyuman dengan Wafi. Di tengah-tengah sebuah kain setinggi dua meter menjadi penghalang antara santri laki-laki dan perempuan. Bayyin datang sendiri dan terlihat sedih karena Afsheen tidak mau ikut. Bayyin duduk dan hanya ada dia seorang diri.


”Ya Allah, aku gak tega lihat a Wafi begini." Gumam Bayyin, dia tatap wajah Wafi yang sudah panik dan memerah, pria itu terus berdehem berusaha menetralkan rasa gugup dan sedihnya, kedua mata Bayyinah yang mencolok itu terlihat berair, matanya yang indah karena dia memiliki mata hazel seperti Uminya, Bayyinah memakai cadar seperti Raihanah. Dia selalu menutup wajah cantik luar biasa itu dan tidak ada yang tahu seperti apa rupanya yang sekarang semakin dewasa. Semakin lama, Wafi semakin tidak kuat, dia rasanya ingin kabur segera dari tempat duduknya, menjauh dan mengasingkan diri. Wafi menekuk wajahnya dalam-dalam, Ikhsan diam dan kedua matanya berkaca-kaca, betapa tidak teganya dia melihat Wafi diperlakukan seperti ini.


”Assalamu'alaikum.” Seru seorang gadis yaitu Shafiyah. Dia melangkah masuk sambil menunduk, Wafi menoleh ke arahnya sekilas. Ada rasa lega yang begitu membuat Wafi merasa terbebas dari belenggu kesedihannya saat Shafiyah datang, dan Bayyin ada yang menemani.


”Wa'alaikumus Salaam." Jawab semua orang.


”Fiyah," ucap Bayyinah merasa senang dan Shafiyah tersenyum dibalik cadarnya, dia dekati Bayyinah lalu duduk, tidak lama Khalisah masuk bersama dua santriwati yang lain. Wafi membuang nafas panjang begitu lega, orang-orang terpilih yang tetap mau berhadapan dengannya adalah orang-orang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2