
Sepanjang pengajaran, Khalisah terus memperhatikan Wafi. Ditegur Shafiyah pun dia tetap saja hilang kewarasan melihat pria itu. Benar kata orang, hampir serupa dengan almarhum, tapi yang ini lebih cool. Khalisah, gadis berumur 22 tahun, cantik menawan dan anggun, gamis berwarna dusty adalah favoritnya, kerudungnya selalu kerudung segiempat. Pipinya tirus, hidungnya mungil seperti buah jambu, dagunya lancip. Berlesung pipi dan dikenal pendiam, tapi lebih pendiam Shafiyah sepupunya. Semua orang istimewa dengan apa yang dimilikinya, semua orang memiliki kekurangan entah di fisik atau di perilakunya. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi bagi Khalisah, Wafi begitu luar biasa. Belum pernah ia melihat ketampanan dan aura mempesona dari pria lain, dia pertama kali melihat aura berbeda dari pria itu, tapi sayang. Gus Mu adalah mantan narapidana.
Wafi yang sadar diperhatikan terus bertahan, berusaha menahan agar tidak balik melirik gadis itu. Gadis yang menarik perhatiannya, Khalisah. Jantungnya berdegup kencang melihat gadis itu. Diam-diam, Shafiyah melirik keduanya bergantian.
”Jaga mata kamu Khalis,” ucap Shafiyah dan Khalisah menunduk. Usia keduanya jauh berbeda, tapi jauh lebih dewasa Shafiyah.
Setelah pengajaran selesai, semuanya bubar, Shafiyah diam menunggu Wafi keluar, dia mengenggam kertas dan ingin memberikannya karena untuk berbicara secara langsung dia tidak berani, Shafiyah yang melihat Wafi keluar mendadak gugup. Dia tidak sengaja melempar kertas di genggamannya dan membentur punggung pria itu.
”Astaghfirullah ya Allah, gak sengaja." Seru nya panik dan langsung kabur kocar-kacir menuju asrama. Wafi mengusap punggungnya, lalu dia berbalik badan mengedarkan pandangan, tidak ada orang, dia terdiam melihat kertas tergeletak. Lalu membungkuk mengambilnya. Itu pasti surat cinta santri atau santriwati, itulah isi pikiran Wafi. Surat menyurat bukan lagi hal yang tabu di lingkungan pesantren, surat cinta untuk kecengan, dan jika ketahuan, mendapat hukuman.
”Saya kembalikan jaketnya nanti, masih saya cuci." Tulis Shafiyah, Wafi mengernyit dan baru ingat dengan jaketnya, pasti gadis itu yang melempar punggungnya tadi. Dasar tidak sopan! tapi mau bagaimana lagi, Wafi malah bersyukur, karena hanya Shafiyah yang tak ragu mengakuinya sebagai anak dari gus Fashan. Shafiyah selalu memberikan hormat padanya, padahal dia tidak perlu seperti itu.
Sesampainya di rumah, Wafi bersiap untuk segera pergi, Raihanah menyiapkan makanan untuk putranya itu, perjalanan jauh, sudah malam dan sangat dingin.
”Pakai jaket, pakai helm."
”Aku bisa naik bus umi."
”Ini sudah malam nak, mana ada bus. Pakai motor saja."
"Kasihan Niyyah kalau kerja naik angkot,” ucap Wafi seraya melirik adiknya yang dia sebut itu sedang menonton televisi, dengan raut wajah begitu masam.
__ADS_1
”Tempat kerja Niyyah deket, beda sama kamu sayang. Pakai motor, jangan bekerja terus, sering-seringlah pulang. Umi kangen sama kamu a, kapan kamu menetap selamanya disini," suara Raihanah begitu serak, dia rapihkan kemeja putranya itu, lalu menarik resleting jaket tersebut perlahan-lahan. Seperti dulu dia selalu membantu suaminya dalam urusan pakaian, dan kini si wanita bermata biru miliknya hampir menangis, karena tersiksa dengan kerinduan padanya. Si dia yang tinggal dalam kenangan orang-orang yang menyayanginya.
”Iya umi, nanti aku akan sering pulang. Kemarin kan aku baru kerja, gak enak aja kalau terus pulang. Jaga diri baik-baik ya kalian bertiga disini, telepon aku kalau ada sesuatu. Aku masih di kota Bandung umi, aku bisa datang kapanpun kalau umi mau.” Wafi tersenyum manis, lalu mengais tangan kanan uminya, mencium telapak tangan dan punggung tangan keriput itu begitu lembut.
Raihanah menyeka air matanya, lalu mengusap kepala putranya lembut. Dia cium ubun-ubun puteranya itu, hal yang sering dilakukan almarhum.
”Aa beneran mau pergi?" tanya Bayyin yang berat melepas kakaknya kembali jauh.
”Iya, jaga diri baik-baik." Wafi mendekat lalu Bayyin memeluknya. Afsheen diam, hatinya sekeras batu, sama sekali tak ada rasa haru dengan situasi di sekitarnya saat ini. Seolah hidup dan matinya tidak memerlukan orang lain, orang yang memutus silaturahmi apalagi sebuah hubungan persaudaraan, adalah manusia yang merugi.
Wafi bisa saja balik membenci Afsheen, tapi dia tidak bisa seperti itu, bagaimana pun Niyyah, Niyyah tetap adik kecilnya, yang sangat dia cintai, dan dia sering gendong. Tubuh adiknya itu sekarang bongsor, mungkin dia akan kewalahan jika Niyyah meminta gendong sekarang. Tapi sepertinya, permintaan itu tidak akan Wafi dengar lagi.
” Hati-hati, jangan lupa sholat, tutup telinga, tutup mata. Hiraukan yang enggak penting, anak umi hebat-hebat, kuat, pintar, sholeh dan Sholehah,” ucap Raihanah berusaha menghibur lara hati yang sedang mendera puteranya. Wafi mengangguk dan tersenyum lebar, memperlihatkan jika ia mampu menjadi seperti yang uminya ucapkan. Raihanah tersenyum lalu mengantar wafi keluar bersama Bayyin.
”Aa jangan ngebut ngebut,” seru Bayyin dan Wafi mengangguk. Wafi memakai helm lalu naik ke atas motor matic itu. Motor sudah menyala, dia tatap umi dan adiknya lekat.
”Assalamu'alaikum." Seru nya lantang seraya mulai melajukan kendaraan.
”Wa'alaikumus Salaam." Jawab ketiganya, Raihanah diam, dan terus memperhatikan Wafi sampai keluar dari pintu gerbang pesantren. Lalu dia berbalik dan mengajak Bayyin masuk.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, Shafiyah sedang mencuci jaket milik Gus Mu. Dia merogoh saku jaket tersebut dan menemukan tasbih, Shafiyah terkejut dan membasuhnya, lalu menggantungnya. Agar air turun dari tasbih berwarna coklat itu.
”Gus Mu pasti nyariin, aduh gimana nanti ngembaliin nya. Malu banget, tembus di lihat cowok. Mana Gus lagi, ya ampun Fiyah." Seru Shafiyah sambil memukul keningnya sendiri. Lalu dia melanjutkan aktivitasnya, mencuci jaket tersebut, dan setelah selesai merendamnya dengan cairan pewangi favoritnya. Setelah cukup lama, Shafiyah menjemurnya dan menuliskan di kertas yang dia tempel di gantungan, agar santriwati yang lain jangan memindahkan gantungan baju tersebut karena itu milik orang yang harus dihormati.
”Fiyah," tegur Ima dan Shafiyah menoleh.” Kamu ngapain?”
”Enggak, ini aku lagi jemur pakaian,” jawab Shafiyah lalu meraih ember miliknya.
”Kok kayak kenal si,” ucap Ima memperhatikan jaket tersebut.
”Ini punya Gus Mu.”
"Apa? apa apa?” tiba-tiba Ima latah, mendengar temannya itu mencuci pakaian orang ganteng.
”Dia nyuruh kamu?” tuduh Ima sedikit sinis.
”Ya enggak lah, gak mau cerita pokoknya. Aku malu.” Shafiyah menunduk dan melangkah pergi, Ima penasaran dan menyusul.
”Cerita dong," rengek Ima.
”Ogah!" Shafiyah sedikit membentak lalu masuk ke kamar.
__ADS_1