
Wafi dan Shafiyah keluar dari rumah sakit, keduanya nampak murung setelah melihat hasil USG. Wafi perlahan-lahan menoleh, menatap sorot mata Shafiyah yang terlihat khawatir, dia raih jemari istrinya itu dan Shafiyah menoleh. Keduanya sudah berada di parkiran, di sebelah mobil.
”Jangan khawatir sayang, rezeki semua manusia sudah diberikan jatah masing-masing oleh Allah. Aku masih bertanggungjawab, apa yang bikin kamu murung begini? gak apa-apa anak kita kembar, Alhamdulillah kita harus bersyukur sayang," tutur Wafi seraya mengusap pucuk kepala istrinya.
”Usaha aja baru dimulai, kita gak punya tabungan buat dua bayi a. Aku juga jadi gak yakin bisa lahiran normal, bayi kembar, anak kita,” ucap Shafiyah serak lalu melepaskan genggaman tangan Wafi, dan dia memijat keningnya frustasi. Dia khawatir, takut dan tidak percaya diri bisa mengurus dia bayi sekaligus.
”Yang, jangan ngomong begitu, kamu harus yakin kamu bisa. Bibi Fara aja punya anak kembar, lahiran normal, semua orang bisa, ini amanah luar biasa buat kita. Allah maha kaya, aku akan berusaha, dan diiringi doa, jangan begitu dan memikirkan semuanya menjadi rumit. Itu akan menjadi sulit sayang.” Wafi terus mencoba menyemangati, wajar Shafiyah khawatir, dia juga begitu, tapi dia harus bisa menenangkan istrinya sebagai seorang suami dan seorang ayah sebentar lagi.
”Semoga semuanya lancar ya bi," ucap Shafiyah berat.
”Aamiin, kita pulang ya, atau mau beli apa dulu?"
”Langsung pulang aja.” Singkat nya sambil menarik pintu mobil dan Wafi menahan pintu mobil, saat Shafiyah masuk. Shafiyah nampak benar-benar cemas, bukan ia tidak senang, tapi rasa khawatirnya tidak mampu dia sembunyikan.
********
Malam ini, cuaca begitu dingin, Wafi dan Shafiyah sedang duduk dan bersandar, kaki mereka berbalut selimut yang sama. Keduanya sedang melihat-lihat sebuah foto album keluarga, Shafiyah terperangah melihat foto suaminya saat kecil, begitu lucu, tampan dan mimik wajah juteknya memang sudah dari kecil ternyata, sudah mendarah daging.
”Ini Bayyin sama Niyyah." Tunjuk Wafi dengan jarinya dan Shafiyah tersenyum.
”Lucu, teh Niyyah kelihatannya aktif banget ya bi.”
”Dia centil dari dulu, galak, agak tomboi, waktu sekolah apalagi. Gak ada cowok yang berani deketin dia walaupun cantik.”
”Masa sih begitu?"
”Iya, orang yang tahu gimana umi dulu, katanya Niyyah kayak umi. Bibi Faiza yang paling sering cerita, soalnya sebelum nikah sama abi, umi sama bibi Faiza sahabatan.” Wafi menjelaskan sambil tersenyum, dan Shafiyah juga. Dia menarik lembaran foto album kembali, dan banyak foto Raihanah dan Fashan.
”Ini abi kenapa nangis?" tunjuk Shafiyah, saat melihat foto Wafi dengan wajah merah dan air mata.
”Aku habis di sunat itu, jangan dilihat. Malu.” Wafi langsung menutup foto tersebut dengan halaman yang lain. Shafiyah terkekeh-kekeh melihat nya.
”Nanti kalau kamu macam-macam, aku sunat buat yang kedua kalinya,” tuturnya mengancam dan Wafi tersenyum simpul.
”Jangan dong entar habis, kamu sendiri yang repot." Wafi tersenyum simpul dan Shafiyah mengerucutkan bibirnya. Setelah selesai melihat-lihat foto, Wafi melirik jam dinding. Shafiyah meraih hapenya dan dia mendapatkan pesan dari beberapa teman kampusnya, mereka mencoba kue kering yang dibuat Wafi, gratis kemarin. Dan sekarang banyak yang memesan kue, dengan rasa yang berbeda, dan ukuran toples yang berbeda. Untuk ukuran kecil harganya 35ribu, yang sedang 55 dan yang paling besar 70rb. Shafiyah meraih buku kecil, menuliskan di sana kue yang harus dibuat suaminya.
”Pekerjaan abi banyak,” ucap gadis itu dan memberikan kertas pada Wafi. Wafi melihatnya, sekitar 37 toples. Wafi terdiam dan kedua matanya membulat.
”Banyak banget," lirih pria itu dan Shafiyah tersenyum.
”Mereka suka, Alhamdulillah. Mereka juga udah nanyain kapan toko buka,” imbuh Shafiyah lalu mengecup pipi suaminya lembut dan Wafi membalasnya cepat. Di kening.
” Alhamdulillah, makasih udah bantuin aku sayang, jujur sebenarnya aku gak tega.”
__ADS_1
”Aku cuma bantu promosi, buat kue kering kita jualan juga di aplikasi jualan online, kita saling bantu karena emang seharusnya begitu. Makasih, sudah memberikan kami rezeki yang baik, walaupun abi harus ngerasain capek yang luar biasa,” ujarnya sambil menyentuh perutnya, lalu Wafi meletakkan tangannya di punggung tangan istrinya.
”Aku sayang banget sama kamu, perempuan terbaik, rezeki yang paling luar biasa yang pernah aku dapat yaitu kamu Habibah, rezeki, titipan dan anugerah terindah dari Allah SWT,” tuturnya serak, lalu mengecup seluruh wajah istrinya tanpa sekat, begitu lembut dan Shafiyah tersenyum tipis. Tidak mudah hidup dengan pria seperti Wafi, yang kehidupannya yang diberikan kepada semua anak didik dan pesantren, hidup sederhana yang sangat disyukuri dan dinikmati Shafiyah. Suaminya bukan pengangguran, tapi suaminya sedang berjuang dalam berniaga, sebuah pekerjaan yang in sha Allah sangat baik jika kita melakukannya dengan penuh kejujuran. Toko sudah banyak diincar para pembeli, khususnya pelanggan setia sejak dulu, mereka senang keluarga pak kyai akan membuka toko dan berjualan kue lagi. Tak henti-hentinya Shafiyah dan Wafi melakukan promosi, ikhtiar dan doa. Shafiyah juga melihat suaminya semakin sehat, tidak nampak lelah dan stress seperti bekerja di perusahaan. Karena Wafi menikmati pekerjaannya sekarang, walaupun hasil tak menentu, untung rugi yang akan dia alami. Sebuah resiko seorang pedagang dan Wafi sudah siap, dan berserah diri apapun yang terjadi pada kehidupannya.
”Jangan berubah ya, cintai aku, sayangi aku seperti sekarang, jangan pernah lupa perjuangan kita kalau kamu udah sukses nanti,” ujar Shafiyah dan Wafi mengangguk, lalu memeluk istrinya perlahan-lahan.
********
Pagi ini, Bayyin dan Musa dikejutkan dengan penuturan dokter. Ya! keduanya sedang berada di salah satu rumah sakit, untuk memeriksakan kondisi Bayyin yang akhir-akhir ini sering mengalami gejala-gejala hamil tapi Bayyin tidak menyadarinya.
”Apa ini beneran dokter? istri saya hamil?" tanya Musa memastikan.
”Iya, perkiraan sudah sekitar 4 mingguan, tolong di jaga ya Bu, pak," ucap dokter dan keduanya mengangguk. Kini, Musa menoleh kepada Bayyin di sebelahnya, meraih tangan istrinya itu lembut.
”Alhamdulillah,” ujar Musa dan Bayyin tersenyum.
”Aku bakal jagain calon anak kita dengan baik, jagain kami ya." Bayyin berbisik dan Musa mengangguk.
”Umi pasti seneng, aku hamil, dan Fiyah lagi hamil juga." Gumam Bayyin dan terus tersenyum.
Di rumah, Wafi sedang menelepon Afsheen. Tangan kanannya memegang hape, dan tangan kirinya mengelus rambut Shafiyah, gadis itu berbaring dengan bantalan pahanya.
”Aku nanti telepon Bayyin, ya kamu emang sibuk tapi jangan lupain umi dong. Umi itu sedih terus, anak-anaknya gak ada yang datang, datang cuma sebentar, bilang sama Salam kalau dia gak ngerti juga, kita punya orang tua cuma tinggal umi. Sesibuk apapun, sempetin datang, apalagi kalau libur, apa salahnya sih nginep, atau satu jam dua jam disini, temenin umi, umi emang gak ngomong tapi aku paham Niyyah.” Seru Wafi begitu emosi. Shafiyah kaget dan mendongak menatapnya, Wafi menunduk dan tersenyum manis agar istrinya itu tidak takut mendengar kemurkaannya barisan.
”Ya udah kalau begitu, jangan sampai lupa. Bukan makanan yang umi mau, tapi kalian semua." Tegas Wafi.
"Iya a, iya,” lirih Afsheen takut dan Shafiyah tersenyum mendengar suara Afsheen walaupun sangat pelan.
”Aku tunggu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus Salaam.”
Panggilan akhirnya berakhir dan Wafi meletakkan hapenya.
”Kenapa marah-marah?" tanya Shafiyah dan Wafi meliriknya.
”Siapa yang marah neng,” ia membantah.
”Tadi aa marah," tuding Shafiyah dan Wafi tersenyum.
”Enggak marah, cuma ngajak Niyyah ngomong doang."
”Iya tapi ngomongnya keras, gak boleh begitu.” Tegurnya tegas dan Wafi mengangguk, lalu menangkup kedua pipi istrinya.
__ADS_1
”Enggak akan aku ulangi,” ucap Wafi dan Shafiyah menatapnya tidak yakin.
”Mu, Mumu!" panggil Raihanah dari lantai satu, memanggil sambil berteriak-teriak panik. Shafiyah langsung bangkit dari pangkuan suaminya, Wafi berdiri dan lekas turun, sementara Shafiyah turun perlahan-lahan.
”Umi kenapa?” tanya Wafi. Di tangga, Shafiyah berbalik dan naik lagi saat melihat Chairil, dan dia dalam keadaan tidak memakai cadarnya.
”Itu Khalisah mau lahiran, anterin Khalisah sama Chairil,” ucap Raihanah dan Wafi melirik Chairil.
”Khalis mau lahiran, anterin Mu. Aku bingung harus minta tolong siapa, jarang yang punya mobil disini, yang punya juga pada pergi,” kata Chairil dan Wafi mengangguk.
”Aku ambil peci dulu, nanti aku nyusul ke rumah," katanya dan Chairil mengangguk. Chairil pergi dan Raihanah memperhatikan pria yang sedang tegang tidak karuan itu. Suami mana yang bisa tenang, melihat istrinya meringis kesakitan, akan berjuang untuk melahirkan anaknya. Sesampainya kembali di rumah, Chairil melihat Khalisah sedang terisak-isak, mondar-mandir sambil berkacak pinggang. Berusaha memberikan ruang untuk bayinya yang akan keluar. Rasa sakit yang luar biasa, belum pernah ia rasakan sebelumnya, Khalisah tak sanggup menahan tangis. Sekujur tubuhnya ngilu, perih, pegal, terasa akan lepas satu-persatu, entah sudah pembukaan berapa dia saat ini. Yang pasti, Khalisah sudah merasakannya sedari pagi. Dan sekarang rasanya semakin luar biasa menyiksa sekujur tubuhnya.
”Sakit!” jerit gadis itu dan memegang perut bagian bawahnya. Chairil merangkul bahunya lembut dan mengajak Khalisah keluar.
”Wafi sebentar lagi kesini, kita segera ke rumah sakit, sabar ya.” Bisik Chairil di telinga Khalisah, lalu dia cium kepala istrinya itu terus-menerus, sampai akhirnya dia membantu Khalisah duduk dan mobil Wafi pun akhirnya datang. Terlihat juga Shafiyah yang ikut, tak sempat berganti pakaian, dan dia diminta ikut oleh Raihanah. Wafi dan Shafiyah turun, Chairil memapah Khalisah menuju masuk dan masuk perlahan-lahan. Wafi memasukkan tas perlengkapan bayi, pakaian Khalisah dan yang lainnya ke bagasi. Melihat Khalisah kesakitan seperti itu, Shafiyah tidak tega dan jadi takut menghadapi hari nanti, saat dia melahirkan kedua bayinya.
”Istighfar banyak-banyak Khalis, sabar.” Shafiyah berseru dari depan. Dan Wafi melajukan mobilnya.
”Sakit Sha, aku gak kuat hiks!"
”Jangan bilang begitu, jangan ngomong sembarangan, istighfar, inget Allah." Seru Wafi dan Khalisah diam.
”Istighfar neng, sabar," ucap Chairil berusaha menenangkan Khalisah.
”Para lelaki emang bisanya memandang semuanya gampang, dikira gak sakit ngerasain pembukaan!" seru Khalisah kesal, dengan suara berat dan menangis. Tidak suka mendengar ucapan Wafi. Shafiyah langsung melirik suaminya, mengusap-usap paha suaminya agar tidak terpancing ocehan Khalisah.
”Malu, diem neng.” Bisik Chairil dan Khalisah terus menangis.
******
Di rumah sakit, Sara sedang berbaring dengan tubuh yang lemah, dia meringis saat jarum infusan menusuk punggung tangannya. Anaknya sendiri yang melakukannya, Adi.
”Apa ini serius?" tanya Qais.
”Cuma kecapean, banyak pikiran. Ibu lagi mikirin apa sebenarnya?" ucap Adi dan Sara diam.” Di rawat dulu, sampai benar-benar pulih, baru bisa pulang.”
”Apa gak bisa minum obat aja?" tanya Sara ketus.
”Udah dijelasin beberapa kali, gak ngerti ngerti juga ibu mah. Gak bisa, harus istirahat, mending gini daripada minum obat, ujung-ujungnya gak diminum,” tutur Adi kesal dan Sara terdiam dengan ekspresi muka masam.
********
...”Suamiku tidak sempurna, tidak berharta, tapi caranya memperlakukan ibunya begitu luar biasa, pria yang memperlakukan ibunya dengan baik, menghormati perempuan disekitar nya dengan abai, itu sangat sempurna untukku.”...
__ADS_1
Habibah❇️