Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 53: Menjenguk


__ADS_3

”Masya Allah cantiknya.” Puji Wafi, dia gendong bayi perempuan Mail dan Kamila begitu hati-hati, dia usap kepala bayi itu lembut, bibirnya melantunkan doa untuk bayi yang baru lahir ke dunia itu. Begitu cantik, tidak seperti Mail. Dan sangat mirip dengan Kamila. Diam-diam, Shafiyah memperhatikan suaminya. Begitu sudah sangat pantas suaminya itu menggendong bayi, apalagi nanti bayi mereka sendiri.


”Alhamdulillah, anak kita di gendong sama di do'ain seorang Gus ya a," tutur Kamila dan Ismail mengangguk.


”Biasa aja,” ucap Wafi sambil tersenyum dan terus memandangi bayi perempuan itu.


”Cantik ya a," ucap Shafiyah dan ikut memperhatikan.


”Mau gak?" tanya Wafi dan Shafiyah melotot. Wafi tersenyum simpul dan memberikan bayi itu kepada istrinya.” Pelan-pelan,” ujarnya lembut.


"Enggak mau, Fiyah gak berani kalau gendong bayi yang baru lahir. Takut," ucap Shafiyah dan Kamil tersenyum.


”Iya, bayi yang baru lahir emang gendongnya harus hati-hati. Sama kayak ibu aku, ibu aku juga belum berani katanya.” Kamila menyahut dan Ismail yang menggendong anaknya sekarang.


”Jadi kalian kapan nih nyusul punya momongan?" tanya Ismail.


”In sha Allah secepatnya,” jawab Wafi sambil merangkul pinggang Shafiyah dan Shafiyah nampak grogi.


”Fiyah, semoga cepat hamil ya.” Seru Kamila.


”Aamiin.” Shafiyah menyahut sambil tersenyum.


Setelah cukup lama mengobrol, Wafi dan Shafiyah harus pulang. Karena di rumah banyak pekerjaan, apalagi untuk Wafi yang memiliki peran penting dalam keluarganya.


”Aku sama Shafiyah pulang ya. Kamila semoga cepat sehat, maaf gak bawa apa-apa,” tutur Wafi sambil merapatkan kedua tangannya dan Kamila membalasnya.


”Ngomongnya begitu, ini apaan coba?” tutur Ismail sambil memperhatikan kado yang dibawa Wafi dan Shafiyah untuk anaknya, bahkan ada cemilan juga untuknya.


”Itu bukan apa-apa Mail, jagain istri kamu,” ucap Wafi dan memperhatikan bayi perempuan dalam gendongan ayahnya itu.


”Makasih ya Shafiyah.” Kamila dan Shafiyah berpelukan sekilas.


”Iya sama-sama, semoga lekas sehat ya teh,” balas Shafiyah dan Kamila mengangguk.


Wafi merangkul pinggang Shafiyah dan keduanya siap untuk pergi.” Oh iya, umi titip salam buat kalian semua. Gak bisa datang, di rumah lagi repot," ucap Wafi.


"Enggak apa-apa, bilangin sama umi," sahut Ismail.


”Kami pamit, assalamu'alaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Ismail dan Kamila. Wafi dan Shafiyah pergi keluar dari ruangan tersebut. Pinggang Shafiyah masih dirangkul erat oleh Wafi, sampai sekarang keduanya sudah keluar dari rumah sakit.


”Tunggi di sini,” ucap Wafi yang harus mengeluarkan mobil dari parkiran lumayan jauh.


Shafiyah mengangguk dan memperhatikan pedagang siomay.” Aa, sambil nunggu. Fiyah mau beli siomay ya.” Seru Shafiyah membuat Wafi berhenti melangkah.


”Iya sayang,” balas Wafi dan Shafiyah langsung menunduk. Dengan wajah yang panas dan memerah, mendengar ucapan lembut suaminya. Wafi tersenyum dan bergegas pergi.


Shafiyah membeli siomay dua bungkus, dia juga membeli dua botol air mineral.


”Pakai sambal neng?" tanya si Mamang.


”Sedikit aja mang, dua-duanya."


Si mamang mengangguk dan menurutinya, siomay pun selesai dibuat. Shafiyah membayar siomay tersebut dengan uang pas, 20ribu. Shafiyah menunggu sampai akhirnya mobil suaminya terlihat dan mendekat. Wafi keluar dan membukakan pintu untuk istri tercintanya, Shafiyah masuk dengan perasaan campur aduk. Perempuan mana yang tak senang diperlakukan seperti itu oleh lelaki, terlebih oleh suaminya.


”Aa, aku beliin siomay.” Shafiyah begitu antusias, memperlihatkan apa yang dia beli.


”Suapin." Pinta Wafi.


”Makan sendiri lah.”


”Kan saya lagi nyetir cinta.”


”Kok 'saya' lagi sih. Kan udah janji jangan manggil diri sendiri begitu.” Protes Shafiyah sambil cemberut.


”Oh iya lupa,” ucap Wafi sambil tersenyum." Pengen disuapin sama Bibah, suapin ya.”


”Iya.” Shafiyah menurut dan Wafi tersenyum. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.” Aaa....” Shafiyah mulai menyuapi Wafi, setelah mengucap basmallah, Wafi membuka mulutnya. Menerima suapan pertama dan Shafiyah memperhatikan suaminya sejenak, begitu manjanya pria berumur itu sekarang.


”Aku besok kerja ya,” ucap Wafi dan Shafiyah menoleh.


”Libur aja sehari lagi a.”


”Enggak bisa sayang, eh kamu masih dapat waktu libur ya. Main yuk ke kantor, biar semua orang tahu siapa istrinya Wafi muzammil.”


”Ih enggak, malu. Ngapain ikut, nanti kamu dimarahin bos.”

__ADS_1


Wafi terdiam, dan menerima suapan kembali dari istrinya. Emang dia belum bilang ya? dia kerja di kantor Om nya sebagai CEO. Bukan karyawan biasa. Wafi sangat sibuk sampai lupa mengatakannya, Shafiyah sendiri masih kebingungan kenapa mas kawinnya cukup besar, untuk ukuran seorang Wafi Muzammil, yang cuma bekerja serabutan. Mau bertanya, takut menyinggung.


”Neng, sebenarnya aku kerja di kantor Om Noah sebagai CEO. Bukan karyawan biasa, apalagi office boy yang seperti sangkaan ayah kamu. Itu sebabnya aku bilang pekerjaan aku berat, harus banyak belajar lagi. Itu alasannya, kalau aku bawa kamu ke kantor ya gak apa-apa sayang. Aku bebas bawa siapa saja, selama gak menganggu aktifitas aku kerja.” Wafi menjelaskan dan itu hak Shafiyah untuk mengetahui tentang pekerjaannya.


”Aa bilang office boy sama ayah.” Shafiyah sedikit emosi.


”Ih bukan sayang, ayah kan nanya. Aku office boy ya? gitu, ya aku bingung juga ya udah aku iyain.” Wafi menjelaskan kembali, sambil meraih tangan Shafiyah. Shafiyah diam dan menepisnya cepat.” Jangan marah.” Wafi panik.


”Bukan marah, nyetir yang fokus a.” Ketus Shafiyah dan menepis tangan suaminya kembali, dan Wafi tersenyum lebar. Keduanya tidak banyak bicara, dan Wafi terus disuapi.


Setibanya di rumah, keduanya berpisah. Wafi di luar, dan Shafiyah masuk. Shafiyah nampak diam saat melihat Khalisah. Khalisah terlihat begitu pucat pasi saat ini.


”Fiyah,” ucap Khalisah menyapa.


”Iya,” balas Shafiyah.” Kamu pucat, kamu sakit Khalis?” ujarnya kembali sangat khawatir.


”Aku lagi gak enak badan,” ucap Khalisah menjawab.


”Mau kemana?”


”Aku mau pulang.”


”Aku anterin deh, aku izin suami aku dulu,” ucap Shafiyah dan akhirnya Khalisah yang sadar tidak sanggup untuk berjalan, mengangguk dan Shafiyah menunjuk sofa agar dia duduk. Shafiyah keluar dan melihat suaminya sedang mengobrol dengan banyak pria, dan suaminya tak kunjung melirik ke arahnya. Shafiyah akhirnya mengirimkan pesan dan Wafi langsung menunduk saat hape yang dia genggam bergetar.


”Fiyah mau nganterin Khalisah pulang, dia lagi sakit. Boleh pakai motor gak a?” isi pesan dari Shafiyah dan Wafi menoleh ke arahnya.


”Boleh, hati-hati. Kunci motor di belakang pintu biasanya. Tanya Bayyin kalau gak ada.” Balas Wafi dan Shafiyah membacanya, lalu gadis itu masuk dan Wafi pergi diajak Noah.


Shafiyah akhirnya jadi mengantar Khalisah, keduanya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sesampainya di depan rumah Khalisah, Shafiyah memerhatikan sekitar. Dan Khalisah turun.


”Mampir dulu Sha,” ujar Khalisah.


”Enggak usah, di rumah banyak kerjaan. Istirahat kalau sakit,” tuturnya menjawab dengan nada yang begitu ketus. Entah mengapa, Shafiyah masih belum bisa melupakan bagaimana penghinaan yang dilakukan Khalisah kepada Wafi.” Assalamu'alaikum."


”Wa'alaikumus Salaam," jawan Khalisah. Dia perhatikan kepergian sepupunya itu sampai tidak terlihat lagi. Khalisah buru-buru masuk saat kepalanya berdenyut-denyut. Rasa sakit kepala yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Malam harinya, Wafi sudah tidak sabar ingin menemui Shafiyah. Tapi saat dia masuk ke kamar, istrinya sudah terlelap, jarum jam menunjukkan pukul 11 malam. Pantas saja istrinya sudah tertidur, Wafi tersenyum dan naik ke atas ranjang, bergeser lalu menarik Shafiyah ke dalam pelukannya. Shafiyah menggeliat, nampak terganggu karena sentuhan suaminya.


”Shuttt! bobo,” ucap Wafi sambil mengelus kepala istrinya. Dan menciumnya. Dia mendekap tubuh istrinya itu dan tidak lama Wafi juga merasakan kantuk, malam ini dia juga tidak mendapatkan hak nya. Mungkin malam esok, harapan yang wajar seorang suami harapkan. Wafi menutup matanya, keduanya pun tertidur pulas dengan saling menghangatkan.


*****


”Udah sore neng, mandi gih. Mumu bentar lagi pulang, kalau suami mau pulang. Mandi, dandan yang menor, biar suami seneng lihatnya,” tutur Fahira dan semuanya terkekeh.


”Jurus uwa Hira menaklukan uwa Ahmad kayaknya nih." Sahut Afsheen.


”Ya iya dong, pokoknya harus cakep kalau suami mau pulang kerja.” Fahira terus cengengesan.


”Ayo sana, mandi. Kamu juga dari tadi kerja terus, istirahat. Gak usah ke dapur lagi," tutur Raihanah dan menahan kedua tangan menantunya yang sedang membuat kue.


”Tapi umi...” Shafiyah tidak enak dengan kerabat yang lain, tapi jujur. Dia sangat ingin merebahkan tubuhnya.


”Ayo sana,” kata Raihanah kembali dan akhirnya Shafiyah mengangguk. Gadis itupun pergi dan semuanya berbisik-bisik membicarakannya, membicarakan tentang bagaimana rupa menantu perempuan Bu nyai satu-satunya itu.


”Wafi seneng banget ya kelihatannya habis nikah, biasanya kan mukanya kusut terus dia,” tutur Fara dan Faiza tergelak.


”Ya emang itu kemauannya, mau nikah. Shafiyah baik, menerima Mumu kita apa adanya." Timpal Fahira sambil membuang nafas kelegaan.


”Iya, aku bersyukur. Mumu dipertemukan dengan gadis sebaik Shafiyah, kalau jatuhnya digaris lain gak tahu deh. Shafiyah bahkan gak nuntut apa-apa untuk mahar, Masya Allah banget itu anak. Walaupun keluarganya begitu, tapi dia tetap dengan pendiriannya, anak itu anak baik,” tutur Raihanah memuji tiada henti.


”Enggak kayak Khalisah ya umi, menghina aa seenaknya. A Wafi padahal gak suka sama dia,” ucap Afsheen lalu menggigit lidahnya.


”Niyyah.” Tegur Raihanah sambil melirik Faiza. Afsheen menggaruk keningnya, walaupun tangannya kotor karena adonan kue saat ini. Lalu dia menoleh kepada Faiza.


”Bibi maaf,,,,” ucap Afsheen serak.


”Enggak apa-apa,” balas Faiza sambil tersenyum.


”Kamu ih,” ucap Bayyin sambil menyikut lengan adiknya dan Afsheen benar-benar tidak sengaja.


”Assalamu'alaikum,” ucap Wafi yang baru pulang bekerja. Menjinjing kantong plastik berisi gorengan untuk semua orang.


”Wa'alaikumus Salaam," jawab semua orang. Wafi mendekati Raihanah, mencium punggung tangan uminya itu. Wafi langsung mengedarkan pandangannya, dan dia tidak melihat istrinya.


”Capek banget kamu kelihatannya, umi buatin teh.”


”Enggak usah umi, biar Fiyah nanti. Aku mau mandi dulu, ini gorengan buat semuanya.” Wafi meletakkan plastik di atas meja dan pergi meninggalkan dapur.

__ADS_1


Sesampainya di lantai dua, Wafi membuka pintu kamarnya. Dia langsung menutup pintu saat melihat Shafiyah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Wafi langsung mengunci pintu dan dia kesal.


”Astaghfirullah sayang, kenapa gak dikunci? kamu kan lagi mandi cantik.” Wafi berbicara sambil menatap langit-langit kamarnya, dia tidak mau dan takut tidak kuat.


”Ya maaf, lupa." Shafiyah melangkah cepat dan membuka lemari, mengambil baju sekaligus menghalangi tubuhnya dengan pintu lemari.


”Pakai baju di kamar mandi sana." Titah Wafi dan Shafiyah mengangguk. Wafi mendengus sebal dan melangkah menuju meja untuk meletakkan tas nya, Shafiyah yang baru saja akan masuk tersentak saat baju yang dia peluk di dadanya terjatuh.


”Aa!" jerit gadis itu dan Wafi panik.


”Hah kenapa? ada apa?" Wafi menatap istrinya dan mendekat. Takutnya ada ular atau apa, karena kamarnya sering kemasukan ular. Shafiyah mundur dan wajahnya membentur dada bidang suaminya, handuk yang menutup di atas dada sampai ke lutut itu terlepas dan jatuh ke lantai. Wafi menunduk dan tidak sengaja melihat pemandangan indah itu.


”Aaaa enggak, tutup mata. Tutup mata!" Shafiyah menjerit-jerit kesal dan Wafi yang terlalu fokus tidak mendengarnya, sampai Shafiyah mendorong tubuh suaminya itu sampai sedikit terpental, Wafi tersenyum dan terus berbalik membiarkan Shafiyah memakai handuknya." Aa lihat kan?"


”Enggak."


”Bohong, lihat aku." Titahnya dan Wafi berbalik, gadis itu menutup bagian atas dadanya dengan bajunya." Lihat kan?"


”Enggak neng," ucap Wafi tapi sambil terkekeh, mana bisa Shafiyah percaya.


”Bohong dosa."


"Lihat sedikit, lehernya doang serius."


”Bohong!" Shafiyah kesal.


”Ke bawah sedikit, montok ya ternyata.” Goda Wafi sambil mendekat, Shafiyah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.” Buka Bibah."


”Enggak mau, ambilkan baju Fiyah tolong. Fiyah mau mandi lagi, handuk ini kotor. Sekalian ambilkan handuk kimono, aa cepet." Shafiyah sudah mandi keringat lagi, malu dan kesal kepada suaminya.


”Ya biarin atuh neng, aku suami kamu Habibah. Gak apa-apa, jangan malu."


”Enggak mau, Fiyah nangis ya? nangis nih!" ancam gadis itu dan Wafi terus tertawa.


”Iya deh iya.” Wafi akhirnya mengambilkan apa yang istrinya butuhkan. Dia mengetuk pintu dan Shafiyah membuka pintu sedikit. Wafi menyodorkan semuanya dan Shafiyah menerimanya kasar, lalu pintu tertutup rapat kembali.


Setelah Shafiyah mandi untuk yang kedua kalinya, memakai bajunya dengan sempurna. Dia keluar dengan rambut basah berbalut handuk. Wafi diam menahan senyumnya.


”Neng," ucap Wafi sambil meraih tangan Shafiyah.


”Banyak orang a," kata Shafiyah menolak. Wafi cemberut dan akhirnya dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat. Shafiyah berhias dan setelah selesai, dia merebahkan tubuhnya yang lelah. Setelah Wafi mandi, dia keluar hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya, Shafiyah melongo melihat perut kotak-kotak itu. Dia langsung memiringkan tubuhnya, membelakangi.


”Bisa kan pakai bajunya di kamar mandi a?” tutur Shafiyah lantang.


”Gak bisa, nanti baju aku jatuh. Handuk aku jatuh juga, jadi kelihatan kemana-mana,” ujar Wafi menyindir kejadian tadi. Shafiyah meraih bantal dan menutupi kepalanya. Wafi tersenyum dan mendekat setelah dia memakai semua pakaiannya.


”Capek kerja teh, cari nafkah buat Neneng Bibah. Neneng Bibah nya gak ngasih ngasih jatah,” tutur Wafi dan Shafiyah menjauhkan bantal dari kepalanya.


”Aa apaan si, lebay banget. Geli ih," ucap Shafiyah lalu menutup mulutnya, dia bilangnya geli tapi bibirnya tersenyum.


”Masa?” ucap Wafi dan Shafiyah mengangguk. Gadis itu berbalik, merubah posisi dengan duduk dan Wafi menarik kedua kakinya, membuat istrinya itu sedikit terlentang lalu dengan cepat Wafi memeluk pinggang Shafiyah, menenggelamkan wajahnya di perut Shafiyah.” Pengen,” ujarnya kembali meminta.


”Ini sore, bentar lagi magrib."


”Nanti malam mau gak?”


”Aa kan sibuk.”


”Kapan aku gak sibuk ya?"


”Malam besok mungkin.” Shafiyah tersenyum. Wafi terus menggesekkan wajahnya di perut rata istrinya itu, dan menciumnya sesekali. Shafiyah merasa geli dan akhirnya Wafi berhenti, pria itu duduk dan rambutnya yang diacak-acak Shafiyah, dirapihkan kembali oleh Shafiyah.” Siap-siap ke masjid, gih," ujarnya sambil melirik jam dinding.


”Sun dulu.” Pinta Wafi. Shafiyah mengangguk, menggerakan kedua tangannya agar Wafi mendekat. Wafi mendekat dan keningnya di kecup mesra oleh istrinya.” Bukan disitu, di sini, sini sini.” Menunjuk kedua pipi dan bibirnya.


”Malu," ucap Shafiyah sambil meraih bantal, menutupi setengah wajahnya.


”Enggak apa-apa,” ucap Wafi lalu menarik handuk yang menutupi rambut istrinya. Dia belum pernah melihat rambut Shafiyah baru tadi dan mungkin sekarang. Shafiyah diam, membiarkan rambut yang masih basah dan kusut itu di lihat suaminya. Wafi menyisirnya perlahan, lalu menggosok rambut istrinya dengan handuk.” Kalau lagi berdua sama aku, gak apa-apa kerudungnya di buka, keluar dari kamar gak boleh. Masya Allah cantiknya istri a Mumu, terima kasih sayang. Sudah menjaga harga diri, tubuh kamu, dan semua keindahan yang kamu miliki cuma buat pria yang halal buat kamu. Dan aku bangga, aku yang menjadi suami kamu, aku bangga. Cium dulu sini.”


Shafiyah tersenyum dan diam saat kening, pipi dan bibirnya di cium suaminya.


”Aku ke masjid ya.”


”Iya a.” Shafiyah tersenyum.


”Aku mau teh hangat, bisa buatin gak?”


”Iya nanti Fiyah buatin.”

__ADS_1


”Makasih.” Wafi tersenyum dan mencubit pipi istrinya gemas, dia turun dari ranjang dan melirik jam dinding. Dia sudah telat, sangat telat dari jam biasanya dia menunggu adzan di masjid. Bekerja diatur waktu memang susah, jujur Wafi tidak mendapatkan kenyamanan dalam pekerjaannya saat ini. Bukan hanya fisik yang lelah, tapi pikiran juga. Keluarga yang membuatnya semangat, terutama istrinya.


__ADS_2