
Setelah obrolan selesai, Wafi dan Herman kembali ke rumah. Shafiyah diam memperhatikan keduanya, nampak lebih akrab, dia merasa tenang karena sebelum melihat keduanya datang, dia begitu khawatir. Sementara Fajar terus menatap jam tangannya, dia harus segera kembali ke kantor polisi. Shafiyah terus menatap suaminya lekat, Wafi menaikkan kedua alis tebalnya dan Shafiyah menggeleng kepala.
”Ayah pulang ya,” ucap Herman pamit.
”Makan dulu yah, ayah bawa makanan banyak ngapain kalau gak makan?” lirih Shafiyah dan Herman menangkup pipi kiri putrinya itu.
”Buat kamu, dan buat semua orang,” tuturnya lembut dan Wafi tersenyum.
”Ayah, makasih,” imbuh Wafi dan Herman mengangguk.
”Kakak juga harus kerja lagi, jaga diri, kalau ada apa-apa telepon,”, ujar Fajar dan Shafiyah menyalami tangannya. Kini, tatapannya beralih kepada Wafi. Wafi membuang buka seketika, bukan dia tidak mau memaafkan Fajar, tapi luka dan sakit hati yang dia rasa terlalu dalam dan membekas, sampai mustahil rasanya untuk bisa lupa.” Mu, jagain Fiyah." Sambungnya meminta. Dan Wafi hanya mengangguk.
”Mumu, kalau udah lihat toko yang ayah maksud tadi, telepon aja,” ujar Herman dan Wafi terbelalak mendengarnya, pipinya langsung memerah dipanggil seperti itu oleh ayah mertuanya. Dia sangat malu, dan panggilan lucu dari uminya itu sudah tidak cocok lagi untuknya. Dia sudah dewasa, bisa dibilang sudah tua sekarang.
”Emmm iya,” ucap Wafi malu-malu. Shafiyah hanya tersenyum simpul melihat suaminya begitu.
Fajar dan Herman pun pergi, Raihanah mengantar sebatas di bibir pintu, lalu dia masuk kembali dan mendekati Fara. Sementara Wafi dan Shafiyah pergi ke lantai dua. Keduanya sudah di kamar saat ini.
”Neng, bobo sini neng." Ajak Wafi dan Shafiyah pasrah. Shafiyah merebahkan tubuhnya, dia diam saat gamisnya di tarik oleh Wafi, sampai pria itu bisa melihat perut kencang istrinya.
”Assalamu'alaikum sayang, belum di sapa abi dari tadi, abi sibuk, cari uang buat Dede sama umi,” ucap Wafi dan bibirnya menempel di perut Shafiyah.
”Wa'alaikumus Salaam abi, semangat cari uangnya." Shafiyah yang menjawab dan Wafi mendongak sambil tersenyum.
Pria itu kini menyenderkan punggungnya, Shafiyah bergeser dan bersandar di dadanya.” Nama anak kita siapa ya neng? kita belum cari nama yang bagus.”
”Harus cari nama cowok sama cewek kan bi?"
”Ya iyalah, kita cari nama terbaik, terbagus, semoga nama yang baik dan bagus menjadi doa untuk anak kita di setiap langkahnya.” Wafi tersenyum dan Shafiyah juga.
”Aamiin,” ucap gadis itu lalu diam saat kerudungnya di buka, di susul cadar dan Ciput nya. Wafi menyisir rambut istrinya itu, lalu mencium aromanya yang wangi semerbak.” Abi mau anak cewek atau cowok?”
”Maunya sih cowok yang.”
”Mending cewek, nanti dipakein kerudung, bando, di kuncir, pasti lucu.” Shafiyah begitu bersemangat.
”Ya anak laki-laki juga sama, dipakein baju Koko, peci, sarung, lucu banget.” Wafi tidak mau kalah, dan begitu antusias membayangkan anak laki-lakinya nanti, akan selesai apa.
”Kalau yang sekarang lahirnya cewek gimana?"
”Ya gak apa-apa, nanti bikin sama minta ke Allah anak laki-laki," tuturnya begitu enteng dan Shafiyah mencubit dada suaminya itu. Wafi meringis, pura-pura kesakitan dan Shafiyah pun berhenti.
”Hamil itu capek bi, apalagi kalau udah pusing, gak mudah tahu.”
”Itu keistimewaan seorang perempuan sayang, mendapatkan kodrat yang mulia. Sabar, jangan sampai pahala kamu berguguran karena mengeluh, harus ikhlas walaupun susah, jangan mengeluhkan rasanya, tapi pikirkan betapa beruntungnya kita diberikan momongan dalam waktu secepat ini, di luar sana banyak yang sudah menikah tapi Allah belum memberikan keturunan, itu ujian, ujian berat dan menyiksa batin,” tutur Wafi menegur secara halus dan Shafiyah diam sejenak. Sampai dia menekuk wajahnya dalam-dalam.
”Asstaghfirullah hal adzim," terus beristighfar sambil mengelus perutnya." Sehat-sehat ya nak, umi sama abi udah gak sabar mau lihat kamu,” imbuhnya kembali dan Wafi mengecup pipi Shafiyah, lalu di susul mengecup perutnya.
”Oh iya neng, tadi ayah nawarin toko, yang gak jauh dari kampus kamu, kamu tahu? yang dekat sekolah negeri."
__ADS_1
”Oh iya, itu gede a, kegedean, biaya sewanya mahal. Jelas aku tahu, aku sering diminta ayah ngambil uang sewa biasanya, satu toko emang kosong, udah beberapa bulan.”
”Ayah kamu rajin ya sayang, sudah sukses, masih mau usaha kecil-kecilan, nyewain toko sama ruko. Ini kerjaan yang sepele lah buat ukuran orang kaya seperti kalian,” ujarnya lirih, merasa tertampar atas ucapannya sendiri.
”Ayah pernah bilang, rezeki besar maupun kecil jangan ditolak. Uang sejuta aja gak bakal jadi sejuta kalau uang kecil kayak 20 ribu gak ada. Kata ayah berapa uang sewanya? kali aja dapet diskon, kan sama menantu sendiri hehe." Shafiyah terkekeh, dan Wafi yang merasa gemas menangkup kedua pipi cabi itu, mengecup kening, hidung dan bibir istrinya paling lama. Shafiyah diam, dan menggigit bibirnya setelah kecupan terlepas. Semakin lama, dia semakin sering merasakannya sentuhan lembut dari tangan kasar itu. Apalagi Wafi yang sekarang menghabiskan banyak waktu di rumah.
”Kata ayah gak usah bayar, aku juga bingung, aku udah maksa tadi tetep gak dikasih, tempati aja katanya terserah mau sampai kapan, tapi aku tetep gak enak yang.” Wafi mengadu, tanpa memberitahu apa yang diceritakan Herman padanya, itu semua adalah masalah di masa lalu. Shafiyah tidak perlu tahu, begitu juga dengan keluarganya yang lain, Wafi masih tidak menyangka, jika dulu dia pernah digendong oleh Sara dan sering bermain-main dengan Fajar. Dia tidak ingat, dia masih sangat kecil saat itu.
”Ya kalau ayah udah bilang begitu, terima aja. Kalau di tolak, ayah suka marah."
”Malu neng,” ucap Wafi berbisik.
”Ya gak apa-apa, kamu kan gak minta, orang ayah yang ngasih,ya terima aja. Manfaatkan dengan baik, jaga dengan baik, Alhamdulillah kita mau buka usaha, diberikan jalan sama Allah ya bi," tuturnya lemah lembut dan Wafi mendengarkan, di akhir ucapan istrinya, membuat Wafi tersenyum kagum.
”Iya sayang Alhamdulillah, do'ain ya, semoga lancar, laris dan berkah buat keluarga kita.”
”Iya bi, aamiin.” Shafiyah terus mengamininya dan Wafi kini mendekapnya hangat. Shafiyah terus bersandar di dada suaminya itu.
Sore harinya, Shafiyah sedang menyiram tanaman, ada seorang pria memakai seragam dengan atribut nama toko kosmetik nya Sara. Shafiyah diam dan mematikkan keran air.
”Assalamu'alaikum, punten.” Seru pria tersebut.
”Wa'alaikumus Salaam, ada apa ya kang?” tanya Shafiyah setelah menjawab salam.
”Titipan dari Bu Sara,” ujar pria sedikit gemulai itu dan menyodorkan paket tersebut dari luar pagar. Shafiyah menerimanya dan menatap bingkisan dari ibunya itu. Dan dia sudah bisa menebak isinya.
”Aku kangen sama ibu,” ucapnya serak lalu meraih hapenya di atas meja. Mencoba menelepon ibunya, satu kali, dua kali panggilan tak kunjung dijawab. Shafiyah berhenti dan takut membuat ibunya marah. Yang penting sekarang, dia tahu, kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah hilang walaupun bibir seorang ibu mengatakan, tidak ingin bertemu dan meminta untuk tidak datang.
********
Hari ini, toko yang dijanjikan Herman benar-benar diberikan kepada Wafi dan Shafiyah. Wafi membersihkannya, di bantu dua orang santri. Shafiyah duduk memperhatikan, dan terus mengelus perutnya.
”Bi boleh turun gak?" tanya Shafiyah, yang di dudukan oleh Wafi di atas meja, karena gadis itu tidak bisa diam dan terus bekerja, padahal jelas-jelas ia sedang hamil.
”Diem! kalau turun, aku antar pulang." Ancam Wafi dan Shafiyah mendelik sebal. Dua santri di antara mereka hanya terus tersenyum, merasa gemas sendiri dengan tingkah manja Shafiyah, dan Gus mereka yang ketus dan galak. Wafi tidak pernah menunjukan kepada semua orang, bagaimana perubahan sikapnya jika sedang bersama Shafiyah, berduaan. Dia malah sering cuek, jarang bicara dan cuma memegang tangan Shafiyah jika di keramaian.
Shafiyah mendesah kasar, dan diam tidak berbicara lagi. Tiba-tiba kedua matanya membulat, saat merasakan sesuatu di perutnya.
”Abi, abi perut Fiyah!" jerit Shafiyah dan Wafi tersentak.
”Astaghfirullah, kenapa Ning?" tanya salah satu santri. Wafi melangkah cepat dan mendekati istrinya.
”Sakit? sebelah mana? aku sudah bilang jangan ikut-ikutan, bandel banget si! kita ke rumah sakit sekarang.” Wafi panik, sudah hendak menggendong istrinya tapi Shafiyah malah tertawa.
”Aku gak apa-apa, perut aku gak sakit, anak kamu menendang-nendang, anak kita gerak-gerak bi, geli banget.” Shafiyah begitu antusias mengatakan semuanya, Wafi masih melongo dan kedua santri terkekeh-kekeh melihat wajah bingung sekaligus panik Gus Mu. Shafiyah memukul lengan suaminya itu dan Wafi tersadar dari lamunannya, Shafiyah meraih tangan Wafi, meletakkannya di perut tapi Wafi tidak bisa merasakan apapun. Dia akhirnya membungkuk, menempelkan telinga dan pipinya.
”Aaaaa! Masya Allah, lagi dek lagi.” Wafi begitu senang, dan mencium perut istrinya. Shafiyah tertawa-tawa sambil memegang bahu Wafi. Wafi terus tersenyum, dan diam merasakan gerakan bayinya di dalam sana. Dia semakin tidak sabar ingin melihat bayinya. Besok, Shafiyah akan melakukan USG, dia tidak sabar untuk hari esok.
Setelah cukup lama bergerak-gerak dan beberapa kali berhenti, bayi Shafiyah dan Wafi mulai tenang lagi, saat Wafi melantunkan shalawat di sebelah perut istrinya. Wafi mencium lagi dan lagi perut Shafiyah, dia tidak menyangka, terasa mimpi, bayinya bergerak-gerak, seolah-olah tahu dia mendekat dan mengelusnya.
__ADS_1
”Udah,” kata Shafiyah. Dia tarik bahu suaminya itu dan Wafi mengenggam tangan istrinya erat.
”Baru sekarang?”
”Kemarin-kemarin aku juga ngerasain, tapi gerakan yang barusan, lincah banget. Aku gak sabar buat besok bi.”
”Habis dari sini kita pulang, kamu harus istirahat,” ujar Wafi dan melepaskan genggaman tangannya, dia kecup mesra kening Shafiyah dan Shafiyah tersenyum manis.” Aku bereskan semuanya, kamu diam, mau apa-apa bilang." Tegasnya melanjutkan.
”Iya bawel." Shafiyah mencibirnya dan Wafi tersenyum tipis. Wafi pun bergegas melanjutkan pekerjaannya, agar bisa segera pulang.
Setelah toko selesai dibersihkan, papan nama toko kue tersebut di pegang oleh Wafi dan santri yang bernama Hanan. Satunya lagi menyodorkan baut.
”Bi, kurang ke kiri!" seru Shafiyah memberikan arahan. Wafi dan Hanan menggeser papan nama toko perlahan.
”Sudah belum?” seru Wafi.
”Iya, sudah. Pas di situ, jangan di geser lagi." Shafiyah menikmati.
”Pegang, biar saya." Pinta Wafi.
"Iya Gus.” Hanan menjawab.
Shafiyah diam memperhatikan, sampai akhirnya benda itu terpasang sempurna. Wafi dan Hanan turun bergantian. Ketiga lelaki itu mundur menjauh untuk melihat nama toko yang baru dipasang. Dengan nama Matjar HH(Habibi dan Habibah). Toko tersebut cukup besar, Shafiyah dan Wafi sudah bersiap untuk menjual minuman juga di toko, toko dengan lantai dua, di tengah-tengah Wafi menghalangi ruangan belakang dengan triplek yang di cat, dan dilukis nama toko kue nya. Di seberang ada masjid, itu juga yang membuat Wafi senang. Wafi dan Shafiyah memperkerjakan Hanan dan Rudi.
”Alhamdulillah beres,” ucap Wafi.
”Barang-barang nya kapan dipindah kesini Gus?" tanya Rudi.
”In sha Allah besok sore, pagi nya saya ada kerjaan,” jawab Wafi. Dan keduanya menganggukkan kepala. Setelah itu, Hanan dan Rudi kembali ke pesantren duluan, Shafiyah dan Wafi masih di toko. Shafiyah merasa sedikit mual mencium aroma cat. Padahal itu tidak menyengat, seperti beberapa hari yang lalu, dia sensitif dengan bau, suaminya saja tidak diizinkan memakai parfum.
”Ayo ke atas." Ajak Wafi dan Shafiyah mengikutinya, baru setengah tangga, Wafi berbalik dan menggendong istrinya itu.
”Takut jatuh,” ucap Shafiyah dan berpegangan kuat pada tengkuk suaminya. Wafi tersenyum dan setelah sampai di lantai dua, dia menurunkan Shafiyah. Shafiyah melangkah ke dekat jendela, lantai dua bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang, ataupun istirahat.
”Kita beli kasur ya nanti, yang kecil aja, kalau abi capek, abi bisa tidur. Tikar juga perlu kan, kasur lantai mungkin, karyawan kita pasti juga butuh istirahat,” tutur Shafiyah tanpa menoleh dan Wafi memeluknya dari belakang.
”Bawel banget si bumil,” berbisik serak dan Shafiyah bergidik geli mendengarnya, apalagi saat bibir itu sengaja ditempelkan di telinganya, yang terhalang dua kain. Tapi rasanya tetap saja membuat merinding.
”Kapan mau buat kue lagi? Fiyah gak sabar pengen cobain, jadi yang pertama," ucap gadis itu begitu riang.
”Nanti, sekarang mah capek. Suka kue kering gak?"
”Kue yang kayak gimana pun Fiyah suka, apalagi kalau abi yang buat,” ucapnya sambil berbalik dan Wafi tersenyum. Keduanya saling menatap lekat dan Wafi mencondongkan kepalanya, mengecup bibir terhalang itu dan Shafiyah tersenyum.
”Aku buatin yang spesial nanti, khusus buat kamu."
”Buat umi?"
”Iya buat umi juga. Sekarang kita pulang, kamu harus istirahat.” Ajak Wafi seraya merangkul pinggang istrinya itu, keduanya pun meninggalkan lantai dua, dan setelah itu meninggalkan toko setelah toko di tutup rapat dan dikunci.
__ADS_1