Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 43: Memohon


__ADS_3

Wafi diam membisu, memainkan hapenya, melihat semua postingan Shafiyah yang sudah dia lihat puluhan kali, saat Wafi meminta foto Shafiyah dihapus kepada Shafiyah langsung, Shafiyah tidak langsung menurut. Tapi beberapa hari kemudian setelah dia meminta, Shafiyah menghapusnya. Sejak itulah dia yakin jika Shafiyah juga memiliki rasa yang sama padanya. Semua orang diam-diam memperhatikan bergantian, wajah tampan itu nampak cerah dan berseri-seri. Entah apa yang pria itu lihat, dan mereka semua penasaran.


”Assalamu'alaikum,” suara Chairil terdengar.


”Wa'alaikumus Salaam," jawab semuanya. Wafi menoleh dan wajahnya nampak redup saat melihat Chairil dan Khalisah.


”Eh kalian berdua udah datang, ayo sini masuk." Raihanah mempersilahkan, menggerakkan tangannya agar keduanya tidak ragu untuk berbaur dengan yang lain. Wafi bangkit dan berlalu pergi ke lantai dua, dimana anak-anak dan yang lain sedang mengobrol di sana. Wafi pergi ke balkon dan berdiam diri di sana.


Melihat sikap Wafi. Chairil dan Khalisah nampak tidak nyaman, keduanya duduk terpisah, Khalisah diam memperhatikan mereka yang sedang membuat kue kembang goyang.


”Mau,” ucap Raihanah menawarkan.


”Enggak Bu nyai, makasih.” Tolak Khalisah dan Faiza mendelik sebal. Khalisah menunduk lesu, Faiza memang bersikap kurang baik kepada menantunya. Semua perbuatan akan ada hasilnya, itulah hasil perbuatan semena-mena Khalisah, membuat keluarga Chairil tidak menyukainya. Diam-diam, Chairil memperhatikan.


”Semoga hal ini menjadi pembelajaran buat kamu ya Khalisah, semoga kamu bisa berubah,” gumam Chairil. Sebagai seorang suami, dia menegur, mengarahkan dan membimbing istrinya. Seburuk apapun perempuan, tidak ada cara yang terbaik untuk menegurnya kecuali dengan kelembutan.


*****


Di rumah sakit, Fajar belum bisa pulang. Dia masih ditahan untuk kesembuhannya, dia meminta Shafiyah datang hari ini. Untuk berbicara dengan gadis itu, tidak ada yang menyadari satu hal. Satu hal yang ditakutkan Shafiyah. Pintu dibuka, Shafiyah diam sejenak sampai akhirnya Fajar mengangguk memintanya masuk.


”Assalamu'alaikum kak,” ucap Shafiyah.


”Wa'alaikumus Salaam," balas Fajar lembut.


Shafiyah duduk di kursi, dan Fajar memperhatikannya. Shafiyah menunduk, dia ketakutan melihat tatapan Fajar seperti itu. Apa dia melakukan kesalahan? atau dia ketahuan masih sering berkomunikasi dengan Wafi.


”Pernah bertemu lagi dengan pria itu?” tanya Fajar dan Shafiyah tegang. Dia sudah meminta mamang supir untuk bungkam, tidak mungkin kan mamang supir bohong padanya, untuk tidak memberitahu dia bertemu Wafi saat di kampus.


Shafiyah menggelengkan kepalanya lemah.” Enggak kak," ucapnya berbohong. Lalu menggigit bibir bawahnya sampai ngilu, dia terpaksa berdusta untuk kebaikan bersama.


”Dari mana kamu tahu kakak kecelakaan?" tanya Fajar


Deg! jantung Shafiyah hampir saja melompat, nafasnya naik turun tidak beraturan. Inilah yang Shafiyah takutkan, dari mana dia tahu kakaknya celaka, dan siapa yang menelepon padanya, sementara hapenya dipegang oleh Fajar. Dia ketahuan, dia tidak bisa mengelak lagi sekarang.


”Kak aku ...”


”Pakai hape siapa kamu berkomunikasi sama dia? siapa yang ngasih kamu hape? terus kenapa kamu gak bilang sama kakak, kalau laki-laki itu yang menolong kakak?” tegas Fajar, mengajukan berbagai macam pertanyaan dan membuat gadis itu menciut takut. Bulir air matanya terus mengalir, Fajar diam menatap Shafiyah dengan tatapan kasih sayang. Dia sangat menyayangi adiknya, dan akan berusaha untuk menghalangi pernikahan gila yang diatur ibunya. Antara Shafiyah dan Farel.


”Kak maaf," ucap Shafiyah serak." Jangan apa-apain Gus Mu. Dia gak salah, dia udah bantuin kakak, udah nolongin kakak." Pintanya sambil merapatkan kedua tangannya, memohon-mohon agar pujaan hatinya tidak dilukai lagi, sudah banyak luka akibat tangan bengis kakaknya, Shafiyah tidak sanggup lagi jika ada darah yang keluar dari tubuh Wafi karena keluarganya.


”Mana hapenya?" tanya Fajar, seraya menadahkan tangan di hadapan adiknya. Shafiyah meraih tangan kakaknya itu, mengenggamnya kuat.


”Kak cukup, jangan sakiti dia lagi." Shafiyah terus berusaha agar kakaknya tidak menganggu Wafi, tapi Fajar menggeleng kepala dan menepis tangannya kasar.

__ADS_1


"Kemari kan hape nya Shafiyah," tegas Fajar meminta. Shafiyah menarik tas nya ragu. Betapa bodohnya dia, dia seharusnya tidak membawa hape itu. Dan bisa berkelit, tapi sekarang tidak mungkin. Shafiyah mengeluarkan hape tersebut dan memperlihatkannya kepada Fajar. Fajar menyambar nya kasar, memeriksa semua pesan masuk dari Wafi dan balasan dari adiknya. Tidak ada yang mencolok, apalagi berbau ****. Hanya percakapan tentang restu yang tak kunjung didapatkan, saling mengingatkan untuk berdoa, sholat, puasa, dan yang lainnya. Kedua alis Fajar mengkerut, dia malah terasa tertampar dengan pesan Wafi dan Shafiyah. Apakah ini yang disebut hubungan antara dua insan manusia yang paham agama, tapi keduanya tetap salah. Wafi tidak menggombal atau apapun kepada Shafiyah, Wafi terus meminta Shafiyah sabar sampai dia mendapatkan kesempatan untuk meminangnya.


Shafiyah terus menangis, mencengkram kuat ujung kerudungnya. Dan Fajar memperhatikannya.


”Kak, jangan sakiti Gus Mu. Aku mohon hiks!” terus menangis, suaranya begitu berat dan Fajar memalingkan wajahnya.


”Apa yang kamu lihat dari dia? dia miskin Shafiyah, dia gak bisa bahagiain kamu.”


”Kak, pria kaya raya memang banyak. Tapi pria yang menghargai perempuan, menjaga dan membimbing tidak semua pria bisa melakukannya. Aku butuh sosok seperti dia, yang membimbing aku. Aku gak ngerti kenapa semua orang berpikiran dunia adalah segalanya, jika kita banyak uang ada masalah bisa shopping untuk menghilangkan masalah dari pikiran sejenak. Tapi kegelisahan dalam hati, obatnya hanya satu yaitu beribadah dan berserah diri kepada Allah kak. Gus Mu memang gak punya dunia, tapi dia bisa membuat aku bahagia walaupun dengan cara sederhana!" suara Shafiyah meninggi, dia tertekan dengan semua penghinaan untuk Wafi. Dari semua keluarganya. Kecuali kakeknya dan Meri.


”Tolong biarkan Gus Mu tenang sejenak saja, jangan buat dia menderita dan terluka kak. Aku mohon,” lirih Shafiyah dan terus menangis. Tangisannya semakin menggila dan kini dia menggenggam tangan Fajar kuat. Berharap kakaknya itu terketuk hatinya, agar tidak menyakiti pujaan hatinya lagi. Fajar diam, dia begitu sedih melihat tangisan adiknya. Dia belai lembut kepala adiknya itu.


________


Malam harinya, Wafi kebingungan karena nomor telepon Shafiyah tidak aktif. Apa hape itu rusak? atau ketahuan dan diambil seseorang. Wafi dilema dan khawatir, akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi ke rumah Fajar. Bayyin diam menatap kepergian kakaknya, lalu dia masuk ke dalam rumah untuk menemui Afsheen. Bayyin mengajak adiknya mengobrol berdua di kamar.


”Kamu mau menikah, ajak bicara aa, minta maaf sama dia. Jangan gengsi digedein,” tutur Bayyin menegur Afsheen yang tak kunjung berbaikan dengan Wafi.


”Aku harus gimana?" tanya Afsheen.


”Minta maaf, apa susahnya sih? kalau kamu beneran nyesel atas semua yang kamu lakukan sama aa, kamu gak akan ragu buat minta maaf. Sekarang jelas, kalau kamu belum menyadari kesalahan kamu," ucap Bayyin sinis.


Afsheen membuang nafas kasar, dan menatap Bayyin lekat. Dia bingung dan canggung, serta takut kalau dia berucap kepada Wafi, malah memancing emosi pria itu. Efek negatif berburuk sangka, sampai akhirnya untuk kebaikan pun ditunda-tunda.


”Keluar sebentar saja, beri aku bukti kalau kamu baik-baik saja,” bisik nya serak, dengan kedua mata yang bagai tatapan elang itu terus memandangi balkon.


Wafi langsung berdiri dengan tegap saat pintu balkon dibuka, Shafiyah keluar dan tidak memakai cadarnya, Wafi memicingkan matanya, berusaha untuk melihat seperti apa wajah gadis itu. Tapi lampu tiba-tiba mati, Shafiyah terkejut dan kebingungan, rumah Fajar gelap gulita, suara Meri terdengar, meminta seseorang untuk memeriksa kWh meter.


Wafi mendengus karena tidak bisa melihat Shafiyah.” Apa gak boleh ya Allah? sedikit doang gak apa-apa, kenapa harus mati lampu segala.” Gumamnya dalam hati, dan Shafiyah sudah masuk kembali terburu-buru, gadis itu tidak melihat ke bawah, padahal Romeo nya menunggu sedari tadi.


Lampu kembali menyala, Wafi merogoh sakunya saat hapenya berdering. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat panggilan masuk dari Shafiyah. Dengan segera dia pun mengangkatnya.


”Assalamu'alaikum a.”


”Wa'alaikumus Salaam neng Fiyah.” Wafi menjawab sambil tersenyum.


”Maaf, chat nya baru kebuka. Hapenya susah di cas dari tadi, maaf ya." Shafiyah merasa bersalah, isi pesan dari Wafi berisi pertanyaan.


”Enggak apa-apa, emang hapenya udah jelek ya. Nanti saya cari yang lebih bagus.” Wafi nampak sedih, bisa-bisanya itu hape rusak di situasi begini.


"Enggak usah, aku udah dapetin ponsel aku a. Komunikasi nya lewat nomor aku yang kemarin ya."


Wafi kebingungan dan menggaruk kepala." Beneran?”

__ADS_1


”Iya hehe." Shafiyah tertawa kecil karena senang bisa memakai hapenya kembali, Gus Mu yang mendengar tawa gadis itu tertawa renyah menanggapinya.


”Kok bisa?”


”Enggak tahu, kak Fajar ngasih semuanya lagi ke aku. Mungkin dia mulai sadar, aku butuh hape sama laptop. Bukan semata-mata mau komunikasi sama kamu, tapi aku butuh untuk belajar juga. Aku seneng hihi." Tutur Shafiyah lalu tertawa kecil kembali, Wafi tergelak mendengarnya. Kenapa begitu menggemaskan saat gadis itu tertawa.


Di rooftop, Fajar memperhatikan Wafi dari kamera cctv, dan mendengarkan suara Shafiyah dari alat perekam suara yang dia simpan di kamar gadis itu. Fajar mendengarkan dengan baik, apa yang keduanya bicarakan, bisa saja keduanya berniat untuk kabur.


”Udah sholat?” tanya Wafi.


”Udah, aa udah belum? eh iya aku diundang ke nikahannya Ning Niyyah. Aku datang sama Rosa ya nanti.”


”Bagus kalau begitu, jangan lupa izin dulu ya. Aku gak mau kamu datang tanpa izin keluarga kamu, terus jadi masalah. Jujur dalam semua hal, supaya Allah memberi kelancaran.”


"Aamiin, iya a makasih udah ngingetin. Jaga diri baik-baik ya.”


”Iya, ya udah saya pulang dulu. Di rumah pasti butuh bantuan saya, jangan terlalu memikirkan semua hal yang akan membebani pikiran kamu ya, bebaskan aja semuanya, anggap semuanya seperti hal kecil. Yang akan bisa diatasi kapanpun itu.” Tutur Wafi dan Fajar menekan earphone untuk mendengar lebih baik.


"Iya, maafin keluarga aku ya. Aku yakin kita bisa sama-sama, tolong kuatkan Fiyah terus ya." Suara Shafiyah berat.


”Iya, ya udah istirahat, udah malam. Assalamu'alaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam,” balas Shafiyah lalu menatap hape pemberian pria itu. Di rooftop, Fajar bangkit, dia mendengar suara motor cukup jauh. Wafi mendorong motornya lebih dulu dan menyalakannya cukup jauh dari rumah Fajar. Fajar diam, memperhatikan kepergian Wafi dengan seksama.


*****


Hari pernikahan Afsheen dan Salam. Tenda pernikahan dipasang begitu kokoh, pelaminan dengan nuansa putih dan gold itu nampak begitu mewah. Mempelai pria sudah duduk bersila untuk siap mengucapkan ijab qobul, pak penghulu kebingungan karena Wali perempuan tidak ada. Semua orang panik, menyebar mencari Wafi. Entah kemana pria itu, yang memang terus menjauhi semua kerabatnya, ikut nimbrung untuk mengobrol pun hanya sesekali, tidak berbicara ataupun terlihat bahagia. Tadi Wafi ada, sudah siap begitu rapih dan gagah, dengan jubah berwarna putih dan peci hitam nya.


Di kamar pengantin, Afsheen sudah akan menangis, dia terus mencoba menelepon Wafi. Bayyin juga bingung dan mengintip keluar, melihat uminya yang nampak gelisah tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Afsheen hanya bisa menikah dengan di wali kan oleh kakaknya, kecuali dia tidak memiliki saudara laki-laki bernama Muzammil itu. Baru di Wali kan dengan pihak lain.


”Lihat Afsheen, seorang kakak yang sudah lelah dengan sikap kurang ajar adiknya. Jika pernikahan ini gagal, jangan salahin a Wafi. Dia begini karena kamu menyebutnya sudah mati.” Tegas Bayyin dengan air mata yang sudah berlinang deras. Tangisan Afsheen pecah, hiasan di wajahnya bisa saja rusak. Dia tidak menyerah dan terus mencoba menelepon Wafi.


”Aa hiks,,,,” ucap Afsheen serak.” Aa kemana sih? tolong pulang, Niyyah minta maaf. Maafin Niyyah hiks... Niyyah sayang sam a Wafi, tapi Niyyah gak suka dengan semua penghinaan orang-orang karena a Wafi. Niyyah salah, Niyyah minta maaf. " Niyyah terus berseru, tubuhnya ambruk terduduk di lantai. Sabilla dan Zoya yang baru masuk langsung memburunya. Niyyah terus menangis, Wafi benar-benar benci padanya sekarang.


”Mu, kamu keterlaluan.” Gumam Ikhsan yang mendengar tangisan Daniyyah.


”Ijab qobul sudah siap dilaksanakan....” Seru MC acara saat melihat Wafi datang, pria itu duduk dengan raut wajah merah dan muram. Raihanah terus memperhatikannya, tidak mudah menjadi Wafi. Kebencian dari orang-orang bisa dia lupakan, bisa dia abaikan, tapi dari adiknya sendiri. Itu sangat menyiksanya.


Mendengar suara Wafi. Daniyyah langsung berdiri dan mengintip dari balik kaca jendela kamarnya, dia tatap punggung tegap Wafi yang sudah berjabat tangan dengan Salam. Sesakit apapun luka yang tergores di hatinya karena perilaku Daniyyah, Wafi tidak mungkin bisa tega membiarkan pernikahan adiknya bermasalah.


Salam nampak gugup, pertama kali dia berhadapan langsung dengan calon kakak iparnya itu, Wafi sesekali memperhatikan tangan Salam yang bergetar hebat.


Shafiyah yang baru datang bersama Rosa langsung duduk, dan memperhatikan Wafi. Shafiyah tersenyum lebar dibalik cadarnya, tapi dia terusik saat sadar ada yang memperhatikannya. Saat dia menoleh, ternyata Bu nyai memperhatikannya dengan tatapan sinis. Shafiyah menunduk dan Raihanah memalingkan wajahnya langsung saja tatapannya dengan tatapan Shafiyah bertemu.

__ADS_1


__ADS_2