Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 48: Berontak


__ADS_3

Shafiyah terus menunduk, dan akhirnya Wafi selesai menyanyikan lagu cinta sarat makna tersebut. Semua orang bertepuk tangan penuh suka cita, tapi Shafiyah hanya membuat tepukan kecil. Dia berpaling saat Wafi menoleh ke arahnya, pria kembali duduk dan teman-temannya terus tertawa.


”Berani banget kamu Wafi,” ucap Mail begitu bangga.


Shafiyah tersenyum dibalik cadarnya. Wafi meraih hapenya yang bergetar, pesan masuk dari uminya, meminta ia pulang. Wafi mengedarkan pandangannya, dia melambaikan tangan kepada pegawai resto untuk membayar semuanya.


”Cepet amat Mu,” ucap Radit.


”Kalau ada waktu kita makan-makan lagi,” ucap Wafi dan teman-temannya mengangguk.


”Hati-hati deh lu ya,” ujar Mail dan Wafi mengangguk. Shafiyah sedih karena pria itu nampak akan pergi meninggalkan restoran, Shafiyah memperhatikan Wafi sejenak. Dan akhirnya pria itupun pergi.


”Cie Shafiyah,” ucap Nur dan Shafiyah hanya tersenyum.


Di tempat lain, di mall. Tepatnya di toko kosmetik mimik Sara, Sara datang saat mendengar anaknya tidak diizinkan untuk mengambil kosmetik yang dia mau, bahkan terus dipertanyakan keasliannya sebagai Shafiyah.


”Saya minta maaf Bu,” ucap wanita gemuk itu.


”Anak saya itu jarang kesini, kamu malah ngusir dia secara tidak langsung, tahu!!” bentak Sara dan karyawannya itu menciut ketakutan. Tatapan mata Sara begitu tajam, dia memaki dan berteriak-teriak. Karyawan yang lain hanya diam, tidak bisa melakukan apa-apa.


*******


Wafi mengantarkan uminya ke rumah Afsheen. Raihanah ingin menginap di rumah putrinya malam ini, Wafi duduk di teras rumah adiknya itu sambil memperhatikan setiap kendaraan yang lalu lalang. Dia usap wajahnya kasar dan tidak memperhatikan para gadis yang memperhatikannya. Pernikahan Bayyin sebentar lagi, sementara Shafiyah dan Wafi semakin tidak ada kejelasan. Wafi terakhir kali melihat gadis itu di restoran, entah bagaimana kabarnya sekarang.


”Mumu, mau jajan? diem terus dari tadi” tanya Raihanah dan Wafi menoleh.


”Umi, aku udah gede. Jangan manggil aku begitu terus, kayak nawarin anak kecil aja,” tutur Wafi protes dan Raihanah tersenyum. Wanita itu duduk dan Wafi diam, dia meraih hapenya yang bergetar. Pesan masuk dari seseorang yang dia tunggu-tunggu, Wafi membuka chat masuk tersebut sambil tersenyum.


”Assalamu'alaikum jelek, jadi gak? lanjut ke pelaminannya sama Fiyah😶?” chat dari Habibah.


Wafi sampai berdiri, memperhatikan pesan tersebut dengan seksama. Raihanah kebingungan melihatnya.


”Kamu kenapa?” tanya Raihanah.


”Alhamdulillah, Alhamdulillah.” Seru Wafi terus-menerus sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Bibirnya tersenyum kembali dan Raihanah menarik bajunya agar putranya itu duduk.


” Wa'alaikumus Salaam, hayu gas😎. Jangan marah-marah lagi ya." Balas Wafi sambil cengengesan.


”Mumu, kamu kenapa si?” ketus Raihanah dan Wafi menggeleng kepala.


”Fiyah mau aku perjuangin lagi umi, umi dukung gak? langkah aku tanpa dukungan umi akan sia-sia, umi mau gak do'ain aku?” tutur Wafi sambil meraih kedua tangan Raihanah.” Mumu sayang sama umi, cuma tolong anak umi ini butuh doa dari uminya supaya semua yang dia cita-citakan terwujud. Doa orang tua itu penting,” sambungnya lirih dan Raihanah menatap kedua mata putranya itu. Yang awalnya selalu sedih, kini terlihat berbinar-binar karena kabar dari Shafiyah.


Raihanah membalas genggaman tangan putranya itu dan Wafi memperhatikannya.” Umi do'ain, umi dukung. Semoga Allah meluluhkan hati mereka, keluarganya, agar bisa menerima kamu. Sesukses apapun kamu nak, mantan napi akan tetap dipandang seperti itu. Bukan hanya pria kaya yang keluarga Shafiyah mau, tapi pria yang namanya bersih dari kasus. Sabar ya, semoga kamu sukses dan bisa meminang Shafiyah. Kita berdoa sama-sama, kalau nanti ayah atau ibu Shafiyah setuju. Jangan ada ta'aruf lagi, lamaran dan langsung menikah. Kalian sudah terlalu sering bertemu, mengundang Fitnah dan zina. Semoga Allah melancarkan semua kemauan kamu, umi dengan sepenuh hati mendukung, jangan khawatir ya,’ ujar Raihanah sambil tersenyum lebar dibalik niqob nya.


Wafi tersenyum lebar, merasa bahagia karena mendapatkan dukungan dan doa dari ibunya.


Malam hari pun tiba. Shafiyah menelepon Wafi untuk memberi kabar, tentang persetujuan dari kakaknya Fajar. Wafi berdiri di balkon, menatap gelapnya malam.


”Kak Fajar dukung kita, dia ngomong sama Fiyah,” ujar Shafiyah dan Wafi terdiam. Apa itu benar? pria menyebalkan, kasar dan buas itu memberikan restu kepada mantan napi untuk mendapatkan adik perempuan satu-satunya? Wafi ragu.


”Bener?”


”Iya,” jawab Shafiyah sambil tersenyum.” Aa kerja dimana sekarang?"


”Di kantornya om Noah, adik.... Eh, kakaknya umi maksudnya. Do'ain ya, jujur saya kurang paham. Masih perlu belajar banyak.”


”Semangat ya,” ucap gadis itu begitu riang.


”Jangan blokir lagi nomor saya.”


Shafiyah tersenyum simpul mendengarnya.” Kalau aa bandel nanti Fiyah blokir lagi, kenapa gak jadi ke luar negeri?”


”Umi gak ngasih izin, kamu juga enggak. Saya bisa apa kalau udah begitu.” Wafi tersenyum dan Shafiyah juga tersenyum.” Oh iya, gimana penilaian kamu?”


”Soal?”


”Soal kejadian di restoran.”


”Bikin malu tahu, Fiyah malu. Diledekin sampai sekarang. Mana videonya viral lagi.”

__ADS_1


”Dih, kan saya gak bilang itu kamu.”


”Oh gitu ya, nyebelin."


Wafi tertawa renyah mendengar gadis itu marah." Saya cuma nyebut inisial nama kamu aja kan, kenapa harus malu. Mereka gak akan tahu.”


”Teman-teman Fiyah kan tahu itu Fiyah, terus di media sosial. Videonya di tag tag ke Fiyah tahu. Malu ih.”


”Di kantor juga banyak yang bahas ini, gak apa-apa lah. Malah bagus, gak akan ada cewek yang godain saya.”


”Tetep aja, pelakor gak pandang bulu," ucap gadis itu pelan, dan sangat ketus. Tapi Wafi tidak mendengarnya.


”Apa? saya gak dengar.”


”Enggak.” Shafiyah tersenyum.


Wafi cemberut dan melirik jam dj dinding.” Tidur ya, udah malam.”


”Iya, a Wafi juga. Assalamualaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam.” Wafi menjawab sambil tersenyum, lalu Shafiyah mematikkan panggilan. Wafi terdiam saat melihat chat masuk dari Sara.


”Kapan kamu pergi ke luar negeri? saya gak butuh kamu sebenernya, tapi karena kamu mau memperjuangkan Shafiyah, saya menghargai itu sedikit.” Isi pesan dari Sara begitu murka. Karena Wafi tak kunjung pergi, kedua alis tebal Wafi mengkerut, dia mengetikan beberapa kata..


”Besok," singkatnya membalas. Sara sangat ingin dia pergi, tapi sampai kapanpun dia tidak akan pergi. Sara di seberang sana merasa lega, dan pernikahan Shafiyah dengan Farel sudah diatur sedemikian rupa. Dan besok, adalah hari pertunangan.


*****


Keesokan harinya, Wafi berangkat bekerja seperti biasa. Dia berhenti di tepi jalan, di depan sebuah gedung pasar modern yang sedang di bangun. Wafi memperhatikan para pekerja, jika dia menjadi kontraktor, dia jadi akan mempekerjakan teman-temannya yang mantan napi, yang kesusahan mendapatkan pekerjaan. Wafi jelas tahu rasanya seperti apa, dia sedih mendengar teman-temannya mengadu kerena di ejek, dihina dan diasingkan. Dia bahkan mendapatkan perlakuan buruk lebih dari itu.


Wafi melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi, menunggu tempat tersebut untuk segera pulang.


Di tempat lain, di kampus. Shafiyah sedang berjalan sendirian. Untuk segera pulang dan dia sangat lelah saat ini. Shafiyah berbalik badan, berlari kecil saat melihat Farel tapi Farel mengejarnya.


”Mau kemana kamu?” tegas Farel dan menarik lengan gadis itu. Shafiyah tersentak dan menepisnya kasar.


”Jangan pegang saya sembarangan!" bentak Shafiyah, dengan penuh kemurkaan dan kedua matanya berair. Gadis mana yang tidak takut, disentuh pria seperti Farel. Yang tertutup saja tidak bisa pria itu hormati, apalagi yang buka-bukaan.


”Enggak mau!” tolak Shafiyah tandas.


”Tolak aku terus Shafiyah, sebentar lagi kita menikah.” Seru Farel sambil menyeringai lebar, seolah-olah dia yakin dengan ucapannya dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Jangan harap, saya gak mau nikah sama kamu. Kenapa harus saya? saya capek kamu kejar terus, tolong cukup Farel.” Shafiyah begitu frustasi mengucap permintaannya. Dia sama saja dengan membuat pria itu senang, semakin di tolak semakin bertindak.


”Karena aku maunya kamu Shafiyah, kita akan menikah, dan kamu gak akan pernah bisa kabur. Kita tunangan malam ini,” tegas Farel dan kedua mata Shafiyah membulat.


”Enggak, jangan harap itu terjadi Farel. Saya gak mau.”


Farel tiba-tiba mengeluarkan hapenya, memperlihatkan foto Shafiyah di layar hapenya itu.” Aku bahkan sudah dapat foto kamu, kamu kira aku bakal lepasin kamu hah?”


Air mata Shafiyah bercucuran, melihat fotonya tanpa cadar didapatkan pria itu. Apa dari ibunya? betapa hancurnya dia saat ini, yang berusaha menjaga rasa malu dan harga dirinya.


”Hapus,” ucap Shafiyah berat.


"Enggak,” tolak Farel wajah bengis.


”Hapus aku bilang!” jerit Shafiyah murka dan Farel panik, orang-orang disekitar memperhatikannya penuh curiga.” Hapus, tolong.”


”Ibu kamu yang ngasih, aku gak maksa. Tapi ini udah jadi milik aku, dan secepatnya kamu seutuhnya.” Farel berbisik dan Shafiyah mengusap air matanya, gadis itu langsung berlari meninggalkan tempatnya berdiri. Dia pulang menggunakan taksi, dia tidak mau semua yang diucapkan Farel menjadi nyata.


Sepanjang perjalanan, Shafiyah nampak gelisah. Setibanya di rumah Fajar, benar saja. Rumah begitu ramai dengan orang-orang, dekorasi rumah yang dihias dengan apik untuk pertunangan. Shafiyah masuk perlahan, dengan kedua mata sembab dan memperhatikan sekitar. Ada namanya dan nama Farel di sebuah papan berwarna putih, dan di pinggirnya dihiasi bunga-bunga mawar putih. Apa ini? dia terus bergumam, bertanya-tanya apa yang terjadi di rumah kakaknya. Fajar tidak bisa melakukan apa-apa, dia bahkan di tampar oleh ibunya karena berani menentang.


”Shafiyah udah pulang,” seru Ena. Istrinya Adi. Fajar menoleh bersamaan dengan Meri, Sara tersenyum dan mendekati Shafiyah.


”Apa ini ibu?” lirih Shafiyah bertahan.


”Kamu akan tunangan sama Farel malam ini, istirahat. Perias yang akan membantu kamu sudah menunggu.” Sara tersenyum, menggerakkan tangannya dan meraih tangan Shafiyah. Dengan kasar, Shafiyah menepis tangan ibunya.


”Aku gak mau, aku mau pergi aja hiks!” tangis Shafiyah pecah, menyangkut kehidupannya, masa depannya, ibunya sama sekali tidak bertanya dia mau atau tidak, dan memberikan kesempatan untuknya melakukan apa yang dia inginkan atas kemauannya sendiri. Sara menarik tangan Shafiyah kasar, mencengkram kedua bahu putrinya itu, lalu menatapnya tajam.

__ADS_1


”Di sini banyak orang, jangan bikin malu ibu.” Tegas Sara dan mengeratkan cengkeramannya, gadis itu diam dan menatap wajah ibunya lekat.


”Aku gak mau Bu, aku gak mau menikah sama Farel. Dia jahat, berusaha melecehkan aku berulang kali, tapi ibu menutup mata? ibu gak sayang sama aku.” Dengan air mata yang terus menetes, Shafiyah berucap lirih.


"Ibu sayang sama kamu, apalagi kamu anak perempuan satu-satunya. Nurut sayang, jangan bikin ibu malu.” Bisik Sara sambil mengelus pipi Shafiyah, Shafiyah mundur, menepis tangan ibunya kasar.


”Aku memang anak perempuan satu-satunya, ibu sayang sama aku. kapan aku gak nurut, aku masuk pesantren walaupun gak mau, aku sekolah di sekolah yang gak aku mau, aku kuliah di jurusan yang aku gak suka, aku gak boleh ini dan itu, dari kecil terus di kekang, ada perbedaan jelas antara sayang dan kekangan. Aku capek Bu, aku capek. aku gak mau menikah sama laki-laki yang ibu pilih, aku gak suka aku gak cinta.” Suara Shafiyah meninggi, dia menatap ibunya di hadapannya penuh amarah. Siapa yang bisa hidup dengan pria yang tidak dicinta? dia tidak tahan lagi, menahan dan mengenggam keluh kesahnya.


Sara meradang mendengar penolakan putrinya, apa salahnya dengan Farel? pria itu kaya, tampan dan mapan. Jauh berbeda dengan Wafi, hidup putrinya akan jauh lebih bahagia dari sekarang.


”Jangan bicara omong kosong, pernikahan akan segera di urus. Kamu akan diperlakukan seperti seorang ratu di keluarga itu, mereka kaya, kamu akan bahagia." Sara terus membujuk agar Shafiyah tidak berulah.


”Enggak semua kebahagiaan bergantung dengan uang dan uang. Aku bahagia? ibu kira aku bahagia hidup dengan semua peraturan gila di keluarga ini?”


”Shafiyah!!” teriak Adi murka.


”Kamu akan menikah, ibu gak mau mendengar kamu menolak! Kamu tunangan malam ini." Sara begitu tidak mau mendengarkan ucapan Shafiyah, walaupun jelas Shafiyah sudah lelah karena ulahnya.


Shafiyah mengeram kesal, air matanya menetes dan kedua matanya membulat. Sara terdiam melihat putrinya, yang tidak pernah seperti itu sebelumnya. Shafiyah memasukkan kedua tangannya ke dalam kerudung, semuanya mengernyit heran. Gadis itu melepaskan ikatan tali cadar, lalu menarik cadarnya kasar dan wajah cantiknya kini dilihat semua orang.


”Wajah anak ibu ini, ibu jual ke Farel. Dimana hati nurani ibu, aku yang berusaha menjaga harga diri, menutup diri dan menjaga kehormatan selama ini, tiba-tiba ibu rusak begitu aja. Ibu kasih foto aku ke pria mesum seperti itu, wajah ini menjadi korban syahwat seorang pria brengsek dan ibu malah suka? apa ibu gak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ibu minta Gus Mu buat ke luar negeri supaya bisa nikahin aku sama Farel kan? pertunangan ini bahkan mendadak karena ibu takut Gus Mu berulah,” tuturnya sambil menatap ibunya tajam. Adi mendekat dan menarik bahu Shafiyah agar berhenti menatap Sara seperti itu.


"Bicara yang sopan, banyak orang. Jangan menatap ibu kamu sendiri seperti itu Shafiyah,” bisik Adi tapi Shafiyah mendorongnya agar menjauh. Shafiyah melangkah maju, lebih dekat pada Sara. Herman diam, membiarkan putrinya meluapkan emosi nya.


Raut wajah Sara nampak kecewa, karena melihat tatapan dan ucapan Shafiyah yang begitu menyiksa hatinya.


”Gus Mu bukan laki-laki seperti itu Bu, dia baik. Kak Fajar, sampai masuk rumah sakit setelah berkelahi dengan Farel di klub malam, dan ibu masih membela pria itu? aku gak paham dengan jalan pikiran ibu, kenapa gak bunuh aja aku sekalian? karena sekarang ibu juga sedang membuat aku mati perlahan-lahan.” Shafiyah menatap ibunya tajam, Sara mengepal tangannya kuat.


Plak!! suara tamparan keras terdengar, pipi kiri Shafiyah nampak memerah setelah dipukul ibunya sendiri.


”Sara! apa-apaan kamu!” teriak Herman seraya mendekat.


”Bu!” teriak Fajar dan Qais. Adi langsung menangkup pipi Shafiyah dan Sara menatap putrinya itu tajam.


”Jaga ucapan kamu, kamu akan tetap menikah dengan Farel.” Seru nya seraya berbalik, untuk segera pergi. Shafiyah menarik nafasnya dalam-dalam dan dadanya terasa sesak saat ini.


”Aaaaaaaaa....... Aaaaaaa.. Aaaa....!!!!!!!” Shafiyah berteriak sekencang-kencangnya, suaranya begitu memekakkan telinga, Sara sampai menutup kedua telinganya. Sara berbalik dan menatap Shafiyah yang terus berteriak-teriak.”Aaaaaa,,,,, hiks...!!!" Shafiyah terus berteriak, di tutup dengan tangisan hebat dan tubuhnya ambruk ke lantai. Gadis itu pingsan tidak sadarkan diri, dia hanya bisa berteriak, dipisahkan dari pujaannya, kekasihnya. Dan sekarang dipaksa untuk menyerahkan diri kepada pria yang dia benci. Yang dia lakukan adalah berteriak, agar semua orang tahu betapa hancur dan sakitnya dia saat ini.


”Shafiyah," ucap Qais. Dia tarik tubuh lemah Shafiyah ke dalam dekapannya, Herman menepuk-nepuk pipi putrinya itu dan Sara melangkah mundur menjauh, syok dan sedih melihat kondisi putrinya.


Brak!!!! Brug! Fajar merusak semua hiasan, menjatuhkan papan bertuliskan nama Farel dan Shafiyah. Meri diam membiarkan suaminya seperti itu, kali ini dia mendukungnya.


”Lihat ibu, lihat!” teriak Fajar dan menunjuk-nunjuk Shafiyah.


”Kita bawa ke rumah sakit." Adi berseru dan Qais langsung menggendong Shafiyah.


”Ibu keterlaluan," ucap Adi serak. Kini, Sara terpojok. Dia terus memperhatikan Shafiyah yang dibawa dengan langkah cepat oleh Qais. Herman menangis karena Shafiyah mengalami kejang-kejang.


”Sayang, Shafiyah.” Herman terus menahan tangan anaknya. Qais menyumpal mulut Shafiyah dengan sapu tangan. Qais meletakkan dagunya di kepala adiknya itu sambil berlinang air mata.


”Cepet!” bentak Fajar karena Adi lelet mengendarai mobilnya.


”Istighfar neng, Istighfar,” tutur Herman dan mengenggam erat tangan putrinya.


*****


Di tempat lain, Wafi dan Aidan sedang berhadapan. Wafi nampak gusar dan memegang dadanya sesekali, bayangan Shafiyah semakin kuat menghantuinya.


”Kenapa Gus menolak adik saya?" tanya Aidan dan raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.


”Saya gak bisa maaf," balas Wafi lembut.


”Apa Gus Mu masih mengharapkan Shafiyah? setelah semua yang terjadi, terobsesi kah?" tutur Aidan mengejek dan Wafi mengepal tangannya kuat. Rahangnya mengeras mendengar ucapan Aidan.


”Kenapa kamu harus sibuk memikirkan itu? saya gak butuh dikomentari sama kamu Aidan," ucap Wafi ketus.


”Saya aja diragukan sama keluarga Shafiyah, apalagi Gus Mu. Kita lebih baik mencari gadis yang biasa-biasa saja, berasal dari kasta yang sama dengan kita." Aidan tersenyum kecut saat berbicara.


”Bukan itu yang saya lihat, mau Shafiyah berasal dari keluarga kaya atau tidak. Itu tidak akan merubah niat saya.” Tegas Wafi menolak, dia tidak akan terpengaruh sedikitpun.

__ADS_1


”Nyatanya Shafiyah susah untuk digapai Gus. Pahami itu.” Aidan meleos pergi setelah mengutarakan ketidaksukaannya. Wafi mendengus sebal dan terus beristighfar.


__ADS_2