
Sepanjang perjalanan, Shafiyah terus dimarahi habis-habisan oleh Fajar. Gadis itu hanya bisa menangis pilu, dia terus menangis, bukan karena kemarahan Fajar. Tapi dia takut Wafi kenapa-kenapa.
Sesampainya di rumah Fajar, yang memang tidak jauh seperti rumah orang tuanya, Shafiyah langsung keluar. Dia berlari dan melihat semua orang berkumpul di sana.
”Sha," ucap Qais dan Shafiyah langsung memeluk kakaknya itu." Kenapa nangis?”
Shafiyah diam dan Qais menatap Fajar penuh curiga. Sara mendekati putrinya dan Shafiyah mengeratkan pelukannya pada Qais.
”Masuk ayo,” ajak Fajar. Semuanya masuk dan Qais berjalan terus menunduk, mengusap air mata adiknya.
Semuanya duduk dan Shafiyah masih menangis, minum pun ia tidak mau.
”Barang-barang aku di pesantren semua, kenapa harus kak Fajar sih yang jemput hiks..."
”Nanti biar supir ayah minta ngambil barang-barang kamu." Timpal Herman dan memperhatikan Shafiyah lekat.
Fajar diam dan istrinya Meri terus memperhatikan. Apa suaminya berulah di sana? Meri curiga karena dia melihat punggung jemari suaminya terdapat bercak darah. Hal tersebut sudah biasa untuk Meri, tapi dia takut suaminya memukul orang sembarangan.
”Ibu mau kamu keluar dari pesantren, sudah lulus kan? untuk kebaikan bersama, kami semua sepakat, kalau kamu mulai sekarang tinggal disini, sama kakak kamu Fajar dan Meri," tutur Sara. Fajar tidak akan lengah, dan dia yakin Wafi tidak akan bisa melihat putrinya kembali. Shafiyah yang mendengar penuturan ibunya langsung menolak dengan gelengan kepala.
”Aku gak mau Bu, aku masih perlu banyak belajar,” ucap Shafiyah sambil mengusap air matanya.
”Enggak usah alasan, kamu mau melihat pria gila itu kan? pria gila yang selalu membuat ulah di penjara. Cih! dan sekarang dia mendekati kamu, karena dia tahu kamu itu adik kakak. Dia mau membalas semuanya lewat kamu, kakak yakin itu. Dia miskin, pria miskin dan mantan napi gak bisa bergerak bebas. Dia mau mendekati kamu buat morotin kamu," tutur Fajar tanpa ragu, Shafiyah menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya, dia tidak suka mendengar Fajar berbicara.
”Kalau kakak gak bisa ngomong baik-baik, mending kakak diem!" seru Shafiyah kesal, dia bangkit dan melangkah pergi, bibi di rumah Fajar langsung mengarahkannya ke kamar yang sudah disiapkan.
”Lihat anak itu ayah, Bu. Kurang ajar, gak sopan," ketus Fajar dan Sara memijat keningnya, dia sangat stres dan mengalami sakit kepala semalaman. Memikirkan hubungan anaknya dengan Gus itu.
*****
Malam hari tiba, semua orang di pesantren masih heboh membicarakan kejadian tadi sore. Raihanah bahkan begitu pendiam, dia melihat anaknya sendiri di pukuli dan di caci begitu rendahnya. Raihanah kini sedang duduk di sofa, kedua putrinya sedang membaca buku. Dia lirik tangga yang anak tangganya beberapa sudah keropos di makan usia, Wafi ada di atas. Entah sedang apa.
Wafi sedang berdiri, di depan lemari berisi semua piala miliknya. Tertulis di sana, juara seni bela diri, juara matematika, dan juara Tahfidzul Qur'an yang lebih menonjol. Muhammad Wafi Muzammil Ali Majdi, namanya begitu populer kala itu, tapi tidak menjamin kehidupannya bahagia. Belajar, berolahraga dan berlomba adalah caranya menghilangkan stress.
”Habibah, apa kamu baik-baik saja di sana? aku tanya ke beberapa orang disekitar rumah kamu, kamu gak ada. Rumah kamu juga katanya sepi. Dibawa kabur kemana kamu Shafiyah, apa kita bisa bertemu lagi?" tutur Wafi dengan suara berat. Kedua matanya berair, mata kirinya nampak membiru dan sedikit ungu, bibirnya bengkak, tulang hidung mancung nya juga membiru karena pukulan tangan Fajar. Banyak orang yang memberi usul agar kejadian tersebut dibawa ke pihak berwajib, Wafi bisa saja melakukannya. Tapi dia tidak bisa, dia tidak mau berurusan dengan keluarga Shafiyah, karena itu akan memperburuk posisi nya dan mempersulit proses perjuangannya untuk mendapatkan Shafiyah. Biarkan luka yang dia dapat menjadi saksi betapa sulitnya mendapatkan berlian yang berharga itu.
Ketika pemilik gelar "Majdi" yang bangga dengan nama belakang nya, dan yang lain hidup berkecukupan, dihormati, dihargai, menjadi tempat penghormatan dimana-mana. Berbeda dengan Wafi, yang malah ingin menghapus nama belakangnya, dia hanya ingin namanya Wafi saja. Satu kalimat, sendiri dan kesepian.
Di tempat lain, di balkon kamarnya. Shafiyah diam melamun, menatap langit gelap sesekali, bintang bertaburan tak mampu mengobati jiwanya yang kesepian. Entah sedang apa pujaan hatinya di sana, apa dia baik-baik saja?.
”Gus, kamu pria baik. Jika mencoba menggapai ku membuatmu celaka, semoga Allah mengganti namaku di hatimu dengan nama gadis lain. Terlalu sulit untuk bersama ya Habibi, sudah terlalu banyak luka yang kamu rasa, membuatku tidak tega. Tapi sejujurnya, aku juga tidak kuasa menahan cemburu jika kamu beralih kepada yang lain," tutur Shafiyah lirih, sembari berderai air mata. Hape, laptop dan semua fasilitas nya di ambil. Dia tidak bisa menghubungi pujaan hatinya, memberi kabar keberadaannya saat ini.
__ADS_1
Shafiyah juga sesekali memegang tengkuknya, ngilu dan terasa berat. Karena tidak tahan, akhirnya dia pergi meninggalkan balkon, menutup pintu lalu membuka penutup kepala dan wajahnya.
”Auw sakit!" jerit Shafiyah, dia berdiri membelakangi cermin, menoleh dan berusaha melihat tengkuknya. Sara yang baru masuk tersentak melihat lebam di tengkuk Shafiyah.
”Kenapa leher kamu?" tanya Sara seraya mendekat, Shafiyah diam dan terus meringis.” Kenapa bisa lebam begini?”
”Kak Fajar,” jawab Shafiyah. Sara meradang mendengarnya, dia meminta anaknya duduk dan dia pergi untuk meminta obat kepada menantunya.
"Fajar!" teriak Sara, fajar menoleh dan panik sendiri. Adi yang baru datang melongo terheran-heran.
”Kamu apain adik kamu? leher belakangnya sampai lebam, ibu minta kamu jemput dia. Bukan nyiksa dia,” ketus Sara lalu memukul bahu anaknya itu.
Adi dan Qais langsung berlari untuk melihat Shafiyah, Shafiyah di kamar kaget melihat kedatangan keduanya.
”Kenapa nangis?" tanya Adi dan Shafiyah diam. Adi melihat tengkuk adiknya itu dan benar saja apa yang dikatakan ibunya. Sara dan Fajar datang, lalu Fajar melihat tengkuk adiknya.
”Aduh,” ucap Fajar lalu menatap tangannya sendiri, dia tidak sadar sudah menyakiti Shafiyah.
”Maaf, kita ke dokter ya,” bujuknya lembut dan Shafiyah mendengus sebal.
Fajar menarik bahu Shafiyah tapi Shafiyah mendorongnya.” Jangan pegang-pegang aku, kakak jahat.” Shafiyah menolak dan Fajar berhenti.
”Kamu kalau marah emang suka kebablasan,” ketus Qais sambil berkacak pinggang.
”Gak usah marahin adik kamu terus Fajar, ini gimana? ayah kalian lagi gak ada, kita periksa aja ke dokter ayo,” Sara melerai perdebatan dan semuanya diam. Shafiyah akhirnya dibawa untuk diperiksa, kulitnya yang putih bersih membuat noda sedikit saja nampak jelas, apalagi sebuah lebam.
*****
Beberapa hari kemudian, perubahan sikap Wafi semakin pendiam. Dia merindukan Shafiyah, dan Shafiyah juga merindukannya. Pria itu sedang melangkah begitu lesu, dari kejauhan. Ima berusaha mengejar langkahnya.
”Gus,” panggil Ima. Wafi menoleh dan melihat Ima. Ima mengulurkan plastik berlogo sebuah nama apoteker dan Wafi bingung." Titipan Shafiyah," ucap gadis itu.
Bibir membisu dan tidak pernah tersenyum setelah berpisah dengan lenteranya, kini tersenyum lebar. Wafi menerimanya perlahan.
”Jangan sampai ada yang tahu, Shafiyah dijaga keluarganya sangat ketat. 3 hari dia gak masuk kuliah, dia cuma ngasih ini,” tutur Ima dan Wafi terus memperhatikan kantong plastik itu.
”Terima kasih," ucap Wafi dan Ima mengangguk. Ima pun pergi dan Wafi juga pergi untuk segera memeriksa isi titipan Shafiyah.
Sesampainya di rumah, dia pergi ke balkon, mengeluarkan semua obat dan dia membuka dus obat satu-persatu, di dus obat berwarna hijau, dia melihat sepucuk surat. Wafi membukanya dan benar saja, itu surat dari Shafiyah.
”Assalamu'alaikum Habibi, gimana kabarnya? saya harap Gus baik-baik aja, di pakai ya obatnya, supaya lukanya cepat kering. Saya baik-baik aja, saya tinggal di rumah kakak saya kak Fajar. Saya gak tahu jika kalian berdua sudah saling mengenal, dan hubungan kalian gak baik. Hape saya ditahan, saya bisa pakai laptop sama hape saya cuma di rumah, itu juga dilihatin ibu saya terus. Saya minta maaf, Gus terluka karena keluarga saya. Tapi saya harap, Gus gak ada niatan untuk menyerah mendapatkan saya. Jemput saya secara sah sebagai seorang istri, bawa saya dari penjara ini dengan menggandeng tangan saya. Tapi, jika Gus mau mundur. Saya akan berusaha ikhlas, alamat rumah ini saya tulis di kertas satu lagi.
__ADS_1
Besok pernikahan Khalisah sama Ustadz Chairil, keluarga saya akan datang, termasuk saya sendiri. Kalau Gus masih mau berjuang, saya harap Gus datang ke acara pernikahan besok. Sehat-sehat ya gula bernyawa, wassalamu'alaikum.”
Wafi tersenyum manis, lalu tertawa kecil saat membaca panggilan Shafiyah untuknya. Itu memang hanya tulisan tangan, tapi untuk Wafi, membaca tulisan Shafiyah sama dengan mendengar suaranya. Dia bahagia karena gadis itu masih mau menunggunya, untuk memperjuangkannya. Wafi tidak sabar untuk hari esok, melihat Shafiyah dan itu tidak mudah. Tak apa, walaupun hanya melihat dari kejauhan dan gadis itu baik-baik saja, dia sudah sangat senang.
Setelah itu, dia mengobati lukanya dan membereskan semuanya. Suara umi dan adik-adiknya membuat Wafi terkejut, pria itu turun dan memperhatikan ketiganya yang baru pulang dari rumah Faiza, diantar oleh Raihan.
”Wafi, kamu besok ikut kan nak?” ujar Raihanah dan Wafi mengangguk ragu.
”Ini umi,” ucap Afsheen, memberikan segelas air dan Raihanah menerimanya. Wafi duduk dan Raihanah memperhatikannya. Raihanah tersenyum dan dia akan mengikuti saran kerabat yang lain, yaitu mencarikan solusi terbaik untuk kegalauan putranya, dia akan mencarikan seorang gadis yang mau menerima putranya.
”Wafi,” ucap Raihanah dan Wafi menoleh. Tangan uminya lembut mengusap-usap bahunya. Wafi mengernyit heran dan menatap uminya penuh curiga, Bayyin dan Afsheen diam, merebahkan tubuh sama-sama.” Umi akan mencarikan seorang gadis, buat kamu. Yang cantik, baik, kalau untuk bercadar. Kamu bisa mengatakannya sebagaimana sebuah syarat, kalau sudah menikah sama kamu harus bercadar," tutur Raihanah dan Wafi langsung mendelik.
”Enggak mi, aku gak mau," Wafi menolak dan Raihanah kesal mendengarnya.
”Umi pokoknya udah punya calon buat kamu.” Raihanah bersikukuh.
”Aku gak mau umi, aku maunya Shafiyah,” suara Wafi serak dan Raihanah murka.
”Banyak gadis yang mau sama kamu, kita harus tahu diri. Keluarga Shafiyah bagaimana dan kita bagaimana, tolong nak. Berhenti dari kegilaan kamu ini, berhenti mengidam-idamkan anak orang kaya itu,” ujar Raihanah serak.
”Banyak gadis yang suka sama aku, tapi saat mereka tahu aku mantan napi, aku miskin, mereka semua menghina aku mi. Kita bisa memilih pendamping hidup, tapi mendapatkan pendamping yang memahami kita itu gak mudah. Aku cuma mau sama Shafiyah,” tegas Wafi dan Raihanah bergeser menjauh.
”Terus sekarang kamu mau gila-gilaan mengejar gadis itu Mu?" tanya Raihanah dan memandangi wajah tampan putranya itu.
"Iya,” singkat Wafi begitu yakin.
”Keterlaluan,” ucap Raihanah serak lalu menangis.” Umi sakit melihat kamu dihina terus, kamu disiksa, ibu mana yang bisa tahan. Tolong pahami umi, jangan gila dengan obsesi kamu itu." Raihanah menatap Wafi tajam dan Wafi menunduk, lalu wanita itu pergi ke kamarnya dan Afsheen sedih. Bayyin diam dan tidak mau ikut berdebat.
”Sudah puas bikin umi nangis?" ketus Afsheen dan Wafi langsung berdiri.
”Minggir!" titah Wafi, dia memilih menghindar daripada harus bertengkar dengan adiknya.
”Sudah aku bilang, kembalinya kamu kesini malah nambah masalah, gak bikin hidup kamu mengalami perubahan. Dan sekarang kamu bikin umi nangis, tega tahu gak kamu a.” Suara Afsheen berat dan dia menunjuk-nunjuk tepat di wajah kakaknya. Bayyin panik dan berusaha berdiri perlahan.
”Kalau kamu memang benci sama aku, kenapa kamu gak menganggap kakak kamu ini mati Daniyyah!" tegas Wafi dan Afsheen terdiam. Keduanya saling menatap tajam dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca.” Cukup, hargai aku sedikit saja.”
”Aku memang udah menganggap kamu mati, kamu sudah mati!" seru Afsheen dan Wafi mencengkram kedua bahu adiknya itu.
”Aa udah, asstaghfirullah.” Bayyin sudah menangis dan berusaha menarik tangan Gus Mu. Di kamar, Raihanah diam mendengarkan perdebatan kedua anaknya. Dia menoleh dan menatap foto suaminya di atas meja.
”Kalau kamu sudah menganggap kakak kamu ini mati, menikah lah Niyyah, tanpa aku. Terserah, aku gak perduli dan jangan harap aku datang ke pernikahan kamu. Aku sudah mati kan? kamu sangat membenci kakak kamu ini, berarti jangan pernah meminta bantuan aku,” tutur Wafi begitu lemah, tapi jelas dari tatapannya dia sangat marah kepada Afsheen. Bagai disambar petir, Afsheen terhuyung lemas dan Wafi melangkah pergi.
__ADS_1
”Aa, jangan begitu a.” Bayyin berseru dan Wafi melangkah cepat. Bayyin kini menoleh dan menatap Afsheen.” Sudah puas kamu Niyyah? aa gak mau jadi wali kamu, mau menikah macam apa tanpa wali? sekiranya kamu butuh, jaga lisan kamu Niyyah. Kamu udah keterlaluan, setiap saat kamu memusuhi kakak kamu sendiri. Andai Abi masih ada, betapa kecewanya dia karena anak nya paling kecil tumbuh menjadi seorang gadis arogan,” tutur Bayyin dan Afsheen terus menangis.
Wafi sedang dalam keadaan stress, dengan semua masalahnya. Tapi Niyyah terus mencari gara-gara, memancing dan terus menyindir sang kakak setiap saat. Siapa yang bisa tahan? seburuk apapun kehidupan orang lain, kita tidak berhak menghakimi. Dan jangan pernah menjadi sosok penghalang orang-orang yang mau berubah menjadi lebih baik. Hidup selalu usil dengan orang lain, tidak akan tenang.